PERSAUDARAAN URANG BANJAR INDONESIA INI BERDIRI PADA TANGGAL 03 NOVEMBER 2022 YANG DIGAGAS OLEH SYAHBANDI BASRI AHMAD NOOR BIN MUHAMMAD NOOR BIN NOOR,, AWAL BERDIRI PUB INI ATAS MISI URANG BANJAR KALBAR HARUS BANGKIT UNTUK MENUNJUKKAN BAHWA BANJAR ADALAH PENDUDUK ASLI YANG MENCETUSKAN ADAT BUDAYA DARI ASLI KALIMANTAN, ORANG ORANG BANJAR SUDAH LAMA TENGGELAM SEJAK KERAJAAN BANJAR DISERANG BELANDA DIMASA LALU, MAKA URANG URANG BANJAR DARI KALIMANTAN SELATAN MENYEBAR BERBAGAI PELOSOK KALIMANTAN BAHKAN MENYEBAR SELURUH INDONESIA, MAKA SEKARANG URANG BANJAR HARUS BANGKIT KEMBALI.
Di tanah rimbun Borneo, tempat sungai Mahakam mengalir tenang, berdirilah kerajaan tertua di Nusantara: Kutai Martadipura. Didirikan oleh Maharaja Kudungga, leluhur para raja, Kutai menjadi pusat awal peradaban Hindu. Di hulu sungai, para brahmana pertama kali menjejakkan kaki, bukan di Jawa, melainkan di Kalimantan. Di sinilah mereka membangun candi batu tertua, terbuat dari batuan keras dan dihias dengan ukiran dewa-dewa Hindu. Salah satu candinya, yang kini hanya tersisa pondasi, dikenal oleh penduduk lokal sebagai Gunung Candi, dibangun pada abad ke 3 di Kalimantan.
Situs Hindu tertua yang dikenal di Kalimantan terkait dengan Kerajaan Kutai di Muara Kaman, Kalimantan Timur.
Prasasti Yupa: Ini adalah peninggalan utama dan tertua, berupa tujuh tiang batu bertuliskan huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta yang menceritakan tentang Raja Mulawarman dan upacara kurban. Prasasti ini diperkirakan berasal dari sekitar abad ke-4 Masehi,
Arca: Beberapa arca batu juga ditemukan, menjadi bukti adanya simbol keagamaan Hindu pada masa itu.
Kutai berkembang menjadi Banjar Kuno, kerajaan bahari yang kuat. Kayu ulin—keras, tahan air, dan tak lapuk dimakan waktu—dipakai untuk membangun armada kapal. Dalam mitologi rakyatnya, kapal-kapal ini disebut sebagai “Perahu Langit”, karena besar dan tangguh menembus badai. Di Jawa tidak ada kayu yang cocok untuk menjadi Kapal yang tahan terhadap air asin laut, sehingga sudah pasti Hindu di Jawa berasal dari Kalimantan.
Pada masa pemerintahan Maharaja Rajasa Warmandewa, cucu Kudungga, Banjar Kuno memandang ke barat daya—ke arah pulau Jawa. Di sana, para pendeta Banjar melihat berkembangnya kerajaan-kerajaan kecil yang saling bertikai. Jawa kala itu belum bersatu, dan hanya dihuni komunitas kecil di tepi-tepi sungai Brantas dan Bengawan Solo. Rajasa melihat ini sebagai kesempatan. Ia mengutus armada perahu ulin melintasi Laut Jawa. Menurut legenda, salah satu jenderalnya bernama Pikatan, nama yang kelak akan muncul di Jawa Tengah, memimpin ekspedisi. Beberapa mengaitkan tokoh ini dengan Rakai Pikatan, tokoh penting dalam sejarah Jawa, sebagai keturunan dari ekspedisi Banjar. Nama lain seperti Sanjaya dan Sanna juga muncul dalam kisah Kalimantan, memunculkan bahwa tokoh-tokoh besar Jawa berasal dari jalur darah Banjar Kuno.
Di pesisir utara Jawa, armada Banjar mendarat dan membangun koloni pertama. Mereka mendirikan pusat kekuasaan berbasis sungai, mirip seperti Kutai, lengkap dengan candi-candi dari batu vulkanik Jawa namun dengan ukiran gaya Kalimantan. Prasasti-prasasti awal berbahasa Sanskerta ditemukan, dengan sebutan-sebutan seperti “Banua Jawa” dan “Dvipantara Utara”—yang menandakan ekspansi dari timur laut.
Lambat laun, para penguasa lokal menikah dengan para bangsawan Banjar. Dari sinilah lahir wangsa-wangsa baru di Jawa, yang membawa pengaruh Kalimantan dalam gaya seni, ritual Hindu, dan sistem kasta. Bahkan, Arca Agastya di candi-candi Jawa diyakini memiliki gaya pahatan menyerupai artefak dari pedalaman Mahakam. Ketika kemudian sejarah mencatat kebesaran kerajaan Medang, Mataram, dan Majapahit, para tetua Banjar tetap menyimpan kisah kuno: bahwa leluhur raja-raja Jawa adalah mereka yang datang dari hulu Sungai Mahakam, para pelaut kayu ulin yang menjajah Jawa sebelum pulau itu mengenal arti kerajaan sejati.
Ekspansi Terbesar berdasarkan prasasti Kota Kapur 686 M, yang berbahasa Banjar Kuno, menghukum Bhumi Jawa. Ekspansi ini berhasil dan menempatkan Rakai Pikatan sebagai Raja di Bhumi Jawa
Arti Kata “Pikatan” dalam Bahasa Banjar Dalam bahasa Banjar, terdapat kata “pikatan” yang berarti jebakan atau sesuatu yang mengikat atau menarik. Dalam konteks lokal, kata ini merujuk pada alat atau strategi untuk menangkap hewan atau ikan. Secara filosofis, makna ini bisa diperluas menjadi “daya tarik” atau “kekuatan untuk mengikat dan menguasai.” Jika kita menghubungkan ini dengan Rakai Pikatan di Jawa, nama tersebut dapat ditafsirkan sebagai “penguasa yang mengikat” atau “penakluk yang memikat”, sangat selaras dengan peran ekspedisi Banjar Kuno yang menancapkan kekuasaan dan membentuk aliansi dengan kerajaan-kerajaan kecil di Jawa. Kemungkinan bahwa nama “Pikatan” bukan berasal dari tradisi Jawa murni, melainkan diimpor dari budaya Banjar Kuno, menjadi landasan kesamaan bahwa Rakai Pikatan adalah keturunan atau tokoh ekspedisi Banjar.
Kesamaan Bahasa Banjar Kuno dan Jawa Kuno
Bahasa Banjar, terutama dalam bentuk kunonya yang berkembang di sekitar Sungai Barito dan Mahakam, menunjukkan beberapa kemiripan dengan bahasa Jawa Kuno, antara lain:
Fonetik dan Sufiks: Akhiran “-an” sebagai penanda nomina (contoh: pikatan, jalanan) digunakan baik dalam Banjar maupun Jawa Kuno.
Kata ganti orang seperti “ika” (kamu) dalam Jawa Kuno, serupa dengan bentuk-bentuk di Kalimantan seperti “ika” dalam bahasa Dayak Lawangan yang sering tumpang tindih dalam wilayah Banjar Kuno.
Kata Serapan Sansekerta: Banjar Kuno, seperti Kutai, menerima pengaruh India lebih awal. Kata-kata seperti “dharma,” “raja,” “pura,” “bhakti” lazim di kedua wilayah. Ini mengindikasikan bahwa pola adopsi bahasa Sansekerta di Jawa bisa merupakan kelanjutan dari model yang telah digunakan lebih awal di Kalimantan.
Struktur kalimat pasif aktif: Struktur di- + verba dan me- + verba muncul dalam bentuk awal bahasa Banjar maupun Jawa Kuno, menandakan kesamaan struktur verbal yang memungkinkan difusi tata bahasa antar pulau. Kesamaan-kesamaan ini dapat ditafsirkan bukan hanya sebagai hasil pengaruh India, tetapi juga penyebaran langsung budaya dan bahasa dari Banjar Kuno ke Jawa, yang memperkuat asumsi bahwa Banjar Kuno merupakan pelopor ekspansi budaya Hindu dan pemerintahan terstruktur ke pulau Jawa.
Kesamaan Mitologi—Leluhur yang Sama, Langit yang Sama.
Para brahmana dari Banjar yang mengajarkan Kaharingan juga mengenali kesamaan antara mitologi leluhur mereka dengan kisah-kisah Jawa kuno. Dalam legenda Dayak, terdapat kisah Mahatala Langit dan Jata di bawah dunia yang menggambarkan dualisme kosmik. Di Jawa, dualisme ini tercermin dalam konsep Rwa Bhineda dan pertempuran abadi antara Kala dan Dewa. Dalam mitos asal mula manusia, suku Banjar kuno mengenal tokoh bernama “Si Panambahan Laut” yang naik ke langit dengan naga ulin. Dalam cerita Jawa, ada tokoh “Aji Saka” yang datang dari langit dengan ular sebagai penjaga pusaka. Keduanya membawa huruf, bahasa, dan hukum—kesamaan simbolik yang terlalu dekat untuk diabaikan. Bahasa pun menyimpan jejak leluhur bersama. Kata “hulun” (hamba) dalam Banjar kuno identik dengan “hulun dalem” di Jawa. Kata “lalap” (makan mentah) ditemukan di kedua budaya. Seolah-olah perahu kayu ulin itu tak hanya membawa tubuh, tapi juga bahasa dan ingatan bersama dari Kalimantan ke tanah Jawa.
Bukti Arkeologis: Kemiripan Material Candi di Kalimantan dan Jawa
Salah satu bukti fisik yang memperkuat teori ekspansi Banjar Kuno ke Jawa adalah penemuan candi kuno di Gunung Candi Kalimantan yang menunjukkan usia sekitar 200 tahun sebelum Masehi—jauh lebih tua dari candi-candi Hindu-Buddha di Jawa. Candi ini ditemukan menggunakan batu bata unik, yang sekilas tampak seperti bata merah biasa, namun jauh lebih berat dan kuat. Material ini tidak lazim ditemukan di Jawa Tengah, kecuali di beberapa situs khusus. Menariknya, batu bata serupa ditemukan di dua tempat lain:
Kompleks Makam Sultan Suriansyah di Kalimantan Selatan, yang diduga berada di wilayah yang memiliki kesinambungan budaya dari Banjar Kuno.
Situs Candi Kayen di Dusun Buloh, Desa Kayen, Jawa Tengah. Batu bata di sana memiliki ukuran dan karakteristik yang sangat mirip, baik dari segi warna, kepadatan, maupun proses pembuatannya. Kemiripan ini menunjukkan kemungkinan aliran teknologi atau migrasi budaya dari Kalimantan ke Jawa. Bisa jadi para ahli bangunan dari Banjar Kuno membawa teknik pembuatan batu bata tersebut ketika mereka membangun permukiman atau candi di Jawa setelah ekspedisi lautnya.
Sintesis: Tradisi Arsitektur dan Migrasi Teknologi
Ukuran besar batu bata, yang tidak lazim dalam arsitektur tradisional Jawa awal, menunjukkan bahwa teknik pembangunan candi-candi awal Jawa mungkin berasal dari Kalimantan.
Kemungkinan adanya “arsitek Banjar” atau perajin batu bata dari Kalimantan yang menetap dan bekerja di Jawa.
Ini memperkuat asumsi bahwa Banjar Kuno tidak hanya menyebarkan kekuasaan politik, tetapi juga teknologi konstruksi dan budaya material ke pulau Jawa.
Contoh lambang negara Kerajaan Belanda, ini adalah jenis lambang negara yang terbesar (menggunakan Mantle pelindung dan Mahkota Raja Belanda, dua ekor singa berwarna emas menjaga Arms Wangsa/ Dinasti Oranje-Nassau, dimana Arms itu berwarna dasar Biru terang menyala didalamnya bergambar seekor singa berwarna emas juga sedang mengayunkan pedang ditangan kanannya dan 17 anak panah (17 provinsi historis Belanda) ditangan kirinya), dibawahnya mereka semua disangga berdiri diatas sebuah pita besar juga berwarna biru terang menyala bertuliskan warna kuning emas “Je Maintiendrai” bahasa Franka kuno. Dibawah Coat of Arms ini (kami orang biasa meneliti Heraldic-Heraldic diseluruh dunia menyebutnya pakai Canopy), dibawah model terbesar ini tidak pakai kanopi pelindung, dia terbuka saja disebut Lesser Arms, ada jenis Lesser Arms jenis lainnya, dia hanya Arms (perisai saja lambang negara / dinasti) tapi diletakkan mahkota raja diatas Arms itu, dibawahnya lagi itulah intinya yang disebut Arms (sebuah perisai / tameng inti simbol dinasti yang dulu dipakai para kesatria Eropa pergi berperang diatas kuda-kuda mereka), Perisai itulah menunjukkan darimana asal identitas sebuah negara itu berasal, dan jika di negara kerajaan-kerajaan perisai itu lah simbol dinasti pendiri negara itu asal usul leluhur mereka yang dapat dilacak silsilah keluarga, hubungan kekerabatan mereka bahkan leluhurnya, dan yang paling kecil dan sederhana disebut Badge, jenis ini keluaran zaman modern untuk membuatnya terlihat elegan dan sesuai perkembangan zaman.
Habib Hamid Alidrus terhadap Demang Lehman… Pahlawan Banjar yang dipenggal kepalanya,disediakan 10.000 dan 2000 gulden untuk kepala P.Hidayatulloh II dan Demang Lehman karena tergiur imbalan gulden dari Belanda, seseorang bernama Pembarani bekerjasama dengan Habib Hamid bin Pangeran Ali Alaydrus dan anak buahnya yang sudah menyusuri Gunung Lintang dan Gunung Panjang untuk mencari Demang Lehman atas perintah Belanda. Demang Lehman tidak mengetahui bahwa Belanda sedang mengatur perangkap terhadapnya. Oleh orang yang menginginkan hadiah dan tanda jasa sehabis dia melakukan salat Subuh dan dalam keadaan tidak bersenjata, dia ditangkap. Ia sempat sendirian melawan puluhan orang yang mengepungnya. Atas keberhasilan penangkapan ini Habib Hamid bin Pangeran Ali Alaydrus Sembamban akan diangkat sebagai raja (Pangeran) tetap di Batulicin… Demang Lehman yang bergelar Adipati Mangku Negara 1832-27 Februari 1864 seorang panglima perang dalam Perang Banjar, beliau terlahir dengan nama Idris. Meniti karier dari seorang ajudan P.Hidayatulloh II dari 1857 atas kecakapan dan kesetiaannya diangkat menjadi pejabat yang memegang sebuah lalawangan (distrik) di Kesultanan Banjar dg gelar Kiai Demang, district Rian kanan(tanah lungguh P.Hidayatulloh II) Merangkap sebagai Senopati Demang Lehman diserahi pusaka kasultanan Banjar yaitu Keris Singkir dan sebuah tombak bernama Kaliblah yang berasal dari Sumbawa. P.Hidayatulloh II pada tahun 1859 mendapatkan surat wasiat dari Nyai Ratu Komalasari dari Sultan Adam yang berisi penyerahan kasultanan Banjar kepada P.Hidayatulloh II, kemudian beliau menyusun kekuatan,kyai Adipati Anom dinding Raja atau Tumenggung Abdul Jalil membekalinya dengan 20 pucuk senapan, Demang Lehman,Tumenggung Surapati dan Pambakal Sulil atau Sulaiman di daerah Barito (Tanah Dusun), Kiai Langlang, dan Haji Buyasin di daerah Tanah Laut. Perlawanan rakyat terhadap Belanda berkobar di daerah-daerah di bawah pimpinan Pangeran Antasari yang berhasil menghimpun pasukan sebanyak 3.000 orang dan menyerbu pos-pos Belanda. Pos-pos Belanda di Martapura dan Pengaron diserang oleh pasukan Antasari pada tanggal 28 April 1859. Di samping itu, kawan-kawan seperjuangan Pangeran Antasari juga telah mengadakan penyerangan terhadap pasukan-pasukan Belanda yang dijumpai. Pada saat pangeran Antasari mengepung benteng Belanda di Pengaron, Kiai Demang Lehman dengan pasukannya telah bergerak disekitar Riam Kiwa dan mengancam benteng Belanda di Pengaron. Bersama-sama dengan Haji Nasrun, pada tanggal 30 Juni 1859, kiai Demang Leman menyerbu pos Belanda yang berada di istana Martapura. Dalam bulan Agustus 1859 bersama Syaikh Buya Yasin dan Kiai Langlang, Kiyai Demang Lehman berhasil merebut benteng Belanda di Tabanio. Pada tanggal 27 September 1859 pertempuran terjadi juga di benteng Gunung Lawak yang dipertahankan oleh Kiyai Demang Lehman dan kawan-kawan. Dalam pertempuran ini kekuatan pasukan Kiyai Demang Leman ternyata lebih kecil dibandingkan dengan kekuatan musuh sehingga ia terpaksa mengundurkan diri. Karena rakyat berkali-kali melakukan penyerangan gerilya, Belanda setalah beberapa waktu lamanya menduduki benteng tersebut, kemudian merusak dan meninggalkannya. Sewaktu meninggalkan benteng, pasukan Belanda mendapat serangan dari pasukan Kiyai Demang Lehman yang masih aktif melakukan perang gerilya di daerah sekitarnya. Upaya dan proses penangkapan Demang Lehman ini diungkapkan dalam Persidangan Pengadilan Demang Lehman, oleh para saksi. Mereka yang menjadi saksi adalah Brahim (Ibrahim) dan tahanan yang bernama Sambarani dan Singoprojo serta komplotannya. Mereka mengungkapkan bahwa pada hari yang ditetapkan mereka mereka mendapat tugas khusus. Mereka telah menerima panggilan dari Kepala Wilayah Batu Licin (Habib Hamid bin Pangeran Ali Alaydrus) agar melakukan segala upaya dengan tujuan untuk menangkap dan menyerahkan tersangka Demang Lehman yang berbahaya dalam kondisi hidup. Pada sumber versi lain yang berbeda, dituliskan bahwa Demang Lehman yang merasa kecewa dengan tipu muslihat Belanda berusaha mengatur kekuatan kembali di daerah Gunung Pangkal, Negeri Batulicin, Tanah Bumbu. Waktu itu ia bersama Tumenggung Aria Pati bersembunyi di gua Gunung Pangkal dan hanya memakan daun-daunan. Oleh seorang yang bernama Pembarani diajak menginap di rumahnya. Karena tergiur imbalan gulden dari Belanda, seseorang bernama Pembarani bekerjasama dengan Habib Hamid bin Pangeran Ali Alaydrus dan anak buahnya yang sudah menyusuri Gunung Lintang dan Gunung Panjang untuk mencari Demang Lehman atas perintah Belanda. Demang Lehman tidak mengetahui bahwa Belanda sedang mengatur perangkap terhadapnya. Oleh orang yang menginginkan hadiah dan tanda jasa sehabis dia melakukan salat Subuh dan dalam keadaan tidak bersenjata, dia ditangkap. Ia sempat sendirian melawan puluhan orang yang mengepungnya. Atas keberhasilan penangkapan ini Habib Hamid bin Pangeran Ali Alaydrus Sembamban akan diangkat sebagai raja (Pangeran) tetap di Batulicin… Selengkapnya….; Pada akhir tahun 1859 pasukan rakyat yang dipimpin oleh Demang Lehman, Pangeran Antasari, Tumenggung Antaluddin berkumpul di benteng Munggu Dayor. Demang Lehman terlibat dalam pertempuran sengit di sekitar Munggu Dayor. Belanda menilai tentang Demang Lehman sebagai musuh yang paling ditakuti dan paling berbahaya dan menggerakkan kekuatan rakyat sebagai tangan kanan dari Pangeran Hidayatullah. Demang Lehman menyerbu Martapura dan melakukan pembunuhan terhadap pimpinan militer Belanda di kota Martapura. Pada tanggal 30 Agustus 1859 Demang Lehman berangkat menuju Keraton Bumi Selamat dengan 3000 kekuatan dan secara tiba-tiba mengejutkan Belanda karena melakukan serangan secara tiba-tiba, menyebabkan Belanda kebingungan menghadapinya, hingga hampir menewaskan Letnan Kolonel Boon Ostade. Dalam serangan tiba-tiba ini Demang Lehman menunggang kuda dengan gagah berani mengejar Letnan Kolonel Boon Ostade. Serbuan ke Keraton Bumi Selamat ini gagal karena berhadapan dengan pasukan Belanda yang sedang berkumpul melakukan inspeksi senjata. Pertempuran sengit terjadi, sehingga anggota Demang Lehman kehilangan 10 orang yang menjadi Syahid, begitu pula pihak Belanda berpuluh-puluh yang jatuh Korban. Sementara itu kapal perang Bone dikirim Belanda ke Tanah Laut untuk merebut kembali benteng Tabanio yang telah dikuasai Demang Lehman dalam sebuah pertempuran yang mengerikan Belanda. Ketika pasukan Letnan Laut Cronental menyerbu benteng Tabanio, 9 orang serdadu Belanda tewas, dan terpaksa pasukan Belanda sisanya mengundurkan diri dengan menderita kekalahan. Serangan kedua oleh Belanda dilakukan, tetapi benteng itu dipertahankan dengan gagah berani oleh Demang Lehman, Kiai Langlang, dan Penghulu Syeikh Haji Buya Yasin dan tokoh lainya. Karena serangan serdadu Belanda didukung oleh angkatan laut yang menembakkan meriam dari kapal perang, sedangkan pasukan darat menyerbu benteng Tabanio, Demang Lehman berserta Habib Shohibul Bahasyim besarta pasukannya lolos dengan tidak meninggalkan korban. Belanda menilai bahwa kemenangan terhadap benteng Tabanio ini tidak ada artinya, kalau diperhitungkan dengan jumlah sarana yang dikerahkan 15 buah meriam, dan sejumlah senjata yang mengkilap, ternyata tidak berhasil melumpuhkan kekuatan Demang Lehman. Selanjutnya Demang Lehman, memusatkan kekuatannya di benteng pertahanan Gunung Lawak di Tanah Laut. Benteng itu terletak di atas bukit, di setiap sudut benteng dipersenjatai dengan meriam. Pertempuran memperebutkan benteng ini terjadi pada tanggal 27 September 1859. Dalam pertempuran yang sengit dan pasukan Demang Lehman mempertahankan benteng Gunung Lawak dengan gagah berani, akhirnya mengorbankan lebih dari 100 gugur dalam pertempuran ini. Belanda sangat bangga dengan kemenangannya ini sehingga dilukiskannya sebagai salah satu pertempuran yang indah pada tahun 1859. Kekalahan ini tidak melemahkan semangat pasukan Demang Lehman, sebab mereka yakin bahwa berperang melawan Belanda adalah perang sabil, dan mati dalam perang adalah mati syahid. Bahkan pasukan yang dipimpin Kolonel Augustus Johannes Andresen banyak korban dalam perjalanan naik perahu ketika menuju ke Banjarmasin, bahkan A.J. Andresen sendiri hampir tewas dalam serangan mendadak ini. Pangeran Antasari dan Demang Lehman mencoba mendatangkan senjata dengan cara mengirim utusan ke Kesultanan Kutai, Paser dan Pagatan. Tetapi rupanya sudah diketahui oleh Belanda, sehingga Belanda menekan semua raja-raja yang membantu Pangeran Antasari dan Demang Lehman. Meskipun demikian Demang Lehman memperoleh sebanyak 142 pucuk senapan dan beberapa buah meriam Melayu (Lela), tetapi sayang ketika senjata ini dalam perjalanan diangkut dengan perahu dirampas oleh Belanda di tengah laut Pada akhir tahun 1859 medan pertempuran terpencar dalam 3 lokasi, yaitu di sekitar Banua Lima, sekitar Martapura dan Tanah Laut dan di sepanjang Sungai Barito. Medan pertempuran di sekitar Banua Lima dibawah pimpinan Tumenggung Abdul Jalil Kiai Adipati Anom, Dinding Raja, medan yang kedua dibawah pimpinan Demang Lehman dan Shohibul Bahasyim sedangkan medan ketiga dibawah pimpinan Pangeran Antasari dan Ali Al-Akbar Al-Aidid. Pada bulan September 1859 Demang Lehman, bersama pimpinan lainnya seperti Pangeran Muhammad Aminullah,Tumenggung Abdul Jalil Habib Shohibul Bahasyim, berangkat menuju Kandangan untuk merundingkan bentuk perlawanan terhadap Belanda dan sikap serta siasat yang ditempuh selanjutnya. Pertemuan ini dihadiri oleh tokoh-tokoh pejuang dari segala seluruh pelosok bumi kalimantan. Dari pertemuan itu menghasilkan kesepakatan, bahwa pimpinan-pimpinan perang menolak tawaran Belanda untuk berunding. Pertemuan menghasilkan pula bentuk perlawanan yang terarah dan meluas dengan cara: Pemusatan kekuatan di daerah Amuntai. Pahuluan Membuat dan memperkuat pertahanan di daerah Tanah Laut Kota Baru, Martapura, Rantau dan Kandangan. Pangeran Antasari, Habib Shohibul Bahasyim Serta Yang Lainya memperkuat pertahanan di wilayah Dusun Atas. Mengusahakan tambahan senjata. Suatu sikap yang keras telah diambil bahwa para pejuang tersebut bersumpah mengusir penjajah Belanda dari bumi Banjar. Mereka akan berjuang tanpa kompromi Haram Manyarah Waja Sampai Kaputing, berjuang sampai titik darah yang penghabisan. Untuk melumpuhkan perjuangan rakyat Belanda mendirikan benteng-benteng. Di daerah Tapin, diperkuat Belanda benteng Munggu Thayor yang telah direbutnya dari pasukan Demang Lehman. Di daerah Kandangan, didirikan pula benteng dikenal sebagai benteng Amawang. Demang Lehman dan pasukannya merencanakan untuk menyerang benteng Belanda di Amawang ini. Demang Lehman berhasil menyelundupkan dua orang kepercayaannya ke dalam benteng sebagai pekerja Belanda. Informasi dari kedua pekerja ini Demang Lehman bertekad akan menyerbu benteng Belanda tersebut. Pihak Belanda memperoleh informasi bahwa rakyat telah berkumpul di Sungai Paring hendak menyerbu benteng Amawang. Dengan dasar informasi ini, pasukan Belanda dibawah pimpinan Munters membawa 60 orang serdadu dan sebuah meriam menuju Sungai Paring. Saat pasukan tersebut keluar dan diperkirakan sudah mencapai Sungai Paring, Demang Lehman menyerbu benteng Amawang pada sekitar jam 02.00 siang hari tanggal 31 Maret 1860, dengan 300 orang pasukannya Demang Lehman menyerbu benteng tersebut. Ketika pasukan Demang Lehman menyerbu, kedua orang kepercayaan yang menjadi buruh dalam benteng tersebut mengamuk dan menjadikan serdadu Belanda menjadi kacau dibuatnya. Kedua orang yang mengamuk tersebut tewas dalam benteng dan sementara itu pertempuran sengit terjadi. Pasukan Munters ternyata kembali ke benteng sebelum sampai di Sungai Paring. Datangnya bantuan kekuatan ini, menyebabkan Demang Lahman dan pasukannya mundur. Demang Lehman mundur di sekitar Sungai Kupang dan Tabihi bersama Pangeran Muhammad Aminullah dan Tuan Said. Pasukan Belanda menyusul ke Tabihi dan terjadi pertempuran. dalam pertempuran itu komandan pasukan Belanda Van Dam van Isselt tewas dan beberapa orang serdadu menjadi korban keganasan perang. Demang Lehman meneruskan ke daerah Barabai membantu pertahanan Pangeran Hidayatullah dan pengiringnya. Gustave Marie Verspijck berusaha keras untuk menghancurkan kekuatan Pangeran Hidayatullah dan Demang Lehman yang berkedudukan di sekitar Barabai. Gustave Verspijck mengerahkan serdadu dari infantri batalyon ke 7, batalyon ke 9 dan batalyon ke 13. Batalyon ke 13 berjumlah 210 orang serdadu dibawah pimpinan Kapten Bode dan Rhode. Pasukan ini diikutkan pula 100 orang perantaian yang bertugas membawa perlengkapan perang dan makanan. Pengepungan terhadap kedudukan Pangeran Hidayatullah ini disertai pula kapal-kapal perang Suriname, Bone, Bennet dan beberapa kapal kecil. Kapal-kapal perang ini pada tanggal 18 April 1850 telah memasuki Sungai Ilir Pamangkih. Karena banyak rintangan yang dibuat, maka kapal-kapal perang tidak dapat memasukinya, serdadu Belanda terpaksa menggunakan perahu-perahu. Iringan perahu ini mendapat serangan dari kelompok Haji Sarodin yang menggunakan lila dan senapan lantakan. Dalam pertempuran ini Habib Sabaruddin Azmatkhan dan Syarif Safaruddin Abu Numai Al-Hasani mati Syahid, tetapi beliau berhasil menewaskan banyak serdadu Belanda. Pertempuran terjadi pula di Walangku dan Kasarangan dan Pantai Hambawang. Dengan teriakan Allahu Akbar, rakyat yang dipimpin Habib Shohibul Bahasyim, Pambakal Sulaiman dan Tuan Guru Abdullah serta tokoh lainya menyerbu serdadu Belanda yang bersenjata lengkap. Mereka tidak takut mati, karena mereka yakin mati dalam perang melawan Belanda adalah mati syahid. Demang Lehman dan Pangeran Hidayatullah berusaha keras dan penuh keberanian menahan serangan serdadu Belanda. Tetapi karena jumlah personel Belanda lebih besar dan perlengkapan perang lebih unggul, maka diambil suatu siasat mundur. Pangeran Hidayatullah mengundurkan diri ke Aluwan, sedangkan Demang Lehman bertahan di kampung Pajukungan. Akhirnya Belanda berhasil menduduki Barabai setelah meninggalkan banyak korban. Belanda berusaha keras untuk memutuskan hubungan Pangeran Hidayat yang berada di Aluwan dengan pasukan Demang Lehman yang berada di sekitar Amawang. Usaha Belanda untuk melemahkan kekuatan rakyat ternyata tidak berhasil, karena rakyat menggunakan taktik gerilya dalam serangannya. Belanda berusaha memikat Pangeran Hidayatullah dan Demang Lehman dengan segala cara agar menghentikan perlawanannya terhadap Belanda. Belanda kemudian menempuh jalan untuk menangkap kedua tokoh pejuang itu hidup atau mati, dan mengeluarkan pengumuman kepada seluruh rakyat agar dapat membantu Belanda menangkap kedua tokoh itu dengan imbalan yang menggiurkan. Imbalan yang dijanjikan adalah dengan mengeluarkan pengumuman harga kepala terhadap tokoh pejuang yang melawan Belanda. Harga kepala Pangeran Hidayatullah adalah sebesar f10.000,- dan Demang Lehman sebesar f2.000,- Nilai uang sebesar itu dapat memikat hati setiap orang yang menginginkan kekayaan. Bagi pejuang yang memegang sumpah Haram manyarah, waja sampai kaputing, tidak tergoyah hatinya mendengar janji-janji seperti itu, kecuali bagi mereka yang mengingkari sumpah, menghianati perjuangan bangsa dan yang lemah imannya terhadap prinsip perang sabil Meskipun segala usaha telah gagal, Belanda tetap berusaha untuk menangkapnya dengan cara apapun. Pemerintah Belanda mengutus Haji Isa seorang yang dekat dengan dan tahu Pangeran ini berada. Tugas Haji Isa adalah menyampaikan keinginan pemerintah Belanda terhadap Pangeran ini. Haji Isa tidak berhasil menemukan Pangeran Hidayat, tetapi dia bertemu dengan Demang Lehman. Ketika Haji Isa menyampaikan tugas misinya terhadap Demang Lehman. Demang Lehman langsung menjawab menolak segala macam perundingan dan akan terus berjuang sampai akhirnya memperoleh kemenangan. Laporan Haji Isa ini menimbulkan semangat Belanda untuk mengatur siasat baru. Mayor Koch Asisten Residen di Martapura mengatur dan mengadakan hubungan dengan Demang Lehman atas perintah Residen Verspijck. Pertemuan dengan Demang Lehman menghasilkan kesepakatan bahwa Demang Lehman bersedia menemui Pangeran Hidayat asal Belanda berjanji mendudukkan Pangeran Hidayat sebagai Raja di Martapura. Demang Lehman selalu merasa curiga dengan keinginan Belanda untuk mendudukkan Pangeran Hidayat sebagai raja di Martapura, karena itu Demang Lehman mengkonsolidasi pasukannya. Setelah terjadi hubungan surat menyurat antara Demang Lehman dengan Regent Martapura Pangeran Jaya Pemenang, Demang Lehman bersedia turun ke Martapura. Pada tanggal 2 Oktober 1861 Demang Lehman turun ke Martapura bersama tokoh-tokoh pejuang disertai 250 orang pasukannya. Anggota pasukannya ini akan menyusup ke seluruh pelosok Martapura dan akan mengamuk kalau Belanda menipu dan menangkap Demang Lehman. Tokoh-tokoh pejuang yang mengiringi Demang Lehman adalah: Kiai Darma Wijaya, Kiai Raksa Pati, Kiai Mas Cokroyudo, Kiai Puspa Yuda Negara, Gusti Pelanduk, Pambakal Ahmad, Kiai Jaya Surya, Kiai Setro Wijaya, Kiai Muda Kencana, Kiai Surung Rana ( Habib Shohibul Bahasyim) , Pambakal Nabil, Pambakal Yunus, Tumenggung Umar, Tumenggung Pambakal Habib Ali Al-Akbar Al-Aidid dan masih banyak lain-lainnya. Tanggal 6 Oktober 1861 Demang Lehman memasuki kota Martapura disertai 15 orang pemimpin lainnya. Haji Isa menyambut rombongan ini dan langsung ke rumah Regent Martapura Pangeran Jaya Pemenang. Dalam pertemuan empat mata dengan Demang Lehman, Residen berusaha memikat Demang Lehman dengan janji akan memberikan jaminan hidup setiap bulan kepadanya asal Demang Lehman berjanji menentap di Martapura, di Banjarmasin atau Pelaihari dan mengajak kepada seluruh rakyat kembali ke kampung mereka masing-masing dan bekerjsama seperti semula. Janji Residen itu tidak menarik perhatiannya, tetapi kesetiannya kepada perjuangan dan sumpah perjuangan lebih tinggi nilainya daripada kepentingan diri sendiri. Disamping itu Demang Lehman tegas mengatakan bahwa mereka akan berjuang terus sampai Pangeran Hidayat dapat duduk kembali di Martapura memangku Kerajaan Banjar. Semboyan mereka huruf “Mim” (huruf Arab mim) yang berarti Martapura atau mati karenanya. Hasil pertemuan dengan Residen memaksa Demang Lehman mencari tempat persembunyian Pangeran Hidayat dan akan merundingkannya dengan lebih teliti dan segala akibatnya nanti. Tanggal 9 Oktober 1861 Demang Lehman berangkat ke Karang Intan dan kepergiannya ini memakan waktu hampir sebulan. Kepergian Demang Lehman ini mengkhawatirkan Belanda dan meminta agar Demang Lehman kembali ke Martapura. Tanggal 30 Desember 1861 Residen G.M. Verspyck tiba di Martapura dan perundingan dengan Demang Lehman dilangsungkan. Residen berjanji bahwa Pangeran Hidayat boleh tinggal dengan keluarganya di Martapura selama perundingan berlangsung dan jikalau perundingan gagal Pangeran Hidayat boleh kembali ke pusat pertahanannya dalam tempo sepuluh hari dengan aman. Tanggal 3 Januari 1862 Demang Lehman kembali berangkat mencari Pangeran Hidayat menuju Muara Pahu di daerah antara Riam Kanan dan Riam Kiwa. Pada tanggal 14 Januari 1862 Demang Lehman bertemu dengan Pangeran Hidayat di Muara Pahu. Demang Lehman menyampaikan surat Residen dan surat Regent Martapura Pangeran Jaya Pamenang. Dalam perjanjian itu Ratu Siti ibu Pangeran Hidayat dijemput dari tempatnya di Paau Sungai Pinang, begitu pula keluarga Pangeran Hidayatullah yang masih menetap di Tamunih. Pada 22 Januari 1862, rombongan Pangeran Hidayatullah berangkat dari Muara Pahu dengan rakit dan perahu, melewati Mangapan dan 3 hari kemudian sampai di Awang Bangkal dan baru tanggal 28 Januari 1862 tiba di Martapura. Rombongan ini disambut rakyat dengan suka hati di Martapura. Rombongan langsung menuju tempat Regent Martapura Pangeran Jaya Pemenang yang masih hubungan paman dari Pangeran Hidayat. Regent Martapura adalah jabatan yang dibentuk Hindia Belanda pasca penghapusan Kesultanan Banjar, kemudian Regent Martapura dihapus pada tahun 1884. Perundingan dilangsungkan pada tanggal 30 Januari 1862, dimulai pada jam 10.30 pagi. Pihak Belanda terdiri dari: Letkol Residen G.M. Verspijck Mayor C.F. Koch, Assisten Residen di Martapura Lettu Johannes Jacobus Wilhelmus Eliza Verstege, Controleur afdeeling Kuin Lettu A.H. Schadevan, ajudan Koch Pangeran Jaya Pemanang, Regent Martapura Kiai Patih Tajuddin, Kepala Distrik Martapura Kiai Patih Khairuddin, Kepala Distrik Riam Kanan Haji Isa Tumenggung Jaya Leksana Pihak Pangeran Hidayatullah terdiri dari 25 orang diantaranya adalah: Pangeran Hidayatullah Kiai Demang Lehman Pangeran Sasra Kasuma, anak Pangeran Hidayat Pangeran