Banjar kuno

Banjar Kuno Mengekspansi Jawa

Di tanah rimbun Borneo, tempat sungai Mahakam mengalir tenang, berdirilah kerajaan tertua di Nusantara: Kutai Martadipura. Didirikan oleh Maharaja Kudungga, leluhur para raja, Kutai menjadi pusat awal peradaban Hindu. Di hulu sungai, para brahmana pertama kali menjejakkan kaki, bukan di Jawa, melainkan di Kalimantan. Di sinilah mereka membangun candi batu tertua, terbuat dari batuan keras dan dihias dengan ukiran dewa-dewa Hindu. Salah satu candinya, yang kini hanya tersisa pondasi, dikenal oleh penduduk lokal sebagai Gunung Candi, dibangun pada abad ke 3 di Kalimantan.

Situs Hindu tertua yang dikenal di Kalimantan terkait dengan Kerajaan Kutai di Muara Kaman, Kalimantan Timur.

  • Prasasti Yupa: Ini adalah peninggalan utama dan tertua, berupa tujuh tiang batu bertuliskan huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta yang menceritakan tentang Raja Mulawarman dan upacara kurban. Prasasti ini diperkirakan berasal dari sekitar abad ke-4 Masehi,
  • Arca: Beberapa arca batu juga ditemukan, menjadi bukti adanya simbol keagamaan Hindu pada masa itu.

Kutai berkembang menjadi Banjar Kuno, kerajaan bahari yang kuat. Kayu ulin—keras, tahan air, dan tak lapuk dimakan waktu—dipakai untuk membangun armada kapal. Dalam mitologi rakyatnya, kapal-kapal ini disebut sebagai “Perahu Langit”, karena besar dan tangguh menembus badai.
Di Jawa tidak ada kayu yang cocok untuk menjadi Kapal yang tahan terhadap air asin laut, sehingga sudah pasti Hindu di Jawa berasal dari Kalimantan.

Pada masa pemerintahan Maharaja Rajasa Warmandewa, cucu Kudungga, Banjar Kuno memandang ke barat daya—ke arah pulau Jawa. Di sana, para pendeta Banjar melihat berkembangnya kerajaan-kerajaan kecil yang saling bertikai. Jawa kala itu belum bersatu, dan hanya dihuni komunitas kecil di tepi-tepi sungai Brantas dan Bengawan Solo. Rajasa melihat ini sebagai kesempatan.
Ia mengutus armada perahu ulin melintasi Laut Jawa. Menurut legenda, salah satu jenderalnya bernama Pikatan, nama yang kelak akan muncul di Jawa Tengah, memimpin ekspedisi. Beberapa mengaitkan tokoh ini dengan Rakai Pikatan, tokoh penting dalam sejarah Jawa, sebagai keturunan dari ekspedisi Banjar. Nama lain seperti Sanjaya dan Sanna juga muncul dalam kisah Kalimantan, memunculkan bahwa tokoh-tokoh besar Jawa berasal dari jalur darah Banjar Kuno.

Di pesisir utara Jawa, armada Banjar mendarat dan membangun koloni pertama. Mereka mendirikan pusat kekuasaan berbasis sungai, mirip seperti Kutai, lengkap dengan candi-candi dari batu vulkanik Jawa namun dengan ukiran gaya Kalimantan. Prasasti-prasasti awal berbahasa Sanskerta ditemukan, dengan sebutan-sebutan seperti “Banua Jawa” dan “Dvipantara Utara”—yang menandakan ekspansi dari timur laut.

Lambat laun, para penguasa lokal menikah dengan para bangsawan Banjar. Dari sinilah lahir wangsa-wangsa baru di Jawa, yang membawa pengaruh Kalimantan dalam gaya seni, ritual Hindu, dan sistem kasta. Bahkan, Arca Agastya di candi-candi Jawa diyakini memiliki gaya pahatan menyerupai artefak dari pedalaman Mahakam.
Ketika kemudian sejarah mencatat kebesaran kerajaan Medang, Mataram, dan Majapahit, para tetua Banjar tetap menyimpan kisah kuno: bahwa leluhur raja-raja Jawa adalah mereka yang datang dari hulu Sungai Mahakam, para pelaut kayu ulin yang menjajah Jawa sebelum pulau itu mengenal arti kerajaan sejati.

Ekspansi Terbesar berdasarkan prasasti Kota Kapur 686 M, yang berbahasa Banjar Kuno, menghukum Bhumi Jawa. Ekspansi ini berhasil dan menempatkan Rakai Pikatan sebagai Raja di Bhumi Jawa

Arti Kata “Pikatan” dalam Bahasa Banjar
Dalam bahasa Banjar, terdapat kata “pikatan” yang berarti jebakan atau sesuatu yang mengikat atau menarik. Dalam konteks lokal, kata ini merujuk pada alat atau strategi untuk menangkap hewan atau ikan. Secara filosofis, makna ini bisa diperluas menjadi “daya tarik” atau “kekuatan untuk mengikat dan menguasai.”
Jika kita menghubungkan ini dengan Rakai Pikatan di Jawa, nama tersebut dapat ditafsirkan sebagai “penguasa yang mengikat” atau “penakluk yang memikat”, sangat selaras dengan peran ekspedisi Banjar Kuno yang menancapkan kekuasaan dan membentuk aliansi dengan kerajaan-kerajaan kecil di Jawa.
Kemungkinan bahwa nama “Pikatan” bukan berasal dari tradisi Jawa murni, melainkan diimpor dari budaya Banjar Kuno, menjadi landasan kesamaan bahwa Rakai Pikatan adalah keturunan atau tokoh ekspedisi Banjar.

