
ANGGOTA MAJELIS PERSAUDARAAN URANG BANJAR INDONESIA

WAJA SAMPAI KAPUTING



Didalam hikayat Banjar kuno, ada sebuah kronik kuno yang konon telah ditulis sebagai era keemasan suatu kerajaan di Kalimantan Selatan, mengabadikan sebuah frasa, ” Banua Hujung Tanah” yang diyakini sebagai “nama lain” dari Pulau Kalimantan. Banua hujung tanah adalah sebuah negeri besar yang dipimpin seorang raja yang bernama Zulkarnain. Raja Zulkarnain sebagai seorang pemimpin negeri Banua hujung tanah adalah seorang raja pemberani yang senang berpetualang menaklukkan berbagai wilayah sampai ke berbagai belahan hujung dunia dari timur sampai ke barat pernah dilakukannya. Zulkarnain adalah raja yang saleh yang beriman dan seiman dalam mengimani Allah sebagai Tuhan yang di Tuhankannya bersama keimanan seorang Nabi yang hidup se zaman dengannya yang bernama Ibrahim dimasa berkuasanya. Zulkarnain memiliki pasukan beratib baamal terkuat dan terbesar pada zamannya dengan kepemimpinan seorang maha gurunya sendiri bernama Khidir yang adalah juga seorang Nabi pengemban amanah sebagai penguasa air dan lautan sebagai Maha Patih tertinggi yang memimpin seluruh panglima perang dari semua tentara kerajaannya. Tak ada satu wilayah dan daerah maupun kerajaan apapun dari Hujung barat sampai Hujung timur dari setiap belahan dunia manapun yang tak ditaklukan dan dikuasainya bersama kekuatan pasukan beratib baamal yang dimilikinya semasa kepemimpinannya sebagai seorang raja. Banua hujung tanah adalah ibu kota dari kerajaan Banua yang mana raja dan rakyatnya adalah orang orang mukminin yang beriman dengan agamanya Nabi Ibrahim.
Di ibu kota Kerajaan Banua hujung tanah tatanan tata kotanya dikelilingi sungai sungai yang mengalir indah. Karena agamanya dan keimanan serta ketakwaannya adalah tata aturan yang rahmatan Lil Alamin sehingga Iskandar sang Zulqarnain menjadi Raja yang saleh lagi arif dan bijaksana dalam kepemimpinannya terhadap rakyatnya diseluruh dunia yang dikuasainya. Dimasa kejayaannya Iskandar sang Zulqarnain membangun benteng terkuat yang terbuat dari besi baja untuk melindungi seluruh rakyatnya dari serangan suatu kaum perusak yang selalu menggangu ketentraman wilayah kerajaan yang dipimpinnya. wahai zulkarnain! sungguh saat ini kami terancam oleh suatu kaum yang bernama ya’juj (keserakahan) dan ma’juj (keangkara murkaan). Keduanya itu selalu melakukan penindasan dan berbuat kerusakan di bumi.
Untuk menghindarkan kami dari kekejaman mereka, maka bolehkah kami membayarmu dengan sejumlah harta sebagai imbalan agar engkau membuatkan dinding yang kuat sebagai penghalang antara kami dan mereka’ kami ingin lepas dari penindasan dan kekejaman mereka. apa yang telah dianugerahkan Tuhan kepadaku yang meliputi kekuasaan, keluasan wilayah, dan kekayaan harta benda lebih baik daripada imbalanmu yang kau tawarkan kepadaku, maka sebagai gantinya bantulah aku dengan seluruh kekuatan yang ada, agar aku dapat membuatkan dinding (barisan kebersamaan) yang kuat sebagai penghalang antara kamu dan mereka, sehingga kamu semua akan merasa aman karena terhindar dari serangan mereka. Terkisahkan pula dalam kronik hikayat Banjar kuno sebelum sang Zulqarnain menjadi Raja ada sebuah kerajaan besar dengan sang Raja yang menyembah berhala bernama Namrud. Dikala Raja Namrud berkuasa hidup dan terlahir seorang yang bernama Ibrahim yang pada akhirnya menjadi Nabi pada zamannya itu. Ketika suatu saat Ibrahim merasa bingung dengan keluarganya yang membuat patung terukir dari kayu yang buat sebagai pesanan dari Raja Namrud sebagai alat yang dijadikan Tuhan bagi seluruh kerajaan maka Ibrahim berusaha mencari kebenaran tentang kenapa patung buatan dari seluruh keluarga dari ayahnya dijadikan Tuhan akhirnya Ibrahim mencoba mencari Tuhan yang sesungguhnya Tuhan itu yang bagaimana. Malam hari Ibrahim memandang langit dan siang hari Ibrahim lakukan pula untuk memandang ke langit. Tak satupun yang bisa membuatnya mampu menjadikan apapun yang dilihatnya menjadi Tuhan menurut akal pikiran Ibrahim. Suatu hari terbersitlah dihati Ibrahim ingin menguji Tuhan yang disembah keluarganya dan Raja Namrud beserta semua rakyat kerajaan apakah benar adalah Tuhan. Dipukulnya lah semua patung yang disembah Raja Namrud dengan sebuah kapak yang dibawanya sampai hancur semua patung sesembahan tersebut hingga semua menjadi tak berkepala lagi kecuali satu patung yang masih utuh. Kisahnya ini adalah kisah hikayat Banjar kronik kuno. Terceritalah Ibrahim yang diberi hukuman dengan hukuman di bakar dengan api karena kemarahan sang raja Namrud disebabkan berhala yang jadi sesembahannya dihancurkan Ibrahim. Setelah disuatu tempat dibuat tugu api unggun lalu dibakarlah Ibrahim tetapi terkisahlah Ibrahim tak hangus terbakar api dan selamat. Ibrahim berkata “….. La Ilaha illallah wahdahu la syarikallah wa anna ibrahima khalilullah wanabiyyu wa khaliluhu. Jadilah semua yang melihat Ibrahim tak hangus terbakar mengikuti apa yang dikatakan Ibrahim tersebut. Kecuali Namrud dan para pengikut kerajaannya yang tetap berkeras hati tak mau mengikuti apa yang dikatakan Ibrahim. Atas saran kerabat dan keluarganya Ibrahim dimintakan pergi menjauhi tanah banua yang menjadi tumpah darah tempatnya lahir. Dalam petualangan Ibrahim meninggalkan jauh negeri Banua dalam hikayat Banjar kronik kuno inilah Ibrahim sampai ke sebuah negeri yang sekarang tersebut Irak atau bagdad. Terceritalah Ibrahim yang mendapat istri di negeri barunya bernama Siti Sarah. Sekian lama tak kunjung memiliki anak pada akhirnya keluarga Ibrahim yang pernah meminta Ibrahim meninggalkan Banua tumpah darahnya juga datang mengikuti jejak Ibrahim sampai ke bagdad bersama dua anak kemanakannya yang bernama Siti Hajar dan Zulqarnain. Dalam hikayat Banjar kronik kuno tersebut nama keluarga Ibrahim yang dulunya menyarankan agar Ibrahim menjauhi Banua tumpah darahnya untuk menghindari keangkara murkaan Raja Namrud dan tersebutlah bernama Khidir. Khidir, Zulqarnain adalah dua orang yang seiman dengan Iman yang di imani Ibrahim dan bersyahadat dengan syahadat yang di ucapkan Ibrahim “…. La Ilaha illallah wahdahu la syarikallah wa anna ibrahima khalilullah wanabiyyu wa khaliluhu. Terceritakanlah Siti Sarah yang memintakan Ibrahim juga menikahi atau memperistri Siti Sarah dengan berharap Ibrahim bisa memiliki keturunan dan anak karena selama bersama Siti Sarah mereka belum dikaruniakan seorang anakpun. Demi menjaga perasaan dua wanita yang menjadi istrinya agar tak tercipta rasa saling iru dengki Ibrahim memutuskan untuk mencari tempat terpisah dan melakukan petualangan membawa Siti Hajar yang sedang hamil hingga sampai ke sebuah lembah tandus tak berpenghuni yang tersebut dalam hikayat Banjar kronik kuno bernama MAKKAH atau BAKKAH. Awal dari sebuah peradaban baru yang menjadikan lembah tandus tak berpenghuni nenjadi sebuah jazirah Al arafatillah karena semua yang datang ketempat itu dan menjadi penduduk disana adalah semua kabilah dari berbagai penjuru Banua yang semuanya bernawaitu ingin menjadi Al arafatillah seperti hal nya Ibrahim yang adalah Al arafatillah dan Nabi. Siti Hajar itu kakak kandung Raja Zulqarnain. Jadi sejarah sesungguhnya yang benar bangsa arab itu arab Baduy yang hitam tubuhnya. Kalau Muhammad bukan arab Baduy. Tempat dibakarnya Ibrahim adalah situs yang sekarang disebut CANDI AGUNG. Disanalah IBRAHIM di bakar. Tembok yang dibangun Raja Zulqarnain adalah tembok WAJA SAMPAI KAPUTING. Salah Kaprah dalam Sejarah
Sejarah kadang-kadang diajarkan dengan cara yang salah, tak akurat, diputarbalikkan, dan berlebihan. Penduduk Mekkah itu semua turun temurun pendatang semua dari berbagai bangsa. Arab yang sekarang ada disana itu bubuhan Ibnu Saud dari Persia. Maka x jadi Saudi Arabia. Dibanua atau tanah Banjar adalah juriyat Ibrahim dari Zulkarnain dan Khidir yang datang dari ayah Ibrahim dan kakek x Ibrahim yakni suku Banjar
Banjar itu islam mulai bahari.
Jangan mau maumpati sejarah yg sudah diputar balik oleh penjajahan Belanda dan Yahudi.
Banjar bukan diislamkan oleh jawa. Banjar bukan penganut agama kaharingan atau hindu. Nenek datu Banjar islam mulai awal dan ahir.
Banjar itu keturunan nabi Adam baisi anak nabi sis. Baisi anak bani aljahiriah atau bani aljar.atau yg lebih dikenal dengan sebutan Banjar sekarang. Baisi pemimpin iskandar julkarnain. Dan keturunan nabi khaidir alaihi salam. Jadi agama islam itu bukan agama baru. Mulai jaman nabi adam sampai nabi terakhir islam sudah ada. Nabi muhammad menyempurnakan syariat.
Apa buktinya Banjar islam mulai bahari. Coba kita lihati. Kuburan pedatuan Banjar semua nya dada tujuh kilan semuanya islam. Tiap kabupaten dada tujuh kilan itu ada. Dan ada yg batampai ada yg bagaib wahini. .
Dibati bati ada datu salingsing.
Ditapin ada datu Nur raya
Masih banyak lagi daerah kabupaten lainnya. Datu dada tujuh kilan. Itu bukti bani aljar atau aljahiriah itu islam dan urang nya ganal ganal bahari. Coba cari kalimantan lainnya kadada. Adanya di kalsel aja. Artinya Banjar suku paling tuha. Jangan mau dipadahkan suku yg hanyar lahir setelah adanya perkawinan dayak Jawa dan melayu.
Banjar adalah Banjar. Suku tidak akan berubah meskipun kita kawin dengan suku lain. Kita kawin lawan Suku lain. Tetap ai suku pedatuan kita adalah Banjar. Bukti yg kada kawa dipungkiri dalam buku sejarah tertulis perang Banjar yg paling lawas melawan penjajah. Ingat perang Banjar judul adalah perang anu perang itu. Tatap ai perang Banjar kalo. Bukan perang anu. Jadi amun kada paham talalu banar.
Mulai sekarang kita tanamkan bila Banjar digawil saikung kita turuni barataan. Sakira urang tahu Banjar itu banyak banjar itu rakat.

sejarah dan nilai tradisional
Serba-Serbi Sejarah dan Kebudayaan Negeri Banjar dan Sekitar DIY serta Hidayat Kerohanian dan Pernik-Pernik Kehidupan Umumnya
Selasa, 17 Februari 2009
Lambung Mangkurat
PERANAN LAMBUNG MANGKURAT
DALAM MEMBANGUN KERAJAAN NEGARA DIPA
DI KALIMANTAN SELATAN
Oleh: Drs. H. Ramli Nawawi
Dari Negeri Keling ke Hujung Tanah
Dalam buku Negara Kertagama disebutkan bahwa di Jawa Timur terdapat suatu daerah bernama Keling, yang pada saat itu berada dibawah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Sebagai daerah kekuasaan Majapahit maka negeri ini tentunya mempunyai kewajiban menyampaikan upeti kepada raja Majapahit. Adanya kewajiban yang dirasakan memberatkan itulah menyebabkan penduduk negeri kecil ini tidak merasa tenteram. Usaha kaum pedagang umumnya sudah tidak menguntungkan lagi. Hal inilah yang menyebabkan seorang saudagar yang sudah berusia lanjut di negeri Keling ini, bernama Mangkubumi dan isterinya Sitira pada suatu hari berwasiat kepada anaknya yang bernama Empu Jatmika. Dalam wasiatnya itu Mangkubumi mengatakan bahwa apabila ia meninggal nanti supaya Empu Jatmika beserta isteri, anak-anak dan pengikutnya meninggalkan negeri Keling ini berpindah mencari suatu tempat kediaman yang tanahnya panas dan wangi baunya.
Demikianlah ketika peristiwa kematian orang tuanya tersebut telah berlalu, Empu Jatmika bersama keluarga dan sejumlah pengiringnya meninggalkan negeri Keling di daerah Jawa Timur sesuai wasiat orang tuanya. Pelayaran ke utara untuk mencari negeri yang tanahnya panas dan berbau wangi tersebut dipimpin sendiri oleh Empu Jatmika dengan menggunakan kapal layar bernama Prabayaksa dan beberapa buah kapal layar lainnya. Peristiwa ini terjadi pada masa pemerintahan raja Majapahit terakhir.
Setelah berlayar lama mengarungi lautan, rombongan kapal layar yang dipimpin oleh Mpu Jatmika tersebut akhirnya sampai di Pulau Hujung Tanah. Rombongan kemudian memasuki muara sungai Barito. Mengingat bahwa sesuai dengan pesan orang tuanya untuk mencari lokasi yang tanahnya panas dan berbau wangi, Empu Jatmika yang memperhatikan keadaan tanah di sepanjang tepi Sungai Barito tersebut merupakan rawa-rawa yang senantiasa digenangi air, sehingga selama beberapa hari mereka harus meneruskan pelayarannya menuju ke daerah hulu sungai tersebut. Karena setelah lama berlayar belum juga menemui lokasi tepi sungai yang bebas dari rawa, akhirnya mereka mencoba membelok menyusuri anak Sungai Barito yang kemudian dikenal sebagai Sungai Negara. Dengan harapan agar segera mendapatkan lokasi sesuai dengan petunjuk orang tuanya, yakni tanah yang panas dan berbau harum, yang ditafsirkan sebagai daerah yang tanahnya subur.
Demikianlah ketika rombongan sampai pada lokasi yang menjadi pertemuan anatara Sungai Negara dan Sungai Balangan, konon Empu Jatmika dan rombongannya memutuskan untuk bermukim di sekitar daerah tersebut. Dibawah pimpinan Empu Jatmika mereka mulai membuka hutan di daerah tersebut. Selanjutnya mereka kemudian mendirikan tempat tinggal (astana) dengan balairung dan pengadapan serta beberapa buah rumah perbendaharaan. Bahkan sebagai kelompok yang berasal dari masyarakat beragama Hindu, mereka juga mendirikan sebuah candi yang kemudian disebut Candi Agung. Candi ini untuk tempat menyelenggarakan upacara-upacara yang berkaitan dengan kepercayaan yang dianut di daerah asalnya.
Tempat pemukiman keluarga Empu Jatmika tersebut sekarang terdapat di lokasi Sungai Malang, di pinggiran kota Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara Kalimantan Selatan. Pemukiman tersebut seperti diceriterakan dalam buku Hikayat Lambung Mangkurat, kemudian terus berkembang dan bertambah luas karena makin ramainya perdagangan dengan datangnya pedagang-pedagang dari Jawa maupun pedagang-pedagang dari Tanah Melayu.
Negeri baru yang tadinya dibangun oleh Empu Jatmika beserta pengikut-pengikutnya tersebut kemudian diberi nama Negara Dipa, dan Empu Jatmika sendiri kemudian bergelar Maharaja di Candi. Diceriterakan bahwa oleh karena Mpu Jatmika takut “ketulahan” (kualat) bergelar Maharaja di Candi, sebab ia bukan keturunan raja, maka ia memerintahkan kepada pembantu-pembantunya untuk membikin patung dari kayu cendana dan patung itu ditaruhnya di dalam candi untuk dipuja sebagai ganti raja di negeri Negara Dipa tersebut.
Bersamaan dengan itu pula beberapa daerah di sekitarnya seperti daerah Batang Tabalong, Batang Balangan, Batang Alai, Batang Hamandit dan Labuan Amas, telah melakukan hubungan dengan Negara Dipa.
Diceriterakan juga bahwa dalam mengatur negeri, Empu Jatmika memakai adat istiadat yang berlaku di Kerajaan Majapahit. Selain itu Empu Jatmika juga kemudian menyuruh beberapa pengikutnya untuk kembali ke Negeri Keling guna mengambil harta benda milik keluarganya yang masih ketinggalan di negerinya.
Sementara itu ketika Patung Kayu Cendana yang diletakkan di dalam Candi Agung sebagai perlambang raja di negeri Negara Dipa tersebut telah lapuk, maka untuk menggantikannya Empu Jatmika memesan sebuah patung “gangsa” bikinan orang Cina. Patung itupun kemudian diantarkan sendiri oleh utusan dari Tiongkok ke Negara Dipa.
Lambung Mangkurat membangun kerajaan
Setelah beberapa tahun memimpin masyarakat yang dibangunnya tersebut, Empu Jatmika di akhir usianya sempat berpesan kepada kedua anaknya yang bernama Empu Mandastana dan Lambung Mangkurat. Ia mengingatkan kepada kedua anaknya bahwa apabila ia meninggal nanti supaya patung gangsa yang ditempatkan di dalam Candi Agung itu supaya dibuang ke laut, dan anaknya berdua agar pergi bertapa memohon kepada Dewa Batara supaya menunjukkan seorang raja untuk bertahta di Negara Dipa dan negeri-negeri sekitarnya. Diingatkan pula oleh Empu Jatmika bahwa jangan sekali-kali keduanya mengangkat diri sebagai raja, karena keluarga mereka bukan turunan raja,
Demikianlah setelah Empu Jatmika meninggal kedua anaknya tersebut melakukan apa yang dipesankan orang tuanya. Sementara untuk mencari petunjuk Dewa Batara guna menemukan raja bagi negeri Negara Dipa, Empu Mandastana melakukan pertapaan di darat sedangkan Lambung Mangkurat melakukan pertapaan di atas air. Dua tahun lamanya mereka melakukan pertapaan namun tidak juga mendapatkan petunjuk apa-apa.
Dalam keadaan putus asa tersebut pada suatu malam Lambung Mangkurat bermimpi, di mana ayahnya mmenyuruh ia membuat rakit yang dihiasi mayang pinang. Agar ia (Lambung Mangkurat) duduk di rakit tersebut yang dihayutkan di sungai pada waktu malam hari. Nanti ia akan bertemu dengan seorang putri yang akan menjadi raja di Negara Dipa.
Dari petunjuk mimpi itu Lambung Mangkurat memang kemudian menemukan seorang putri, yang kemudian terkenal dengan nama Putri Junjung Buih (Tunjung Buih), karena ia ditemukan di “ulak” sungai (bagian sungai yang arusnya berputar) sehingga menimbulkan buih. Setelah Lambung Mangkurat berdialog dengan putri tersebut, dan setelah segala permintaan putri termasuk upacara dalam rangka penyambutannya di istana dipenuhi oleh Lambung Mangkurat, putri tersebut bersedia dibawa ke istana Negara Dipa.
Kehadiran Putri Junjung Buih yang disiapkan untuk menjadi raja di Negara Dipa ternyata meragukan bagi Lambung Mangkurat. Kehawatiran Lambung Mangkurat tersebut karena kedua kedua keponakannya yang bernama Patmaraga dan Sukmaraga (putra Mpu Mandastana) telah saling jatuh cinta dengan Putri Junjung Buih. Dimana apabila terjadi perkawinan dengan salah satu keponakannya dengan putri tersebut, berarti kekuasaan sebagai raja di Negara Dipa masih ada sangkut-pautnya dengan keturunan Empu Jatmika, orang tuanya. Sehubungan dengan itulah kemudian terjadi peristiwa berdarah, yakni dengan dalih mengajak kedua keponakannya naik perahu pergi “melunta” (menjala ikan) Lambung Mangkurat membunuh Sukmaraga dan Patmaraga keponakannya sendiri.
Setelah peristiwa tersebut Lambung Mangkurat berusaha agar kekuasaan di Negara Dipa supaya betul-betul orang yang mempunyai tutus (turunan) raja. Karena itulah ia kemudian bersama dengan beberapa pembantunya berlayar ke tanah Jawa untuk menghadap raja Majapahit, meminta salah seorang putra raja Majapahit untuk menjadi raja di Negara Dipa. Permohonan Lambung Mangkurat tersebut ternyata disambut baik oleh raja Majapahit. Sehubungan dengan itu kemudian berangkatlah putra raja Majapahit yang bernama Pangeran Suryanata bersama Lambung Mangkurat menuju Negara Dipa.
Setelah berlayar empat hari empat malam kapal yang membawa Pangeran Suryanata dan Lambung Mangkurat beserta pengiringnya sampai di muara Sungai Barito. Tetapi ketika memasuki sungai Barito kapal yang membawa mereka kandas. Dalam Hikayat Banjar digambarkan dengan bahasa “kias” dimana kedatangan Pangeran Suryanata disambut oleh tetuha-tetuha adat dengan berbagai upacara adat daerah serta saling sapa dan berdialog, yang digambarkan dalam Hikayat Banjar perahu yang dipakai Suryanata karena dicegat oleh beberapa Naga Putih rakyatnya Putri Junjung Buih. Karena itu Pangeran Suryanata turun menyelam ke dalam air untuk mengatasi masalah tersebut. Sehingga setelah delapan hari delapan malam dalam air, Pangeran Suryanata melakukan pertemuan dengan beberapa Naga Putih tersebut, kemudian ia (yang digambarkan tidak punya kaki dan tangan tersebut sebagai perlambang belum punya kekuasaan) muncul di permukaan air sambil berdiri di atas gong, lengkap kaki tanganya, serta telah memakai keris (sebagai perlambang telah mendapat restu dari tetuha-tetuha dan tokoh-tokoh adat di daerah tersebut).
Demikianlah ketika Pangeran Suryanata beserta Lambung Mangkurat dan para pengiringnya sampai di Negara Dipa, mereka disambut oleh rakyat yang berduyun-duyun datang dari daerah-daerah yang menjadi wilayah kekuasaan Negara Dipa.
Peristiwa selanjutnya adalah pelaksanaan “pedudusan” (pelantikan) raja di Balai Pedudusan. Kepada Pangeran Suryanata lebih dahulu dipakaikan mahkota, kemudian “bedudus” dan “berarak”.
Mahkota yang ternyata cocok dengan kepala Pangeran Suryanata, mengisyaratkan bahwa yang memakainya telah direstui untuk menjadi raja di negeri tersebut. Peristiwa ini sekaligus juga pelaksanaan perkawinan Pangeran Suryanata dengan Putri Junjung Buih. Karena itu Pangeran Suryanata dan Putri Junjung Buih dibawa kedalam pedudusan, keduanya berdiri di atas kepala empat ekor kerbau. Lambung Mangkurat sebagai pemimpin upacara pelantikan Pangeran Suryanata menjadi raja dan sekaligus perkawinannya dengan Putri Junjung Buih, kemudian menyiramkan air ke ubun-ubun Pangeran Suryanata dan Putri Junjung Buih sebagai pemberian selamat kepada keduanya. Pembertian selamat ini selanjutnya diikuti oleh para pemuka masyarakat antara lain Arya Magatsari, Tumenggung Tatah Jiwa dan tokoh-tokoh tua lainnya. Selanjutnya keduanya, raja dan permaisuri duduk bersanding di astana sambil menyantap nasi “adap-adap”. Sementara itu bunyi-bunyian dipalu serta beberapa meriam disulut sehingga menimbulkan bunyi yang gemuruh. Upacara pedudusan dan perkawinan Pangeran Suryanata dan Putri Junjung Buih tersebut dirayakan selama tigahari tiga malam. (Demikian digambarkan tentang kedatangan dan pelantikan Pangeran Suryanata sebagai raja serta perkawinannya dengan Putri Junjung Buih sebagaimana termuat dalam buku Hikayat Lambung Mangkurat).
Suryanata dan Putri Junjung Buih mempunyai dua orang putra, yakni Pangeran Surya Ganggawangsa dan Pangeran Suryawangsa. Tidak disebutkan dalam Hikayat Lambung Mangkurat berapa lamanya Suryanata memerintah. Hanya dikatakan bahwa setelah raja dan permaisurinya tersebut wafat, ia digantikan oleh putra sulungnya yang bernama Pangeran Surya Ganggawangsa. Raja baru ini ketika naik tahta ia masih membujang, dan ia menyatakan baru akan kawin dengan anak seorang perempuan yang bernama Diang Dipraja. Karena itu pula Lambung Mangkurat sebagai Patih kerajaan yang setia, kemudian berusaha mencari wanita yang namanya Diang Dipraja tersebut. Dan setelah ditemukan ternyata Diang Dipraja tersebut seorang wanita yang belum bersuami dan masih perawan. Tetapi untuk kepentingan raja wanita tersebut tetap dibawa oleh Lambung Mangkurat ke istana. Walaupun kedua orang tuanya semula keberatan, tetapi akhirnya mengijinkan juga dengan pesan agar anak mereka jangan disia-siakan.
Usaha Lambung Mangkurat barsama-sama para pejabat istana lainnya untuk menjodohkan raja dengan gadis tersebut ditolak oleh Surya Ganggawangsa dan tetap baru bersedia kawin dengan anak dari wanita tersebut. Sehubungan dengan itu para pejabat istana sepakat agar Lambung Mangkurat mengawini gadis dimaksud. Demi pengorbanan untuk raja dan Kerajaan Negara Dipa maka Lambung Mangkurat bersedia mengawininya.
Dari perkawinan Lambung Mangkurat dengan Diang Dipraja tersebut kemudian lahir seorang anak perempuan yang diberi nama Putri Kuripan (Putri Kabuwaringin). Sesuai dengan maksud semula maka ketika putri ini cukup usianya, ia dikawinkan dengan raja Surya Ganggawangsa. Dan dari perkawinan mereka ini selanjutnya lahir seorang perempuan yang bernama Putri Kalarangsari. Tidak disebutkan dalam Hikayat Lambung Mangkurat siapa yang menjadi suami Putri Kalarangsari, namun tercatat bahwa ia mempunyai seorang anak yang bernama Putri Kalungsu. Disebutkan bahwa Putri Kalungsu lah yang kemudian menggantikan Surya Ganggawangsa sebagai raja di Negara Dipa. Demikian pula dikatakan bahwa pada masa pemerintahan Putri Kalungsu tersebut jabatan Patih di Kerajaan Negara Dipa masih dipegang oleh Lambung Mangkurat.
Masa sesudah Lambung Mangkurat
Dalam silsilah Lambung Mangkurat terlihat bahwa Putri Kalungsu bersuamikan seorang pria sepupu ibunya bernama Raden Carang Lalean, yakni anak Suryawangsa (saudara Surya Ganggawangsa). Dari perkawinan Putri Kalungsu dengan Raden Carang Lalean inilah kemudian lahir seorang putra mahkota bernama Raden Sekar Sungsang, yang kemudian setelah naik tahta menggantikan ibunya dikenal pula dengan nama Maharaja Sari Kaburungan. Disebutkan juga bahwa pada masa pemerintahan Sekar Sungsang inilah pusat kerajaan dipindahkan ke daerah selatan, yang kemudian dikenal dengan nama Kerajaan Negara Daha. Sementara itu Putri Kalungsu sendiri memilih tidak ikut pindah ke lokasi baru tersebut. Ia tetap tinggal di Negara Dipa sampai dengan akhir hayatnya.
Demikian pula halnya dengan Patih Lambung Mangkurat, tidak lama setelah perpindahan pusat kerajaan tersebut, ia pun juga meninggal dunia. Untuk menggantikannya sebagai Patih Kerajaan Negara Daha kemudian diangkat Patih Aria Taranggana, seorang yang cerdik dan bijaksana.
Periode Negara Daha ini hanya berlangsung selama dua masa pemerintahan, yakni pemerintahan Raden Sekar Sungsang (Maharaja Sari Kaburungan) dan pemerintahan putranya yang bernama Maharaja Sukarama. Disebutkan dalam Hikayat Lambung Mangkurat bahwa setelah Maharaja Sukarama meninggal dunia terjadi perebutan tahta kerajaan antara anak-anaknya.
Versi Singkat Padat dan Lebih Sangat Jelas
🙏🙏🙏🙏🙏 BANJAR ITU MEMPUNYAI SEJARAH NYA SENDIRI DARI TURUN TEMURUN dan BUKAN DARI HASIL KARANGAN ORANG LAIN.
Peradaban Banjar Pertama Kali ditemukan Oleh Iskandar Dzulkarnain dan Nabi Khaidir di Dua puncak atau yaitu Puncak Gunung Kariwa wan Puncak Gunung Lapak Pati di Daerah Hutan Terlarang di Gunung Bundang / Gunung Gundang sekarang Pedalaman Purukcahu.. KALTENG.. Ketika nabi khaidir mencari air hayat atau air kehidupan, hingga bertemu dengan Kaum Bani Al Jahiriah / Bani Al Jar (Banjar) atau Bani Jahiriah..
Hingga Bani Al Jar sebelumnya dikenal dgn Bani Al Jahiriah karna terbet nya setelah anak Adam atau Sis (keturunan Sis menjadi bangsa Merdeka). Bani Al Jahiriah (Bani Al Jar) bukan Penyembah berhala, benda maupun Makhluk. Bani Al Jar Menganut Tauhid Adam, tauhid Ibrahim serta Tauhid Musa hingga sekarang Tauhid Muhammad (Islam) jadi Pada tuan Urang Banua atau Urang Banjar bukan penganut kepercayaan atau Anemisme atau kaharingan..
Disebut Bani Al Jar setelah Iskandar Djurkarnain dan Nabi Khaidir Menemukan ada Kehidupan di balik antara dua Gunung / bukit. Jadi Setelah Kerajaan Sulaiman pindah Kenegeri Saba, Kerajaan BANI AL JAR itu berganti-ganti Namanya. Hingga Bani Al Jar sebelumnya dikenal dgn Bani Al Jahiriah karna Terbet nya setelah Anak Adam atau Sis. keturunan Sis menjadi bangsa Arya atau Bangsa Murni / Bangsa Merdeka. Bani Al Jahiriah (Bani Al Jar) bukan Penyembah berhala, benda maupun Makhluk. Bani Al Jar Menganut Tauhid Adam, tauhid Ibrahim serta Tauhid Musa hingga sekarang Tauhid Muhammad (Islam) jadi Pada tuan Urang Banua atau Urang Banjar bukan penganut kepercayaan atau Anemisme atau pun kaharingan..
Karena sejarah urang banjar itu turun temurun Hanif atau Mu’min hingga sekarang beragama Islam, maka para ahli sejarah yang bukan muslim kebanyakan nya tak ada yang senang mencatatnya sebagai sebuah sejarah yang harus mereka tulis…
Peristiwa kekacawan di Kerajaan Negara Daha sepeninggal Sukarama tersebut, sekaligus merupakan proses lahirnya Kerajaan Banjar, sebuah kerajaan besar di daerah Kalimantan Selatan. Diceritakan bahwa Maharaja Sukarama mempunyai seorang cucu yang bernama Raden Samudera. Raden Samudera pewaris darah murni dari Maharaja Sari Kaburungan pendiri Kerajaan Negara Daha, karena ia cucu dari dari kedua putranya, yakni cucu dari Maharaja Sukarama dan Raden Suryawangsa. Yakni Maharaja Sukarama mempunyai anak perempuan bernama Putri Galuh yang kawin dengan putra dari Raden Suryawangsa yang bernama Mantri Alu. Dari perkawinan Putri Galuh dan Mantri Alu itulah lahir Raden Samudera. Karena Mantri Alu ayahnya meninggal ketika ia masih belum dewasa, maka Raden Samudera bersama ibunya tinggal di istana bersama Maharaja Sukarama kakeknya.
Sebenarnya Maharaja Sukarama sendiri juga mempunyai dua orang anak laki-laki masing-masing bernama Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Tumenggung. Tetapi karena melihat kepribadian Raden Samudera yang melebihi dari kepribadian kedua putranya, maka Maharaja Sukarama mewasiatkan kepada Patih Aria Taranggana bahwa apabila ia meninggal maka nanti yang menggantikannya adalah cucunya yang bernama Raden Samudera. Wasiat tersebut lambat laun akhirnya sampai juga beritanya kepada anak-anak Maharaja Sukarama. Karena itulah tidak berapa lama setelah Maharaja Sukarama wafat terjadi kekacawan di istana Kerajaan Negara Daha. Melihat keadaan tersebut maka demi keselamatan jiwa Raden Samudera, Patih Aria Taranggana menasihatkan kepadanya agar sesegeranya meninggalkan istana. Sehubungan dengan itulah Raden Samudera kemudian secara diam-diam pergi meninggalkan istana, untuk kemudian hidup “menyungaian” (tinggal dalam sebuah perahu) menyamar sebagai seorang nelayan di daerah muara Sungai Martapura.
Sementara itu di Kerajaan Negara Daha terjadi perebutan kekuasaan antara Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Tumenggung. Dengan menghilangnya Raden Samudera sebagai putra mahkota sebagaimana wasiat Maharaja Sukarama, maka pewaris kerajaan jatuh kepada Pangeran Mangkubumi sebagai anak tertua. Tetapi adiknya yang bernama Pangeran Tumenggung, yang haus kekuasaan kemudian membunuh kakaknya untuk selanjutnya menduduki tahta Kerajaan Negara Daha.
Peristiwa terjadinya kekacauan dan perebutan kekuasaan di pusat Kerajaan Negara Daha tersebut menambah keyakinan rakyat Negara Daha mengapa Sukarama pada akhir masa hidupnya mewasiatkan agar yang menggantikannya adalah Raden Samudera. Karena itulah ketika tersiar kabar bahwa Raden Samudera telah meninggalkan istana dan hidup menyamar sebagai seorang nelayan, para pemuka masyarakat di daerah muara Sungai Martapura berusaha menemukan putra mahkota kerajaan yang menyamar tersebut. Usaha pencarian akhirnya juga berhasil menemukan seorang pemuda yang diduga sebagai Raden Samudera. Semula yang bersangkutan tidak mengakui bahwa dirinya adalah putra mahkota. Tetapi setelah dijelaskan bahwa mereka adalah pemuka-pemuka masyarakat yang akan menyelamatkannya, akhirnya yang bersangkutan mengakui bahwa dirinya adalah Raden Samudera.
Setelah diyakini benar bahwa yang bersangkutan adalah Raden Samudera yang berhak mewarisi Kerajaan Negara Daha, maka dibawah pimpinan Patih Masih (patihnya kelompok orang Melayu di daerah tersebut) bersama-sama para patih kelompok lainnya, kemudian menobatkan Raden Samudera sebagai Sultan (raja) yang sah. Tindakan para Patih tersebut menimbulkan reaksi dari Pangeran Tumenggung, sehingga pecah perang antara rakyat pengikut Pangeran Tumenggung dengan rakyat pengikut Raden Samudera. Demikianlah terjadi peperangan beberapa lama dan banyak jatuh korban di kedua belah pihak, dan bahkan Raden Samudera atas usaha Patih Masih telah mendapatkan bantuan tentara dari Kerajaan Demak di Jawa Tengah. Namun pertentangan ini kemudian berakhir dengan kesedian Pangeran Tumenggung untuk menyerahkan Kerajaan Negara Daha kepada Raden Samudera, keponakannya sendiri, setelah keduanya dipertemukan di atas dua buah perahu telangkasan di muara Sungai Martapura. Acara perang tanding antara Raden Samudera dan Pangeran Tumenggung yang merupakan kesepakatan antara Patih Masih dan Patih Aria Taranggana ini bertujuan untuk mengakhiri perang karena sudah terlalu banyak rakyat yang tewas sementara perang tak kunjung selesai. Namun ketika kedua Pangeran yang sudah siap dengan senjata berdiri di depan perahu yang masing-masing dikayuh di belakangnya oleh Patih Masih dan Patih Aria Taranggana tersebut bertemu, Raden Samudera berucap menyilahkan pamannya untuk membunuhnya, “silahkan pamanku tombak”, dan mendengar kata-kata itu Pangeran Tumenggung malah memeluk Raden Samudera. Pangeran Tumenggung dengan sukarela menyerahkan keraajan kepada keponakanya. Walaupun kemudian perangkat kerajaan di serahkan untuk di bawa ke daerah Banjar, Raden Samudera masih memberikan kekuasaan kepada Pangeran Tumenggung untuk mengatur rakyatnya di Negara Daha.
Dengan demikian lahirlah Kerajaan Banjar dan sebagai raja pertamanya adalah Raden Samudera, yang setelah memeluk agama Islam sesuai perjanjian dan permintaan Sultan Demak, dia bernama Sultan Suriansyah. Disebutkan bahwa Sultan Suriansyah memerintah sekitar tahun 1526 – 1550. Pusat Kerajaan Banjar terdapat di Kampung Kuin sekarang, dimana terdapat makam beliau besarta anak dan cucunya yang manggantikannya.
Pusat Kerajaan Banjar kemudian dipindahkan ke daerah Martapura (Teluk Selong) oleh raja Banjar yang keempat Mustakim Billah, karena pada waktu itu sudah terjadi kontak perang dengan Belanda yang telah sampai di Banjarmasin.
Demikianlah Kerajaan Banjar berlangsung, yang kemudian berakhir dengan pecahnya Perang Banjar melawan Kolonial Belanda, yang dimulai dengan penyerangan Benteng Pengaron (daerah tambang batu bara Oranye Nassau milik Belanda) pada tanggal 28 April 1859 di bawah pimpinan Pangeran Antasari. Wafatnya Pangeran Antasari pada tahun 1862 dan diasingkannya Pangeran Hidayatullah ke Cianjur (Jawa Barat) tidak memadamkan perlawanan rakyat terhadap Belanda. Perang Banjar terus berlangsung dibawah pimpinan anak-anak Pangeran Antasari, seperti Mohammad Said yang memimpin perlawanan di daerah Hulu Sungai (Benua Lima) dan Mohammad Seman yang memusatkan perlawanannya di daerah Muara Tewe (Kalimatan Tengah sekarang), perlawanan berlangsung hingga meninggalnya tahun 1905.- (HRN, Peneliti sejarah & nilai tradisional).
Ramli Nawawi di 08.23
2 komentar:
Anonim3 Desember 2012 pukul 08.12
Apakah garis keturunan Pangeran Hidayatullah tercatat?
Balas
Ramli Nawawi11 Mei 2016 pukul 07.42
Anda bisa datang ke kompleks makam Pangeran Hidayatullah di Cianjur Jawa Barat, bisa bertemu dengan keluarga keturunan Pangeran Hidayatullah dan bisa melihat sendiri silsilah Pangeran Hidayatullah secara lengkap.
Balas
‹
›
Beranda
Lihat versi web
Mengenai Saya
Foto saya
Ramli Nawawi
Banjarmasin-Yogyakarta, Kalimantan Selatan-D.I.Y, Indonesia
Lihat profil lengkapku
Diberdayakan oleh Blogger.
Peradaban Banjar Pertama Kali ditemukan Oleh Iskandar Dzulkarnain dan Nabi Khaidir di Dua puncak atau yaitu Puncak Gunung Kariwa wan Puncak Gunung Lapak Pati di Daerah Hutan Terlarang di Gunung Bundang / Gunung Gundang Sekarang Pedalaman Purukcahu KALTENG..
حَتّٰٓى اِذَابَلَغَ مَطۡلِعَ الشَّمۡسِ وَجَدَهَا تَطۡلُعُ عَلٰى قَوۡمٍ لَّمۡ نَجۡعَلْ لَّهُمۡ مِّنۡ دُوۡنِهَا سِتۡرًا ۙ
Hattaaa izaa balagha matli’ash shamsi wajdahaa tatlu’u alaa qawmil lam naj’al lahum min duunihaa sitraa
Hingga ketika dia sampai di tempat terbit matahari (sebelah timur) didapatinya (matahari) bersinar di atas suatu kaum yang tidak Kami buatkan suatu pelindung bagi mereka dari (cahaya matahari) itu..
حَتّٰى إِذَا بَلَغَ بَيْنَ السَّدَّيْنِ وَجَدَ مِنْ دُوْنِهِمَا قَوْمًاۙ لَّا يَكَادُوْنَ يَفْقَهُوْنَ قَوْلًا ٩٣
Ayat 93. Hingga ketika dia sampai di antara dua gunung, didapatinya di belakang (kedua gunung itu) suatu kaum yang hampir tidak memahami pembicaraan.
Setelah Iskandar Zulkarnain Mengeluarkan Kaum Yajud dan Majut dari di antara dua bukit ke arah daratan Cina.. Maka Bani Al-Jar (Banjar) Hidup dengan Berperadaban yang damai dan tenang.. Setelah melalui beberapa perkembangan dzaman ada beberapa sebagian Bani Al-Jar yang telah melakukan Kafilah atau Perjalanan Panjang ada yang mencari kehidupan yang layak, hingga dzaman ke dzaman perjalanan nya sampai ketempat-tempat Suatu Negeri dan sampai pada dzaman dimana suatu Negeri melakukan perdagangan nya melalui sistem barter sampai kesuatu Negeri yang mengenal mata uang. Bani Al-Jar (Banjar) yang melakukan Kafilah atau Perjalanan Panjang mudah berbaur dan bergaul dengan penduduk setempat dan mudah untuk memiliki kepercayaan dari suatu Penguasa Negeri dan mudah melakukan kerjasama dengan Penguasa-penguasa setempat bahkan sampai membantu Penyelesaian permasalahan-permasalahan atau hal-hal di suatu Negeri .
Bani Zhahiriah atau Bani Al-Jar (Banjar) hingga membentuk suatu Komunitas Kafilah-kafilah untuk Keamanan dan kedamaian dalam perantauan nya di Gujarat, di Jazirah melewati Laut, samudera dan Gurun Sahara Yang luas hingga sampai ke Negeri Sam dan Magribi sampai ke tanah Arab. Para
Komunitas Kafilah Bani Zhahiriah atau Bani Al-Jar (Banjar) banyak menciptakan peradaban baru diperjalanan Kafilah-kafilah nya hingga sampai dikenal orang sebagai Kafilah Kependudukan Bani Quraisy di Tanah Arab.. Suku Quraisy Murni (dzuriat Rasulullah) Pihak Laki-laki dgn Bani Zhahiriah atau Bani Al-Jar (Banjar) dari pihak Bini-bini Murni Sampuk Buku setelah melalui Perkawinan di Tanah Malay (Tanah Harum) atau Negeri Saba di Tanah Sahamparan di Sahunjuran Matahari Terbit dilintang Negeri Katulistiwa dari Tanjung Puri ke Tanjung Pura atau Negeri Burniau (Borneo) di Negeri Kaliwara (Kalimantan). Semoga akan meng hadirkan suatu pemimpin besar dibelahan bumi Umat Islam yaitu MUHAMMAD Al-Mahdi atau IMAM MAHDI.
Sebab Sejarah Banjar Tidak dimulai dari Cerita Empu Jatmika atau dari Nagara Dipa dan bukan dari sejaman majapahit abad ke 14 atau Bukan dari Nagara Daha serta bukan dari kerajaan tanjung puri atau bukan dari kerajaan Semi Sarunai (bukan Nan Sarunai Namanya), ataupun dari Pelarian Kerajaan Sriwijaya.
Sebab kalau ditarik lagi Berdasarkan Analisa Penelitian Karbon Arang Candi Agung ditemukan data dari hasil penelitian Pengujian terhadap Sampel Arang Candi Agung di Amuntai yang menghasilkan tarikh 242 hingga 226 SM. Informasi ini dikutip dari penelitian berjudul Ekskavasi Situs Candi Agung Kabupaten North Upper Coarse, South Kalimantan yang dimuat dalam jurnal Berita Penelitan Arkeologi edisi Februari 1998. Maka jauh sebelum majapahit hadir di pulau jawa. Artinya candi agung bukan pengaruh dari majapahit atau bukan sebagai alat bukti yang menunjukan sampainya kekuasaan pemerintahan kerajaan majapahit di kalimantan selatan.
Artinya Peradaban Banjar ini sudah Jauh sekali Jutaan Abad lamanya mendiami pulau kalimantan ini. Bukan Pendatang dan bukan Kerajaannya atau raja nya hasil import dari luar pulau lain, atau bukan karena ketidaklayakan masyarakatnya yg layak jadi raja.Tapi Asli dari Kelayakan Penduduk nya Yang Jadi Raja
Bukti Fisik dapat kita lihat Apabila mengambil tarikh lebih dari tahun 200 tahun sebelum masehi (sebelum lahirnya nabi isa), Maka pada masa-masa itu yang Berkuasa adalah Iskandar Zulkarnaen..
Perlu di ingat.. Kesultanan / Kerajaan Banjar itu Berakhirnya Bukan di Kayu Tangi (Martapura), Tapi Kerajaan Banjar itu terakhir di Baras Kuning (sekarang Tanah Siang Selatan) Purukcahu – Kalteng.
Perlu di ingat..!! Setelah dzaman Iskandar Dzulkarnain Kerajaan Banjar itu diawali Oleh Seorang Ratu dan Diakhiri Oleh Se orang Ratu (di Kesultanan (Banjar) Baras Kuning)
Perlu di ingat…!! Belanda tidak pernah berhasil untuk menghapus Kerajaan atau Kesultanan Banjar di Kalimantan, Kesultanan Banjar Resmi dibubarkan setelah Kalimantan Bergabung dengan Pemerintahan Indonesia
Perlu di ingat..!! Kerajaan Banjar itu Bukan dimulai dari Kesultanan Suriansyah..
Kerajaan Banjar itu dimulai dari Kerajaan Matahari Terbit Hingga Negeri Saba sampai Kerajaan Nagara Dipa dan Kerajaan Nagara Daha serta Kesultanan Suriansyah Sampai Kesultanan Kayu Tangi Hingga Kesultanan Baras Kuning..
Perlu di ingat..!! Lahirnya Kerajaan Banjar itu Sejak Sebelum adanya Pigur Nabi Khadir.as, hingga zaman Iskandar dzulkarnain serta Perpindahan Kerajaan Nabi Sulaiman.as Ke negeri Saba (Bumi Sebuku).
Perlu di ingat ..!! Sebelum adanya VOC Kerajaan Banjar itu Meliputi Seluruh Wilayah Kalimantan, Sebagian kecil wilah Sulawesi, sebagian kecil wilayah Bali, Sebagian kecil Wilayah Nusa Tenggara, Sebagian kecil Wilayah Jawa, Sebagian kecil Wilayah Sumatera,Wilayah Singapura, sebagian Kecil Wilayah Malaysia, Wilayah Berunaidarussalam, sebagian kecil Wilayah Filipina, sebagian Kecil wilayah Thailand..
Karena sejarah urang banjar itu turun temurun beragama Islam maka para ahli sejarah yang bukan muslim kebanyakan nya tidak ada yang senang mencatatnya sebagai sebuah sejarah yang harus mereka tulis.. Jangan Sampai kita dibongoli wan tertipu oleh Peninggalan Sejarawan Barat dan dan Eropa terutama Sejarah dari Bangsa Belanda yang Yang dilanjutkan oleh Sejarawan Jawa yang banyak merubah sejarah Banjar dan Kalimantan serta Ilmuwan Sejarah dari Bangsa Perusak (12 Suku Yahudi ) serta Sejarah baru yg dibuat oleh Pelaku untuk kepentingan Politik dari sejarah yg baru dibuat sekarang yg beredar telah menyepelikan , menyudotkan dan menghilkan Harkat dan Martabat Orang Banjar ..
Sekarang Ada Oknum Suku-suku lain Yang Ingin Menghapus Karakter Banjar atau Identitas Banjar dengan merubah Sejarah. dengan Sejarah Karangan baru yang dibuat-buat nya yang disebar luaskan nya lewat Tulisan, YouTube atau Media Sosial lainnya..
Karena sejarah urang banjar itu turun temurun beragama Islam maka para ahli sejarah yang bukan muslim kebanyakan nya tidak ada yang senang mencatatnya sebagai sebuah sejarah yang harus mereka tulis.. Jangan Sampai kita dibongoli (dibodohi) dan tertipu oleh Peninggalan Sejarawan Barat dan dan Eropa terutama Sejarah dari Bangsa Belanda yang Yang dilanjutkan oleh Sejarawan pada masa orde lama dan orde baru yang banyak merubah sejarah Banjar dan Kalimantan serta Ilmuwan Sejarah dari Bangsa Perusak (dari 12 Suku Yahudi ) serta Sejarah baru yg dibuat oleh Pelaku untuk kepentingan Politik dari sejarah yg baru dibuat sekarang yg beredar telah menyepelikan , menyudotkan dan menghilkan Harkat dan Martabat Orang Banjar ..
Sekarang Ada Oknum Suku-suku lain Yang Ingin Menghapus Karakter Banjar atau Identitas Banjar dengan merubah Sejarah. dengan Sejarah Karangan baru yang dibuat-buat nya yang disebar luaskan nya lewat Tulisan, YouTube atau Media Sosial lainnya..
*Melanjutkan kisah sejarah dari Nini Datu kita bahari..




MAJELIS PERSAUDARAAN URANG BANJAR INDONESIA
Alamat Jalan Tanjung Harapan,gang H. Hari’s Kelurahan Banjar Serasan, Kecamatan Pontianak Timur, Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Telp / Whats App 085787963235/083874482835
MUKADIMAH
Majelis Adat Budaya Banjar adalah wadah tempat terhimpunnya orang-orang Banjar dalam organisasi adat dan budaya yang memelihara serta mempertumbuh kembangkan peradaban Banjar. Yang bertujuan untuk mengangkat harkat dan martabat masyarakat Banjar yang BERIMAN, BERUNTUNG DAN BERTUAH kepada Allah SWT dengan melakukan berbagai usaha dan kegiatan untuk mencapai cita-cita bangsa indonesia. Selain itu juga MPUBI berupaya menjalin kerja sama dengan organisasi sosial lainnya dalam kehidupan berbudaya, beragama, berbangsa, dan bernegara dalam meningkatkan berbagai macam aspek, diantaranya; pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan sosial budaya masyarakat Banjar untuk disumbangkan kepada kepentingan bermasyarakat.
Maka dari itu, untuk mewujudkan semua yang dicita-citakan tersebut, mengharuskan MPUBI untuk kreatif, mandiri, profesional agar harapan masyarakat Banjar di Indonesia akan lebih baik dimasa yang akan datang. Hal tersebut akan tercapai bila seluruh potensi yang ada di MPUBI disatukan dalam sebuah garis organisasi yang jelas dan saling bersinergi. Maka disusunlah sebuah tata laksana organisasi yang menguraikan tentang; AD/ART, KOMPOSISI DAN PERSONALIA MPUBI, PROGRAM PELAKSANAAN MPUBI, PENGATURAN DEPARTEMEN KERJA, PEMBENTUKAN LEMBAGA KONSULIDASI.
AD/ART MPUBI Disusun berdasarkan kondisi yang relevan dan kebutuhan organisasi itu sendiri yang bertujuan sebagai rambu-rambu dan arah berpijaknya organisasi.
Oprasional, AD/ART MPUBI mencakup beberapa hal di dalamnya Yaitu ;
ANGGARAN DASAR DAN ANGGARAN RUMAH TANGGA MAJELIS PERSAUDARAAN URANG BANJAR INDONESIA
BAB I
NAMA, WAKTU, TEMPAT KEDUDUKAN
Pasal 1
Organisasi ini bernama MAJELIS PERSAUDARAAN URANG BANJAR INDONESIA, yang disingkat MPUBI.
BAB VII
HAK DAN KEWAJIBAN PENGURUS
Pasal 14
Pengurus MPUBI berhak ;
Kordinator Tidak diperkenankan ;


[4/9 11:04] saya: Didalam hikayat Banjar kuno, ada sebuah kronik kuno yang konon telah ditulis sebagai era keemasan suatu kerajaan di Kalimantan Selatan, mengabadikan sebuah frasa, ” Banua Hujung Tanah” yang diyakini sebagai “nama lain” dari Pulau Kalimantan. Banua hujung tanah adalah sebuah negeri besar yang dipimpin seorang raja yang bernama Zulkarnain. Raja Zulkarnain sebagai seorang pemimpin negeri Banua hujung tanah adalah seorang raja pemberani yang senang berpetualang menaklukkan berbagai wilayah sampai ke berbagai belahan hujung dunia dari timur sampai ke barat pernah dilakukannya. Zulkarnain adalah raja yang saleh yang beriman dan seiman dalam mengimani Allah sebagai Tuhan yang di Tuhankannya bersama keimanan seorang Nabi yang hidup se zaman dengannya yang bernama Ibrahim dimasa berkuasanya. Zulkarnain memiliki pasukan beratib baamal terkuat dan terbesar pada zamannya dengan kepemimpinan seorang maha gurunya sendiri bernama Khidir yang adalah juga seorang Nabi pengemban amanah sebagai penguasa air dan lautan sebagai Maha Patih tertinggi yang memimpin seluruh panglima perang dari semua tentara kerajaannya. Tak ada satu wilayah dan daerah maupun kerajaan apapun dari Hujung barat sampai Hujung timur dari setiap belahan dunia manapun yang tak ditaklukan dan dikuasainya bersama kekuatan pasukan beratib baamal yang dimilikinya semasa kepemimpinannya sebagai seorang raja. Banua hujung tanah adalah ibu kota dari kerajaan Banua yang mana raja dan rakyatnya adalah orang orang mukminin yang beriman dengan agamanya Nabi Ibrahim.
Di ibu kota Kerajaan Banua hujung tanah tatanan tata kotanya dikelilingi sungai sungai yang mengalir indah. Karena agamanya dan keimanan serta ketakwaannya adalah tata aturan yang rahmatan Lil Alamin sehingga Iskandar sang Zulqarnain menjadi Raja yang saleh lagi arif dan bijaksana dalam kepemimpinannya terhadap rakyatnya diseluruh dunia yang dikuasainya. Dimasa kejayaannya Iskandar sang Zulqarnain membangun benteng terkuat yang terbuat dari besi baja untuk melindungi seluruh rakyatnya dari serangan suatu kaum perusak yang selalu menggangu ketentraman wilayah kerajaan yang dipimpinnya. wahai zulkarnain! sungguh saat ini kami terancam oleh suatu kaum yang bernama ya’juj (keserakahan) dan ma’juj (keangkara murkaan). Keduanya itu selalu melakukan penindasan dan berbuat kerusakan di bumi.
Untuk menghindarkan kami dari kekejaman mereka, maka bolehkah kami membayarmu dengan sejumlah harta sebagai imbalan agar engkau membuatkan dinding yang kuat sebagai penghalang antara kami dan mereka’ kami ingin lepas dari penindasan dan kekejaman mereka. apa yang telah dianugerahkan Tuhan kepadaku yang meliputi kekuasaan, keluasan wilayah, dan kekayaan harta benda lebih baik daripada imbalanmu yang kau tawarkan kepadaku, maka sebagai gantinya bantulah aku dengan seluruh kekuatan yang ada, agar aku dapat membuatkan dinding (barisan kebersamaan) yang kuat sebagai penghalang antara kamu dan mereka, sehingga kamu semua akan merasa aman karena terhindar dari serangan mereka. Terkisahkan pula dalam kronik hikayat Banjar kuno sebelum sang Zulqarnain menjadi Raja ada sebuah kerajaan besar dengan sang Raja yang menyembah berhala bernama Namrud. Dikala Raja Namrud berkuasa hidup dan terlahir seorang yang bernama Ibrahim yang pada akhirnya menjadi Nabi pada zamannya itu. Ketika suatu saat Ibrahim merasa bingung dengan keluarganya yang membuat patung terukir dari kayu yang buat sebagai pesanan dari Raja Namrud sebagai alat yang dijadikan Tuhan bagi seluruh kerajaan maka Ibrahim berusaha mencari kebenaran tentang kenapa patung buatan dari seluruh keluarga dari ayahnya dijadikan Tuhan akhirnya Ibrahim mencoba mencari Tuhan yang sesungguhnya Tuhan itu yang bagaimana. Malam hari Ibrahim memandang langit dan siang hari Ibrahim lakukan pula untuk memandang ke langit. Tak satupun yang bisa membuatnya mampu menjadikan apapun yang dilihatnya menjadi Tuhan menurut akal pikiran Ibrahim. Suatu hari terbersitlah dihati Ibrahim ingin menguji Tuhan yang disembah keluarganya dan Raja Namrud beserta semua rakyat kerajaan apakah benar adalah Tuhan. Dipukulnya lah semua patung yang disembah Raja Namrud dengan sebuah kapak yang dibawanya sampai hancur semua patung sesembahan tersebut hingga semua menjadi tak berkepala lagi kecuali satu patung yang masih utuh. Kisahnya ini adalah kisah hikayat Banjar kronik kuno. Terceritalah Ibrahim yang diberi hukuman dengan hukuman di bakar dengan api karena kemarahan sang raja Namrud disebabkan berhala yang jadi sesembahannya dihancurkan Ibrahim. Setelah disuatu tempat dibuat tugu api unggun lalu dibakarlah Ibrahim tetapi terkisahlah Ibrahim tak hangus terbakar api dan selamat. Ibrahim berkata “….. La Ilaha illallah wahdahu la syarikallah wa anna ibrahima khalilullah wanabiyyu wa khaliluhu. Jadilah semua yang melihat Ibrahim tak hangus terbakar mengikuti apa yang dikatakan Ibrahim tersebut. Kecuali Namrud dan para pengikut kerajaannya yang tetap berkeras hati tak mau mengikuti apa yang dikatakan Ibrahim. Atas saran kerabat dan keluarganya Ibrahim dimintakan pergi menjauhi tanah banua yang menjadi tumpah darah tempatnya lahir. Dalam petualangan Ibrahim meninggalkan jauh negeri Banua dalam hikayat Banjar kronik kuno inilah Ibrahim sampai ke sebuah negeri yang sekarang tersebut Irak atau bagdad. Terceritalah Ibrahim yang mendapat istri di negeri barunya bernama Siti Sarah. Sekian lama tak kunjung memiliki anak pada akhirnya keluarga Ibrahim yang pernah meminta Ibrahim meninggalkan Banua tumpah darahnya juga datang mengikuti jejak Ibrahim sampai ke bagdad bersama dua anak kemanakannya yang bernama Siti Hajar dan Zulqarnain. Dalam hikayat Banjar kronik kuno tersebut nama keluarga Ibrahim yang dulunya menyarankan agar Ibrahim menjauhi Banua tumpah darahnya untuk menghindari keangkara murkaan Raja Namrud dan tersebutlah bernama Khidir. Khidir, Zulqarnain adalah dua orang yang seiman dengan Iman yang di imani Ibrahim dan bersyahadat dengan syahadat yang di ucapkan Ibrahim “…. La Ilaha illallah wahdahu la syarikallah wa anna ibrahima khalilullah wanabiyyu wa khaliluhu. Terceritakanlah Siti Sarah yang memintakan Ibrahim juga menikahi atau memperistri Siti Sarah dengan berharap Ibrahim bisa memiliki keturunan dan anak karena selama bersama Siti Sarah mereka belum dikaruniakan seorang anakpun. Demi menjaga perasaan dua wanita yang menjadi istrinya agar tak tercipta rasa saling iru dengki Ibrahim memutuskan untuk mencari tempat terpisah dan melakukan petualangan membawa Siti Hajar yang sedang hamil hingga sampai ke sebuah lembah tandus tak berpenghuni yang tersebut dalam hikayat Banjar kronik kuno bernama MAKKAH atau BAKKAH. Awal dari sebuah peradaban baru yang menjadikan lembah tandus tak berpenghuni nenjadi sebuah jazirah Al arafatillah karena semua yang datang ketempat itu dan menjadi penduduk disana adalah semua kabilah dari berbagai penjuru Banua yang semuanya bernawaitu ingin menjadi Al arafatillah seperti hal nya Ibrahim yang adalah Al arafatillah dan Nabi. Siti Hajar itu kakak kandung Raja Zulqarnain. Jadi sejarah sesungguhnya yang benar bangsa arab itu arab Baduy yang hitam tubuhnya. Kalau Muhammad bukan arab Baduy. Tempat dibakarnya Ibrahim adalah situs yang sekarang disebut CANDI AGUNG. Disanalah IBRAHIM di bakar. Tembok yang dibangun Raja Zulqarnain adalah tembok WAJA SAMPAI KAPUTING. Salah Kaprah dalam Sejarah
Sejarah kadang-kadang diajarkan dengan cara yang salah, tak akurat, diputarbalikkan, dan berlebihan. Penduduk Mekkah itu semua turun temurun pendatang semua dari berbagai bangsa. Arab yang sekarang ada disana itu bubuhan Ibnu Saud dari Persia. Maka x jadi Saudi Arabia. Dibanua atau tanah Banjar adalah juriyat Ibrahim dari Zulkarnain dan Khidir yang datang dari ayah Ibrahim dan kakek x Ibrahim yakni suku Banjar
[4/9 11:04] saya: Banjar itu islam mulai bahari.
Jangan mau maumpati sejarah yg sudah diputar balik oleh penjajahan Belanda dan Yahudi.
Banjar bukan diislamkan oleh jawa. Banjar bukan penganut agama kaharingan atau hindu. Nenek datu Banjar islam mulai awal dan ahir.
Banjar itu keturunan nabi Adam baisi anak nabi sis. Baisi anak bani aljahiriah atau bani aljar.atau yg lebih dikenal dengan sebutan Banjar sekarang. Baisi pemimpin iskandar julkarnain. Dan keturunan nabi khaidir alaihi salam. Jadi agama islam itu bukan agama baru. Mulai jaman nabi adam sampai nabi terakhir islam sudah ada. Nabi muhammad menyempurnakan syariat.
Apa buktinya Banjar islam mulai bahari. Coba kita lihati. Kuburan pedatuan Banjar semua nya dada tujuh kilan semuanya islam. Tiap kabupaten dada tujuh kilan itu ada. Dan ada yg batampai ada yg bagaib wahini. .
Dibati bati ada datu salingsing.
Ditapin ada datu Nur raya
Masih banyak lagi daerah kabupaten lainnya. Datu dada tujuh kilan. Itu bukti bani aljar atau aljahiriah itu islam dan urang nya ganal ganal bahari. Coba cari kalimantan lainnya kadada. Adanya di kalsel aja. Artinya Banjar suku paling tuha. Jangan mau dipadahkan suku yg hanyar lahir setelah adanya perkawinan dayak Jawa dan melayu.
Banjar adalah Banjar. Suku tidak akan berubah meskipun kita kawin dengan suku lain. Kita kawin lawan Suku lain. Tetap ai suku pedatuan kita adalah Banjar. Bukti yg kada kawa dipungkiri dalam buku sejarah tertulis perang Banjar yg paling lawas melawan penjajah. Ingat perang Banjar judul adalah perang anu perang itu. Tatap ai perang Banjar kalo. Bukan perang anu. Jadi amun kada paham talalu banar.
Mulai sekarang kita tanamkan bila Banjar digawil saikung kita turuni barataan. Sakira urang tahu Banjar itu banyak banjar itu rakat.



PERSAUDARAAN URANG BANJAR INDONESIA INI BERDIRI PADA TANGGAL 03 NOVEMBER 2022 YANG DIGAGAS OLEH SYAHBANDI BASRI AHMAD NOOR BIN MUHAMMAD NOOR BIN NOOR,, AWAL BERDIRI PUB INI ATAS MISI URANG BANJAR KALBAR HARUS BANGKIT UNTUK MENUNJUKKAN BAHWA BANJAR ADALAH PENDUDUK ASLI YANG MENCETUSKAN ADAT BUDAYA DARI ASLI KALIMANTAN, ORANG ORANG BANJAR SUDAH LAMA TENGGELAM SEJAK KERAJAAN BANJAR DISERANG BELANDA DIMASA LALU, MAKA URANG URANG BANJAR DARI KALIMANTAN SELATAN MENYEBAR BERBAGAI PELOSOK KALIMANTAN BAHKAN MENYEBAR SELURUH INDONESIA, MAKA SEKARANG URANG BANJAR HARUS BANGKIT KEMBALI.