Saleh, anak Pangeran Hidayat Pangeran Abdurrahman, anak Pangeran Hidayat Pangeran Kasuma Indra (suami Ratu Kasuma Indra binti Pangeran Hidayat), putera Pangeran Husen bin Sultan Sulaiman Gusti Isa bergelar Pangeran Muhammad Ali Bassa (suami Ratu Sholehah binti Pangeran Hidayatullah) – putera Goesti Shafiah. Raden Tuyong dengan gelar Pangeran Jaya Kasuma (suami Ratu Rampit/Ratu Jaya Kasuma), ipar Pangeran Hidayat Gusti Muhammad Tarip Dalam perundingan itu Belanda mengatur siasat yang licik berpura berbaik hati dengan tujuan untuk menangkap dan mengasingkan Pangeran Hidayat keluar dari Bumi Selamat (Martapura). Tujuan menghalalkan cara itulah yang dilakukan Belanda. Dalam situasi yang terjepit dan kondisi yang tidak memungkinkan Pangeran Hidayat terpaksa menandatangani Surat Pemberitahuan yang ditujukan kepada rakyat Banjar, yang sudah disiapkan Belanda sebelumnya. Surat Pemberitahuan itu ditandatangani Pangeran Hidayat dengan cap Pangeran tertanggal 31 Januari 1862. Surat Pemberitahuan itu selengkapnya berbunyi: Surat ini tidak berisikan perintah, karena saya telah meletakkan dengan sukarela hak itu. (hak sebagai Mangkubumi). Karena mendengarkan nasihat yang salah, saudara-saudara memberontak terhadap pemerintah Belanda, saudara menempuh jalan yang salah. Saudara telah melihat bahwa Pemerintah Belanda lebih kuat dari kita, bahwa ia tidak hanya mementingkan kemakmuran rakyat yang baik, tapi juga bersikap lembut dan satria terhadap musuh-musuhnya. Kepada rakyat Banjar saya mohon supaya menghentikan segala permusuhan, saudara-saudara yang masih melawan kembalilah ke rumah saudara-saudara dan carilah mata pencaharian yang damai dan jujur, sehingga drama pembunuhan dan permusuhan dapat dihentikan. Letakkan senjata saudara, mohonkan ampun dengan sungguh-sungguh dan saya yakin bahwa Pemerintah Belanda akan memberinya dengan jiwa besar. Jangan sekali-kali mendengarkan perintah pemimpin-pemimpin yang terus berkeras meneruskan peperangan, baik perintah dari Pangeran Antasari, Pangeran Aminullah dan orang jahat lainnya. Saya mengatakan bahwa mereka sama sekali tidak mengerti kepentingan saudara-saudara, dan kepentingan mereka sendiri dan saudara-saudara untuk keselamatan saudara-saudara sendiri dan demi kecintaan kepada saya, berkewajiban untuk menangkapi dan menyerahkan pemimpin rakyat yang jahat itu kepada Gubernur. Saya sendiri memberi saudara contoh penyerahan diri itu, saudara-saudara melihat bagaimana yang saya dapatkan. Saya sudah mencoba supaya mereka yang masih melawan mau menyerah. Semakin cepat bekas-bekas perang yang mencelakakan ini dapat dihilangkan, semakin cepat saudara-saudara mendapatkan pengampunan dari Allah Yang Maha Tinggi untuk bencana yang selama lebih dua tahun melanda penduduk Banjar. Allah Yang Maha Tinggi dan arwah-arwah nenek moyang (raja-raja) dan kuburnya akan mengutuk kalian, terutama pemimpin-pemimpin rakyat yang masih melawan, apabila permintaan saya yang terakhir ini tidak dipenuhi. Pangeran sangat terperanjat dengan ucapan Verspijck yang bertindak sebagai Wakil Tertinggi dari Pemerintah Belanda di daerah Selatan dan Timur Borneo dan dia berwenang memberi pengampunan dan melupakan apa yang terjadi pada masa lampau dengan syarat bahwa Pangeran Hidayat harus berangkas ke Batavia dalam tempo 8 hari. Kepada Pangeran diperkenankan membawa keluarga yang disukainya dan sebelum berangkat harus menyebarluaskan Surat Pemberitahuan yang sudah dibubuhi cap dan tanda tangan Pangeran. Ketika Pangeran mengajukan keberatan atas kepergian ke pulau Jawa tersebut, Residen menjawab bahwa bagi Pangeran perlu menikmati istirahat. Demang Lehman yang merasa tertipu, sangat kecewa terhadap sikap Belanda untuk memberangkatkan Pangeran Hidayat ke pulau Jawa. Demang Lehman berusaha mengajak Mufti dan Pangeran Penghulu Pambakal untuk memohon kepada Residen agar keputusan pemberangkatan Pangeran Hidayat dibatalkan. Demang Lehman berusaha untuk menggagalkan keberangkatan ini dan ketika rombongan Pangeran berangkat pada pagi hari tanggal 3 Februari 1862, Demang Lehman telah siap dengan pasukannya untuk menggagalkannya. Perahu yang membawa Pangeran dibelokkan ke rakit batang pohon pada rumah yang dulu pernah dijadikan tempat tinggal Demang Lehman, dan disambut dengan gegap gempita oleh rakyat. Pangeran terus dilarikan. Belanda tidak dapat bertindak apa-apa, dan baru setelah Pangeran dilarikan ke luar kampung Pasayangan, Residen mengerahkan kekuatannya untuk menangkap Pangeran. Seluruh kampung Pasayangan sampai kampung Kertak Baru dibakar Belanda. Masjid Martapura yang indah yang dibangun lebih dari 140 tahun yang lalu digempur dan dibakar Belanda. Ini terjadi pada 4 Februari 1862 merupakan saksi kebengisan dan kebrutalan penjajah Belanda terhadap rakyat Banjar yang tidak berdosa. Penipuan 2 Maret 1862 Penipuan itu dimulai dengan ditangkapnya Ratu Siti, Ibu Sultan Hidayatullah, kemudian Pihak Belanda menulis surat atas nama Ratu Siti kepada Sultan, agar mengunjungi dia sebelum dihukum gantung oleh Pihak Belanda. Surat tersebut tertera cap Ratu Siti…, padahal semua itu hanya rekayasa & tipuan tanpa pernah Ratu Siti membuat surat tersebut. Ketika bertemu dengan Ibu Ratu Siti ditangkaplah Sultan Hidayatullah dan diasingkan ke Cianjur. Penangkapannya dilukiskan pihak Belanda: Pada tanggal 3 Maret 1862 diberangkatkan ke Pulau Jawa dengan kapal perang ‘Sri Baginda Maharaja Bali’ seorang Raja dalam keadaan sial yang dirasakannya menghujat dalam, menusuk kalbu karena terjerat tipu daya. Seorang Raja yang pantas dikasihani daripada dibenci dan dibalas dendam, karena dia telah terperosok menjadi korban fitnah dan kelicikan yang keji setelah selama tiga tahun menentang kekuasaan kita (Hindia Belanda) dengan perang yang berkat kewibawaanya berlangsung gigih, tegar dan dahsyat mengerikan. Dialah Mangkubumi Kesultanan Banjarmasin yang oleh rakyat dalam keadaan huru-hara dinobatkan menjadi Raja Kesultanan yang sekarang telah dihapuskan (oleh kerajaan Hindia Belanda), bahkan dia sendiri dinyatakan sebagai seorang buronan dengan harga f 10.000,- diatas kepalanya. Hanya karena keberanian, keuletan angkatan darat dan laut (Hindia Belanda) dia berhasil dipojokan dan terpaksa tunduk. Itulah dia yang namanya : Pangeran Hidajat Oellah Anak resmi Sultan muda Abdul Rachman dst, dst, dst….. ( Buku Expedities tegen de versteking van Pangeran Antasarie, gelegen aan de Montallatrivier. Karya J.M.C.E. Le Rutte halaman 10). Baru tanggal 2 Maret 1862 Pangeran Hidayat setelah kembali tertipu kemudian diangkut dengan kapal Van OS berangkat dari Martapura keesokan harinya dan terus merapat ke kapal Bali untuk selanjutnya diangkut ke Batavia. Pangeran Hidayat di buang ke kota Cianjur disertai sejumlah keluarga besar kerajaan yang terdiri dari: seorang permaisuri Ratu Mas Bandara, sejumlah anak kandung dari permaisuri, menantu-menantu, saudara-saudara sebapak, ipar-ipar, ibu Pangeran sendiri, panakawan-panakawan beserta isteri dan anak buahnya, budak laki-laki dan perempuan, semua berjumlah 64 orang. Demang Lehman yang merasa kecewa dengan tipu muslihat Belanda berusaha mengatur kekuatan kembali di daerah Gunung Pangkal, negeri Batulicin, Tanah Bumbu. Waktu itu ia bersama Tumenggung Aria Pati bersembunyi di gua Gunung Pangkal dan hanya memakan daun-daunan. Oleh seorang yang bernama Pembarani diajak menginap di rumahnya. Karena tergiur imbalan gulden dari Belanda, Pembarani bekerjasama dengan Syarif Hamid Al-Idrus bin Pangeran Syarif Ali Al-Idrus Sabamban dan anak buahnya yang sudah menyusuri Gunung Lintang dan Gunung Panjang untuk mencari Demang Lehman atas perintah Belanda. Demang Lehman tidak mengetahui bahwa Belanda sedang mengatur perangkap terhadapnya. Oleh orang yang menginginkan hadiah dan tanda jasa sehabis dia melakukan salat Subuh dan dalam keadaan tidak bersenjata, dia ditangkap. Ia sempat sendirian melawan puluhan orang yang mengepungnya. Atas keberhasilan penangkapan ini Syarif Hamid akan diangkat sebagai raja tetap di Batulicin. Kemudian Demang Lehman diangkut ke Martapura. Pemerintah Belanda menetapkan hukuman gantung terhadap pejuang yang tidak kenal kompromi ini. Dia menjalani hukuman gantung sampai mati di Martapura, sebagai pelaksanaan keputusan Pengadilan Militer Belanda tanggal 27 Februari 1864.[2] Pejabat-pejabat militer Belanda yang menyaksikan hukuman gantung ini merasa kagum dengan ketabahannya menaiki tiang gantungan tanpa mata ditutup.Urat mukanya tidak berubah menunjukkan ketabahan yang luar biasa. Tiada ada satu keluarganyapun yang menyaksikannya dan tidak ada keluarga yang menyambut mayatnya. Setelah selesai digantung dan mati, kepalanya dipotong oleh Belanda dan dibawa oleh Konservator Rijksmuseum van Volkenkunde Leiden. Kepala Demang Lehman disimpan di Museum Leiden di Negeri Belanda, sehingga mayatnya dimakamkan tanpa kepala.[12] Rujukan Van Rees WA. 1865. De Bandjarmasinsche Krijg van 1859-1863, Arnhem: Thieme. M. Gazali Usman, Kerajaan Banjar: Sejarah Perkembangan Politik, Ekonomi, Perdagangan dan Agama Islam, Banjarmasin: Lambung Mangkurat Press, 1994. Referensi (Indonesia)Kiai Bondan, Amir Hasan (1953). Suluh Sedjarah Kalimantan. Bandjarmasin: Fadjar. {{cite book}}: ( ) (Indonesia)Rosa, Helvy Tiana (2008). Bukavu. PT Mizan Publika. ISBN 9789791367332. {{cite book}}: ( ); ( ); ( ) 791-367-33-7 (Indonesia) Tamar Djaja, Pustaka Indonesia: riwajat hidup orang-orang besar tanah air, Jilid 2, Bulan Bintang, 1965 (Indonesia)Indonesia, Departemen Penerangan (1955). Republik Indonesia: Kalimantan. Kementerian Penerangan. (Indonesia)Widjaya, Roebaie (1962). Merdeka: tjerita rakjat. Djajamurni. van Rees, Willem Adriaan (1865). De bandjermasinsche krijg van 1859-1863: met portretten, platen en een terreinkaart (dalam bahasa Belanda). Vol. 2. Arn @sorotan
SAMBUTAN ULON’S Bersama ABAH GUSTI AZHAR. A M.PD MEWAKILI KALSEL Sebelum Pembukaan PENYUSUNAN DRAFT RPP / RUU Tentang PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN ASET ULAYAT ADAT MASYARAKAT ADAT NUSANTARA di IKN. Kami diberikan Mandat oleh Yang Mulia Ketua Umum LK-PASI Untuk Mendirikan Kepengurusan LK-PASI di Provinsi Kalimantan Selatan. LK-PASI = LEMBAGA KOMUNIKASI PEMANGKU ADAT SELURUH INDONESIA.. Dalam Sambutan Ulon’s, meluruskan sebagian Sejarah yang sudah di Simpang siurkan.