Kesamaan Bahasa Banjar Kuno dan Jawa Kuno

Bahasa Banjar, terutama dalam bentuk kunonya yang berkembang di sekitar Sungai Barito dan Mahakam, menunjukkan beberapa kemiripan dengan bahasa Jawa Kuno, antara lain:

  • Fonetik dan Sufiks:
    Akhiran “-an” sebagai penanda nomina (contoh: pikatan, jalanan) digunakan baik dalam Banjar maupun Jawa Kuno.

Kata ganti orang seperti “ika” (kamu) dalam Jawa Kuno, serupa dengan bentuk-bentuk di Kalimantan seperti “ika” dalam bahasa Dayak Lawangan yang sering tumpang tindih dalam wilayah Banjar Kuno.

  • Kata Serapan Sansekerta:
    Banjar Kuno, seperti Kutai, menerima pengaruh India lebih awal. Kata-kata seperti “dharma,” “raja,” “pura,” “bhakti” lazim di kedua wilayah.
    Ini mengindikasikan bahwa pola adopsi bahasa Sansekerta di Jawa bisa merupakan kelanjutan dari model yang telah digunakan lebih awal di Kalimantan.
  • Struktur kalimat pasif aktif:
    Struktur di- + verba dan me- + verba muncul dalam bentuk awal bahasa Banjar maupun Jawa Kuno, menandakan kesamaan struktur verbal yang memungkinkan difusi tata bahasa antar pulau.
    Kesamaan-kesamaan ini dapat ditafsirkan bukan hanya sebagai hasil pengaruh India, tetapi juga penyebaran langsung budaya dan bahasa dari Banjar Kuno ke Jawa, yang memperkuat asumsi bahwa Banjar Kuno merupakan pelopor ekspansi budaya Hindu dan pemerintahan terstruktur ke pulau Jawa.

Kesamaan Mitologi—Leluhur yang Sama, Langit yang Sama.

Para brahmana dari Banjar yang mengajarkan Kaharingan juga mengenali kesamaan antara mitologi leluhur mereka dengan kisah-kisah Jawa kuno. Dalam legenda Dayak, terdapat kisah Mahatala Langit dan Jata di bawah dunia yang menggambarkan dualisme kosmik. Di Jawa, dualisme ini tercermin dalam konsep Rwa Bhineda dan pertempuran abadi antara Kala dan Dewa.
Dalam mitos asal mula manusia, suku Banjar kuno mengenal tokoh bernama “Si Panambahan Laut” yang naik ke langit dengan naga ulin. Dalam cerita Jawa, ada tokoh “Aji Saka” yang datang dari langit dengan ular sebagai penjaga pusaka. Keduanya membawa huruf, bahasa, dan hukum—kesamaan simbolik yang terlalu dekat untuk diabaikan.
Bahasa pun menyimpan jejak leluhur bersama. Kata “hulun” (hamba) dalam Banjar kuno identik dengan “hulun dalem” di Jawa. Kata “lalap” (makan mentah) ditemukan di kedua budaya. Seolah-olah perahu kayu ulin itu tak hanya membawa tubuh, tapi juga bahasa dan ingatan bersama dari Kalimantan ke tanah Jawa.

Bukti Arkeologis: Kemiripan Material Candi di Kalimantan dan Jawa

Salah satu bukti fisik yang memperkuat teori ekspansi Banjar Kuno ke Jawa adalah penemuan candi kuno di Gunung Candi Kalimantan yang menunjukkan usia sekitar 200 tahun sebelum Masehi—jauh lebih tua dari candi-candi Hindu-Buddha di Jawa. Candi ini ditemukan menggunakan batu bata unik, yang sekilas tampak seperti bata merah biasa, namun jauh lebih berat dan kuat. Material ini tidak lazim ditemukan di Jawa Tengah, kecuali di beberapa situs khusus.
Menariknya, batu bata serupa ditemukan di dua tempat lain:

  • Kompleks Makam Sultan Suriansyah di Kalimantan Selatan, yang diduga berada di wilayah yang memiliki kesinambungan budaya dari Banjar Kuno.
  • Situs Candi Kayen di Dusun Buloh, Desa Kayen, Jawa Tengah. Batu bata di sana memiliki ukuran dan karakteristik yang sangat mirip, baik dari segi warna, kepadatan, maupun proses pembuatannya.
    Kemiripan ini menunjukkan kemungkinan aliran teknologi atau migrasi budaya dari Kalimantan ke Jawa. Bisa jadi para ahli bangunan dari Banjar Kuno membawa teknik pembuatan batu bata tersebut ketika mereka membangun permukiman atau candi di Jawa setelah ekspedisi lautnya.

Sintesis: Tradisi Arsitektur dan Migrasi Teknologi

  • Ukuran besar batu bata, yang tidak lazim dalam arsitektur tradisional Jawa awal, menunjukkan bahwa teknik pembangunan candi-candi awal Jawa mungkin berasal dari Kalimantan.
  • Kemungkinan adanya “arsitek Banjar” atau perajin batu bata dari Kalimantan yang menetap dan bekerja di Jawa.
  • Ini memperkuat asumsi bahwa Banjar Kuno tidak hanya menyebarkan kekuasaan politik, tetapi juga teknologi konstruksi dan budaya material ke pulau Jawa.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai