Sejarah berdirinya kerajaan Melayu pertama kali

Kerajaan Melayu, juga dikenal sebagai Kerajaan Malayu atau Kerajaan Jambi, adalah salah satu kerajaan penting yang pernah ada di wilayah Sumatera, Indonesia. Kerajaan ini dikenal sejak abad ke-7 hingga abad ke-14. Berikut adalah sejarah dan cerita mengenai Kerajaan Melayu:

Asal Usul dan Pendiriannya
Kerajaan Melayu awalnya adalah salah satu kerajaan kecil yang berada di sekitar Jambi, di wilayah Sumatera Tengah. Dalam berbagai catatan sejarah, terutama dalam sumber-sumber Tiongkok, kerajaan ini disebutkan sebagai Mo-lo-yeu atau Malayu.

Hubungan dengan Kerajaan Sriwijaya
Kerajaan Melayu sempat berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang. Pada masa kejayaan Sriwijaya, Kerajaan Melayu menjadi salah satu vassal atau bawahan yang penting. Namun, setelah Sriwijaya mengalami kemunduran akibat serangan dari Kerajaan Chola di India Selatan pada abad ke-11, Kerajaan Melayu mulai berkembang menjadi kekuatan yang lebih mandiri.

Kebangkitan dan Pemerintahan
Pada abad ke-13, Kerajaan Melayu mengalami kebangkitan. Pada masa ini, kerajaan mulai menunjukkan kemajuan yang signifikan dalam bidang ekonomi, perdagangan, dan kebudayaan. Beberapa raja terkenal dari Kerajaan Melayu termasuk:

Maharaja Srimat Tribhuwanaraja Mauliawarmadewa: Nama raja ini muncul dalam prasasti Padang Roco yang menunjukkan pengaruh Melayu di wilayah Dharmasraya.
Lokasi dan Wilayah Kekuasaan
Kerajaan Melayu berpusat di wilayah sekitar Sungai Batanghari, yang merupakan jalur perdagangan penting di Sumatera. Wilayah kekuasaan Kerajaan Melayu meliputi daerah yang kini termasuk Jambi dan sebagian Sumatera Barat.

Kehidupan Ekonomi dan Kebudayaan
Kerajaan Melayu memainkan peran penting dalam perdagangan internasional, terutama perdagangan rempah-rempah, emas, dan hasil bumi lainnya. Letaknya yang strategis di jalur perdagangan maritim antara India dan Tiongkok membuat kerajaan ini menjadi pusat perdagangan yang sibuk.

Budaya Melayu sangat dipengaruhi oleh agama Buddha, seperti yang terlihat dari peninggalan-peninggalan arkeologis berupa candi dan prasasti. Pada masa itu, agama Buddha Mahayana menjadi agama utama di kerajaan ini.

Hubungan dengan Majapahit
Pada abad ke-14, Kerajaan Melayu berada di bawah pengaruh Kerajaan Majapahit. Dalam kitab Negarakertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca, disebutkan bahwa Melayu adalah salah satu daerah taklukan Majapahit di bawah pemerintahan Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada. Hubungan ini menandai periode di mana Kerajaan Melayu berintegrasi dengan kerajaan-kerajaan lain di Nusantara dalam satu kesatuan yang lebih besar.

Kemunduran dan Akhir
Kerajaan Melayu mulai mengalami kemunduran setelah puncak kejayaannya pada abad ke-14. Integrasi dengan Majapahit dan perkembangan kerajaan-kerajaan lain di Sumatera seperti Kerajaan Aceh dan Kerajaan Minangkabau turut mempengaruhi kemunduran Kerajaan Melayu. Pada akhirnya, pengaruh dan kekuatan Melayu berangsur-angsur meredup.

Peninggalan Sejarah
Beberapa peninggalan penting dari Kerajaan Melayu antara lain:

Prasasti Kedukan Bukit: Prasasti yang menyebutkan tentang pendirian Srivijaya dan hubungannya dengan Melayu.
Prasasti Padang Roco: Prasasti yang menyebutkan nama Raja Srimat Tribhuwanaraja Mauliawarmadewa dan menunjukkan pengaruh Melayu di wilayah Dharmasraya.
Candi Muara Takus: Kompleks candi Buddha yang menjadi salah satu situs arkeologis penting yang terkait dengan Kerajaan Melayu.
Kerajaan Melayu adalah salah satu kerajaan yang berperan penting dalam sejarah awal Nusantara, terutama dalam bidang perdagangan dan penyebaran budaya serta agama Buddha di Sumatera.

Ditulis: Young Yiee

HBUBUNGAN JAWA DAN BANJAR DITANAH KALIMANTAN

Hubungan Bahasa dan Budaya Jawa-Banjar pada Masa Nagara Dipa (1)

Ilustrasi Kerajaan Nagara Dipa (Klausa.co)

BAGIKAN

Disadari atau tidak, ada kesamaan kosa kata antara bahasa Banjar dan Jawa. Ada beberapa kata yang relatif mirip antara kedua bahasa, hanya berbeda dialeg. Apakah ada hubungan kedua suku pada masa lampau?

Untuk menjawabnya, pembaca akan kami bawa ke abad 14. Jejak pertemuan antara dua budaya pertama kali tercatat pada masa berdirinya Nagara Dipa.

Nagara Dipa adalah sebuah kerajaan yang pernah berdiri di pedalaman Kalimantan Selatan pada sekitar tahun 1380. Kerajaan ini didirikan oleh Ampu Jatmika, seorang saudagar kaya asal Keling, yang dikirim oleh Raja Majapahit, Hayam Wuruk, untuk menaklukkan kerajaan Dayak Ma’anyan Nan Sarunai. Nagara Dipa menjadi bawahan Majapahit dan beragama Hindu. Kerajaan ini juga dikenal dengan kisah Putri Junjung Buih, seorang ratu yang muncul dari pusaran air dan menikah dengan Suryanata, raja di Majapahit.

Latar Belakang Pendirian Nagara Dipa

Menurut Hikayat Banjar, sebuah naskah sejarah yang ditulis pada abad ke-18, Nagara Dipa merupakan sebuah negeri yang didirikan oleh Ampu Jatmika yang berasal dari Keling. Menurut Veerbek (1889:10) dan Munoz (2009:401-435), Keling negara bawahan Majapahit di barat daya Kediri.

Ampu Jatmika, anak seorang saudagar bernama Mangkubumi atau disebut Saudagar Jantam. Berdasarkan saran ayahnya, Ampu Jatmika melakukan perjalanan untuk mencari negeri yang tanahnya suam dan berbau wangi. Disebutkan Keling berjarak dua bulan perjalanan laut menuju pulau Hujung Tanah (Kalimantan).

Beberapa sejarawan berpendapat, Ampu Jatmika juga merupakan pengungsi dari Kediri akibat kondisi yang tidak mengenakan di Kediri pasca Pertempuran Genter abad ke-13 (1222 M). Sementara itu, ada yang meyakini pula perjalanan ekspedisinya ke Kalimantan merupakan kebijakan ekspansionis Hayam Wuruk yang pada tahun 1355 (ekspedisi ketiga) menyerang kerajaan Dayak Ma’anyan Nan Sarunai yang bercorak kaharingan.

Baca Juga: Akulturasi Jawa-Banjar dalam Bahasa dan Arsitektur pada Masa Kesultanan Banjar (2)

Serangan-serangan ini yang diingat dengan nama Nansarunai Usak Jawa oleh suku Dayak Ma’anyan mengakibatkan runtuhnya kerajaan Nan Sarunai. Ampu Jatmika kemudian mendirikan kerajaan Negara Dipa bercorak Hindu tahun 1387 dengan mendirikan negeri Candi Laras yang terletak pada sebuah anak sungai Bahan (di sebelah hilir). Ia menjadi bawahan raja kerajaan Kuripan, kerajaan lokal yang sudah lebih dahulu berdiri.

Perkembangan dan Kejayaan Nagara Dipa

Kemudian Ampu Jatmika memerintahkan bentara kanan Tumenggung Tatahjiwa memperluas wilayah dengan menaklukan daerah batang Tabalong, batang Balangan, batang Pitap dan daerah perbukitan sekitarnya (yang dihuni suku Dayak Meratus). Ia juga memerintahkan bentara kiri Arya Megatsari menaklukan daerah batang Alai, batang Labuan Amas, batang Amandit dan daerah perbukitan sekitar daerah-daerah tersebut.Setelah itu ia memindahkan ibu kota dari negeri Candi Laras ke negeri Candi Agung (candi kuno di hulu sungai Bahan) yang terletak di sebalik negeri Kuripan. Seperti yang dijelaskan Tutur Candi, sebuah naskah sastra yang ditulis pada abad ke-16, Raja Kuripan yang tidak memiliki anak mengadopsi Ampu Jatmika sebagai anak dan penerus takhta Kuripan.

Ampu Jatmika merupakan penerus ayah angkatnya raja tua Kerajaan Kuripan, namun Ampu Jatmika menganggap dirinya hanya sebagai Penjabat Raja (Sakai) dengan gelar Maharaja di Candi. Alasan dia hanya menganggap dirinya sakai, lantaran dirinya hanya dari kasta waisya (pedagang).

Sementara dalam konsepsi hindu, hanya keturunan raja yang menduduki jabatan definitif sebagai raja. Ia juga dikenal dengan nama Ampu Djatmaka atau Empu Jatmika. Ia memerintah Nagara Dipa hingga tahun 1495.

Salah satu kisah yang terkenal dari masa pemerintahan Ampu Jatmika adalah kisah Putri Junjung Buih, seorang ratu yang muncul dari pusaran air di sungai Bahan. Menurut Hikayat Banjar, putri ini disembah oleh Lembu Mangkurat (Lambung Mangkurat), anak Ampu Jatmika. Junjung Buih kemudian diangkat menjadi ratu di Negara Dipa. Lambung Mangkurat kemudian mencarikan calon suami bagi putri ini sesuai dengan syaratnya, yaitu orang yang dapat bertapa seperti dirinya.

Lambung Mangkurat mendapat petunjuk dalam mimpinya bahwa yang pantas untuk menjadi suami Putri Junjung Buih adalah Raden Putra atau Suryanata, raja di Majapahit yang dapat bertapa di puncak Gunung Majapahit. Lambung Mangkurat pun pergi untuk mencari Suryanata dan memohon kepada dirinya agar ia mau menikah dengan Putri Junjung Buih. Suryanata pun menyetujui untuk menikah dengan Putri Junjung Buih karena merasa adanya kecocokan antara dirinya dan putri itu.

Setelah Putri Junjung Buih dan Suryanata menikah, mereka dinobatkan oleh Lambung Mangkurat raja dan ratu Nagara Dipa. Tak lama setelah dinobatkan, Suryanata diberi gelar Pangeran Suryanata.

Mengingat Suryanata berasal dari Majapahit yang notabene berpusat di Pulau Jawa, ia berpesan kepada Lambung Mangkurat agar adat istiadat Nagara Dipa menggunakan adat Majapahit.Waktu terus berlalu, pada masa kekuasaan Raden Sari Kaburungan, pusat pemerintahan Nagara Dipa di Candi Agung (Amuntai), dipindah ke Muara Ulak. Alasannya, menghindari bencana sebab ibukota yang lama dianggap sudah kehilangan tuahnya.

Waktu terus berlalu, pada masa kekuasaan Raden Sari Kaburungan, pusat pemerintahan Nagara Dipa di Candi Agung (Amuntai), dipindah ke Muara Ulak. Alasannya, menghindari bencana sebab ibukota yang lama dianggap sudah kehilangan tuahnya.

Selain pemindahan pusat pemerintahan,nama Kerajaan Negara Dipa juga diubah menjadi Negara Daha. Hal ini menandai dimulainya era baru dari Kerajaan yang kelak menjadi Kesultanan Banjarmasin.

Hubungan dengan Akulturasi Bahasa Jawa dan Banjar

Pernikahan Junjung Buih dan Suryanata menjadi salah satu bukti hubungan antara Banjar dan Jawa. Nagara Dipa memiliki hubungan dengan akulturasi bahasa Jawa dan Banjar.

Yaitu proses percampuran dua atau lebih bahasa yang menghasilkan bahasa baru. Bahasa Banjar merupakan salah satu bahasa daerah yang digunakan oleh suku Banjar di Kalimantan Selatan. Bahasa ini memiliki banyak kosakata yang berasal dari bahasa Jawa, seperti krama (sopan), alus (halus), ngoko (kasar), dan lain-lain.

Akulturasi budaya dan bahasa Jawa dan Banjar menunjukkan bahwa Nagara Dipa merupakan salah satu kerajaan yang berperan dalam sejarah dan perkembangan Kalimantan Selatan. Kerajaan ini juga menjadi saksi dari interaksi antara berbagai suku dan agama di Nusantara.

SYECH ABDUL WAHAB ALBUGISI ADALAH PENASEHAT KERAJAAN BANJAR

Abdul Wahab Bugis

Empat Ulama atau Empat serangkai dari  Kesultanan Banjar

Syekh Abdul Wahab Bugis (atau Syekh Abdul Wahab Bugis al-Banjari) yang bergelar Sadenreng Bunga Wariyah adalah salah seorang ulama suku Bugis berasal dari Bugis, Makasar, Sulawesi Selatan. Tepatnya, menurut Abu Daudi (1996: 28), Abdul Wahab adalah seorang berdarah bangsawan, ia keturunan seorang raja yang berasal dari daerah Sadenreng Pangkajene, dan dilahirkan di sana. Sebagai seorang yang berdarah bangsawan ia diberi gelar Sadenring Bunga Wariyah. Jadi nama lengkapnya adalah Abdul Wahab Bugis Sadenreng Bunga Wariyah., tetapi ia banyak berkiprah hingga wafatnya di Tanah Banjar. Kelahiran Syekh persisnya tidak diketahui, tetapi diperkirakan antara tahun 1725-1735 Masehi, mengingat usianya yang masih lebih muda dari Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.[1] Ia juga dikenal sebagai Empat Serangkai dari Tanah Jawi (Melayu)[2]yang menuntut ilmu di Madinah dan Mesir bersama 3 sahabat lainnya yaitu Syekh Muhammad Arsyad al-BanjariSyekh Abdus Shamad al-Palimbani, dan Syekh Abdurrahman Mishri al-Jawi.[2] Jika Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dan Syekh Abdus Samad al-Palimbani lebih banyak menghabiskan waktu menuntut ilmu di Kota Makkah, maka Syekh Abdul Wahab Bugis bersama dengan sahabatnya Syekh Abdurrahman Misri lebih banyak menghabiskan waktu mereka menuntut ilmu di Mesir. Syekh Abdul Wahab tercatat sebagai salah seorang murid dari Syaikhul Islam, Imam al-Haramain Allimul Allamah Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi. Itulah sebabnya ia mengiringi gurunya itu ke Kota Madinah ketika gurunya itu hendak mengajar, mengembangkan pengetahuan agama dan Ilmu Adab serta mengadakan pengajian umum. Di sinilah empat serangkai kemudian bertemu. Selama di Madinah, 4 Serangkai juga sempat belajar ilmu tasawuf kepada Syekh Muhammad bin Abdul Karim as-Samman al-Madani, seorang ulama besar dan Wali Quthub di Madinah, sehingga akhirnya mereka berempat mendapat gelar dan ijazah khalifah dalam tarekat Sammaniyah Khalwatiyah. Syekh Abdul Wahab Bugis pulang ke Kerajaan Banjar beriringan dengan kepulangan Syekh Muhammad Arsyad al-BanjariOleh Sultan, Syekh Abdul Wahab diangkat menjadi penasihat dan guru spiritual istana, Ia juga mengkader umat, dan ikut membantu membuka kawasan kosong bersama-sama dengan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari untuk dijadikan sentral pendidikan agama. Syekh Abdul Wahab Bugis memiliki jasa, peranan, dan perjuangan yang besar terhadap perkembangan dakwah, terutama di Kerajaan Banjar (sekarang: Kota Banjarmasin). Walaupun ia bukan orang Banjar, tetapi ilmu, amal, dan perjuangan hidupnya telah dibaktikan untuk kejayaan Islam di Tanah Banjar. Di samping Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari sebagai motor penggerak utama kegiatan dakwah Islam di Tanah Banjar, Abdul Wahab juga memiliki peranan yang penting dalam mengembangkan Islam di Tanah Banjar, mengingat kedudukan dan figur Abdul Wahab sebagai seorang ulama yang dikenal alim dan sekian lama menuntut ilmu di Mesir dan daerah Timur Tengah. Perjuangan utama Abdul Wahab Di Tanah Banjar sendiri adalah membantu Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari mendakwahkan Islam di wilayah kerajaan Banjar yang waktu itu belum begitu berkembang. Mulai dari mengajarkan Islam kepada keluarga kerajaan, mendidik kader-kader dakwah, sampai dengan membangun desa Dalam Pagar, yang kemudian berkembang menjadi pusat penyebaran dan pengajaran Islam di Kalimantan.Syekh Abdul Wahab BugisSyekh Abdul Wahab Bugis al-Banjari Sadenreng Bunga WariyahMakam Syekh Abdul Wahab Bugis di Tungkaran, Martapura

Penasihat Dan fakih Guru Spiritual Istana Kesultanan Banjar

Informasi pribadiKelahiran1725 Sadenreng Bunga Wariyah
Pangkajene, kecamatan yang ada di Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep) Sulawesi Selatan, ibukotanya adalah Tomapoa. Terletak di sebelah atau bagian barat dari propinsi Sulawesi Selatan. Arojong Pangkajene (Depag RI, 1996: 786). Bugis, Makassar, Sulawesi SelatanKematian1790
dan dimakamkan di Desa Karang TangahPemakaman

Desa Tungkaran, Kabupaten Banjar, Kalimantan SelatanPasangan

Anak

1. Siti Fatimah Al-Banjari Lahir 1775 (Wafat 1828) diperistri Syekh Haji Muhammad Said Al-Banjari Memiliki 2 Orang Anak


2. ♀ Aisyah Al-Banjari


3. Syekh Muhammad Yasin Al-BanjariAgamaIslam Sunni


Pertama, mengajarkan agama Islam kepada kaum bangsawan dan keluarga kerajaan Banjar. Hal ini terlihat dari awal kedatangan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dan Abdul Wahab Bugis di tanah Banjar (Martapura) pada bulan Ramadhan tahun 1208 H/1772 M yang disambut meriah oleh seluruh komponen masyarakat Banjar, tidak hanya masyarakat biasa akan tetapi juga kaum bangsawan dari kerajaan Banjar. Mengingat Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari sendiri sudah dianggap dan diakui sebagai bubuhan kerajaan, terlebih-lebih lagi manakala mengetahui status Abdul Wahab yang juga seorang bangsawan, sehingga oleh pihak kerajaan ia diberikan tempat untuk tinggal dalam istana. Menjadi guru agama di Istana dan mengajarkan ilmu-ilmu agama kepada bubuhan kerajaan.

Kedua, membantu Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari membuka perkampungan Dalam Pagar yang telah dihadiahkan oleh kerajaan Banjar kepada beliau sebagai tanah lungguh. Mengingat tekad kuat dan ikrar setia yang disampaikan oleh Abdul Wahab untuk mensyiarkan agama Islam di tanah air, sesuai dengan pesan guru mereka ketika masih di kota Madinah, ia juga aktif mengajarkan ilmu-ilmu agama kepada masyarakat luas yang datang berbondong-bondong ke Dalam Pagar yang sudah dikenal dan menjadi pusat pendidikan serta penyiaran agama Islam pada masa itu.

Ketiga, di samping itu Abdul Wahab sebagai menantu dan sekaligus sahabat Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari yang juga memiliki pengetahuan agama yang luas dan alim, diduga sedikit banyak beliau ikut menyumbangkan ilmu, pendapat, dan pandangannya –sumbang saran– terhadap berbagai masalah-masalah keagamaan yang terjadi di Tanah Banjar. Dengan kata lain Abdul Wahab merupakan teman diskusi atau mudzakarah agama Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Hal ini terlihat dari adanya istilah-istilah tertentu dalam Bahasa Bugis –walaupun dalam jumlah yang sangat kecil, dan untuk hal ini lebih jauh perlu dilakukan penelitian dan pengkajian kembali melalui pendekatan Linguistik– pada penulisan dan penyusunan risalah atau kitab-kitab yang ditulis oleh Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, terutama Kitab Sabilal Muhtadin.

Mengingat kedudukan dan kedekatannya, sumbangan pemikiran Abdul Wahab terhadap sejumlah karya tulis Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dapat saja terjadi, mengingat bahwa:

1. Abdul Wahab adalah salah seorang ahli Fiqih dan murid dari Imam Haramain, Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi dan Syekh Athaillah bin Ahmad al-Misri, yang lama menuntut ilmu di Mesir dan Haramain, beliau adalah seorang yang alim, sahabat sekaligus menantu yang berjuang berdampingan bersama Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, mewujudkan ikrar yang telah ditetapkan ketika berkumpul bersama-sama (dengan tokoh empat serangkai lainnya) sesudah menuntut ilmu di Madinah, dan akan pulang ke tanah air.

2. Abdul Wahab adalah salah seorang tokoh dari “empat serangkai” yang mendapatkan ijazah khalifah dalam tarekat Sammaniyah ketika keempatnya belajar dan mengkaji ilmu tasawuf atau tarekat di Madinah kepada Syekh Muhammad bin Abdul Karim Samman al-Madani.

3. Abdul Wahab dianggap sebagai tokoh penting dalam jaringan ulama Nusantara pada abad ke-18 dan ke-19 karena keterlibatannya secara sosial maupun intelektual dalam jaringan ulama tersebut. Ketokohannya diakui dan dapat dilihat dari gelar syekh yang beliau sandang. Sebab gelar syekh dalam khazanah masyarakat Banjar mengisyaratkan kealiman penyandangnya, sekaligus pula menjadi penanda bahwa yang bersangkutan pernah atau lama mengkaji ilmu di Tanah Haramain (Mekkah atau Madinah). Karena itulah di samping diangkat menjadi guru di istana kerajaan Banjar oleh sultan, dalam kehidupan masyarakat luas pun ia dihormati dan dijadikan sebagai guru rohani mereka.

Keempat, untuk mendidik dan membina kader-kader penerus dakwah Islam, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari telah membuka daerah Dalam Pagar, mendirikan surau, rumah tempat tinggal sekaligus mandarasah yang menjadi tempat untuk belajar masyarakat, mengkaji dan menimba ilmu, sekaligus tempat untuk mendidik kader-kader dakwah. Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari bersama Abdul Wahab telah membangun sebuah pusat pendidikan Islam yang serupa ciri-cirinya dengan surau di Padang Sumatera Barat, rangkang, meunasah dan dayah di Aceh, atau pesantren di Jawa.

Bangunan tersebut terdiri dari ruangan-ruangan untuk belajar, pondokan tempat tinggal para santri, rumah tempat tinggal Tuan Guru atau kyai, dan perpustakaan. Oleh Humaidy lembaga pendidikan Islam ini, sebagaimana istilah yang biasa dipakai di kawasan dunia Melayu, seperti Riau, Palembang, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Fattani (Thailand) disebut punduk. Sehingga Dalam Pagar akhirnya berhasil menjadi locus dan kawah candradimuka paling penting untuk mendidik serta mengkader para murid yang kemudian hari menjadi ulama terkemuka di kalangan masyarakat Kalimantan.

Tentu di masa-masa sulit seperti ini beliau berdua dengan anak menantu dan sekaligus sahabatnya, Abdul Wahab Bugis saling membantu, mengisi, dan membina kader-kader dakwah yang banyak jumlahnya tersebut. Hasilnya, di samping berhasil menjadikan anak cucu mereka –Fatimah dan Muhammad Yasin bin Syekh Abdul Wahab Bugis serta Muhammad As’ad bin Usman (mufti pertama di kerajaan Banjar)– sebagai ulama, membentuk kader-kader masyarakat yang kelak menjadi ulama terkemuka, mereka berdua juga berhasil membentuk masyarakat Islam Banjar yang memiliki kesadaran untuk berpegang pada ajaran agama Islam melalu dakwah bil-lisan, bil-kitabah, dan bil-hal, serta diteruskan kemudian oleh generasi-generasi dan kader-kader yang telah dibina melalui upaya pengiriman juru dakwah ke berbagai daerah yang masyarakatnya sangat memerlukan pembinaan agama, dari sini akhirnya dakwah terus berkembang dan ajaran Islam semakin tersebar luas ke tengah-tengah masyarakat Banjar.

Perkembangan dakwah Islam yang begitu menggembirakan, pada akhirnya memicu simpatik Sultan Tahmidullah II bin Sultan Tamjidillah untuk memberikan keleluasaan kepada Syekh Muhammad Arsyad untuk lebih memantapkan dan mengembangkan Islam di Tanah Banjar secara melembaga, agar agama Islam benar-benar menjadi way of life, keyakinan dan pegangan masyarakat Banjar khususnya, dan Kalimantan umumnya.

Sultan Banjar berkeinginan pula untuk menertibkan dan menyempurnakan peraturan yang telah dibuat berdasarkan hukum Islam, wadah atau badan yang menjaga agar kemurnian hukum dapat diterapkan, dan yang lebih penting lagi adalah agar roda pemerintahan di kerajaan benar-benar dapat dilaksanakan dengan baik sesuai dengan tuntunan agama. Sehingga bermula dari sinilah kemudian timbul lembaga-lembaga dan jabatan-jabatan keislaman dalam pemerintahan, semacam Mahkamah Syar’iyah, yakni Mufti dan Qadli.


Mufti adalah suatu lembaga yang bertugas memberikan nasihat atau fatwa kepada sultan masalah-masalah keagamaan, jabatan mufti kerjaan Banjar yang pertama dipegang oleh H. Muhammad As’ad bin Usman (cucu Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari). Sedangkan qadli adalah mereka yang mengurusi dan menyelesaikan segala urusan hukum Islam, terhadap masalah perdata, pernikahan, dan waris, jabatan qadli yang pertama dipegang oleh H. Abu Su’ud bin Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Sampai akhirnya Syariat Islam diterapkan sebagai hukum resmi yang mengatur kehidupan masyarakat Islam di tanah Banjar pada masa pemerintahan Sultan Adam al-Watsiq Billah bin Sultan Sulaiman al-Mu’tamidillah (1825-1857 M), yang dikenal dengan nama Undang-Undang Sultan Adam (UUSA). Dibentuk dan diberlakukannya UUSA ini bertujuan untuk mengatur agar kehidupan beragama masyarakat menjadi lebih baik, mengatur agar akidah masyarakat lebih sempurna, mencegah terjadinya persengketaan, dan untuk memudahkan para hakim dalam menetapkan status hukum suatu perkara.

Di samping alasan-alasan di atas yang mendasari aktivitas dan perjuangan dakwah Abdul Wahab di Tanah Banjar, sebagai seorang ulama yang alim, ahli Ilmu Fikih dan menguasai Ilmu Tasawuf, menurut asumsi penulis Abdul Wahab juga salah seorang ulama penyebar tarekat Sammaniyah (Pembahasan tentang peranan Syekh Abdul Wahab Bugis sebagai salah seorang pembawa dan penyebar tarekat Sammaniyah yang bercorak Khalwatiyah, di samping Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dan Syekh Muhammad Nafis al-Banjari lebih jauh dapat dilihat dalam tulisan saya yang berjudul: “Melacak Jejak Pembawa Tarekat Sammaniyah di Tanah Banjar”, Jurnal Khazanah, Volume II Nomor 05, September-Oktober 2003). Sehingga dalam konteks ini memungkinkan sekali jika ia menggunakan pendekatan dakwah sufistik dalam aktivitas dakwahnya, di samping pendekatan dakwah syariah.

Dimaksud dengan dakwah sufistik adalah usaha dakwah yang dilakukan oleh seorang muslim untuk mempengaruhi orang lain, baik secara individu maupun kolektif (jamaah) agar mereka mau mengikuti dan menjalankan ajaran Islam secara sadar, usaha ini dilakukan dengan pendekatan tasawuf, yakni pendekatan dakwah yang lebih menekankan pada aspek batin penerima atau objek dakwah (mad’u) daripada aspek lahiriyahnya.


Dengan kata lain pendekatan dakwah sufistik adalah dakwah dengan menggunakan materi-materi sufisme, yang di dalamnya terdapat aspek-aspek yang berhubungan dengan akhlak, baik akhlak kepada Allah, kepada Rasul-Nya, kepada sesama manusia, bahkan akhlak terhadap semua makhluk ciptaan Allah seperti tawadlu’, ikhlas, tasamuh, kasih sayang terhadap sesama, dan lain-lain, sehingga pada akhirnya dalam diri mad’u timbul kesadaran untuk mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub ilallah) sedekat-dekatnya agar memperoleh rahmat serta kasih sayang-Nya (Rosyidi, 2004: 46).

Apatah lagi, pada masa itu tasawuf dan berbagai tarekat yang ada telah memainkan peranan penting dalam perkembangan dan Islamisasi di Indonesia sejak abad XI Masehi. Di mana berlangsungnya Islamisasi di Asia Tenggara (termasuk di Indonesia), berbarengan dengan masa-masa merebaknya tasawuf abad pertengahan, dan pertumbuhan tarekat-tarekat, antara lain ajaran Ibn al-‘Arabi (w. 1240 M), ‘Abd al-Qadir al-Jailani (w. 1166 M) yang ajarannya menjadi dasar Tarekat Qadiriyah, ‘Abd al-Qahir al-Suhrawardi (w. 1167 M), Najm al-Din al-Kubra (w. 1221 M) dengan tarekatnya Kubrawiyah, Abu al-Hasan al-Syadzili (w. 1258 M) dengan tarekatnya Syadziliyah, Baha’u al-Din al-Naqsyabandi (w. 1389 M) dengan tarekatnya Naqsabandiyah, ‘Abd Allah al-Syattar (w. 1428 M) dengan tarekatnya Syattariyah, dan sebagainya (Martin, 1985: 188). Sehingga tasawuf merupakan sesuatu yang sangat diminati, tak terkecuali pula halnya dengan masyarakat Banjar yang telah memiliki bibit-bibit ketasawufan tersebut. Lebih dari itu, Islam yang masuk yang berkembang di Indonesia sendiri menurut para ahli adalah Islam yang bercorak tasawuf (Yunasir, 1987: 94).

Sayangnya, perjuangan dakwah Abdul Wahab tidak begitu panjang, ia meninggal terlebih dahulu dan lebih muda setelah sekian lama berjuang bahu-membahu mendakwahkan Islam bersama dengan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, yakni lebih kurang 10-15 tahunan.

Ada pula yang menyatakan bahwa, Abdul Wahab setelah lama berkiprah di Tanah dan kerajaan Banjar serta sesudah kedua anaknya yakni Siti Fatimah dan Muhammad Yasin dewasa, ia kemudian pulang dan meninggal di kampung halamannya Pangkajene, Sulawesi Selatan (Zamam, 1978: 13).

Namun, Berdasarkan catatan pemindahan makamnya yang sampai sekarang masih disimpan oleh Abu Daudi, dapat disimpulkan bahwa Syekh Abdul Wahab Bugis sebenarnya tidak pulang ke daerah asalnya tetapi meninggal lebih muda dari Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Karena itu data ini lebih kuat dari yang dikatakan oleh Zafri Zamzam bahwa Syekh Abdul Wahab Bugis pulang ke daerah asal beliau (Pangkajene) dan meninggal di sana.

Berdasarkan uraian di atas jelaslah bahwa Abdul Wahab Bugis, kawan seperguruan, sahabat, dan sekaligus menantu dari Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari juga memiliki peran dan jasa yang besar dalam mendakwahkan Islam di Bumi Kalimantan. Mulai dari mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan pada keluarga atau bubuhan bangsawan di kerajaan Banjar sampai membangun tanah lungguh desa Dalam Pagar menjadi locus utama dakwah Islam, pendidikan, dan pengkaderan kader-kader yang kelak menjadi pejuang dakwah diberbagai daerah yang menjadi sebarannya di Kalimantan.

Mengingat ketokohan, akhlak, dan keilmuan yang dimilikinya yang memang diakui, serta melalui kebersamaan sebagaimana yang telah diikrarkan, bahu-membahu, dan ikhlas berjuang bersama Syekh Muhammad Arsyad, Abdul Wahab berhasil menempatkan posisi dirinya sebagai ulama pejuang dalam rangka menjadikan Islam sebagai pola kehidupan masyarakat Banjar, baik bidang kenegaraan maupun bidang sosial kemasyarakatan.

Demikianlah, Syekh Abdul Wahab Bugis telah membaktikan ilmu, waktu, dan hidupnya untuk memperjuangan dakwah Islam di Tanah Banjar. Seyogianya peranan, jasa dan perjuangannya itu menjadi cermin bagi generasi sekarang untuk meninggalkan amal shalih yang sama, sehingga berguna bagi generasi selanjutnya untuk membangun dan mengembangkan masyarakatnya.

Ia dikawinkan dengan Syarifah binti Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari oleh syekh sendiri, dan berlangsung di Mekkah dengan disaksikan dua orang sahabatnya tersebut.

Syekh Abdul Wahab Bugis wafat antara tahun 1782-1790 M dan dimakamkan di Desa Karang Tangah (sekarang: Desa TungkaranKabupaten BanjarKalimantan Selatan.[butuh rujukan]

Empat Serangkai Syekh Abdul Wahab Bugis dikenal sebagai Empat Serangkai dari Tanah Jawi (Melayu) yang menuntut ilmu di Madinah dan Mesir bersama 3 sahabat lainnya yaitu Muhammad Arsyad al-Banjari|Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari]], Syekh Abdus Shamad al-Palimbani, dan Syekh Abdurrahman Mishri al-Jawi.[2][5]

Jika Syekh Muhammad Arsyad al-Banjaridan Syekh Abdus Samad al-Palimbani lebih banyak menghabiskan waktu mereka menuntut ilmu di Kota Mekkah, maka Abdul Wahab bersama dengan sahabatnya Syekh Abdurrahman Misri lebih banyak menghabiskan waktu mereka menuntut ilmu di Mesir.[butuh rujukan]

Abdul Wahab tercatat sebagai salah seorang murid dari Syaikh al-Islam, Imam al-Haramain Allimul Allamah Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi. Itulah sebabnya ia mengiringi gurunya itu ke Kota Madinah ketika gurunya itu hendak mengajar, mengembangkan pengetahuan agama dan Ilmu Adab serta mengadakan pengajian umum.[butuh rujukan]

Di sinilah empat serangkai kemudian bertemu.[butuh rujukan] Selama di Madinah, Empat Serangkai juga sempat belajar ilmu tasawuf kepada Syekh Muhammad bin Abdul Karim as-Samman al-Madani, seorang ulama besar dan Wali Quthub di Madinah, sehingga akhirnya mereka berempat mendapat gelar dan ijazah khalifah dalam tarekat Sammaniyah Khalwatiyah.

Pulang dari Mekkah Syekh Abdul Wahab pulang ke Kerajaan Banjar beriringan dengan kepulangan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Oleh Sultan, Syekh Abdul Wahab diangkat menjadi penasihat dan guru spiritual istana, Ia juga mengkader umat, dan ikut membantu membuka kawasan kosong bersama-sama dengan Syekh Muhammad Arsyad untuk dijadikan sentral pendidikan agama.

Syekh Abdul Wahab Bugis memiliki jasa, peranan, dan perjuangan yang besar terhadap perkembangan dakwah, terutama di Kerajaan Banjar (sekarang: Kota Banjarmasin). Walaupun ia bukan orang Banjar, tetapi ilmu, amal, dan perjuangan hidupnya telah dibaktikan untuk kejayaan Islam di Tanah Banjar.


Peristiwa perkawinan Saat Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari masih berada di Makkah, dia mendengar kabar bahwa anaknya yang bernama Syarifah dari istrinya, Tuan Bajut, sudah beranjak dewasa. Oleh karena itu, dia mengawinkan anaknya tersebut dengan sahabatnya, Syeikh Abdul Wahab Bugis.


Namun saat Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari kembali ke Banjarmasin (saat itu masih Kerajaan Banjar), ternyata Syarifah oleh Sultan Panembahan Batuah Sunan Nata Alam-Sultan Tahmidillah menikah kan dengan Usman dan hubungan perkawinan ini telah melahirkan seorang anak Mufti Tuan Guru Syekh Haji Muhammad As’ad al-Banjary. Muhammad As’ad menjadi mufti pertama Kesultanan Banjar, salah satu institusi keagamaan di lingkungan Kesultanan yang dibentuk atas usulan Muhammad Arsyad. Posisi mufti yang diduduki As’ad ini kelak digantikan oleh Paman Syekhah Fatimah Abdul Wahab Al-Banjary, Mufti Tuan Guru Syekh Haji Jamaluddin


Syarifah telah dikawinkan oleh Panembahan Batuah Sunan Nata Alam-Sultan Tahmidillah dengan seseorang yang bernama Usman dalam hal ini Sultan bertindak sebagai wali hakim, karena wali (ayah)-nya dianggap uzur (karena belajar di Mekkah). Padahal dalam ketentuan fikih, kedua perkawinan ini dapat dianggap benar dan sah.[butuh rujukan]

Untuk memutuskan permasalahan ini, Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari menetapkan dengan melihat masa terjadinya akad pernikahan; akad perkawinan yang lebih dulu dilakukan, itulah yang dimenangkan. Berdasarkan keahliannya dalam bidang ilmu falak dan berdasarkan penelitiannya terhadap kedua perkawinan tersebut, dengan mengaitkan perbedaan waktu antara Makkah dan Martapura, maka dia mendapati bahwa akad perkawinan yang terjadi di Makkah lebih dulu beberapa saat daripada perkawinan di Martapura.Berdasarkan penelitian ini, ikatan perkawinan antara Syarifah dan Usman dibatalkan, kemudian sahabatnya, Syaikh Abdul Wahab Bugis diresmikan sebagai suami Syarifah yang sah.[4]

Keputusan ini kemudian ditaati oleh kedua belah pihak, dan menurut cerita Usman akhirnya merantau ke daerah Palembang Sumatera Selatan, serta merintis terbentuknya sebuah desa di sana yang diberi nama Martapura. Karena itu boleh jadi di Indonesia, daerah yang bernama Martapura hanya ada dua, yakni Martapura di Kalimantan Selatan atau Martapura di Palembang (Sumatera Selatan).


Hasil perkawinan Syeikh Abdul Wahab dengan Syarifah binti Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari ini kemudian mendapatkan anak, masing-masing bernama:

  • ♀Aisyah Abdul Wahab Al-Banjary
  • Datu Syekhah Siti Fathimah Abdul Wahab Al-Banjary[6] (kawin dengan Syekh HM Said Bugis, memiliki 2 orang anak)
    • Syekh Abdul Gani (Menikahi Saudah Binti Muhammad As’ad) Muhammad As’ad menjadi mufti pertama Kesultanan Banjar, salah satu institusi keagamaan di lingkungan Kesultanan yang dibentuk atas usulan Muhammad Arsyad. Posisi mufti yang diduduki As’ad ini kelak digantikan oleh Paman Syekhah Fatimah Abdul Wahab Al-Banjary, Mufti Tuan Guru Syekh Haji Jamaluddin)
    • Ratoe Halimah (di peristri Pangeran Ratu Sultan Muda Abdur Rahman dari Banjar 1825-1852)
  • Syekh Muhammad Yasin Abdul Wahab Al-Banjary.

Wafat Tidak diketahui secara pasti kapan tahun meninggalnya, tetapi diperkirakan antara tahun 1782-1790M. Tahun ini didasarkan pada catatan tahun pertama kali kedatangannya dan tahun pemindahan makamnya. Semula ia dikuburkan di pemakaman Bumi Kencana Martapura, tetapi oleh Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari – bersamaan dengan pemindahan makam Tuan Bidur, Tuan Bajut (isteri dari Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari), dan Aisyah (anaknya Tuan Bajut), makamnya kemudian dipindahkan ke desa Karang Tangah (sekarang masuk wilayah Desa Tungkaran Kecamatan Martapura) pada tahun 1793 M.

Silsilah :

1. Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam

2. Fatimah Az-Zahra

3. Husein Asy-Syahid

4. Ali Zainal Abidin

5. Husein Al-Ashghar

6. Ubaidillah Al-Araj

7. Ali Ash-Sholeh

8. Ubaidillah Ats-Tsani

9. Abil Hasan Ali

10. Ubaidillah Ats-Tsalits

11. Al-Amir Muhammad Al-Asytar

12. Abu Ali Muhammad

13. Abil Ala Muslim

14. Abu Thohir Muhana Al-Awwal

15. Muslim

16. Muhammad

17. Abu Ali Hasan

18. Muhana Ats-Tsani

19. Abul Hasan Ali

20. Muhana Ats-Tsalits

21. Abul Ma’ali Muhammad

22. Ahmad Jamaluddin

23. Muhammad Az-Zahid

24. Abul Hasan Ali

25. Abul Baralat Muhana Ar-Rabi

26. Ali Jalaluddin

27. Muhana Al-Khamis

28. Ali

29. La Makkarakka

Addaowang XI & Addatuang I

30. La So’ni

Addatuang II

31. To Dani

Addatuang III

32. La Tenri Sempe

Addatuang IV

33. La Mallewai Arung Barru

Addatuang V

34. We Rakya

Addatuang VI

35. La Taranatie

Addatuang VII

36. Syaikh Abdul Wahab Bugis Al-Banjari yang bergelar Sadenreng Bunga Wariyah bersaudara dengan To Appo Sultan Abdul Hakim Arung Tempe Arung Berru

Addatuang VIII

Kedatuan Sidenreng atau Addatuang ri Sidenreng merupakan kerajaan yang terletak di Sulawesi atau tepatnya di Daerah Provinsi Sulawesi Selatan.

SEJARAH PERJALANAN HABIB HUSEIN AL QADRI KE KALIMANTAN BARAT

Penyebar Islam Kalimantan Barat Oleh Wan Mohd. Shaghir Abdullah

MENGENAI Habib Husein al-Qadri, tidak terlalu sukar membuat penyelidikan kerana memang terdapat beberapa manuskrip yang khusus membicarakan biografinya. Walau bagaimana pun semua manuskrip yang telah dijumpai tidak jelas nama pengarangnya, yang disebut hanya nama penyalin. Semua manuskrip dalam bentuk tulisan Melayu/Jawi. Nama lengkapnya, As-Saiyid/as-Syarif Husein bin al-Habib Ahmad/Muhammad bin al-Habib Husein bin al-Habib Muhammad al-Qadri, Jamalul Lail, Ba `Alawi, sampai nasabnya kepada Nabi Muhammad s.a.w. Sampai ke atas adalah melalui perkahwinan Saidatina Fatimah dengan Saidina Ali k.w. Nama gelarannya ialah Tuan Besar Mempawah. Lahir di Tarim, Yaman pada tahun 1120 H/1708 M. Wafat di Sebukit Rama Mempawah, 1184 H/ 1771M. ketika berusia 64 tahun. Dalam usia yang masih muda beliau meninggalkan negeri kelahirannya untuk menuntut ilmu pengetahuan bersama beberapa orang sahabatnya.

Contents

PENDIDIKAN, PENGEMBARAAN DAN SAHABAT

Mengembara ke negeri Kulaindi dan tinggal di negeri itu selama empat tahun. Di Kulaindi beliau mempelajari kitab kepada seorang ulama besar bernama Sayid Muhammad bin Shahib. Dalam waktu yang sama beliau juga belajar di Kalikut. Jadi sebentar beliau tinggal di Kulaindi dan sebentar tinggal di Kalikut. Habib Husein al-Qadri termasuk dalam empat sahabat. Mereka ialah, Saiyid Abu Bakar al-`Aidrus, menetap di Aceh dan wafat di sana. Digelar sebagai Tuan Besar Aceh. Kedua, Saiyid Umar as-Sagaf, tinggal di Siak dan mengajar Islam di Siak, juga wafat di Siak. Digelar sebagai Tuan Besar Siak. Ketiga, Saiyid Muhammad bin Ahmad al-Qudsi yang tinggal di Terengganu dan mengajar Islam di Terengganu. Digelar sebagai Datuk Marang. Keempat, Saiyid Husein bin Ahmad al-Qadri (yang diriwayatkan ini)

Maka Habib Husein pun berangkatlah dari negeri Kulaindi menuju Aceh. Di Aceh beliau tinggal selama satu tahun, menyebar agama Islam dan mengajar kitab. Selanjutnya perjalanan diteruskan ke Siak, Betawi dan Semarang. Saiyid Husein tinggal di Betawi selama tujuh bulan dan di Semarang selama dua tahun. Sewaktu di Semarang beliau mendapat sahabat baru, bernama Syeikh Salim bin Hambal. Pada suatu malam tatkala ia hendak makan, dinantinya Syeikh Salim Hambal itu tiada juga datang. Tiba-tiba ia bertemu Syeikh Salim Hambal di bawah sebuah perahu dalam lumpur. Habib Husein pun berteriak sampai empat kali memanggil Syeikh Salim Hambal. Syeikh Salim Hambal datang menemui Habib Husein berlumuran lumpur. Setelah itu bertanyalah Habib Husein, “Apakah yang kamu perbuat di situ?” Jawabnya: “Hamba sedang membaiki perahu.” Habib Husein bertanya pula, “Mengapa membaikinya malam hari begini?” Maka sahutnya, “Kerana siang hari, air penuh dan pada malam hari air kurang.” Kata Habib Husein lagi, “Jadi beginilah rupanya orang mencari dunia.” Jawabnya, “Ya, beginilah halnya.” Kata Habib Husein pula, “Jika demikian sukarnya orang mencari atau menuntut dunia, aku haramkan pada malam ini juga akan menuntut dunia kerana aku meninggalkan tanah Arab sebab aku hendak mencari yang lebih baik daripada nikmat akhirat.”

Habib Husein kembali ke rumah dengan menangis dan tidak mahu makan. Keesokan harinya wang yang pernah diberi oleh Syeikh Salim Hambal kepadanya semuanya dikembalikannya. Syeikh Salim Hambal berasa hairan, lalu diberinya nasihat supaya Habib Husein suka menerima pemberian dan pertolongan modal daripadanya. Namun Habib Husein tiada juga mahu menerimanya. Oleh sebab Habib Husein masih tetap dengan pendiriannya, yang tidak menghendaki harta dunia, Syeikh Salim Hambal terpaksa mengalah. Syeikh Salim Hambal bersedia mengikuti pelayaran Habib Husein ke negeri Matan.

Setelah di Matan, Habib Husein dan Syeikh Salim Hambal menemui seorang berketurunan saiyid juga, namanya Saiyid Hasyim al-Yahya, digelar orang sebagai Tuan Janggut Merah. Perwatakan Saiyid Hasyim/ Tuan Janggut Merah itu diriwayatkan adalah seorang yang hebat, gagah dan berani. Apabila Saiyid Hasyim berjalan senantiasa bertongkat dan jarang sekali tongkatnya itu ditinggalkannya. Tongkatnya itu terbuat daripada besi dan berat. Sebab Saiyid Hasyim itu memakai tongkat demikian itu kerana ia tidak boleh sekali-kali melihat gambaran berbentuk manusia atau binatang, sama ada di perahu atau di rumah atau pada segala perkakas, sekiranya beliau terpandang atau terlihat apa saja dalam bentuk gambar maka dipalu dan ditumbuknya dengan tongkat besi itu.

KEDUDUKAN DI MATAN

Setelah beberapa lama Habib Husein dan Syeikh Salim Hambal berada di Matan, pada suatu hari Sultan Matan menjemput kedua-duanya dalam satu jamuan makan kerana akan mengambil berkat kealiman Habib Husein itu. Selain kedua-duanya juga dijemput para pangeran, sekalian Menteri negeri Matan, termasuk juga Saiyid Hasyim al-Yahya. Setelah jemputan hadir semuanya, maka dikeluarkanlah tempat sirih adat istiadat kerajaan lalu dibawa ke hadapan Saiyid Hasyim. Saiyid Hasyim al-Yahya melihat tempat sirih yang di dalamnya terdapat satu kacip besi buatan Bali. Pada kacip itu terdapat ukiran kepala ular. Saiyid Hasyim al-Yahya sangat marah. Diambilnya kacip itu lalu dipatah-patah dan ditumbuk-tumbuknya dengan tongkatnya. Kejadian itu berlaku di hadapan Sultan Matan dan para pembesarnya. Sultan Matan pun muram mukanya, baginda bersama menteri-menterinya hanya tunduk dan terdiam saja. Peristiwa itu mendapat perhatian Habib Husein al-Qadri. Kacip yang berkecai itu diambilnya, dipicit-picit dan diusap-usap dengan air liurnya. Dengan kuasa Allah jua kacip itu pulih seperti sediakala. Setelah dilihat oleh Sultan Matan, sekalian pembesar kerajaan Matan dan Saiyid Hasyim al-Yahya sendiri akan peristiwa itu, sekaliannya gementar, segan, berasa takut kepada Habib Husein al-Qadri yang dikatakan mempunyai karamah itu.

Beberapa hari setelah peristiwa di majlis jamuan makan itu, Sultan Matan serta sekalian pembesarnya mengadakan mesyuarat. Keputusan mesyuarat bahawa Habib Husein dijadikan guru dalam negeri Matan. Sekalian hukum yang tertakluk kepada syariat Nabi Muhammad s.a.w. terpulanglah kepada keputusan Habib Husein al-Qadri. Selain itu Sultan Matan mencarikan isteri untuk Habib Husein. Beliau dikahwinkan dengan Nyai Tua. Daripada perkahwinan itulah mereka memperoleh anak bernama Syarif Abdur Rahman al-Qadri yang kemudian dikenali sebagai Sultan Kerajaan Pontianak yang pertama. Semenjak itu Habib Husein al-Qadri dikasihi, dihormati dan dipelihara oleh Sultan Matan. Setelah sampai kira-kira dalam dua hingga tiga tahun diam di negeri Matan, datanglah suruhan Raja Mempawah dengan membawa sepucuk surat dan dua buah perahu akan menjemput Habib Husein untuk dibawa pindah ke Mempawah. Tetapi pada ketika itu Habib Husein masih suka tinggal di negeri Matan. Beliau belum bersedia pindah ke Mempawah. Kembalilah suruhan itu ke Mempawah. Yang menjadi Raja Mempawah ketika itu ialah Upu Daeng Menambon, digelar orang dengan Pangeran Tua. Pusat pemerintahannya berkedudukan di Sebukit Rama.

HABIB HUSEIN PINDAH KE MEMPAWAH

Negeri Matan dikunjungi pelaut-pelaut yang datang dari jauh dan dekat. Di antara ahli-ahli pelayaran, pelaut-pelaut yang ulung, yang datang dari negeri Bugis-Makasar ramai pula yang datang dari negeri-negeri lainnya. Salah seorang yang berasal dari Siantan, Nakhoda Muda Ahmad kerap berulang alik ke Matan. Terjadi fitnah bahawa dia dituduh melakukan perbuatan maksiat, yang kurang patut, dengan seorang perempuan. Sultan Matan sangat murka, baginda hendak membunuh Nakhoda Muda Ahmad itu. Persoalan itu diserahkan kepada Habib Husein untuk memutuskan hukumannya. Diputuskan oleh Habib Husein dengan hukum syariah bahawa Nakhoda Muda Ahmad lepas daripada hukuman bunuh. Hukuman yang dikenakan kepadanya hanyalah disuruh oleh Habib Husein bertaubat meminta ampun kepada Allah serta membawa sedikit wang denda supaya diserahkan kepada Sultan Matan. Sultan Matan menerima keputusan Habib Husein. Nakhoda Muda Ahmad pun berangkat serta disuruh hantar oleh Sultan Matan dengan dua buah sampan yang berisi segala perbekalan makanan. Setelah sampai di Kuala, Nakhoda Muda Ahmad diamuk oleh orang yang menghantar kerana diperintah oleh Sultan Matan. Nakhoda Muda Ahmad dibunuh secara zalim di Muara Kayang. Peristiwa itu akhirnya diketahui juga oleh Habib Husein al-Qadri. Kerana peristiwa itulah Habib Husein al-Qadri mengirim surat kepada Upu Daeng Menambon di Mempawah yang menyatakan bahawa beliau bersedia pindah ke Mempawah.

Tarikh Habib Husein al-Qadri pindah dari Matan ke Mempawah, tinggal di Kampung Galah Hirang ialah pada 8 Muharam 1160 H/20 Januari 1747 M. Setelah Habib Husein al-Qadri tinggal di tempat itu ramailah orang datang dari pelbagai penjuru, termasuk dari Sintang dan Sanggau, yang menggunakan perahu dinamakan `bandung’ menurut istilah khas bahasa Kalimantan Barat. Selain kepentingan perniagaan mereka menyempatkan diri mengambil berkat daripada Habib Husein al-Qadri, seorang ulama besar, Wali Allah yang banyak karamah. Beliau disegani kerana selain seorang ulama besar beliau adalah keturunan Nabi Muhammad s.a.w. Dalam tempoh yang singkat negeri tempat Habib Husein itu menjadi satu negeri yang berkembang pesat sehingga lebih ramai dari pusat kerajaan Mempawah, tempat tinggal Upu Daeng Menambon/Pangeran Tua di Sebukit Rama. Manakala Upu Daeng Menambon mangkat puteranya bernama Gusti Jamiril menjadi anak angkat Habib Husein al-Qadri. Dibawanya tinggal bersama di Galah Hirang/Mempawah lalu ditabalkannya sebagai pengganti orang tuanya dalam tahun 1166 H/1752 M. Setelah ditabalkan digelar dengan Penembahan Adiwijaya Kesuma.

Akan kemasyhuran nama Habib Husein al-Qadri/Tuan Besar Mempawah itu tersebar luas hingga hampir semua tempat di Asia Tenggara. Pada satu ketika Sultan Palembang mengutus Saiyid Alwi bin Muhammad bin Syihab dengan dua buah perahu untuk menjemput Habib Husein al-Qadri/Tuan Besar Mempawah datang ke negeri Palembang kerana Sultan Palembang itu ingin sekali hendak bertemu dengan beliau. Habib Husein al-Qadri/Tuan Besar Mempawah tidak bersedia pergi ke Palembang dengan alasan beliau sudah tua.

WAFAT

SEJARAH KERAJAAN ORANG BUGIS DI BANUA ORANG BANJAR

BAB I

A. PENDAHULUAN
Pertengahan abad 18 Pagatan masih merupakan hutan belantara, setelah kedatangan orang-orang Bugis Wajo membuka pemukiman diatas hutan rotan belantara, kemudian menjadikan Pagatan sebagai cikal bakal lahir dan berkembangnnya peradaban bugis Pagatan di Banua orang Banjar. Dalam sejarah Pagatan tercatat sebagai salah satu kerajaan kecil yang berdaulat pada kerajaan Banjar dan sebagai basis perjuangan mempertahankan Kemerdekaan RI.serta memiliki kedudukan yang strategis dalam jalur pelayaran. Jadi tidak mengherankan kalau kolonial Belanda dan pendudukan Jepang selalu ingin mengusai Pagatan dulu dikenal sebagai Ibukota Kalimantan Tenggara.

Orang Bugis Wajo yang telah berjasa membangun Pagatan, telah mengembangkan peradaban serta mengabdikan seluruh jiwa raganya membangun daerah ini sehingga dengan bangga mereka disebut sebagai orang Bugis Pagatan. Sebab sejak direstui penguasa Kerajaan Banjar untuk dijinkan membuka kampoeng dan bermukim, sejak itu pula Bugis Pagatan merasa sebagai sebagai orang Banua, sehingga peradaban yang telah dibangun dan dikembangkan oleh pemerintah Kalimantan Selatan ditetapkan sebagai salah satu sektor wisata budaya andalan didaerah ini dengan dijadikannya Pagatan sebagai kota wisata budaya.

B. BUGIS PAGATAN
Bugis Pagatan adalah salah satu suku bangsa yang ada di Kalimantan Selatan yang sejak pertengahan abad 18 telah bermukim serta mengembagkan peradaban dan persekutuan di Pagatan (Kalimantan Selatan) yang terletak bagian Tenggara kepulauan Kalimantan. Suku Bugis yang pertama kali membangun Pagatan kemudian mengembangkan peradapan dan persekutuannya dulunya berasal dari Wajo (Sulawesi Selatan), Matulada (1985) menjelaskan suku bangsa Bugis dan Makasar sejak dulu terkenal sebagai salah satu bangsa yang suka mengembara mengarungi samudera sehinga dikenal sebagai pelaut tangguh dan ulung. Dengan perahu layar pinisi dan lambo mereka dapat mengarungi samudera Nusantara, ke Barat sampai ke Madagaskar, ke Timur samapi Irian dan Australia. Oleh karena itulah dihampir pantai dan pelabuhan laut dikepulauan Nusantara terdapat perkampungan Bugis. Mereka pada umumnya menetap dan menjadi penduduk daerah itu sambil mengembangkan adat istiadat persekutuan mereka. Terdapat sekarang ini suku Bugis Pagatan di Kalimantan Selatan, suku Bugis Johor di Malaysia, suku Bugis Pasir dan Kutai di Kalimantan Timur, dan lain sebagainya.

Lebih lanjut Matulada (1985) menjelaskan disamping menjadi pelaut dan nelayan suku Bugis juga mengenal pertanian (Tani) dan Perkebunan (Dare) semenjak dahulu. Tanah-tanah persawahan yang subur yang dikenal sebagai lumbung pada di Sulawesi Selatan adalah terdapat dinegeri-negeri Bugis itu. Seperti Sidenreng, Penrang, dan Wajo. Bahkan orang Bugis Wajo orang wajo juga terkenal sebagai pedagang yang ulet, sampai dengan jaman sekarang orang di Sulawesi percaya bahwa pedagang-pedangan Bugis yang banyak berhasil dalam perniagaannya, niscaya mempunyai titisan darah Bugis Wajo.

Berkaitan dengan hal tersebut diatas tersebut tiga orang Bangsawan Bugis dari Wajo dan pengikutnya melakukan pelayaran dari Selat Makasar menuju kepulauan Kalimantan. Tiga orang saudagara yang masing masing membawa perahu layar beserta rombongannya adalah. Pua Janggo, La Pagala, dan Puanna Dekke sesampainya di Kalimantan Pua Janggo dan La Pagala masing-masing mampir di Tanggarong dan Pasir, sementara Puanna Dekke terus melakukan pelayaran menelusuri selat Pulau Laut menuju Laut Jawa. Akan tetapi sebelum keluar Laut Jawa Perahu Puanna Dekke dihadang badai yang dahsyat, sehingga ia berlindung di Muara Sungai Kukusan (Muara Pagatan). Badai yang dahsyat belum juga reda Puanne Dekke akhirnya membatalkan niat menuju laut jawa, kemudian malah tertarik untuk menyelusuri perairan sungai Kukusan.

Selama dalam pelayaran menyelusuri sungai Kukusan dia tidak melihat orang melakukan aktivitas dibantaran sungai atau melihat perkampungan pada hal waktu pelayaran sudah cukup lama. Tiba pada suatu tempat dia melihat sekelompok orang dibantaran sungai sedang mengambil rotan, kemudian dia menghampiri dan bertanya tempat apa nama daerah ini, orang tadi menjawab wilayah ini hutan rotan biasa kami ditempat ini melakukan pekerjaan pemagatan artinya mengambil dan mengumpulkan rotan.

Puanna Dekke tertarik atas tempat pemagatan tersebut dan berniat akan membangun perkampungan diwilayah ini. Tempat pemagatan walaupun hanya ditumbuhi hutan belantara bukan berarti tidak bertuan, akhirnya Puanna Dekke berusaha mencari tahu bahwa wilayah yang diinginkan tersebut ternyata masuk dalam kekuasaan Raja Banjar. Dalam catatan lontara Kapitan Latone (ditulis, 21 Agustus 1868) Setelah Punna Dekke( J.C. Nagtegaal menyebutnya Poewono Deka, 12 : 1939) Daerah yang menarik hatinya itu dibuka itu adalah termasuk wilayah kerajaan Banjar, maka dia pergi menemui sultan Banjarmasin.

Sebagai seorang pemimpin Matoa Dagang ( Zainal Abidin, 57 : 1983) tidak sulit buat Punna Dekke berlayar hingga bersandar ke Bandarmasih. Kemudian Puanna Dekke meghadap Panembahan Batu untuk mengutarakan keinginannya. Panembahan Batu kemudian memberikan restu dan ijin utuk membangun pemukiman sebagaimana yang dimaksud. (Lontara Latone) tertulis bahwa pada saat mohon ijin kepada panembahan, ditegaskan kepada Puanna Dekke untuk kesanggupnya menanamkan investasi untuk biaya pembangunan pemukiman baru di atas lahan hutan belantara tersebut, kemudian Puanna Dekke juga dapat menjamin keamanan perairan di Muara Pagatan yang selama ini sering digunakan para bajak laut untuk merompak di Selat Pulaut. Apabila kedua hal tersebut dapat diujudkan maka daerah yang diinginkankan silahkan untuk ditempat sebagai perkampungan warga orang Bugis yang dikemudian hari dapat dijaga dan diwariskan kepada anak cucu Puanna Dekke.

Kehormatan yang diberikan Panembahan ini yang kemudian menjadi semangat bagi pembagunan pemukiman baru, sampai akhirnya menjadi sebuah Kampung oleh Puanna Dekke memberinama Kampoung Pegatan ( asal kata dari tempat pemagatan). Kampoeng Pagatan dalam tatanan Puanna Dekke berkembangan sebagai salah satu Bandar yang strategis yang diapit oleh Laut Jawa dan di Belah oleh Sungai Kukusan (Sekarang Sungai Kusan), sehingga cepat mengalami kemajuan sebagai salah satu bandar yang penting di wilayah Kerajaan Banjar.

Kemudian Puanna Dekke mengundang saudaranya Pua Janggo dan La Pagala untuk membicarakan pemimpin mengatur pemerintahan internal di kampoeng Pagatan. Dalam perundingan tiga bersaudara ini akhirnya menyiapkan Hasan Panggawa sebagai calon raja Pagatan, Hasan Panggewa sendiri ketika itu masih berumur belia termasuk keturunan salah seorang raja Kampiri di Wajo.

C. KERAJAAN PAGATAN TAHUN 1961- 1912 M.
Nagtegaal (1983) menjelaskan bahwa pertengahan abad ke 18 datanglah pedagang Bugis dari Wajo (Sulawesi Selatan) bernama Poewono Deka, dan atas izin Sultan Banjarmasin kemudian mendirikan kerajaan Pagatan. J.C. Noorlander (190: 1983) menjelaskan dari gelar-gelar yang digunakan raja-raja Banjar ternyata yang bergelar Penambahan Batu (Sultan Banjarmasin) adalah Nata Alam atau Panembahan Kaharuddin Halilullah yang memerintah tahun 1761-1801. Maka berdasarkan data tersebutlah dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa kerajaan Pagatan didirikan setelah tahun 1761.

Dengan terjalin hubungan baik Puanna Dekke dengan Panembahan Batu, dimana kepercayaan yang telah diberikan Panembahan kepada Puanna Dekke selalu ia jaga dengan baik, sehingga dalam mengatur Kerajaan Pagatan secara politis masuk dalam kedaulatan Kerajaan Banjar. Oleh karena itu kedudukan Kerajaan Pagatan hanya memiliki hak otonomi pengaturan pemerintahan kedalam, sebagaimana juga kerajaan-kerajaan kecil ketika itu yang tetap berada di bawah kedaulatan kerajaan yang lebih besar. Sebagai mana juga Kerajaan Banjar merupakan kerajaan besar yang ada di Nusantara pada saat itu berfungsi sebagai pelindung terhadap Kerajaan Pagatan.

Kerajaan Pagatan yang muncul pada pada pertengahan abad ke 18. yang diperkirakan berlangsung dari tahun 1861 sampai dengan 1912. Selama satu setengah abad terbagi 4 empat priode system pemerintah, yaitu :
1. Priode ke I Pra Kerajaan di Pimpin Puanna Dekke sebagai pendiri kerajaan Pagatan, dengan mengerahkan seluruh daya upaya beserta pengikutnya membabat hutan belantar, kemudian jadilah pemukiman baru yang kemudian diberi nama Kampoeng Pegatang, selanjutnya Puanna Dekke mempersiapkan cucunya untuk jadi Pemimpin kerajaan Pagatan. Sementara Puanna Dekke yang dikenal pendiri Kerajaan Pagatan tidak mau jadi Raja.

2. Priode ke II Puanna Dekke Memproklamirkan kerajaan Pagatan, dengan menobatkan cucunya bernama La Panggewa sebagai raja pertama di Kerajaan Pagatan.diperkirakan berlangsung dari tahun 1761-1861.

3. Priode ke II Kerajaan Pagatan mengalami perluasan wilayah kekuasaan dengan bergabung kerajaan Kusan, sehingga menjadi Kerajaan Pagatan Kusan. Berlangsung dari tahun 1861 – 1908.

4. Priode ke IV. Kerajaan Pagatan Kusan pada tahun 1908-1912 M telah mengalami perubahan pemerintahaan, kalau sebelumnya beerdaulat terhadap kerajaan Banjar, maka sejak tanggal, 1 Juli 1908 diserahkan kepada pemerintahan Hinda Belanda.

Andi Syaiful (1993) berpendapat bahwa kerajaan Pagatan diperkirakan berlangsung dari tahun 1761- 1912. dan Raja Pagatan yang pertama adalah bernama Hasan Pangewa/La Panggewa Kapitan Laut Pulo (Nategaal, 12-14) menjelaskan beberapa orang raja telah memerintahan Pagatan. Setelah pemerintahan Hasan Pangewa. dalam lontara

D. RAJA PAGATAN DAN KUSAN
1. Hasan Penggewa Raja Pagatan I (1761-1838)
Hasan Pengewa/ La Penggewa adalah Raja Pagatan yang pertama beliau cucu dari Punna Dekke pendiri Kerajaan Pagata. La Panggewa masih keturunan dari Raja Kampiri (Wajo), sejak kecil diboyong Puanne Dekke dari kampiri ke Pagatan, bahkan konon di Pagatanlah La Panggewa di khitan kemudian dinobatkan menjadi Raja Pagatan yang pertama. Mengingat umurnya masih belia maka untuk mengatur pemerintahan untuk sementara dipercayakan kepada pamannya Raja Bolo, sambil mendidik dan membimbing La Pangewa untuk bisa menjadi pemimpin dan mengatur pemerintahan setelah dewasa, atas gembelengan Puanna Dekke dan Raja Bolo La Pengewa menjadi orang perkasa,

Pada suatu peristiwa La Penggewa diutus oleh Raja Bolo untuk menghadap Raja Banjar dalam rangka menyampaikan bahwa selama ini dialur muara sungai Barito para perahu layar saudagar mengalami kesulitan untuk masuk berlayar ke Bandarmasih karena sering digangu oleh para bajak laut yang mengacaukan muara sungai tersebut. Kemudian oleh Panambahan menyambut baik kedatangan La Panggewa Cucu Puanna Dekke, serta diberikanlah kepercayaan La Panggewa memimpin laskar untuk mengusir para bajak laut di Muara Sungai Barito tersebut, atas kehormatan yang dipercayakan Panembahan tidak disia-siakan La Penggewa dan berhasil mengusir perompak tersebut dan lari berpindah ke Biajao. Atas keberhasilan La penggewa inilah kemudian Panembahan menganugerahkan gelar kehormatan kepada La Penggewa sebagai Kapitan Laut Pulo. Atas kesetiaan Puanne Dekke mengutus cucunya oleh Penambahan mengegaskan kembali kepada Kapitan Laut Pulo bahwa sabwa Pagatan yang telah dibangun Puanne Dekke dipersilahkan untuk dikuasai dan dikemudian hari dipersilahkan untuk diwariskan kepada keturunan Puanna Dekke. Sekembalinya dari kerajaan Banjar La Penggwa oleh Puanna Dekke dan Raja Bolo menyerahkan segala hak La Penggewa untuk memimpin dan mengatur pemerintahan kerajaan Pagatan tahun 1800, kemudian La Penggewa Kapitan Laut Pulo wafat tahun 1838 digantikan oleh putranya bernama Abdul Rahim.

2. Arung Pallewange Raja Pagatan II ( Tahun 1838 – 1855)
Abdul Rahim bin Hasan Pengewa dinobatkan menjadi raja Pagatan II pada tanggal 19 Juli 1838 kemudian bergelar Arung Pallewange, selama 26 tahun berkuasa kemudian wafat pada tanggal, 28 April 1855. selanjutnya digantikan oleh putranya Abdul Karim. Dalam catatan lontara bahwa keturunan Abdul Rahim ini kemudian yang banyak memimpin kerajaan Pagatan,

3. Arung La Mattunru Raja Pagatan III (Tahun 1855-1871)
Abdul Karim Bin Abdul Rahim dinobatkan menjadi raja Pagatan III tahun 1855 dan bergelar Arung La Mattunru, pada masa pemerintahannya terjadi perluasan wilayah kerajaan Pagatan dengan bergabung kerajaan Kusan tahun 1861, sehingga menjadi kerajaan Pagatan – Kusan. Kemudian Arung La Mattunru wafat tahun 1871 digantikan oleh putranya Abdul Djabbar.

4. Arung La Makkaraw Raja Pagatan IV (Tahun 1871-1875)
Abdul Djabbar Bin Abdul Karim dinobatkan jadi raja Pagatan tahun 1871 dan bergelar Arung La Makkaraw tidak lama berkuasa kemudian wafat tahun 1875, karena Arung La Makkaraw tidak mempunyai keturunan maka digantikan oleh Daeng Mankkaw putri dari Arung Pallewange.

5. Ratu Daeng Mankkaw Raja Pagatan V (Tahun 1875-1883)
Daeng Mankkaw Binti Abdul Rahim adalah raja Pagatan V yang dinobatkan menjadi raja tahun 1875 kemudian bergelar Ratu Daeng Mankkaw. Pada masa pemerintahan Ratu daeng Mankkaw didampingi oleh suaminya Pengeran Muda Aribillah. salah seorang raja Kerajaan Tanah Bumbu sebuah kerajaan kecil yang berada disebelah Utara Kerajaan Pagatan. Pengeran Muda Aribillah merupakan cucu dari Sultan Banjar Tamjidillah I yang telah mengadakan ikatan perkawinan dengan Ratu Daeng Makkao dari ikatan perkawinan inilah kemudian lahir Andi Tangkung dan Andi Sallo (Abdul Rahim).

Ratu Daeng Mankkaw wafat tahun 1883. Sementara anaknya bernama Abdul Rahim belum dewasa maka untuk pemerintahan kerajaan Pagatan dipercayakan kepada Kolonial Belanda, sementara pemangku kerajaan dipercayakan kepada kakaknya Andi Tangkung

6. Andi Tangkung Raja Pagatan VI ( Tahun 1883-1893)
Andi Tangkung memangku jabatan kerajaan Pagatan bergelar Petta Ratu yang berlansung sejak tahun 1883 dan berahir tahun 1893. Kemudian digantikan oleh Abdul Rahim
7. Arung Abdul Rahim Raja Pagatan VII (Tahun 1893-1908)
Andi Sallo bergelar Arung Abdul Rahim naik tahta tahun 1893 dan berahir pada tanggal, 16 Juli 1908. Pada masa akhir kekuasaan Arung Abdul Rahim telah terjadi kemelut dalam kerajaan Pagatan Kusan. Peristiwa tersebut berawal perseteruan antara dua saudara antara Andi Sallo dan Andi Tangkung. Andi Tangkung mempersiapkan putranya bernama Andi Iwang sebagai penganti Arung Abdul Rahim pemangku kerajaan Pagatan Kusan, sementara juga Andi Sallo juga mempersiapkan putranya bernama Andi Kacong untuk mengantikan dirinya sebagai pemangku kerajaan Pagatan Kusan. Mencermati komplik internal ini akhirnya setahun sebelum wafatnya Arung Abdul Rahim, yakni pada tanggal, 20 April 1907. Arung Abdul Rahim mengeluarkan suatu pernyataan bahwa kerajaan Pagatan dan Kusan diserahkan kepada pemerintahan kolonial Belanda. Maka setelah empat tahun (1908-1912) pelaksanaan pemerintahan kerajaan Pagatan dan Kusan di bawah suatu kerapatan (zelfbestuusraad), terhitung tanggal, 1 Juli 1912 kerajaan Pagatan dan Kusan dilebur dalam pemerintahan langsung Hindia Belanda (Nategaal: 1983).

BAB II

A. BUDAYA KEKERABATAN
Hubungan kekerabatan dikalangan Bugis Pagatan tergolong sangat rakat menjaga kerukunan kekeluargaan antara sesamanya, serta mempunyai perasaan solidaritas cukup tinggi menjaga sesama kesukuannya. Oleh karena itu perkawinan seringkali terjadi menjalin hubungan dengan keluarga dekat sebagai prioritas utama dalam mencari pasangan hidup. Disamping itu system kekerabatan juga sangat dipengaruhi oleh kebiasaan adat yang diteruskan secara turun temurun dan oleh agama Islam, oleh karena itu kedua unsure adat dan agama ini terjalin erat.
Setiap kali penyelenggaraan suatu acara, maka dalam pelaksanaan selalu terdapat unsure – unsure budaya dan agama. Berikut ini akan digambarkan beberapa tatacara penyelenggaraan suatu acara yang mempererat hubungan kekerabatan.

1. Perkawinan (Mappabotting)
Perkawinan adalah persoalan yang serius untuk dapat mewujudkan suatu rumah tangga yang meliputi suasana kasih sayang. Bagi Bugia Pagatan perkawinan merupakan suatu pengalaman yang luhur dan agung, Oleh kerana itu setiap penyekengaraan perkawinan hendaklah dapat menciptakan suasana hikmat dan saklar sehingga dapat memupuk makna yang dalam untuk selalu dikenang seumur hidup bagi mempelai. Proses penyelenggaran perkawinan adalah sebagai berikut :
a. Mammanu – manu
Mammanu – manu adalah suatu tahap awal orang tua yang berusaha mencari calon menantu anak laki – lakinya dengan jalan menyebarkan para keluarga dekat yang dapat dipercaya mencari informasi seoarang gadis yang dapat dijadikan calon mempelai. Dikatakan mammanu – manu yang berarti burung, jadi keluarga yang disebar tadi bagaikan burung yang mengintai dan tanpa diketahui oleh yang diperhatikan. Keluarga tadi hinggap dari suatu tempat ke tempat yang lain, sampai berhasil menemukan calon mempelai yang bisa dijadikan pasangan hidup yang baik.
Sementara anak laki – laki yang ingin ducarikan pasangan jodoh oleh orangtuanya biasanya menerima saja segala pilihan dan keputusan keluarga, oleh kerana itu dalam musyawarah keluarga harus dapat menemukan calon yang sesuai selera anak laki – laki tadi.
Biasanya kalu anak laki – laki yang telah dipilihkan caoln isteri, apabila dia setuju dengan pilihan orangtua akan dapat diketahui melalui mana kala anak laki – laki tadi semakin bersemangat dalam membantu pekerjaan orangtuanya, rajin mengerjakan segala pekerjaan, dan sebaliknya. Seorang anak yang baik tidak akan melakukan bantahan atas keinginan orangtua, tinggal bagaiman kemampuan orangtua berlaku secara bujaksana.
Kalau sudah yakin, bahwa anak laki – lakinya menuruti saja keinginan orangtua, barulah dicoba melakukan tahap perkenalan kepada keluarga calon mantu, dengan cara berkirim salam atau mengutus salah satu keluarga untuk melakukan kunjungan silaturrahmi, agar dapat melihat secara dekat calon mantu. Yang penting diperhatikan adalah; bagaimana sopan santunnya, caranya menjemur pakaian, caranya menyelesaikan persoalan dapur, dan caranya berpakaian, dan bagaimana kehidupan keluarganya.

b. Mattangke.
Kalau keluarga yang diutus telah melihat dari dekat calon mantu, kemudian dirundingkan segala informasi yang telah diperoleh itu. Kalau semuanya sesuai dengan keinginan, dan juga adanya tanda – tanda bahwa keluarga calon mantu juga kelihatannya besar kemungkinan akan menerima, maka langkah berikutnya dilakukan adalah Mattangke.
Mattangke adalah menjalin hubungan antara kedua calon mempelai, sebagai langkah awal untuk tahap pengenalan antara kedua belah pihak satu sama lain sebelum mewujudkan mahligai rumah tangga.
Tata cara pelaksanaannya adalah orangtua calon mempelai pria mengutus beberapa orang keluarganya untuk melakukan kunjungan kepada keluarga si gadis. Sesampainya di sana untuk bertamu, lalu menyampaikan maksud kedatangannya baik secara kiasan maupun sacara terang – terangan. Setelah gayung bersambut, barulah dibicarakan lagi usaha untuk saling mengenalkan kedua calon mempelai yang senantiasa diarahkan dan dibimbing oleh masing – masing keluarga. Setalah adanya Sitangke ini, keluarga calon mempelai perempuan tidak akan lagi menerima lamaran orang lain, sebab sudah ada keluarga yang ingin meminangnya.

c. Madduta
Selama dalam proses berjalannya tahap pengenalan kedua calon mempelai, dapat berjalan dengan baik sebagaimana diharapkan. Kemudian keluarga calon mempelai pria berkirim lagi salam kepada keluarga calon mantu, tentang adanya rencana dalam waktu dekat berkunjung untuk melanjutkan pembicaraan, pembicaraan seperti ini nantinya disebut sebagai acara Madduta.
Sebelum acara Madduta berlangsung yang biasanya diadakan pada waktu malam hari dirumah keluarga calon wanita. Maka masing – masing keluarga melakukan berbagai persiapan terutama mengumpulkan para keluarga yang dapat dilibatkan dalam pembicaraan dan masing – masing mempersiapkan materi pembicaraan yang diinginkan.
Biasanya para keluarga yang terlibat nantinya dalam pembicaraan dalah mereka yang ditokohkan dalam setiap keluarga, serta mempunyai wibawa dan mahir dalam menyampaikan tutur bahasa yang baik.
Pada saat berlangsungnya acara Madduta, materi pembicaraan yang terpenting adalah masing – masing keluarga sepakat untuk menyelenggarakan perkawinan, setelah itu barulah dibicarakan waktu penyelenggaraan akad nikah, seterusnya dana dan prasarana yang harus dipersiapkan keluarga calon mempelai pria.
Madduta adalah proses berlangsungnya pinangan keluarga calon mempelai pria kepada keluarga mempelai wanita yang akan membicarakan berlangsungnya penyelenggaraan perkawinan.

d. Mappenredui.
Setelah Madduta keluarga mempelai pria mulai mempersiapkan segala yang diminta keluarga mempelai wanita, biasanya berupa ; beras, uang, gula, sapi, perlengkapan pakaian wanita, dan perlengkapan prabot kamar pengantin. Sebelum ini diantar dalam suatu acara khusus yang berlangsung dirumah mempelai wanita. Keluarga mempelai pria juga menyerahkan beberapa perlengkapan lain yang punya makna tersirat, seperti ; Beras kuning yang diberiakn aroma wewangian daun pandan yang diracik, nantinya dimasukan kedalam kempu bersama uang yang diperluakan, juga disertakan rekko ota, kunyit, dan kayu manis setelah itu dibungkus kain kuning.
Kemudian terdapat juga bungkusan lain yang berwarna putih berisikan, yaitu ; sebuah cobek bermakna agar mempelai wanita dapat mengerti permasalahan dapur, Bunga Penno – peno berpasangan bermakna agar keduanya nanti mendapatkan rezekinya yang berkecukupan, Bunga Parerenreng bermakna agar keduanya senatiasa mesra menjalin kasih sayang dan saling merindukan, Bawang putih bermakna agar hatinya ikhlas suci dan murni, Pittamarola agar selalu menumbuhkan kesan untuk saling membutuhkan satu sama lain, Senang agar keduanya senantiasa lapang dada, Gula Merah agar keluarga senantiasa manis dan harmonis, dan Kelapa agar kelihatan nikmat kehidupan rumah tangga.
Kemudian setelah sudah disiapkan semuanya pada waktu yang telah disepakati bersama, barulah mengundang para keluarga handaitaulan untuk mengantarkan perlengkapan yang dimaksudkan diatas keruamah keluaraga mempelai wanita. Sementara keluarga mempelai wanita juga mengundang para keluarga dan handaitaulan untuk menyambut kedatangan rombongan keluarga mempelai dan selanjutnya dilaksanakan dengan pembacaan doa selamat.
Acara Mappenredui ini ditata dan dilaksanakan oleh perempuan atau acara perempuan, tamu pria hanya mengikuti saja jalannya acara tidak mempunyai peranan khusus. Sebelum acara bubar biasanya ada sedikit musyawarah antara kedua keluarga untuk mempermantap kesiapan menyelenggarakan acara berikutnya, yaitu Menrekawing.

e. Menrekawing
Menrekawing adalah mengantar calon mempelai pria untuk melangsungkan akad nikah di tempat calon mempelai wanita. Penyelengaraan acara ini biasanya berlangsung pada waktu malam hari dalam acara akad nikah ini juga diselingi beberapa acara adat, serta dilengkapai dengan kesenian Massukkiri atau Al Barzanji.
Menjelang berlangsungnya penyelanggaraan akad nikah, maka keluarga mempelai wanita mengutus beberapa orang untuk Madduppa ( menjemput ) dan menberitahukan kepada keluarga mempelai pria bahwa acara sebentar lagi akan dimulai. Kemudian mempelai pria segera diantar bersama pada’nya ( rambongan pengantin ) ketempat berlangsungnya upacara akad nikah, beberapa orang dari rombongan itu ada yang membawa bungkusan kuning yang berisikan beras kuning, racikan daun pandan yang beraroma, dan uang mahar pengantin yang dimasukan ke dalam kempu lalu dibungkus kain kuning, atau dapat juaga berupa perlengkapan sholat sebagai mahar perkawinan.
Setelah mempelai pria tiba di depan tangga, maka segera disambut dengan pembacaan syalawat kemudian dipersilakan memasuki ruangan utama dan duduk diatas Leppi Lipa ( sarung yang dilipat sedemikian rupa ). Selanjutnya menyusul undangan yang lainnya juga naik untuk turut menyaksikan acara akad nikah. Adapun rangkaian acara dalam penyelenggaraan Mappenrekawing ini adalah ;

1. Mappanredewata.
Sebelum akad nikah berlangsung, ke dua mempelai dianjurkan mengikuti upacara Mappanredewata secara bergantian yang dipimpin oleh seorang Sandro.
Mappanredewata adalah suatu upacara adat yang bertujuan memperkenalkan bayangan semu ke dua mempelai sebelum saling mengenal secara nyata. Upacara ini berlangsung di dalam kamar di atas ranjang pengantin, dengan menghadapi sajian upacara berupa ketan berwarna merah, hitam, kuning, dan putih juga terdapat panggang ayam, pisang raja, telur dan lain – lain.

2. Mappakawing.
Berlangsung acara akad nikah yang dipimpin seorang Pua Imang ( Imam atau guru agama ), serta terdapat dua orang saksi dari masing – masing pihak. Acara akad nikah ini sebagaimana ketentuan agama Islam.
Setelah selesai akad nikah, maka mahar yang dibungkus kain kuning tadi salah seorang mempersilahan mempelai pria menemui isterinya, sekaligus membawa maharnya untuk diserahkan secara langsung kepada mempelai wanita.

a. Makkarawa.
Setelah mahar sudah diterima mampelai wanita, kemudian mempelai pria dipersilakan memegang salah satu bagia anggota badan isterinya, sekaligus memasangkan salah satu benda yang berharga untuk isterinya, biasanya berupa cincin, gelang, dan rantai.
Sementara bagian tubuh yang biasanya dipegang mempelai pria adalah bagian – bagian yang berisi, seperti susu, lengan atau pantat. Acara inilah yang dimaksud dengan Makkarawa.
b. Makkabettang.
Usai acara Makkarawa dilanjutkan lagi dengan acara Makkabettang. Makkabettang adalah suatu acara memperlombakan kedua mempelai, caranya ke dua mempelai duduk berdampingan dengan kaki ancang – ancang berdiri. Setelah pemimpin acara mengalungkan sebuah sarung kepada kedua mempelai setelah ada aba – aba kedua mempelai serentak berlomba berdiri. Menurut perkiraan siapa yang duluan berdiri , maka ialah yang sangat mempengaruhi corak rumah tangganya.
Setelah selesai acara Makkarawa dan Makkabettang, maka mempelai pria dipersilakan kembali duduk ditempat semula untuk mengikuti pembacaan Al Barzanji atau mendengarkan kesenian Massukkiri yang juga menyanyikan syair Al Barzanji sambil menikmati suguhan yang disajikan keluarga mempelai untuk semua undangan yang hadir. Usai acara ini selesailah seluruh rangkaian acara Menrekawing.

3. Situdangeng Botting.
Situdangeng Baotting adalah merayakan hari bersandingnya kedua mempelai yang berlangsung di tempat mempelai wanita, waktu bersanding biasanya mulai jam 10.00 – 14.00 atau sampai habis waktu undangan yang datang. Adapun busana yang digunakan pada saat bersanding ini adalah untuk mempelai wanita menggunakan pakaian pengantin yang dinamakan Simpolong Tettong, sedangkan untuk mempelai pria menggunakan pakaian pengantin yang dinamakan Sigera’.
Sementara para muda – mudi yang bertugas melayani para undangan, yaitu pemudanya menggunakan busana baju belanga sedangkan pemudinya menggunakan busana baju bodo.
Tata cara Mappenre Botting untuk bersanding di tempat mempelai wanita adalah, sebelum rombongan mempelai pria berangkat dia harus menunggu dulu Padduppa ( utusan ) dari keluarga mempelai wanita, setelah sudah tiba utusan barulah mempelai pria diarak menuju tempat dilangsungkan perayaan hari perkawinan.
Setelah undangan sudah mulai berkurang untuk menghadiri perayaan perkawinan, maka dilanjutkan lagi acara sebagai berikut :

a. Mammatua
Mammatua adalah kedua mempelai diberangkatkan menuju rumah keluarga mempelai pria, untuk memperkenalkan mempelai perempuan dengan mertuanya, serta melakukan sujud terhadap mertua. Setibanya dirumah mempelai pria mempelai wanita disambut ibu mertuanya, sekaligus akan diberikan hadiah atau cendramata dapat berupa cincin, kalung, atau gelang yang terbuat dari emas atau batu yang berharga. Ditempat ini juga dihadiri para undangan dan ada acara suguhan sekaligus ke dua mempelai kembali dipersandingkan hingga menjelang malam. Setelah selesai acara mammatua ke dua mempelai kembali diantar keruamah wanita untuk mengikuti acara selanjutnya.

b. Botting Silellung
Botting Selellung adalah suatu rangkaian acara hiburan yang diselenggarakan dirumah mempelai wanita. Permainan kejar – mengejar mempelai dimaksudkan dalam acara ini agar ke dua mempelai dapat segera lebih akrab, sekaligus menciptakan suasana penuh canda dan tawa di masing – masing keluarga yang hadir pada malam itu.
Permainan Botting Silellung dibagi dua bentuk pormasi kejar – kejaran pengantin, yaitu : pormasi permainan Makkiti – kiti dan pormasi permainan Mebelle – belle. Cara permainannya adalah ;

1) Makkiti – kiti :
Permainan ini dimulai dengan sekelompok perempuan yang mengenakan sarung yang sama dan menutup sekujur tubuhnya dengan sarung, kemudian bergerak dengan berdongkok bagaikan kumpulan itik. Lalu mempelai pria berusaha dengan cermat menebak sekaligus menangkap isterinya yang ada diantara rombongan Makkiti – kiti, apabila salah tangkap akan didenda dengan memberikan suatu barang kepada orang yang ditangkapnya. Permainan Makkiti – kiti baru akan berakhir setelah mempelai pria dapat menemukan pasangannya yaitu mempelai wanita.

2) Mabelle – belle
Permainan ini dilakukan sekelompok muda – mudi yang saling bergandeng tangan membuat suatu pormasi lingkaran, kemudian ke dua mempelai dipisahkan. Mempelai wanita dimasukan dalam lingkaran dan mempelai pria diluar lingkaran, kemudian mempelai pria berusaha menangkap isterinya dengan melewati lingkaran tadi, manakala mempelai pria masuk dalam lingkaran maka mempelai wanita cepat – cepat menghindar keluar demikian seterusnya sampai suaminya dapat mendekapnya dan berakhir pula permainan ini.

3) Masukkiri Maddutung.
Setalah permainan Botting Silellung, maka ke dua mempelai duduk lagi bersanding ditengah – tengah undangan yang hadir untuk mengikuti acara pembacaan Al Barzanji, biasanya pembacaan syair – syair Al Batzanji dilakukan oleh sekelompok kesenian masukkiri.
Dengan berkumandangnnya bahana permaina Masukkiri Maddatung maka hiasan – hiasan ditempat penyelenggaraan mulai dibuka, menandakan bahwa penyelengaraan acara Mappabotting telah selesai. Setelah menerima suguha makanan kue tradisional, seperti kanrejawa pute, burasa, ppu pesse, cicuru tellu, baulu, nennu – nennu, agara, dan lain – lain. Maka para undangan memberikan salam kepada mempelai dan pamit pulang masing – masing.

4) Mappatidro Botting.
Setelah para undangan masing – masing pulang, waktu juga sudah larut malam, maka mempelai wanita diperintahkan untuk beristirahat diranjang pengantin didampingi salah seorang orangtua yang dekat dengannya untuk tidur. Setelah mempelai wanita tidur nyenyak, maka orangtua yang menemani tadi segera keluar dari kamar sraya memerintahkan suaminya pelan – pelan masuk dalam pengantin untuk tidur berdua bersama isterinya. Disinilah dituntut kemampuan seorang laki – laki untuk dapat menjinakkan isterinya, sebab kalau tidak mempunyai strategi yang baik bisa – bisa isterinya akan berteriak atau mengusirnya.

c. Marola Tellumpenni
Setalah menginap satu malam di rumah keluarga mempelai wanita, kemudian ke dua mempelai diantar oleh keluarganya untuk menginap tiga malam ditempat keluarga mempelai pria. Kehadiran menantu perempuan dirumah ini juga akan diberikan benda – benda berharga. Setelah tiga malam menginap untuk langkah selanjutnya sepenuhnya kedua mempelailah yang mengatur diri atau keluarganya, kalau belum mempunyai rumah sendiri terserah kesepakatan dia dimana mau tinggal untuk sementara, apakah dirumah mempelai pria atau dirumah mempelai wanita.
Demikian tatacara penyelenggaraan Mappabitting ( Perkawinan ) budaya Bugis Pagatan yang melalui perjalanan yang panjang dan persiapan yang matang, baik kedua keluarga mempelai selaku pelaksana, maupun ke dua mempelai yang akan bersiap – siap membentuk suatu mahligai rumah tangga yang bahagia dan sejahtera. Pleh karena itu, menurut pendapat orang bijak bahwa seorang yang ingin memasuki rumah tangga hendaknya dapat mengelilingi dapur tujuh kali. Maksud kiasan ini seorang perempuan garus dapat mengerti tanggung jawab sebagi seorang isteri, dan seorang suami mampu menjadi pemimpin dalam rumah tangganya.
Selain penyelenggara Mappabotting, berikut ini akan dilanjutkan menggambarkan secara global saja, tentang beberapa rangkaian penyelenggaraan adat yang dilaksanakan didalam lingkungan keluarga.