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh DULI PADUKA YANG BERDAULAT YANG DI PERTUAN AGUNG TUANKU YANG MULIA PARA RAJA, PARA SULTAN, PARA RATU, PARA PELINGSIR DAN PARA PEMANGKU ADAT SELURUH INDONESIA. ” Dengan Kerendahan Hati Saya Haturkan Bahwasanya Belanda Telah Gagal Menghapus KESULTANAN (Banjar) KAYU TANGI, Karana Kesultanan (Banjar) Kayu Tangi di LANJUTKAN oleh TUANKU PADUKA YANG MULIA Almarhum DATU PANGERAN ANTASARI dan ANAK CUCU NYA. Kesultanan Banjar itu terakhir bernama “KESULTANAN BARAS KUNING” (di Banawing sekarang Desa Tata Koto – Tanah Siang Selatan – Purukcahu Kalteng) tapi Pemerintah tidak mencatat riwayat atau pun Sejarah nya, dan Kesultanan Banjar itu resmi Berakhir setelah Adanya nya Proklamasi 17 Mei 1949 oleh Gubernur Tentara ALRI DIVISI.IV BRIGJEN H.HASAN BASRI. “BERGABUNG NYA KALIMANTAN DENGAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA”
DULI PADUKA YANG BERDAULAT YANG DIPERTUAN AGUNG, TUANKU YANG MULIA PARA RAJA, PARA SULTAN, PARA RATU, PARA PELINGSIR DAN PARA PEMANGKU ADAT SELURUH INDONESIA. Dengan Kerendahan Hati Saya Haturkan KESULTANAN BARAS KUNING adalah Kelanjutan dari KESULTANAN KAYU TANGI (KERAJAAN BANJAR – MARTAPURA) setelah Sultan Hidayatullah di tangkap dan di buang oleh VOC / BELANDA ,
PANGERAN HIDAYATULLAH (Sultan Hidayatullah) memerintahkan langsung secara Lisan dan disaksikan oleh Para Keluarga dan Kerabat Istana dan Rakyat Kayu Tangi (Banjar) Kepada PANGERAN ANTASARI Agar Melanjutkan Kerajaan Banjar KESULTANAN KAYU TANGI (Martapura) , Karna Pangeran Hidayatullah Mengingat dan Mempertimbangkan Bahwa Sebelumnya Kakek Pangeran Antasari tidak sempat menjadi Sultan karena telah di gagalkan oleh Kolonial VOC dan Belanda. Tapi sebelum itu PANGERAN HIDAYATULLAH Menyuruh Pangeran Antasari agar menemui RAJA KUMBAYAU (Datu Aling) di KERAJAAN TAMBAI (Tambarangan-Rantau) ,
Singkat Cerita : PANGERAN ANTASARI di Tambarangan di NOBATKAN MENJADI RAJA atau SULTAN oleh Para Tutus dan Sesepuh BANJAR untuk Meneruskan KESULTANAN KAYU TANGI, setelah PANGERAN ANTASARI di NOBATKAN menjadi RAJA/SULTAN Nama Kerjaan di ganti dengan KERAJAAN PAGUSTIAN KESULTANAN BANJAR Ibukota Pemerintah Pindah Ke JUKINGHARA (Muara Teweh), setelah Genting nya Peperangan Melawan Belanda di Hulu Sungai Barito, Ibukota Kerajaan Pindah Ke BIYAN BIGOK – SAMPIRANG (Pedalaman Muara Teweh). Di Biyan Bigok – Sampirang (Pedalaman Muara Teweh) PANGERAN ANTASARI di isukan oleh Rakyat Banjar dan Barito Telah Wafat Karna Sakit Cacar (Padahal Pangeran Antasari Belum Mati, hanya untuk mengelabui Belanda, hingga Belanda pun jadi salah sangka dan memberitakan kematian nya kepada seluruh rakyat Kalimantan dan Hindia-Belanda) Maka dengan itu Pangeran Antasari mengambil kesempatan dengan berita Kematian nya untuk Memerintahkan Anaknya GUSTI MUHAMMAD SEMAN menggantikan Beliau untuk menjadi Raja/Sultan untuk Melanjutkan Beliau dan Semenjak itu Pangeran ANTASARI dapat menyamar untuk kepentingan Perjuangan.. Singkat Cerita : SULTAN MUHAMMAD SEMAN Di Nobatkan Menjadi Raja dan NAMA KERAJAAN di Ganti Beliau Menjadi KESULTAN BARAS KUNING dan Ibukota Pemerintahan Berpindah ke BANAWING / BARASKUNING – TANAH SIANG – Purukcahu. Singkat cerita : Sultan Muhammad Seman Bersama Rakyat Banjar dan Barito semakin sengit melakukan Perlawanan terhadap Kolonial VOC dan Belanda. Setelah SULTAN MUHAMMAD SEMAN wafat Posisi Beliau di Gantikan oleh Adik Beliau yaitu SULTAN MUHAMMAD SAID, Sultan Muhammad Said Menambah Kekuatan untuk Melanjutkan Perlawanan terhadap Kolonial VOC dan Belanda, setelah SULTAN MUHAMMAD SAID wafat, Maka posisi Beliau di Gantikan oleh RATU ZALEHA binti SULTAN MUHAMMAD SEMAN.. setelah itu RATU ZALEHA memindahkan kembali Ibukota Pemerintahan kembali lagi Kejukinghara – Muara Teweh, Ratu Zaleha Bersama Bulan Jihad (Panglima Burung) Membentuk Pasukan Laskar Galuh (Wanita) untuk memperkuat dan memperluas Perjuanga Melawan Kolonial VOC dan Belanda sehingga perlawanan Rakyat Banjar dan Barito semakin sengit..
RAJA TERAKHIR di KERAJAAN BANJAR adalah “RATU ZALEHA binti Sultan Muhammad Seman” Beliau wafat Setelah Kemerdekaan pada tahun 1953 M di Banjarmasin.
Nan Sarunai adalah sebuah kerajaan Banjar kuno yang diklaim Dayak, sampai sekarang orang Dayak tidak punya budaya berkerajaan, peradaban mereka bukan monarchy tapi horde yang dipimpin kepala adat, soal genetik malah suku bangsa Banjar menjadi nenek moyang bagi sebagian orang Madagaskar, Malaysia, Brunei, Singapura, Filipina, Kamboja, Saudi Arabia, dll.
Diaspora Banjar ke Madagaskar terjadi sekitar abad ke 4 masehi, para fakar ilmu sejarah mengidentifikasinya bukan lewat bahasa atau budaya melainkan lewat genetik, hasilnya cocok, genetik Banjar lebih strong dan pure.
Soal terdapat tulisan/aksara Pallawa juga diklaim pengaruh Sriwijaya buktinya dari mana? Kerajaan Sriwijaya aja sampai sekarang tidak ada yang tahu pasti lokasinya di mana, masih menjadi perebutan daerah2 di Sumatera, tapi tahukah anda bahwa aksara Pallawa tertua yang ditemukan berasal dari Kutai ? Jadi Banjar dan Kutai itu satu nenek moyang yang berperadaban monarchy dan beraksara Pallawa, kemudian mereka menyebarkan pengaruh Hindhu-buddha ke pulau Jawa, Sumatera, dll sehingga terbentuklah kerajaan2 lain. Sekarang orang Banjar dan Kutai tidak menggunakan aksara Pallawa lagi karena sudah digantikan oleh peradaban Islam dan berubah menjadi aksara arab gundul, apalagi di Sumatera sudah tidak ada lagi yang menggunakan aksara Pallawa, jadi jangan mudah mereduksi sejarah.
Sedangkan nama Banjar itu diambil dari nama kerajaan yang bernama Banjar, orang2 Banjar dahulu juga tidak kenal sistem kesukuan, mereka menyebut diri mereka sesuai dengan kerajaan saat itu, misalnya sewaktu berdirinya kerajaan Nan Sarunai di abad ke 2 sebelum masehi maka nenek moyang Banjar menyebut diri mereka adalah orang2 Nan Sarunai, Begitu pun saat kerajaan Tanjungpuri, Dipa, Daha dan seterusnya sampai kerajaan Banjar, mereka sekarang menyebut dirinya adalah orang2 Banjar, tapi semua itu masih satu bangsa, bangsa asli dan pertama Kalimantan yaitu Banjar-Kutai yang menyebarkan agama Hindhu-Buddha di Nusantara, nenek moyang mereka berasal dari India selatan yang membawa budaya monarchy, Agama dan aksara Pallawa, sedangkan Dayak adalah kelompok Horde yang bermigrasi dari China Selatan.
konyolnya mereka mengklaim bahwa Nan Sarunai itu adalah dari Dayak Ma’anyan, sampai sekarang Maanyan masih eksis dengan segala perbedaannya, populasi Ma’anyan cuma 10 ribu orang, 90%+ beragama Kristen, budaya berkerajaan saja tidak terlihat dalam kesukuan mereka, Dayak itu pendatang dari Yunnan China yang membawa budaya pagannya sendiri seperti budaya telinga panjang dan tattoo, sekarang malah mayoritas Kristen karena mereka menjaga jarak dengan peradaban berkerajaan.
Aksara Pallawa yang tertua ditemukan sebenarnya bukan di Kutai apalagi di Sriwijaya, tapi di Nan Sarunai yaitu abad ke 2 sebelum masehi.
Politik Indonesia dan Malaysia berbeda menanggapi istilah Melayu, di Malaysia Melayu adalah sebuah ras sedangkan di Indonesia Melayu hanyalah sebuah suku bangsa, berawal dari pengaruh kolonial inggris lah yang menggeneralisir istilah Melayu sebagai sebuah ras, sedangkan istilah Dayak itu malah baru ada tahun 1894 pasca perjanjian Tumbang Anoi untuk mengidentifikasi kelompok2 kecil yang kemudian dibesar besarkan oleh Belanda.
Banjar adalah suku bangsa tersendiri dan berasal dari nenek moyang Banjar sendiri yang kokoh diakui Kemendikbud. Sebagai salah satu suku bangsa terbesar di Indonesia dan terbesar di Kalimantan, dengan SDM nya yang menjadi unggulan di daerah2 Kalimantan dan sejarah kerajaannya yang pernah menguasai Kalimantan, bahasanya yang menjadi lingua franca, bahkan pengaruhnya sampai ke luar Nusantara, maka harusnya Banjar menjadi orientasi Kalimantan, i ❤️ Banjar.
Syaikh Nawawi Al Bantani, Beliau Menyebut: “HABIB ADALAH DZURRIYAH RASULULULLAH SAW” (Kajian Kitab Uqudul Lujjain hal: 5)
Banyak dari Kalangan awam yang salah faham dengan mengatakan bahwa Habib bukan Keturunan Dzurriyah Rasulullah Saw, yang disebut Dzurriyah Rasululullah Saw hanya Sayyid dan Syarif saja, ini salah besar
Alhamdulillaah Ulama’ Agung Ulama’ besar Imam Masjidil Haram dari Banten Sekaligus Gurunya Ulama’ Jawa Khususnya Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar Al Bantani Rahimahullahu ta’ala Rahmatal Abrar aamiin”, beliau dengan jelas menyatakan dalam kitab beliau yang berjudul: (شرح عقود اللجين في بيان حقوق الزوجين) Kitab Uqudul Lujjain fii Bayaani Huquuqi Az Zaujain, pada halaman 5 dengan gamblang dan jelas, beliau mengatakan bahwa: “Habib adalah Dzurriyah Rasululullah saw”, teks latin Arabnya dalam kitab tersebut adalah sbb:
(قال سيدنا) أي أكرمنا (الحبيب) أي المحبوب السيد (عبدالله الحداد) صاحب الطريقة المشهورة والأسرار الكثيرة، فاصطلاح بعض أهل البلاد أنّ ذرية رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم إذا كان ذكرا يقال له حبيب ،وإن كان أنثى يقال لها حبابة واصطلاح الأكثر يقال له سيّد وسيّدة.
Beliau As Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar Al Bantani Radhiyallahu Anhu berkata:
As-Sayyid Al-Habib Abdullah Alhaddad adalah ahli tarekat yang terkenal dan penuh asrar, Para Ahli Negara membuat istilah bahwa keturunan Rasulullah Saw itu kalau laki-laki disebut “Habib”, jika wanita disebut “Hababah/Hubabah”. Sementara itu banyak kaum muslimin banyak menyebut “Sayyid” dan “Sayyidah”.
Beliau Syaikh Nawawi Al Bantani menjunjung tinggi Al Habib Abdullah bin Alawi Al Haddad (BA’ALAWI) dengan sebutan Al Habib Al Mahbub As Sayyid, dan mengakui bahwa Al Habib As Sayyid Abdullah Al Haddad (Ba’alawi) adalah Dzurriyah Rasululullah Saw.
Siapa yang tidak kenal dengan As Sayyid Al Habib Abdullah bin Alawi Al Haddad (BA’ALAWI), beliau seorang wali besar pengarang Ratib Al Haddad, Pengarang kitab Nashoihud Diniyah, Kitab Risalatul Muawanah, Kitab Sabilul iddzikar dll, beliau seorang Wali Qutub besar di zamannya, kurang lebih sekitar 60 tahun lebih beliau menjabat Maqom kewalian dari Allah SWT. Semoga bermanfaat, Wallahu a’lam..
Jika kita bertanya Kerajaan atau Kesultanan Melayu apa yang pernah menjadi salah satu kerajaan terbesar di Nusantara, mungkin kerajaan Banjar akan menjadi salah satu jawabannya. Sebuah Kesultanan Melayu yang terletak jauh radiusnya dari pusat pusara budaya Melayu di Kepulauan Riau, Sumatera Timur atau Semenanjung Malaya. Pengaruh luas Kesultanan Banjar bukan saja terbatas di tenggara Pulau Kalimantan saja, atau wilayah Kalimantan selatan saja, Kesultanan Banjar pernah mempunyai wilayah kekuasaan yang sangat luas yang meliputi seluruh wilayah Republik Indonesia di Pulau Kalimantan saat ini, dari Nunukan di Kalimantan utara hingga Sambas di kalimantan barat, wilayah-wilayah inilah yang kemudian diklaim oleh pemerintah Kolonial Belanda sebagai wilayah jajahannya setelah mereka (Belanda) berhasil mengambil alih daerah tersebut dengan berbagai perjanjian dengan Kerajaan Banjar. Bahkan Kerajaan Sulu di Filipina selatan disebut sebut sebagai Banjar Kulan (Banjar kecil/Little Banjar) kerna dahulu orang Banjar mendirikan pemukiman disana dan ikut andil mendirikan kesultanan Sulu ,Philipinese
Menurut Sejarawan Heliaus Syamsudin Kerajaan banjar patut dan pantas untuk disebut sebagai sebuah Negara Imperium karena memiliki wilayah sangat luas dan mempunyai Negara-negara bawahan yang tunduk kepadanya. Jika dibandingkan luasnya Kerajaan Banjar dengan luas wilayah beberapa kerajaan di Pulau Jawa misalnya, tentu tak bisa dibandingkan, luas wilayah kerajaan-kerajaan di pulau jawa jauh lebih kecil dan kalah jauh dari kerajaan Banjar, meski disisi lain sebaliknya walaupun wilayah kerajaan banjar sangat luas namun memiliki penduduk yang jauh lebih sedikit dari pada penduduk dipulau jawa. Sayangnya, Kesultanan banjar telah runtuh hampir 170 tahun yang lalu, yang membuat pengaruh politiknya juga pudar dengan sendirinya, tapi meski telah runtuh dengung pengaruhnya tidaklah hilang sepenuhnya, budaya Banjar dengan berbagai bentuk yang lain (selain politik tentunya) malah menyebar dengan nyamannya keseluruh pulau kalimantan dan wilayah-wilayah diaspora orang banjar diluar pulau Kalimantan. Salah satu dari pengaruh itu misalnya adalah Bahasa banjar yang telah dengan sedemikian rupa menjadi bahasa lingua franca di tiga per empat wilayah Kalimantan,seperti dikalimantan selatan, Kalimantan tengah, Kalimantan timur, dan Kalimantan utara, bahasa banjar menjadi bahasa pergaulan sehari-hari. Tentu dengan logat dan dialeknya tersendiri diberbagai wilayah tersebut, Bahasa Banjar juga bukan saja digunakan dikalimantan sahaja, kantong-kantong diaspora orang banjar di pulau sumatera, kepualauan riau dan semenanjung Malaya dan Borneo utara seperti Negara Bagian Sabah Malaysia tetap menggunakan bahasa Banjar dalam berbagai kondisinya masing-masing.
Bahasa banjar pasaran memang diakui sebagai bahasa banjar yang sangat mudah dipelajari dan dikuasi dan sangat nyaman untuk digunakan dan sangat disukai. Selain bahasa, budaya banjar lainnya yang masih terasa adalah budaya madam atau budaya merantau orang Banjar yang tetap hidup hingga sekarang, orang-orang banjar dapat ditemukan secara signifikan diseluruh pulau Kalimantan, bahkan dipulau-pulau lain diseluruh Indonesia bahkan ASEAN, dari Thailand hingga Filipina selatan kita bisa menemukan orang banjar dengan varian dan signifikasi yang berbeda-beda. Hal lain yang masih hidup dari orang banjar adalah budaya dagangnya, yang menjadikan orang banjar membangun jaringan ekonomi perdagangan ke pedalaman Kalimantan dan pulau pulau lainnya, ada istilah saudagar banjar pada jaman dahulu yang hingga sebelum kemerdekaan masih berdagang mengarungi lautan nusantara dengan kapal-kapalnya, ada cerita tentang orang-orang banjar terkenal sebagai penguasa jaringan pedagang kayu diseluruh pulau jawa dan bali, serta pedagang emas diberbagai kota di Indonesia, orang banjar bahkan diberi gelar sebagai china hitam karena keahlian mereka dalam berdagang dan berusaha berbagai hal, menjadi pesaing hebat bagi orang-orang china. Pengenal lainnya dari orang banjar adalah agama islam dan ulama-ulama dari tanah banjar atau berdarah keturunan banjar yang menyebar luas diseluruh wilayah Kalimantan dan tanah melayu disumatera dan semenanjung Malaya dan kepulauan Nusantara lainnya, tiada hentinya dari dahulu Kesultanan Banjar masih berdiri kokoh sehingga saat ini ulama-ulama hadir dari orang banjar atau keturunan-keturunan banjar lahir dan muncul, yang merupakan sebuah kebangganan tersendiri bagi orang Banjar. Selain itu meskipun eksestensi kerajaan banjar telah runtuh, namun Kolonial Belanda tidak serta merta menghilangkan peran orang Banjar, sebagai kompensasi dan untuk merebut hati para penentangnya dalam 50 tahun Gejolak Perang Banjar khususnya para Bangsawan Banjar maka mereka tetap mendapatkan kesempatan untuk menduduki jabatan penting dalam pemerintahan Kolonial, keturunan keturunan mereka mendapatkan pendidikan yang baik untuk dapat menduduki jabatan jabatan lainnya pada masa-masa setelahnya, yang ditugaskan keseluruh pulau Kalimantan. Soto banjar yang mulai dikenal menjadi kuliner otentik banjar, atau mandai cimpedak atau mandai tarap “(mandai adalah makanan fermentasi dari kulit buah buah tertentu)” yang sudah merambah kesana kemari menjadi kuliner ajaib yang mempengaruhi lidah-lidah orang selain banjar, atau wadai-wadai banjar yang dipuji puji sebagai kue-kue basah paling enak di Nusantara, juga merupakan salah bentuk pengaruh yang masih hidup dari orang banjar. Orang banjar yang egaliter, agamis dan simpatik, serta nama besar sebagai keturunan dari Kesultanan Besar menjadikan orang banjar mudah diterima dimana saja diseluruh pulau Kalimantan, orang banjar terkenal tidak mau mendominasi atau tidak berperilaku ekspansif. Dengan catatan-catatan positive diatas bukan berarti tidak ada catatan negative orang Banjar, saya tidak terlalu dapat menarik kesimpulan dalam hal ini mengingat masih adanya subjektivitas diri saya sendiri sebagai orang banjar disini. tapi penelitian sementara saya mengenai tradisi madam/merantau orang banjar misalnya, saya mendapati alasan-alasan ironis, misalnya perselisilan antara keluarga mengenai harta perpantangan atau warisan, atau susahnya membangun ekonomi dikampung halaman akibat hambatan psikologis dan traditional dari keluarga, kerabat atau penduduk kampung sendiri dan sebagainya, dan kecenderungan bersifat panas hati dan pendendam juga menjadi catatan buruk urang Banjar. Hal-hal diatas mungkin bisa menjadi salam pembuka dan selamat datang untuk mengatakan bahwa pengaruh banjar dapat dipandang penting untuk dipelajari dan ditelaah lebih lanjut untuk memahami Nusantara ini. Banjar tidak kalah besar pengaruhnya pada jaman keemasannya bagi nusantara ini. Alasan lainnya mengapa banjar patut untuk terus diteliti dan dipahami adalah karena pengaruh Banjar yang masih tetap hidup sedari dahulu dan terus hidup hingga saat ini dalam berbagai macam bentuknya, ini yang menurut saya menjadi salah satu garis besar penting yang bisa kita bandingkan dengan kebesaran kerajaan atau kesultanan lainnya di Nusantara, apakah Kerajaan Kesultanan lain di Nusantara baik yang telah mati atau yang masih tetap hidup dapat memberikan pengaruhnya sehingga hari ini? Memahami Hulu Sungai untuk Memahami Banjar Dalam tulisan saya yang lalu, saya pernah menuliskan tentang hulu sungai sebagai Asal usul orang banjar, tentang sebagian sejarah Islam di Hulu Sungai dan tentang Diaspora orang Banjar yang dominan berasal dari Hulu Sungai. Bagi anda yang ingin memahami tentang sejarah dan budaya Banjar maka wajib kiranya untuk memahami apa itu Banjar hulu sungai. Banjar bukan hanya Banjarmasin dan Martapura, banjar itu bukan hanya pasar terapung. Wilayah traditional banjar terbagi menjadi dua wilayah yang berjauhan, antara wilayah-wilayah Kayutangi yang meliputi Banjarmasin dan Martapura serta Marabahan dan wilayah hulu sungai dipedalaman berjarak hampir lebih dari satu minggu mudik ke hulu menggunakan perayu traditional biasa atau satu hari penuh menggunakan perahu mesin. Hulu Sungai terbagi menjadi beberapa Kabupaten, yaitu Kabupaten Tapin berikota di Rantau, Kabupaten Hulu Sungai Selatan yang beribukota di Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah yang berikota di Barabai, kabupaten Hulu Sungai Utara yang berikota di Amuntai, Kabupaten Balangan yang beribukota di Paringin, dan Kabupaten Tabalong yang berikota di Tanjung. Selain itu ada daerah-daerah kecamatan terkenal yang dahulu merupakan wilayah traditional diwilayah Batang Banyu ( Pinggiran Sungai ) seperti Margasari, Negara dana, sungai banar dekat amuntai dan Kalua dekat tanjung tabalong. google.maps Secara tradisi, wilayah kayutangi merupakan wilayah kekuasaan sultan dan keluarga dekatnya, sedangkan wilayah hulu sungai merupakan wilayah semi otonom yang meskipun kadang dipimpin oleh keluarga Sultan di kayutangi secara bergiliran namun secara de facto kekuasaan tetap berada ditangan para Tumenggung yaitu para keturunan raja-raja dari jaman Hindu Budha yang dbelakangan juga diketahui sebagian masih berketurunan dari pengislam utusan demak. Hal ini dapat dipahami dengan jelas ketika kita membaca sejarah perang banjar dengan lebih teliti. Di Hulu sungai lah sebenarnya pusat peradapan dan kebudayaan orang Banjar terbentuk dan menjadi besar dan tetap hidup hingga sekarang ini. Rasanya sulit