2. Pelaksanaan Massola
Masola adalah suatu rangkaian acara yang dilakukan dalm keluarga, setiap kali ada seorang isteri yang untuk peertama kalinya mengalami kehamilan. Pada saat hamil tujuh bulan, akan diadakan acara Masola ( mencucu perut ) atau mandi – mandi kembang sepasang suami isteri.
Tata cara pelaksanaannya adalah sepasang suami isteri dipersilakan duduk bersanding masing – masing diatas sebiji kelapa muda dan menghadapi tempat air yang berisikan aneka kembang yang punya aroma yang harum, kemudian diatas kepalanya terdapat sehelai kain putih sebagai penyaring air saat dimandikan. Sebelum dimandikan dengan air kembang terlebih dahulu Sandro ( pemimpin upacara ) mencucu perur isteri yang hamil tadi dank e duanya dipercikan air Passili. Setelah itu barulah dimandikan air kembang melalui saringan sehelai kain putih yang empat ujungnya dipegang masing – masing keluarga yang turut menyaksikan acara Masola.
Setelah mandi – mandi baju yang dikenakan sepasang suami isteri tadi dilepas diganti dengan pakaian yang kering, dan pakaian yang basah tadi deberikan kepada Sandro. Setalah ke duianya telah mengenakan busana atau berdandan, maka dipersilan lagi untuk mengikuti acara berikutnya, yaitu Manggolo manghadapi aneka suguhan yang lezat, seperti ketan ( sokko ) yang berwarna merah, hitam, kuning, dan putih serta terdapat juga panggang ayam, telur masak, pisang raja dan aneka kue tradisional Bugis Pagatan.
Acara Masola ini juga mengundang keluarga dan handaitaulan yang turut menyaksikan, dan ikut mencicipi suguhan yang telah dipersiapkan sebelumnya. Setelah pembacaan doa syukuran dan selamat para undangan akan dipersilakan menikmati suguhan penyelenggara.

3. Pelaksanaan Mappenretojang
Mappenretojang adalah suatu penyelenggaraan acara bagi suami isteri yang baru saja mendapat keturunan atau acara syukuran menyambut kelahiran bayi. Aacara Mappenretojang biasanya dilaksanakan pada saat anak berumur tujuh hari, empat belas hari atau empat puluh hari.
Tatacara melaksanakan Mappenretojsng setelah dilaksanakan pembacaan doa syukuran, kemudian bayi tadi diberikan nama yang sesuai untuk dipergunakan dimasa akan datang. Lalu diarak keliling untuk diperlihatkan dan dipegang kepada undangan yang berhadir, setalah itu barulah anak tadidimasukkan kedalam ayunan untuk pertama kalinya, sebab sebelum Mappebretojang anak tadi tidak diperkenankan untuk diayun terlebih dahulu, baru bisa di ayun setelah diselengarakan mappenretojong.
Selama bayi tadi belum tumbuh giginya tidak boleh bersentuhan dengan bayi lain yang juga belum tumbuh giginya, konon dikhawatirkan salah seoarang kemungkinan nanti ada yang bisu. Setelah bayi sudah dapat berjalan dengan baik, barulah diadakan lagi acara makkalejja tanah. Makkalejja tanah adalah suatu acara menurunkan anak ketanah untuk menjajak tanah, sebelum dilakukan acara ini orangtua si balita harus betul – betul manjga agar jangan sampai turun ketanah.

4. Pelaksanaan Masunna dan Makkatte
Massunna dan Makkatte adalah melaksanakan sunatan bagi anak yang sudah cukup umur, sesuai dengan anjuran agama islam bagi anak laki – laki dinamakan Massunna dan bagi anak perempuan dinamakan Makkatte.
Acara ini juga melibatkan undangan untuk mengikuti acara selamatan, dam menyaksikan acara sunatan bagi keluarga yang menyelenggarakan. Bagi anak laki – laki dulu, disunat dilakukan seorang Sandro dengan menggunakan alat pemotong dari sembilu. Selesai penyunatan maka dibacakan syalawat. Kemudian para keluarga yang hadir disitu secara serantak masing – masing mengambil air dan sepotong bamboo yang digunakan saling menyemprotkan air dengan bamboo, sehingga pada saat itu terjadi gegap gempita masing – masing berusaha untuk saling menyemburkan air sampai semuanya basah kuyup. Demikian juga dengan acara Makkatte abgi anak perempuan, terlebih dahulu Sandro Maccera ( memotong sedikit alir ayam ) dan darahnya itu digunakan untuk dioleskan terhadap Vulpa sesuatu yang dipotong atau diiris pada anak perempuan.

5. Pelaksaan Mappanrelebbe
Penyelenggaraan Mapenrelebbe adalah suatuacara yangdilaksakan sebagai syukuran terdap beberapa oaring anak yang telah menyelesaikan atau khatam membaca 30 juz Al Qur’an. Bberapa anaka yang khatam akan didandani dengan busana pakaian haji, stelah itu pihak pelaksana menyiapkan juga Lasoji sebagai perlengkapan upacara tamatan Manrelenne. Lasoji adalah seperangkat bendera yang terbuat dari belahan bamboo dan kertas kemudian terdapat telur masak yang dicucuk pada bamboo, stelah itu baru ditancapkan dalam Lasoji yang terbuat dari batang pisang. Stiap satu orang anak garus menyiapkan dua atau tiga Lasiji.
Cara melaksakan Maparelebbe setiap anak yang khatam berpakain haji duduk berdampingan mengahadapi guru mengajinya, kemudian dengan dipandu gurunya dia membacakan beberapa ayat disaksikan para undangan yang berhadir. Setalah itu masing – masing anak bersujud pada grunya juga pada orangtua dan keluarganya. Kemudian dilanjutkan pembacaan doa selamat dan seterusnya menikmati sajian tuan rumah. Pada saat undangan hendak pulang akan dibagi – bagikan bemdera Lasoji, dan sisa bendera diberikan pada guru mengajinya yang nantinya bendera Lasoji itu diarak bersama anak yang Manrelebbe kerumah gurunya. Semantara kayu manis yang dipergunakan si anak menunjuk ayat- ayat Al- Qur’an pada saat Manrelebbe dibagi – bagikan pada anak – anak yang ada dirumah itu dengan cara dipotong – potong, dengan harapan anak – anak yang menerima potongan kayu manis tadi juga dapat segera khatam Al – Qur’an, potongan kayu manis yang diberikan pada si anak untuk dikunyah sampai habis rasa manis dan pedasnya baru dibuang.

6. Pelaksaan Maddojarateng
Madorajateng dalah suatu acara yang dilaksanakan oleh keluarga yang ingin memulai mendirikan tiang –tiang utama rumah. Acara ini dilaksanakan semalam suntuk dengan melakukan berbagai kegiatan sebelum tiang rumah didirikan menjelang waktu pagi.
Acara atau kegiatan yang dilaksanakan oleh oemilik rumah adalah ; pembacaan Al Barzanji, Masukkiri, dan pembacaan doa selamat agar rumah yang hendak didirikan tidak mendapat rintangan. Disamping itu membungkus kain kuning di salah satu tiang utama yang dinamakan dengan Posibola. Posibola inilah yang dilengkapi berbagai barang material yang bermakna tersirat, seperti dipercikan kembang yang dinamakan Passili dilakukan oleh Sandro diletakkan dibawahnya tempat tertancapnya Posibola emas atau intan agar rumah itu dapat nyaman dan indah ditempati pemiliknya, kemudian juga terdapat gula merah, nangka, dan kelapa yang digantung didekat tiang itu. Sebelum didirikan tiang rumah Posibola selalu dijaga oleh pemilik rumah, pada saat akan didiriakan maka Posibola dulu yang merupakan tiang utama yang didirikan baru diikuti tiang – tiang yang lain. Selesainya pendirian tiang – tiang rumah diharapkan sebelum fajar menyingsing atau matahari tampak.
Dalam mengirikan tiang – tiang rumah dilakukan secara bergotong royong oleh para keluarga atau undangan yang telah diundang.

7. Pelaksanaan Menrebola Baru
Menrebola Baru adalah suatu acara selamatan dilakukan suatu keluarga untuk memulai menempati rumah yang telah selesai pembangunan atau sudah bisa ditempati oleh penghuninya. Dalam acara ini juga diadakan pembacaan Al Barzanji dan doa selamatan, agar penghuni pemilik rumah dapat tinggal dengan tenang dan nyaman sebagai rumah peristirahatan keluarga.
Tatacara pelaksanaannya sebelum berlangsungny acara pemilik rumah meletakan tebu yang masih punya daun pada masing – masing tiang utama, semantara Posibola Dilengkapi lagi dengan pisang, gula merah, nangka, kelapa dan beberapa batang tebu. Sementara pada pelafon rumah dihiasidengan berbagai kue atau gula gula ( Perman ) yang digantung secara rapi memadati pelafon rumah. Setelah berlangsung acara pada saat pembacaan syalawat sampai pada asrakal semua yang hadir ditempat itu berdiri, dan berebut merampas tebu dan gula – gula tadi kecuali yang ada pada Posibola tidak boleh diambil. Selasai itu dilanjutkan kembali pembacaan Al Barzanji dan doa selamatan sebelum menerima suguhan dari pemilik rumah.
Setiap malam jum’at pemilik rumah masih mengadakan pembacaan Al Barzanji dengan mengundang keluarga dan tetangga dekat, hal ini dilakukan tiga jum’at.
Demikianlah beberapa penyelenggaraan acara yang dilakukan dilingkungan keluarga Bugia Pagatan. Barangkali dengan seringanya mengumpulkan orang banyak untuk melakukan berbagai acara maka rumah – rumah Bugis Pagatan ruangan utamanya cukup luas dan sedikit kamarnya. Dengan ruangan utama yang luas memudahkan untuk mengadakan berbagai penyelenggaraan acara sehubungan mengumpulkan orang banyak.
Bentuk keluarga terpentingb bagi Bugis pagatan adalah keluarga Batih. Keluarga Batih terdiri dari suami isteri dan anak yang didapatkan melalui perkawinan. Adat sesudah nikah pada prinsipnya neolokal. Hubungan social diantara keluarga Batih sangat erat, keluarga Batih merupakan tempat paling aman bagi anggopta – anggotanya ditengah – tengah hubungan kerabat yang lebih besar dan masyarakat.

B. BUDAYA KEMASYARAKATAN
Lapisan masyarakat di Pagatan dari jaman sebelum pemerintahan colonial Belanda, dulu ada tiga lapisan pokok. Yaitu ; ( 1 ) Anak arung adalah lapisan kaum kerabat raja – raja, ( 2 ) To’maradeka adalah lapisan orang merdeka, dan ( 3 0 Ata adalah lapisan orang budak ialah orang yang tidak dapat membayar hutang atau orang yang melanggar pantangan adat.
Pada mulanya lapisan masyarakat hanya dua, dan bahwa la[isan ata itu merupakan suatu perkembangan kemudian yang terjadi dalam jaman perkembangan dari organisasi – organisasi orang bugis pagatan. Lapisan Ata mulai hilang karena larangan dari kolonial dan desakan dari agama. Kemudian itu pula setelah penghapusan system kerajaan di Pagatan arti dari perbedaan antara anakarung dan to maradeka dalam kehidupan masyarakat secara bertahap mulai berkurang. Adapun gelar bangsawan seperti arung, andi, puatta, dan daeng. Walupun masih dipakai, toh tidak lagi mempunyai arti seperti dulu, dan sekarang malahan sering dengan sengaja diperkecilkan artinya dalam proses perkambangan sosialisasi dan dalam demokratisasi dari masyarakat Indonesia.
Berikut ini akan digambarkan pola tingkah laku Bugis Pagatan yang tercermin dalam realita kehidupan yang erat hubungannya dengan unsure budaya dalam menjalin interaksi social. Serta digambarkan pula bagaimana sikap dan solaidaritas meraka dalam menjaga hubungan social yang tercermin dalam beberapa penyelenggaraan upacara kemasyarakatan.

1. Filsapah Siri’
Kosepsi sri mengintekrasikan secara organis semua unsure pokok dari penganderreng. Konon dalam masyarakat Bugis peristiwa bunuh membunuh dengan Jallo ( Hamuk ) itu dengan latar belakang siri’. Secara lahir sering tampak seolah – olah orang Bugis itu merasa siri’, sehingga rela membunuh atau terbunuh kerana alasan yang sepele, atau karena pelanggaran adat perkawinan. Pada hakekatnya alasan yang sepele yang menimbulkan rasa siri, hanya merupakan salah satu alasan lahir saja dari suatu kompleks sebab – sebab lain yang menjadikan ia kehilangan martabat dan rasa harga diri dan demikian juga identitas sosialnya.
Ada tiga pengertian konsep siri’ itu ialah : malu, daya pendorong untuk membinasakan siapa saja yang telah menyinggung harga diri secara tak berprikemanusiaan terhadap diri seseorang, atau dengan daya pendorong utuk bekerja atau berusaha sebanyak mungkin. Selain itu dapat dikemukakan bahwa siri’ adalah perasaan malu yang memberi kewajiban moral untuk membunuh pihak yang melanggar adat, terutama dalam soal – soal hubungan perkawinan.
Dalam kesusastraan Paseng yang memuat amanat – amanat dari nenek moyang terdagulu, ada contoh – contoh dari ungkapan yang diberikan kepada konsep siri’, seperti termaktub berukut ini :
– Siri’mi rionroang ri – lino artinya ; hanya utuk siri; itu sajalah kita tanggal di dunia. Dalam ungkapan ini termaktup arti siri’ sebagai hal yang memberi identitas social dan martabat kepada seorang Bugis. Hanya kalau ada martabat itulah maka hidup itu ada artinya.
– Mate ri siri’na artinya; mati dalam siri’, atau mati untuk menegakan martabat diri yang dianggap suatu hal yang terpuji dan terhormat.
– Mate siri’ artinya ; mati siri’, atau orang yang sudah hilang martabat diri, adalah seperti bangkai hidup. Demikian orang Bugis yang mate siri’ akan melakukan Jallo atau Amuk sampai ia mati sendiri. Jallo’ yang demikian itu disebut nappaentengi siri’na, artinya ; ditegakkannya kembali martabat dirinya. Kalau ia mati dalam Jallo’nya itu, maka ia sebut worowane to – engka siri’na, artinya ; jantan yang ada martabat dirnya.
Siri’ merupakan pola tingakah laku orang Bugis yang tercermin dalam realita kehidupan dan juga merupakan suatu perujudan tingkah laku yang berkaitan erat dengan unsur budaya di dalam menjalin interaksi social.

2. Acara Mappanretasi.
a. Pengertian Mappanretasi
Mappanretasi adalah suatu acara ritual ungkapan rasa syukur nelayan Bugis Pagatan kepada Tuhan atas kesejahteraan yang didapatkan melalui hasil tangkapan ikan dilaut oleh nelayan. Acara ini dilaksanakan setiap tahun sekali pada bulan April mana kala Musim Ikan atau Musim Barat sudah mulai berahir. Pelaksanaan acara ritual styukuran Mappanretasi berlangsung ditengah laut dipimpin oleh sandro, digiring dan diikuti oleh kapal-kapal para nelayan. Setelah acara ritual syukuran dilaut selesai kemudian rumbongan sandro kembali kedarat untuk menjalin silaturrahim dengan para undangan yang hadir, sekalgus menerima ucapan selamat atas terlaksananya upacara Mappanretasi dari para undangan.
Selanjutnya penyelenggaraan Mappanretasi tidak saja menyajikan acara ritual syukuran Mappanrertasi, juga diadakan berbagai pegelaran atraksi budaya daerah baik atraksi budaya bugis Pagatan maupun budaya etnis suku bangsa lain yang ada di Kabupaten Tanah Bumbu.

b. Kapan pertama kali Mappanrettasi
Tidak ada catatan yang dapat dijadikan bukti sejarah tentang kapan pertama kali acara Mappanretasi dilaksanakan. Namun yang pasti bahwa acara ini dilakukan setiap tahun sekali oleh masyarakat nelayan Bugis Pagatan, adapun waktu pelaksanaannya setiap bulan april dimana masa tertsebut kegiatan nelayan dilaut sudah mulai berkurang atau dengan kata lain musim ikan (Musim Barat Oktober-April) sudah berahir dan menunggu musim ikan tahun depan.
Pada masa pemerintahan Lasuke (1920-1955) Kepala Kampung Pejala penyelenggaraan Mappanretasi setiap tahun selalu memotong kerbau untuk disuguhkan kepada siapapun orang yang berkunjung menghadiri Mappanretasi. Rumah Lasuke dan rumah-rumah para ponggawa terbuka untuk siapapun, demikian juga perahu-perahu nelayan dipenuhi makanan yang akan disuguhkan bagi pengunjung yang berkenanan naik menumpang diatas perahu mengikuti acara ritual Mappanretasi.
Pada tahun 1960-1985 masa kejayaan masyarakat nelayan di Pagatan, setiap penyelenggaraan Mappaneretasi juga digelar berbagai pertunjukan baik itu perlombaan perahu nelayan maupun hiburan pada malam-malam menjelang pelaksaan Mappanretasi. Selanjutnya acara sukses digelar sehingga menarik perhatian pemerintah khususnya petugas pegawai perikanan yaitu Bapak Sukmaraga kemudian Bapak Masguel untuk meningkatkan penyelenggaraan Mappanretasi lebih terorganisasi. Oleh karena itu Mappanretasi kemudian ditetapkan waktunya yaitu 6 April bertepatan dengan hari Nelayan Nasional, kemudian penyelengaraan Mappanretasi digelar berbagai acara sebelumnya hingga hari puncak, maka dari itu kemudian penyelenggaraan Mappanretasi dikenal dengan nama Pesta Laut Mappanretasi.
Acara Mappanretasi setiap tahun mendapat kunjungan banyak wisatawan, sehingga pada tahun 1991 Mappanretasi ditetapkan sebagai Event Wisata Visit Indonesia Year 1991 dan Visit Asean Year 1992. Atas dukungan Kakanwil Deparpostel Kalsel Bapak A. Khalik, sebab beliau menilai Mappanretasi mempunyai daya tarik pengujung yang selalu membeludak setiap kali penyelenggaraan sampai sekarang ini, masih tetap dilestariakan bahkan selalu dikembangan dengan membumbuhi berbagai atraksi baik budaya maupun kesenian tradisional dan modern.