sekali untuk memahami banjar tanpa memahami Hulu Sungai. Hulu Sungai merupakan wilayah Hulu dari Sungai Bahan, Sungai Bahan sendiri merupakan sungai besar yang bermuara di muara bahan di sungai barito, Hulu sungai terbentuk dari beberapa sungai yang bersumber dari kaki-kaki pegunungan meratus, seperti Sungai Tapin, Sungai Amandit, Sungai Barabai, Sungai Labuan Amas, Sungai Batang Alai, Sungai Balangan, sungai Pitap, Sungai Tabalong dan sebagainya, seluruh anak sungai ini bermuara dan bertemu disebuah wilayah yang disebut dengan nama Negara daha, dimana pusat pemerintahan dan perdagangan terbentuk selama ribuan tahun lamanya. Topografi Hulu sungai sebagian besar adalah rawa-rawa dan lahan gambut, dan sebagaian lagi merupakan wilayah daratan dari kaki-kaki Pegunungan Meratus, wilayahnya sebenarnya tidak terlalu luas dengan diameter kurang lebih sekitar 60 km saja. hulu sungai menjadi daerah yang indah, jika dari pegunungan anda akan melihat rawa-rawa yang indah dengan berbagai beragam keunikannya,matahari yagn tenggelam di balik rawa-rawa dan hembusan angin yang menyegarkan, dan jika anda dari rawa-rawa akan ada saat dimana limpahan air yang coklat bening khas air rawa-rawa gambut membuat suasana seperti lautan dan pemandangan pegunungan meratus akan selalu menjadi latar paling indah disana. Wilayah hulu sungai juga merupakan wilayah yang subur dengan sumber daya alam melimpah yang tidak akan membuat penduduknya kelaparan, dengan musim tanam dua musim, musim hujan di wilayah tadah hujan dekat kaki-kaki pegunungan meratus hingga sistem huma di Pegunungan Meratus, di musim kemarau padi akan ditanam dipinggir pinggir rawa-rawa atau danau yang mengering, selain itu ikan-ikan yang melimpah merupakan sumber protein yang sangat mencukupi dan berbagai buah-buah dapat dengan mudah ditemui. Dahulu Hutan dirawa-rawa hulus ungai sangat lebat dengan pohon-pohon besar menutupi matahari dimana binatang-binatang buruan seperti Rusa sampar yang besar, kancil dan burung-burung dapat ditemui sebagai alternative pangan. Hutan-hutan tersebut masih bisa ditemui beberapa tahun yang lalu sebelum habis dibabat oleh perambahan perkebunan sawit. Wilayah ini juga dikelilingi oleh benteng alam yang sulit ditempus, tentu saja para lanun atau bajak laut enggan dan tak berani memasuki wilayah pedalaman ini, yang membuat wilayah ini aman dari ganggunan luar. Selain itu wilayah pegunungan meratus menghalangi serangan musuh dari wilayah timur dan utara, dan jikapun musuh berhasil sampai ke hulu sungai melewati pegunungan mereka akan tetap kesusahan memasuki wilayah rawa-rawa, seperti saat Peperangan di Perempat akhir abad 1700 pangeran Purbaya bersama pasukan Bugis menyerang hulu sungai namun berhasil dihancurkan. Diwilayah ini pula dipercaya orang-orang Sriwijaya datang menetap dan membawa pengaruh melayu, mendirikan koloni koloni melayu awal yang bercampur dengan penduduk-penduduk pribumi setempat. Kerajaan Majapahit pun diceritakan pernah kalah ketika menyerang Hulu Sungai, baru pada serangan kedua Majapahit baru bisa menguasai wilayah ini dengan diplomasi Perkawinan Politik antara Pangeran Majapahit dan Putri Penguasa setempat yang berhasil membangun Kerajaan Dipa sebagai cikal bakal kerajaan banjar. Hulu sungai akhirnya menjadi ibukota pulau Kalimantan yang mewarisi wilayah kekuasaan Majapahit di Kalimantan. Mungkin tidak ada wilayah diseluruh Kalimantan yang seunik wilayah hulu sungai ini, wilayah pedalaman dengan penduduk paling padat dan kebudayaan yang mumpuni sejak jaman dahulu pula, wilayah yang telah didiami selama ribuan tahun bahkan sebelum masehi. Saya pun menganggap wilayah hulu sungai sebagai wilayah Melayu paling pedalaman dan pinggiran (meminjam istilah dari andrea hirata dalam novelnya Laskar Pelangi). Paling pedalaman karena jauh dari pinggir pantai sebagai jalur utama perdagangan dan komunikasi serta politik saat itu dan pinggiran karena jauh dari pusat melayu di kepulauan riau sana. Hachelijke Reys-Togt van J. J. de Roy, na Borneo en Atchin Peta diatas saya ambil dari buku berjudul Hachelijke Reys-Togt van J. J. de Roy , na Borneo en Atchin Cetakan kedua tahun 1706, berdasar catatan perjalanan tahun 1691-an memberikan gambaran bahwa hulu sungai merupakan wilayah paling pedalaman dan dianggap sebagai pusatnya pulau Kalimantan dipedalaman, tidak ada wilayah lain ditengah-tengah pulau Kalimantan yang diketahui dan dicatat oleh orang barat sebagai wilayah berperadapan dan berpenduduk serta berpengaruh selain Hulu Sungai. Meskipun peta ini tidak presisi mengenai letak pasti wilayah yang disebutkannya, namun Peta ini merupakan peta tertua yang bisa saya dapatkan dan sepertinya mengilhami pembuatan peta-peta berikut selama seratus tahun kemudian yang banyak peta-peta lama yang menggambarkan pulau Kalimantan dapat kita teliti dan lihat diberbagai situ di internet. Coba bandingkan dengan peta dibawah dari tahun 1801 yang masih menempatkan hulu sungai sebagai satu-satunya wilayah pedalaman Kalimantan.
Tahun 1600an Titik Pusat kekuasaan Hulu Sungai disebut ada di Negara, dimana saudara Sultan biasanya mempunyai keraton istana disana, apabila sultan berganti maka pemimpin daerah Negara pun juga berganti, tapi ada daerah pedalaman dijaman itu yang tidak tersentuh yang disebut daerah Alai (Barabai) yang dipimpin seorang Tumenggung bergelar Tumenggung Gusti yang Istananya ada di kampung Banua Asam, Kampung ini sampai saat ini masih ada di dekat palajau kecamatan pandawan Barabai. Nama nama seperti Jatoh, Palajau, Benawa Tengah, Kaminting dan Negara, serta Sungai Banar dekat amuntai juga disebutkan didalam peta dan merupakan nama-nama di wilayah Hulu sungai yang sampai saat ini masih dapat kita temui. Dengan penduduk paling padat, Hulu Sungai selalu menjadi penjaga bagi kesultanan Banjar, Hulu sungai menjadi kekuatan utama bagi kesultanan Banjar, baik sebagai pemasok Pasukan untuk peperangan maupun kekuatan ekonomi dengan perkebunan lada dan hasil hutan serta industri besinya. Hulu Sungai tidak hanya sebagai asal usul dari kesultanan Banjar bahkan menjadi bagian dari perjalanan sejarah kesultanan Banjar, meskipun Belanda dan Inggris berani menyerang dan membumihanguskan Banjarmasin tapi mereka tidak pernah memasuki wilayah Hulu Sungai. Dan dalam lika-liku politik internal Kesultanan Banjar pun entah apa yang terjadi wilayah-wilayah pedalaman Hulu Sungai tetap stabil tak tersentuh ditangan kekuasaan para Tumenggung. Ketika perang banjar terjadi, para Penduduk Hulu Hungai lah yang memulai peperangan melawan Belanda, hingga bertahun-tahun berikutnya Belanda disibukkan mengatasi kerusuhan di Hulu Sungai. Dikemudian hari para Penduduk Hulu Sungai juga yang banyak berdiaspora ke berbagai wilayah Nusantara khususnya ke Kepulauan Melayu Riau, daerah daratan Sumatera Timur dan semenanjung Malaya di Malaysia. Meski ditinggal banyak penduduknya untuk berdiaspora, Hulu Sungai tetap mampu bertahan, perkebunan karet menjadi tumpuan ekonomi menggantikan Lada dimasa lalu, yang menjadikan hulu sungai menjadi salah satu daerah paling makmur dikalimantan pada jamannya saat karet mencapai masa keemasannya, kota-kota baru yang dibuka belanda bermunculan seperti kota Kandangan dan Barabai yang menjadi pusat pemerintahan dan pendidikan di hulu sungai. Bangasawan Keturunan para Tumenggung banyak menjadi birokrat dan menjadi golongan terdidik dan tercerahkan, sebagian dari mereka mempelopori perlawanan terhadap belanda khususnya melalui pendidikan dengan mendirikan sekolah formal umum maupun sekolah pendidikan agama, gerakan perlawanan ini dapat didapati di kandangan, amuntai dan barabai. Tokoh tokoh seperti datu Dumam di kandangan dan Haji Abdul Rasyid di amuntai merupakan sebagian dari para tokoh yang tercerahkan dan melalukan perlawanan melewati pendidikan. Dijaman revolusi kemerdekaan pun Hulu sungai menjadi salah satu pusat utama perlawanan kepada belanda , dan dijaman orde Lama sekali lagi hulu sungai menjadi pusat Pemberontakan DI/TII Ibnu Hajar yang tidak pusat kepada Pemerintah Pusat di Jakarta. Banyak tokoh-tokoh Banjar Nasional berasal dari Hulu Sungai, seperti Menteri Agraria pertama Republik Indonesia Ali Hanafiah, kerabat beliau Idham Khalid yang pernah menjadi Wakil Perdana Menteri dan Ketua NU, juga Nurtanio tokoh dirgantara Indonesia Pendiri IPTN atau PT DI, Saadillah Musryid sebagai salah satu menteri dijaman orde Baru, DJohan Efendi intelektual Muslim terkenal Indonesia, Ifansyah maestro pelukis realis indonesia dan masih banyak lagi. Di Malaysia kita mengenal Datok Tan Sri Abdul Jalil mantan Menteri dan salah satu pendiri UKM Malaysia, dan almarhum Pak Ngah seniman Musik Melayu terkenal di Asia Tenggara dan masih banyak lagi tokoh tokoh terkenal lainnya. Hulu sungai sekali lagi menjadi menjadi pusat penghasil intelektual banjar hingga saat ini. Masa Depan Hulu Sungai? Hingga hari ini Hulu Sungai tetap menjadi Produsen diaspora yang aktif keberbagai wilayah, tetap menjadi penyedia Sumber Daya Manusia yang mumpuni bagi orang-orang banjar dalam berbagai bidang, tetap menjadi tumpuan ekonomi dengan budaya dagang dan usahanya yang menyala-nyala. Hulu sungai seharusnya masuk dalam radar peneltian para akademisi dan intelektual secara lebih intens, bagaimana sebuah daerah yang bisa dikatakan jauh di pedalaman, cukup jauh teresolasi dari lautan tapi mampu mempengaruhi kawasan regional dan mempengaruhi Nusantara pada umumnya. Sebuah daerah dipedalaman yang pernah menjadi ibukota seluruh Kalimantan disaat mewarisi wilayah jajahan Majapahit. Sebuah daerah paling pedalaman yang mempunyai akar melayu dan dapat mempengaruhi dunia melayu itu sendiri bahkan menjadi kebanggaan melayu, Sebuah daerah dipedalaman yang sampai saat ini masih sunyi dan luput dari perhatian. Sayangnya Alam Hulu Sungai yang menjadi benteng alami yang telah menjaga penduduknya selama ribuan tahun mulai dirusak, seperti merajalelanya perkebunan sawit dan pertambangan Batu Bara. Sekali lagi akan menjadi pertarungan besar bagi Hulu Sungai dan orang Banjar pada umumnya, apakah mereka akan menghancurkan negeri asal usul mereka sendiri atau tetap mempertahankannya, saya sendiri secara pribadi tidak rela jika tanah asal usul urang banjar ini hancur apalagi dihancurkan oleh orang lain yang bukan berasal dari banjar, mereka menghancurkan alam serta orang-orang hulu sungai dengan uang dan adu domba demi perkebunan sawit dan tambang Batu Bara.
” SANG SAPURBA “Sulit bagi kita menyebutnya sebagai sebuah kerajaan pada masa Minangkabau kuno ini. Berpusat di Nagari Pariangan Padang Panjang – dapatlah dikatakan sebagai awal dari kehidupanan masyarakat minangkabu kuno. Dengan perkembangan Masyarakat kala itu, maka diciptakan oleh nenek moyang suatu tatanan kehidupan yang lebih beradat dan berbudaya. Sejak inilah diciptakan dan dikukuhkan aturan adat Minangkabau yang kita amalkan sampai sekarang. Walaupun telah kehidupan masyarakat berarlih seiring dDikisahkan bahwa pada tahun 1127, Sultan Sri Maharaja Diraja menikah dengan puti Indo Jelita, yakni adik kandung dari Datuk Suri Dirajo. Setelah 14 tahun menikah, ternyata belum juga mendapat keturunan. Maka atas sepakat dewan kerajaan, Sultan Sri Maharaja Diraja menikah lagi dengan Puti Cinto Dunia. Setelah dua tahun menikah dengan Puti Cinto Dunia, tidak ada juga tanda-tanda kehamilan Puti tersebut. Kemudian Sultan menikah lagi dengan Puti Sedayu. Atas rahmat Tuhan, tahun 1147, lahirlah Sultan Paduko Basa dari permaisuri Puti Indo Jelito, yang kemudian diangkat sebagai Raja Minangkabau, bergelar Datuk Ketemanggungan. Tahun itu juga lahir pula Warmandewa dari Puti Cinto Dunia, yang kemudian bergelar Datuk Bandaharo Kayo. Tahun 1148, lahir lagi Reno Shida dari Puti Sedayu, yang kemudian bergelar Datuk Maharajo Basa. Dengan demikian telah 3 orang putra Raja, masing-masing dari tiga orang ibu.
Tahun 1149, Sultan Sri Maharaja Diraja mangkat dan waktu itu anak raja yang tertua masih berusia 2 tahun. Atas sepakat dewan kerajaan, Ibu Suri Puti Indo Jelito, langsung memegang tampuk kerajaan Minangkabau sementara menunggu Sutan Paduko Basa menjadi dewasa. Tugas harian dilaksanakan oleh tiga pendamping raja yakni Datuk Suri Dirajo, Cetri Bilang Pandai dan Tantejo Gurano. Karena kasih sayang Datuk Suri Dirajo, maka Puti Indo Jelito yang menjanda itu, lalu dinikahkan dengan Cetri Bilang Pandai. Dari perkawinannya itu melahirkan 5 orang anak :
1.Jatang Sutan Balun bergelar Datuk Perpatih Nan Sabatang (lahir 1152)
Kalap Dunia bergelar Datuk Suri Maharajo nan Banego-nego (lahir 1154)
Puti Reno Judah lahir 1157, kemudian dibawa oleh Datuk Perpatih Nan Sabatang ke Lima Kaum dimana anak dan kemenakannya kemudian diangkat menjadi penghulu.
4.Puti Jamilan lahir 1159, kemudian dibawa Datuk Ketemanggungan ke Sungai Tarab dan ke Bunga Setangkai untuk keturunannya nanti menjadi raja dan penghulu
Mambang Sutan lahir th 1161, setelah berumur 4 th bergelar Datuk Suri Dirajo menggantikan gelar mamaknya (abang dari Puti Indo Jelito)
Mambang Sutan merupakan kemenakan pertama di Minangkabau yang menerima gelar dari mamaknya. Tahun 1165 yakni sewaktu Sutan Paduko Basa telah berumur 18 tahun, beliau diangkat sebagai penghulu bergelar Datuk Ketumanggungan. Sekalipun menduduki tahta kerajaan Minangkabau, pengganti raja yang telah 16 tahun mengemban tugas dari ibunya Puti Indo Jelito. Selain itu, semua anak laki-laki Sultan Sri Maharaja Diraja dinobatkan pula menjadi penghulu.
Tahun 1174 – Minangkabau kuno memperluas pengaruh dan pemberlakukan adatnya ke Sungai Tarab, Lima Kaum dan Padang Panjang. Masing-masing daerah diduduki oleh seorang penghulu – anak dari tiga orang istri Sultan Sri Maharaja Diraja.
Kedatangan Sang Sapurba
Tersebutlah kisah seorang raja bernama Sang Sapurba. Di dalam tambo dikatakan “Datanglah ruso dari Lauik”. Kabarnya dia sangat kaya bergelar Raja Natan Sang Sita Sangkala dari tanah Hindu. Dia mempunyai mahkota emas yang berumbai-umbai dihiasai dengan mutiara, bertatahkan permata berkilauan dan ratna mutu manikam. Mula-mula ia datang dari tanah Hindu. Ia mendarat di Bukit Siguntang Maha Meru dekat Palembang. Disana dia jadi menantu raja Lebar Daun. Dari perkawinannya di Palembang itu dia memperoleh empat orang anak, dua laki-laki yaitu Sang Nila Utama, Sang Maniaka; dua perempuan yaitu Cendera Dewi dan Bilal Daun.
Pada satu hari Sang Sapurba ingin hendak berlayar menduduki Sungai Indragiri. Setelah lama berlayar, naiklah dia ke darat, akhirnya sampai di Galundi Nan Baselo. Waktu itu yang berkuasa di Galundi Nan Baselo ialah Suri Dirajo, seorang dari keturunan Sri Maharaja Diraja. Suri Diraja tekenal dengan ilmunya yang tinggi, ia bertarak di gua Gunung Merapi. Karena ilmunya yang tinggi dan pengetahuannya yang dalam, ia jadi raja yang sangat dihormati dan disenangi oleh penduduk Galundi Nan Baselo dan di segenap daerah. Ia juga bergelar Sri Maharaja Diraja, gelar yang dijadikan gelar keturunan raja-raja Gunung Merapi.
Anak negeri terheran-heran melihat kedatangan Sang Sapurba yang serba mewah dan gagah. Orang banyak menggelarinya “Rusa Emas”, karena mahkotanya yang bercabang-cabang. Oleh karena kecerdikan Suri Dirajo, Sang Sapurba dijadikan semenda, dikawinkan dengan adiknya bernama Indo Julito. Sang Sapurba beragama Hindu. Dia menyembah berhala. Lalu diadakan tempat beribadat di suatu tempat. Tempat ini sampai sekarang masih bernama Pariangan (per-Hiyang-an = tempat menyembah Hiyang / Dewa). Dan disitu juga terdapat sebuah candi buatan dari tanah tempat orang-orang Hindu beribadat. Ada juga yang mengatakan tempat itu adalah tempat beriang-riang. Sang Sapurba lalu dirajakan dengan memangku gelar Sri Maharaja Diraja juga. Tetapi yang memegang kendali kuasa pemerintahan tetap Suri Dirajo sebagai orang tua, sedangkan Sang Sapurba hanya sebagai lambang. Untuk raja dengan permaisurinya dibuatkan istana “Balairung Panjang” tempatnya juga memerintah. Istana ini konon kabarnya terbuat dari : tonggaknya teras jelatang, perannya akar lundang, disana terdapat tabuh dari batang pulut-pulut dan gendangnya dari batang seleguri, getangnya jangat tuma, mempunyai cenang dan gung, tikar daun hilalang dsb. Karena Pariangan makin lama makin ramai juga Sang Sapurba pindah ke tempat yang baru di Batu Gadang. Seorang hulubalang yang diperintahkan melihat-lihat tanah-tanah baru membawa pedang yang panjang. Banyak orang kampung yang mengikutinya. Mereka menuju ke arah sebelah kanan Pariangan. Terdapatlah tanah yang baik, lalu dimulai menebang kayu-kayuan dan membuka tanah-tanah baru. Selama bekerja hulubalang itu menyandarkan pedang yang panjang itu pada sebuah batu yang besar. Banyak sekali orang yang pindah ke tempat yang baru itu. Mereka berkampung disitu, dan kampung baru tempat menyandarkan pedang yang panjang itu, sampai sekarang masih bernama ” Padang Panjang “. Lama kelamaan Padang Panjang itu jadi ramai sekali. Dengan demikian Pariangan dengan Padang Panjang menjadi sebuah negeri, negeri pertama di seedaran Gunung Merapi di seluruh Batang Bengkawas, yaitu negeri Pariangan Padang Panjang.
Untuk kelancaran pemerintahan perlu diangkat orang-orang yang akan memerintah dibawah raja. Lalu bermufakatlah raja dengan orang-orang cerdik pandai. Ditanam dua orang untuk Pariangan dan dua orang pula untuk Padang Panjang. Masing-masing diberi pangkat “penghulu” dan bergelar “Datuk”. · Dt. Bandaro Kayo dan Dt. Seri Maharajo untuk Pariangan · Dt. Maharajo Basa dan Dt. Sutan Maharajo Basa untuk Padang Panjang. Orang-orang yang berempat itulah yang mula-mula sekali dijadikan penghulu di daerah itu. Untuk rapat dibuat Balai Adat. Itulah balai pertama yang asal sebelum bernama Minangkabau di Pariangan.
Kalimantan Barat.. Lokasi awal Kerajaan Sintang yang sebelumnya berupa Panembahan yg berdiri sejak awal abad ke-4 M terletak di desa Tebelian Nanga Sepauk yang berjarak sekitar 50 Km dari kota Sintang saat ini. bukti sejarah berdirinya kerajaan ini dapat di telusuri melalui sejumlah benda peninggalan sejarah antara lain ditemukan batu Lingga yang begambar Mahadewa dan arca Nandi di dusun Batu Belian desa Tanjung Ria, Kecamatan Sepauk. Tidak jauh dari lokasi batu Lingga tersebut terdapat makam Aji Melayu (nama tokoh) yang merupakan nenek moyang raja-raja atau sultan-sultan di Kesultanan Sintang. Nama “Kerajaan Sintang” mulai dikenal setelah Abad ke-13, Demong Irawan (Jubair Irawan 1) memindahkan pusat kerajaan ke daerah bernama Senentang (persimpangan) yang terletak di pertemuan antara sungai Kapuas dan sungai Melawi. Nama “Senentang” lambat laun dikenal dengan sebutan Sintang. Luas wilayah Kerajaan Sintang pada masa pemerintahan Demong Irawan mencakup kecamatan Sepauk dan kecamatan Tempunak. Abang Tembilang (Abang Pencin) merupakan nama penguasa terakhir kerajaan Hindu atau kaharingan di Sintang. Ia juga merupakan raja yang menganut Islam pertama kali di Sintang. Masa pemerintahan Abang Tembilang dapat dikatakan sebagai babak baru masa Kesultanan Islam. Sepeninggalnya Abang Tembilang kerajaan Sintang di wariskan ke putranya yaitu Abang Tunggal dan sebelum meninggal Abang Tunggal mewariskan Tahtanya kepada Abang Nata. Kerajaan Sintang mengalami perubahan menjadi kerajaan bernuansa Islam sejak pemerintahan Sri Paduka Tuanku Sultan Nata Muhammad Syamsudin Sa’adul Khairi Waddin. Beliau merupakan pemimpin pertama di Sintang yang menggunakan gelar Sultan. Pada masa pemerintahannya terdapat beberapa keputusan penting terkait dengan Kesultanan Sintang yang ditetapkan yaitu:
Di tetapkannya Sintang sebagai wilayah Kesultanan Islam, pemimpin Kesultanan Sintang bergelar Sultan dan di susunnya undang-undang kesultanan Sintang yang di tulis oleh tangannya sendiri dengan mengunakan huruf berbahasa Arab.
Suku Bugis ternyata tidak hanya ada di Sulawesi, tapi juga ada di Kalimantan. Tepatnya adalah Suku Bugis Pagatan, yang merupakan keturunan diaspora suku Bugis dari Sulawesi Selatan. Diberi nama “Pagatan” pada akhir nama Bugis karena suku ini mendiami Desa Pagatan, Kusan Hilir, Tanah Bumbu, dan sekitarnya. Di Kalimaantan Selatan, Suku Bugis Pagatan mendiami Kabupaten Tanah Bumbu dan Kabupaten Kotabaru.
Suku ini baru ada pada tahun 1750, yang didirikan oleh Puanna Dekke’. Beliau adalah hartawan asal Tanah Bugis, tepatnya Kerajaan Wajo, Sulawesi Selatan.
Orang Bugis Pagatan adalah sebutan bagi Suku Bugis Pagatan. Yang mana, mayoritas masyarakatnya bekerja sebagai nelayan. Namun, mereka juga memiliki keahlian membuat sarung tenun yang terkenal, yaitu Sarung Tenun Pagatan.