c. Prosesi Mappanretasi.
a. Penetapan waktu Mappanretasi.
Sesepuh Nelayan atau pemangku adat mengadakan pertemuan dengan melibatkan para Ponggawa, Pua Sandro dan Pua Imang untuk bermusyawarah untuk bermufakat mempersiapkan penyelenggaraan dan menetapkan waktu mappanretasi, acara ini berlangsung dikediaman Pambakala Kampoeng sekarang rumah Kepala Desa Wirittasi atau disekretarat Lembaga Adat Mappanretasi.

b. Pelaku Mappanretasi.
Dalam penyelenggaraan Mappanretasi ada dua unsur kepanitian ada yang sifatnya umum dan khusus. Panitia umum adalah menyiapkan penyelenggaraan pegelaran atraksi budaya Mappanretasi, sedangkan panitia khusus seksi Penata Adat mempersiapkan pelaksanaaan acara ritual syukuran Mappanretasi. Adapun mereka yang mempunyai peranan pada acara syukuran Mappanretasi, yaitu :
1. Pua Sandro, yang terdiri dari tiga orang berpakaian kuning tugasnya adalah memimpin berlangsung acara ritual Mappanretasi di laut.
2. Sesepuh Adat adalah para Kepala Desa di empat desa pesisir Pantai Pagatan yaitu Gusungnge, Wirittasi, Juku Eja, dan Pejala selaku pihak pelaksana Mappanretasi.
3. Penggowa, Juru Mudi dan Jurubatu yang mempersiapan pasilitas baik biaya penyelenggaraan maupun memandu sandro untuk sampai pada titik acara Mappenretasi dilaut.
4. Ibu-ibu nelayan juga turut ambil bagian untuk mendampingi Pua Sandro. Tugas mempersiapkan segala macam keperluan acara ritual mappanretasi kemudian mengaturnya sedemikian rupa.
5. Sepasang pengantin adat Bugis.
6. Sejumlah penari mappakaraja.
7. Penata Adat sebagai pemandu acara.

c. Rangkaian acara Mappanretasi.
1. Acara pemberangkatan Rombongan Sandro dari rumah Kepala Kampoeng menuju panggung adat tempat berkumpulnya para undangan, diarak dengan menggunakan perahu Pejala dipandu oleh Juru Mudi dan Juru Batu.
2. Pua Sandro tiba didermaga panggung adat disambut oleh Sesepuh nelayan para ponggwa kemudian segera naik kepanggung adat untuk mengambil perlengakapan acara ritual Mappanretasi. Disini dilaksanakan acara penyerahan olo sandro dari sesepuh adat kepada sandro.
3. Selanjutnya Sandro segera turun kelaut membawa olo sandro diiringi Sesepuh Adat, Ponggawa, Juru Mudi, Juru Batu, dan Para Undangan dengan menggunakan perahu pejala melaju ketengah laut untuk melaksanakakan acara ritual Mappanretasi.
4. Upacara inti Mappanretasi berlangsung dilaut ditandai dengan pemotongan ayam hitam (Manu Tolasi) kemudian darahnya ditaburkan didalam air laut sekitar perahu sandro berlabuh. Setelah diadakan acara doa bersama menadai selesainya prosesi acara ritual Mappanretasi.

d. Mereka Yang Mengembangkan Mappanretasi
1. Pembakala Suke Bin Laupe.
Lasuke adalah Kepala Kampoeng Wirittasie Tahun 1920-1955. Sebagai Kepala kampoeng bagi para nelayan di Pesisir Pantai Pagatan, konon dirumah Lasuke dilaksanakan penyelenggaraan Mappanretasi setiap tahunnya memotong kerbau untuk disuguhkan kepada para tamu yang hadir dalam acara Mappanretasi. Bentuk penyelenggaraan Mappanretasi setelah melaksanakan acara ritual dilaut kemudian naik dan berkumpul dirumah Kepala Kampong Lasuke.

2. Pambakala Saing.
Setelah Lasuke wafat digantikan oleh Lasaing 1955-1970, pada jaman Lasaing teknologi perikanan alat tangkap ikan mulai berkembang seiring meningkatnya kesejahteraan nelayan pada masa ini ada petugas perikanan yang mendampingi nelayan yaitu Menteri Sukmaraga. Dengan adanya petugas perikanan ini Mappanretasi dilaksanakan secara kepanitiaan dengan mengelar. Sehingga Mappanretasi pada saat diberikan nama Pesta Laut sebab panitia disamping melaksanakan acara ritual Mappanretasi juga mengadakan berbagai acara seperti hiburan dan olah raga. Sekaligus juga memperingati hari nelayan yang jatuh pada setiap tanggal, 6 April oleh karena itu acara puncak Mappanretasi dilaksanakan setiap tanggal 6 april disesuaikan hari nelayan nasional.

3. Kemudian mereka yang juga telah berjasa adalah :
Bapak Sukmaraga petugas perikanan, yang pernah memberikan gagasan pelaksanaan Mappanretasi disesuai dengan hari perikanan nasional pada setiap 6 April. Kemudian hari perikanan ini dirayakan berbagai kegiatan kesenian sehingga kemudian dikenal dengan nama perayaan Pesta Laut mappanretasi. Bapak Masguel petugas perikanan yang mengantikan Bapak Sukmaraga yang telah memasuki masa pensiun. Penyelenggaraan Mappanretasi kemudian lebih terorganisasi melelaui pembentukan kepenitiaan.
a. Takoh-tokon pada permulaan penyelengaraan Mappanretasi dalam bentuk kepenitiaan tahun 1965- 1980 adalah : Pembakal Saing, Zainuddin S, H. Nakip, Nurdin BT, Abdul Syukur, Masgoel, H. Mahdin, Pua Kidang, M. Santari, dll. Kemudian tempat penyelenggaraan kegiatan pekan (Pasar Malam) berlangsung di Komplek Juku Eja.
b. Sandro Rahim dan Sandro Ladeka beberapa dekade terahir ini adalah orang yang dipercayakan oleh masyarakat nelayan memimpin pelaksanaan acara ritual syukuran Mappanretasi.
c. Masry Abdulganie, Mohammad Jabir, Fadly Zour, Ismail, BT, M. Ikrunsyah, Musaid AN, Andi Amrullah, Hamsury, Abdul Azis Hasboel, Burhansyah, Machmud Mashur, Faisal Batennie dan lain-lain yang berjasa memberikan warna atraksi budaya setiap penyelenggaraan Mappanretasi. Salah satu gagasan adalah adanya pekan Mappanretasi, diadakan berbagai pegelaran budaya kesenian berbagai daerah untuk tampil mengisi pekan Mappanretasi. Kemudian telah dibakukannya naskah Prosesi Mappanretasi sejak tahun 1991. (Nama tersebut diatas sebagian masih dapat memberikan keterangan informasi Mappanretasi).
d. Abdul Gani Habbe, ulama yang telah berperanan mengubah unsur-unsur mistik Mappanretasi, seperti pembacaan mantera-mantera dalam bahasa bugis diganti dengan doa-doa yang diajarkan dalam agama Islam.

e. Deparpostel Kalsel 1990-1995.
Sejak ditetapkan Mappanretasi sebagai Even Wisata Nasional tahun 1991 dengan dimasukan agenda Visit Asean Year, Mappanretasi dilaksanakan setiap bulan april akan tetapi tanggalnya disesuaikan dengan pasang surut air laut dibibir Pantai Pagatan, seperti sekarang mana kala air laut surut pada pagi hari menjelang siang maka waktu ini sesuai untuk dilaksanakan acara ritual Mappanrtetasi maksudnya agar orang dapat berkumpul dibibir pantai.
Salah seorang yang serius mempromosikan Mappanretasi sampai ke Mancanegara adalah A. Khalik (1991) mantan Kakanwil Deparpostel Kalimantan Selatan. Sejak tahun 1991 Mappanretasi diselenggarakan dengan baik dengan melibatkan unsur pemerintah baik Propinsi, Kabupaten, maupun pihak sponsor dan masyarakat itu sendiri sebagai pelaku Mappanretasi. Acara Mappanretasi dikemas dengan melakukan berbagai pegelaran atraksi budaya sebelum acara inti Mappanretasi dilaksanakan.

3. Lembaga Adat Mappanretasi.
4. Pagatan Sebagai Kota Pariwisata.
5. Daftar Pustka.
a. Lontara Kerajaan Pagatan.
b. Prof. Dr. Mattulada, Disertasi LATOA, Yagyakarta 1985.
c. Faisal, Penggunaan Bahasa Bugis Dalam Dakwah Islam di Pagatan, Sepkripsi tahun 1991.
d. Faisal Batennie, Budaya Bugis di Bumi Banjar, B.post tahun 1991.
e. Faisal B dan Musaid AN. Naskah Prosesi Mappanretasi, Penata Adat, Pagatan 1991.

Juku Eja, 14 April 2005
*Penata Adat Pemerhati Budaya Bugis Pagatan
f. Acara Mappanregalung.
g. Acara Mappanredare
h. Acara Maulid Nabi Muhammad SAW.
i. Menyambut Bulan Puasa Ramdhan

6. SENI BUDAYA
a. Madede Anabiccu
b. Macurita
c. Mappatepuang.
d. Sitampu-tampu
e. Makkacapi
f. Masukkiri
g. Mappoca-poca

7. OLAHRAGA KETANGKASAN
a. Mappakkalaring Lopi
b. Ketangkasan Malogo
c. Magoli Lobangtellu
d. Mabenteh
e. Mappancang
f. Sirekko
g. Sapeda Pamangkih
h. Mappeda
i. Mappeleng
j. Membal Kitasie
k. Mamenca

Serah terima SK kepada PJ.MPP Majelis Persaudaraan Urang Banjar Indonesia

Penyerahan SK dari Ketua Umum kepada Ketua Harian Amang Indra  Pengurus MPP.Majelis Persaudaraan Urang Banjar Indonesia
Penyerahan SK Ketua Umum kepada KORLAP SE-KALIMANTAN Gusti M. Purwadi Albanjarie Pengurus MPP. Majelis persaudaraan urang Banjar Indonesia
Bang edi sungguh luarbiasa atas pengabdiannya sehingga beliau mendapat mandat tugas jabatan sebagai Humas MPP. Majelis persaudaraan urang Banjar Indonesia

Tanggal, 28 Juli 2024 Hari Minggu
Penyerahan dana arisan keluarga besar Majelis Persaudaraan Urang Banjar Indonesia kepada H. SANTOSO(Pak tam Sono)
Keluarga Besar majelis persaudaraan urang Banjar Indonesia sesi foto bersama dikediaman pak H. Santoso
Kegiatan rutin UMKM Majelis MPD Kota Pontianak kepada para anggota Majelis Persaudaraan Urang Banjar Indonesia dan Masyarakat sekitar
STRUKTUR kepengurusan pusat Majelis Persaudaraan Urang Banjar Indonesia

Sejarah peperangan antara kerajaan nansarunai dan kerajaan majapahit

Majapahit menaklukkan Nansarunai, pada kisah Wadian Nansarunai usak Jawa. sejarah verbal,wadian dan hikayat.

Menurut sejarahnya terdapat beberapa versi. Seperti

1.pada mulanya Majapahit hendak Menyatukan dengan damai karna Nansarunai adalah Kerajaan Tua namun karna istri panglima Nala diperkosa maka terjadilah penyerangan itu.
2.istri panglima Nala tidak diperkosa tetapi berselingkuh

  1. Majapahit tergiur dengan kekayaan kerajaan Nansaruai

Pada hal yang mendasar cerita ini dikonfirmasi oleh wadian nansarunai usak Jawa, Hikayat2 seperti Datu Banua Lima, Manggajaya.

Manggajaya dikisahkan menjadi daerah yang tidak pernah dimasuki majapahit sampai jaman Negara Dipa sudah berdiri karna terdapat keturunan para panglima dikemudian hari juga merupakan daerah heroik dalam melawan Belanda.

Cerita sejarah Verbal yg beredar Istri Panglima Nala selingkuh dengan Raja Nansarunai.

Majapahit mau menyerang Nansarunai yang ketiga kalinya, Mpu Nala menjadi mata mata menyusup berganti nama menjadi Pudayar dengan profesi sebagai seorang saudagar dan mengajak istrinya bernama Dhamayanti dengan nama samaran Samoni Batu. Selain itu dalam misi penyusupan ini juga terdapat panglima perangnya yang bernama Demang Wiraja dengan memakai nama samaran Tuan Andringau, dan beberapa prajurit dari suku Kalang.
Selanjutnya Mpu Nala perlu pulang melaporkan situasinya pada Patih Gajah Mada dan ketika pulang ke Majapahit itu istrinya bernama Dhamayanti ditinggal menggantikan tugas intelijen dan Istrinya mampu menembus istana berjumpa langsung dengan Raja Nansarunai yaitu Datu Tatuyan Wulau Miharaja Papangkat Amas.
Menurut sejarah Verbal ini Pada tahun itu, terjadi kemarau panjang, sebagai akibatnya raja Raden Anyan secara kebetulan bertemu dengan Damayanti di sumur yang khusus diperuntukkan bagi anggota keluarga kerajaan. Pertemuan pertama berlanjut dengan ke 2 dan demikian seterusnya, sebagai akibatnya Damayanti melahirkan seorang anak perempuan, lau diberi nama Sekar Mekar.

Ketika Panglima Nala kembali ke sana istrinya Hamil ditanya itu anak mereka berdua (Mpu Nala dan Dhamayanti) apa tidak? jawaban Istrinya iya ini anak mereka. Lalu Mereka berdua pulang ke Majapahit. karna Majapahit sudah bersiap mau menyerang Nansarunai dan menyiapkan pasukan khusus termasuk dari suku kalang yang memiliki kemampuan lebih dalam hal mistis.

Ini sebuah Misi intelijen yang istrinya kebablasan atau kelewatan kepada objek Misinya. Ada yang bilang Istri Panglima Nala diperkosa kalo diperkosa kenapa tidak mau mengaku terus terang saat di jemput oleh Mpu Nala untuk pulang ke Majapahit karna Nansarunai akan diserang yang ke tiga kali.
Jadi ketahuanya justru saat Panglima Nala akan berangkat memimpin Pasukan menyerang Nansarunai ketiga kalinya. Ketika akan pamit Panglima Nala mendengar Istrinya menidurkan anaknya dengan bahasa dayak dan mengatakan ayahnya adalah Raja Nansarunai. Kalo begini ceritanya lebih tepatnya selingkuh. Jadi Marahlah Panglima Nala itu tetapi dilampiaskanya di medan perang yang diceritakan selanjutnya semua pasukan pasukan khusus Nansarunai yang sebelumnya sudah di mata matai kelemahan dan cara koordinasinya oleh intelijen Majapahit jadi bisa ditumpas dan Raja Nansarunai yang di sembunyikan oleh pasukan pelindungnya berhasil dibunuh dengan tombak pusaka oleh Panglima Nala. sebab penyerangan dua kali yang dilakukan sebelumnya oleh Majapahit telah mengalami kegagalan kekalaham yang tragis dan panglima Majapahit yang memimpin serangan sebelumnya terbunuh dimedan peperangan. Yaitu Senopati Arya Manggala telah terpenggal oleh mandau panglima Nansarunai dibantu oleh lima panglima tangguh .

Dalam cerita verbal dikisahkan datanglah prajurit-prajurit Majapahit, dibawah pimpinan Laksamana Nala dan Demang Wiraja menyerang Nansarunai. Mereka membakar apa saja termasuk kapal-kapal yang ada di pelabuhan dan rumah-rumah penduduk. Serangan itu mendapat perlawanan gigih prajurit-prajurit Nansarunai.
Menurut cerita, Ratu Dara Gangsa Tulen bersembunyi dipelepah kelapa gading bersenjata pisau dari besi kuning, bernama Lading Lansar Kuning. Ia menimbulkan korban pada pihak musuh sebelum ia sendiri gugur.
Raja Raden Anyan dalam keadaan terdesak lalu disembunyikan oleh para Patih dan Uria kedalam sebuah sumur tua yang sudah tidak berair lagi. Diatas kepalanya ditutup dengan sembilan buah gong akbar, kemudian dirapikan dengan tanah dan rerumputan, agar tidak mudah diketahui musuh.
Ketika keadaan sudah bisa dikuasai oleh pihak Majapahit, Laksamana Nala memerintahkan Demang Wiraja buat mencari Raden Anyan hidup atau meninggal. Atas petunjuk prajurit-prajurit suku Kalang yang terkenal mempunyai indera yang tajam, tempat persembunyian raja Raden Anyan akhirnya dapat ditemukan.
Raja Raden Anyan tewas kena tumbak Laksamana Nala dengan lembing bertangkai panjang. Peristiwa hancurnya Nansarunai dalam perang tahun 1358 itu, terkenal dalam sejarah verbal suku Dayak Maanyan yang mereka sebut Nansarunai Usak Jawa.
Dalam perang itu telah gugur pula seorang nahkoda kapal dagang Nansarunai yang terkenal berani mengarungi lautan luas bernama Jumulaha.

Cerita selingkuhnya dhamayanti ini ada juga di :.[http://jatim.poskota.co.id/2022/09/07/mpu-nala-bumi-hanguskan-kerajaan-nansarunai-borneo-karena-istinya-selingkuh]
[https://duniakeris.com/laksamana-nala-penguasa-lautan-yang-tak-terwariskan/]
[1]

Perlu dipahami cerita cerita di atas itu yang beredar dengan macam versi. Untuk Cerita cerita dan kronologi pertempuranya berasal dari rekam dalam hikayat hikayat kalimantan seperti
banua hujung tanah

  • hikayat Datu Banua Lima
  • hikayat Manggajaya
    Hikayat banjar

Penyerangan pertama dan kedua dari hikayat datu banua lima
Penyerangan pertama ke Nan Sarunai terjadi pada 1309 Masehi sampai beberapa tahun setelahnya, di masa Raja Majapahit yang kedua yang bernama Jayanegara (putera Raden Wijaya) yang berkuasa 1309-1328 Masehi.

Majapahit menyerang Kerajaan Nan Sarunai. Namun, penyerangan pertama ini mengalami kegagalan.

Menurut riset Kusmartono dan Widianto (1998), yang bersandar pada uji sampel arang tahun 1996, di Amuntai, khususnya di Candi Agung peninggalan kerajaan Nan Sarunai, terdapat Tambak Wasi yang jadi wadah pembakaran mayat para prajurit Majapahit, korban perang Nansarunai I,

Lalu pada dizaman Prabu Hayam Wuruk (1328-1351), kerajaan Majapahit mengirim ekspedisi militer kedua ke kerajaan Nan Sarunai pada tahun 1356. Sekitar 5.000 pasukan Majapahit datang dengan kapal melewati Sungai Barito yang dipimpin Senopati Arya Manggala.

Melihat pasukan yang sangat banyak tersebut, lalu Kerajaan Nan Sarunai meminta bantuan ke Kerajaan Tanjungpuri.

Lalu oleh Raja Tanjungpura dikirim lima orang panglimanya yaitu Datu Banua Lima dengan membawa 1.000 pasukan membantu kerajaan Nan Sarunai. Setelah itu pecahlah perang yang dahsyat antara pasukan Majapahit melawan pasukan Nan Sarunai yang dibantu pasukan Tanjungpuri. Banyak sekali jatuh korban di kedua belah pihak.

Pasukan Majapahit yang terkenal hebat dalam bertempur karena sudah berkeliling Nusantara dan sudah menaklukan berbagai kerajaan, saat itu mendapat perlawanan yang hebat. Banyak prajurit Majapahit yang mati di tangan lima panglima Tanjungpuri yang sakti-sakti tersebut.

Panglima Alai yang ahli strategi mengatur pasukan, Panglima Tabalong yang gagah mengamuk di barisan paling depan, banyak tentara Majapahit yang terlempar ke udara dilemparkan oleh panglima Tabalong.

Sedangkan Panglima Balangan menjadi pimpinan barisan pengawal raja, dengan kesaktiannya mampu melindungi raja dari keroyokan pasukan Majapahit. Semantara Panglima Hamandit dan Panglima Tapin beradu kesaktian dengan para pendekar Majapahit.

Banyak sudah prajurit Majapahit yang merupakan pendekar bayaran, mati di tangan Panglima Hamandit dan Panglima Tapin. Setelah dua hari bertempur akhirnya pasukan Majapahit mampu dipukul mundur, bahkan pemimpin pasukan Majapahit ketika itu yaitu Senopati Arya Manggala kepalanya putus terkena Mandau senjata asli Suku Dayak.

Mengetahui pemimpin pasukannya tewas lalu sisa-sisa pasukan Majapahit lari terbirit-birit menuju kapal untuk pulang ke Jawa. Setelah gagal dalam ekspedisi pertama, kelak Majapahit kembali mengirim ekpedisi militer yang ketiga. Dipimpin Laksmana Nala dengan terlebih dahulu menyusup menjadi saudagar mengumpulkan data data intelijen kemudian mempersiapkan juga pasukan khusus dari suku kalang itu berhasil mengalahkan Kerajaan Nansarunai.

Namun masih gagal mengalahkan Kerajaan Tanjung puri.

Kemudian diceritakan dalam hikayat datu banua lima datang Empu Jatmika yang anaknya Bernama Raden Putra dinikahkan dengan Puteri Junjung Buih.berdirilah kerajaan Negaradipa.

Putri Junjung Buih gasan dikawin akan wan anak Empu Jatmika nang Bangaran Lambung Mangkurat, tapi karana marasa katuhaan, Lambung Mangkurat kada handak mangawini Junjung Buih lalu inya manyurung anaknya nang bangaran Raden Putera. Raden Putera ni anak Lambung Mangkurat dari parkawinan wan urang Biaju (Dayak Ngaju). Singkat carita ahirnya Raden Putra kawin wan Putri Junjung Buih, sajak itu Sri Baginda Kartapala manyarah akan saluruh kakuasaan wan wilayah Tanjungpuri kawadah Nagaradipa. Nagaradipa sandiri ma angkat Raden Putera manjadi Raja bagalar Pangeran Suryanata. Namun ada sasuatu hal nang bagajulak di dalam pamarintahan Nagaradipa yaitu barabut pangaruh antara bubuhan Imigran Majapahit nang sangaja disusup akan jadi pajabat di Nagaradipa wan bubuhan Tanjungpuri nang umpat mangabdi jadi pajabat di karajaan Nagaradipa. Apalagi imbah bubuhan pulitikus Majapahit kawa mampangaruhi Patih Lambung Mangkurat nang ahirnya mamutus akan malarang adat istiadat Melayu wan Dayak di Kerajaan Nagaradipa wan pakaian harus ma umpati gaya pakaian bubuhan Majapahit (kelak pada saat perpindahan kekuasaan dari Nagaradipa ke Nagaradaha kabudayan melayu wan Dayak kambali mandapat tampat di karajaan). Mandangar hal tarsabut sing sarikan lima Panglima Tanjungpuri nang sudah tuha-tuha pukuknya buhan baliau nang balima ni kaciwa bangat tu pang sabab bubuhannya basumpah kada pacang tunduk wan Majapahit. Tapi ulih karana masih mahurmati Putri Junjung Buih sabagai cucu Sri Baginda Darmapala, kalima Panglima ti kawa Manahan diri, imbah itu kalima panglima ni kada suah lagi muncul baik di dunia pulitik maupun di dunia parsilatan, bubuhannya ma asing akan diri ka gunung Maratus. Bubuhan kaluarga Karajaan Tanjungpuri pun tapacah dua ada nang mandukung Nagaradipa ada jua nang kada, nang kada mandukung ahirnya ma asing akan diri ka Pagunungan Maratus di bawah pimpinan Pangeran ke-10 ma umpati bubuhan Datu Banua lima. Tampat bakumpulnya bubuhan Kaluarga Karajaan Tanjungpuri di Pagunungan Maratus nang di pimpin Pangeran ke 10 adalah “Manggajaya”. Maliat hal tarsabut Patih Lambung Mangkurat marasa tarancam lalu atas bantuan Majapahit inya mangirim pasukan di bawah pimpinan Hulu Balang Arya Megatsari wan Tumenggung Tatah Jiwa ka daerah Batang Tabalong, Batang Balangan, Batang Alai, Batang Hamandit wan Batang Tapin supaya tunduk tarhadap kakuasaan Nagaradipa. Kalima wilayah tarsabut memang kawa ditakluk akan tapi daerah “Manggajaya” kada wani bubuhannya manyarang ka sana karana ujar habar Lima ikung Panglima nang bagalar Datu Banua Lima ada di Manggajaya
[2] Hikayat Datu Banua Lima.

Tetapi rekaman sejarah kekalahan Kerajaan Nansarunai bahwa peristiwa ini benar terjadi berada pada wadian Nansarunai usak jawa dan beberapa kajian berikut:

Nan sarunai usak jawa

Dalam sejarah lisan suku dayak maanyan nan sarunai adalah kerajaan di saat suku Dayak Maanyan mengalami puncak kejayaan. Diperkirakan berlangsung sepanjang paroh abad ke 14 (1309-1358).

Berdasarkan penuturan beberapa tokoh adat dan tokoh masyarakat dayak maanyan, kerajaan Nansarunai pernah berdiri di sekitar candi agung, pasar arba (Amuntai, Kab Hulu Sungai Utara).

Pada Awalnya Nansarunai dipimpin oleh Dato sapuluh dan Dara Sapuluh yang kemudian berturut-turut di pimpin raden Japutar layar dan di bantu para uria dan patis. Setelah itu Raden Japutar Layar di ganti oleh Raden Neno, dan Raja Nansarunai yang ketiga yang terakhir adalah Raden Ammah (Ambah Jarang) atau bergelar Datu Tatuyan Wulau Miharaja Bapangkat Amas.

Digambarkan, Kerajaan Nansarunai adalah kota bandar yang sangat Ramai,Kaya Raya dan sekaligus kota budaya. Sebagai Kota Bandar, Nansarunai berada di tepi sungai besar, dimana setiap harinya kapal- kapal asing bersandar di Nansarunai untuk membeli hasil hutan, pertanian, dan perkebunan. Di lukiskan dalam bahasa Maanyan bagaimana banyaknya kapal yang bersandar di bandar Nansarunai: tihang ajung nyalah hannar pungur, tali dandan nimbang rerep uei (Tiang Layar kapal bagaikan pepohonan, tali temali layar kapal bagaikan rotan).

Di samping kapal-kapal Cina, Melayu, Arab juga ada kapal kapal dari Majapahit yang sering bersandar di bandar Nansarunai.
Sebagai kota budaya, Nansarunai tidak pernah sepi dari pertunjukan budaya dan acara menyabung ayam di manguntur.

Dikatakan pula oleh penutur, bahwa banyak sekali tamu asing yang menyaksikan pertunjukan seni dan budaya sabung ayam, baik pada siang dan malam hari. Keramaian di manguntur juga sering dilukiskan seperti ini: manguntur nyalah harek jatuh, kudalangun alang raweh riwo. (Manguntur selalu riuh rendah bagaikan suara ratusan orang).

Namun pada saat Kerajaan Nan sarunai sedang dalam masa kejayaanya pada tahun 1358, Nansarunai mengalami kehancuran oleh serangan pasukan Kerajaan Majapahit. Akibat hancurnya kerajaan Nansarunai itu, semua bangunan kerajaan manguntur dan rumah penduduk habis terbakar. Sehingga alat-alat upacara perlengkapan adat dan benda-benda budaya habis di rampas oleh prajurit Majapahit. Raja Raden Anyan (Ambah Jarang) pun ikut meninggal dunia bersama beberapa penduduk yang belum sempat melarikan diri. Yang masih hidup hanya beberapa tokoh masyarakat dan tujuh pimpinan adat (Uria Pitu). Tentang hancurnya Nansarunai itu di lukiskan dalam bahasa Maanyan:Tu riu mate erang ngakatanjung taping, ngulin ranu rueh lakarantau hanyut. Daya Nansarunai takam galis kuta apui, ngamang talam haut jarah sia tutung. Manguntur takam galis eme anggang,kudalangun takam jarah maku lungkang. (Air mata tak tertampung lagi banyaknya mengenang Nansarunai habis di lalap api dan manguntur telah di tumbuhi rerumputan).

Hancurnya nansarunai yang di banggakan itu di kenal dalam masyarakat Dayak Maanyan dengan Nansarunai Usak Jawa. Artinya Nansarunai di serang orang orang Majapahit.

Cerita Nansarunai usak jawa ini tidak mudah dilupakan oleh Dayak Maanyan karna Nansarunai telah memgukir sejarah dan kenangan yang sulit dilupakan. Kita boleh sangsi Tentang keberadaan Nansarunai Namun Cerita Nansarunai usak Jawa selalu terdengar melalui Hiang Wadian(shaman chants) tumet leut, enra janyawai (traditional songs), dan ngalakar(oral history) pada upacara perkawinan dan kematian. Atau sering pula di singgung dalam upacara sehari-hari untuk mengingatkan anak muda agar mereka tidak melupakan sejarah. Setiap saat orang Maanyan selalu diingatkan lewat sejarah lisan dan lagu-lagu tradisional bahwa Nansarunai adalah Kerajaan Dayak Maanyan tempo dulu yang sangat Megah kaya raya, mewah, indah dan Jaya. Sering kali dalam lagu- lagu daerah yang di nyanyikan pada acara Pernikahan/ Turus Tajak seperti Ekat hantek awe unru datu hawi mamurentah, ungken pita mahuraja jaku nawu lengan.Nampan nansarunai takam mudi kalamula,ngamang talam takam mantuk alang ire.(kapan orang maanyan yang pintar datang menjadi pemimpin,agar Nansarunai kita dapat dibangun kembali).

Setelah jatuhnya Nansarunai,akhirnya tujuh pimpinan adat (Uria Pitu) memutuskan untuk berpisah dan pergi ke tempat temlat yang berbeda.Menurut penuturan bahwa:Uria Dambung Napu Langit pergi ke Telang Siong (Paju Epat). Uria Rena (Uria Mapas) pergi ke daerah Paju Dime dan Paju Sapuluh, Uria Rantau pergi ke daerah Paku Karau (Dusun Tengah).
Uria Biring pergi ke Daerah Barito (Dusun Taboyan dan Lawangan)
Uria Pulangiwa pergi ke Daerah Kapuas dan Kahayan.
Uria Buman pergi ke Kalimantan selatan (Tabalong rantau dan kayutangi).

Menurut ceritanya,masing masing uria ini membawa Hukum Adat berlaku diNansarunai. Namun karena perjalanan waktu dan kondisi sosial dimana mereka berada banyak diantara Uria itu menyesuaikan hukum Adat yang mereka bawa. Dari ketujuh Uria itu hanya Uria Dambung Napulangit yang tetap konsisten melaksanakan hukuk adat Nansarunai seperti ijambe, setelah sampai diDaerah Paju epat.

Akibat perpisahan Uria Pitu tersebut maka Suku Dayak Maanyan pun terbagi menjadi empat sub suku. Yaitu: Maanyan Paju epat, Maanyan Paju sapuluh, Maanyan Paju Dime dan Maanya Paku Karau, kendatipun ada pembagian sub suku demikian namun persatuan tetap terjaga.
[3].(FP Pulau dayak : Tulisan profesor kumpiady widen )

Lambang kerjaan Majapahit

Hubungan Banjar dan Bugis makasar

“Aliansi dan Pernikahan Strategis: Hubungan Diplomatik Kerajaan Banjar dengan Kerajaan Selaparang, Taliwang, Sumbawa, dan Bima”

Hubungan antara Kerajaan Banjar dengan Kerajaan Selaparang, Taliwang, Sumbawa, dan Bima menunjukkan jaringan politik dan perkawinan yang kompleks dalam sejarah Nusantara. Menurut “Hikayat Banjar dan Kotawaringin,” hubungan ini diperkuat melalui beberapa pernikahan strategis.

Silsilah dan Hubungan Diplomatik

  1. Raden Subangsa (Pangeran Taliwang I ) Raden Marabut
  • Orangtua : Pangeran Dipati Martasari (Raden Timbakal).
  • Keturunan Raden Subangsa (Pangeran Taliwang I ) Raden Marabut
    • Raden Mataram (Amas Mattaram atau Maes Materan), dikenal sebagai Datu Taliwang.
    • Dewa Mas Bantan (Maes Bantam), kemudian menjadi Sultan Sumbawa III (1672/75 – 1702/05) Bergelar Sultan Harun nur Rasyid I Datu Loka.
  1. Raden Mataram (Amas Mattaram)
  • Juga dikenal sebagai Datu Taliwang, setelah kematian ayahnya.
  1. Dewa Mas Bantan (Sultan Harunnurrasyid I)
  • Sebagai Sultan Sumbawa III, Dewa Mas Bantan memiliki lima anak:
    1. Datu Taliwang (Amas Madina atau Sultan Jalaluddin Muhammad Syah I), Sultan Sumbawa IV (1702 ).
    2. Datu Jereweh (Mas Palembang atau Dewa Maja Jereweh).
    3. Dewa Isa (Karaeng Barong Patola).
    4. Datu Seran (Raja Tua Datu Bala Sawo atau Dewa Loka Ling Sampar) pemangku Sultan Sumbawa (1723-1725).
    5. Dewa Iya (Datu Balasawo) menikah dengan Sultan Bima, Sultan Hasanuddin Muhammad Ali Syah.
  1. Sultan Sumbawa VIII (1761 – 1752)
  • Nama: Sultan Lalu Onye, juga dikenal sebagai Datu Ungkap Sermin atau Dewa Lengit Ling Dima.
  • Keturunan:
    • Permaisuri Bima: Siti Saleha Bumi Pertiga binti Lalu Cela Tureli Belo binti Lalu Abdulah Syahbandar bin Sultan Sumbawa VIII Sultan Lalu Onye

Permaisuri Bima Siti Saleha Bumi Pertiga menikah dengan Sultan Bima XI, Sultan Abdullah Muhammad Syah Rumata Mawa’a Adil (memerintah 1854-1868).

Hubungan Perkawinan dan Politik

  • Raden Subangsa menikah dengan Mas Surabaya Putri Taliwang, putri Raja Selaparang. Dari pernikahan ini lahir Raden Mataram.
  • Setelah Mas Surabaya Putri Taliwang, putri Raja Selaparang meninggal, Raden Subangsa menikah lagi dengan Dewa Mas Panghulu binti Raja Sumbawa Seleparang Kamutar IV. dan memiliki putra Raden Bantan Sultan Harun Nur Rasyid I Datu Loka.

Raden Subangsa kemudian dikenal sebagai Pangeran Taliwang.

  • Ratu Hayu Putri busu binti sultan mustainbilah dijodohkan menikah dengan Raden Timbakal Pangeran dipati Martasari adalah ayah dari Raden Subangsa yg lahir dari putri jawa .

Pangeran Singa-Marta kakak Tiri Pangeran taliwang I Raden Subangsa

Pangeran taliwang I Raden Subangsa bin Raden Timbakal Pangeran dipati Martasari

Pangeran Singa-Marta bin Raden Timbakal Pangeran dipati Martasari

Pangeran Singa-Marta seorang Menteri Besar dari Banjar, melakukan hubungan diplomatik dengan Kesultanan Bima pada tahun 1701 dan menikahi putri Adipati Thopati Tlolouang dari Taliwang.

Dominasi dan Integrasi Wilayah

  • Pada tahun 1618, Kesultanan Gowa menguasai kerajaan-kerajaan di Sumbawa Barat dan mengintegrasikannya dengan Kerajaan Selaparang.
  • Pada tahun 1673, VOC memindahkan pusat kekuasaan dari Lombok ke Sumbawa dan pada tahun 1674, perjanjian antara Kesultanan Sumbawa dan VOC menyebabkan Selaparang lepas dari Sumbawa, dengan VOC kemudian mengawasi Selaparang.
  • Kemunduran Kerajaan Selaparang mulai terlihat pada tahun 1691 dan akhirnya runtuh pada tahun 1740 akibat kekalahannya melawan Kerajaan Karangasem.

Dinasti Banjar di Sumbawa

  • Dominasi Sultan Sumbawa berubah dari keturunan Bugis-Makassar ke keturunan raja Banjar.
  • Gusti Mesir Abdurrahman, bergelar Sultan Muhammad Jalaluddin Syah II, menjadi sultan Sumbawa IX (1762-1765) menikahi Siti Khadijah Datu Bonto Paja binti Sultanah Sumbawa VII sultanah Siti Aisyah bin Sultan Jalaluddin Muhammad Syah I. Dinasti Banjar kemudian mendominasi Kesultanan Sumbawa hingga kesultanan tersebut berakhir.

Dengan demikian, pernikahan dan keturunan memainkan peran strategis dalam memperkuat aliansi politik dan kekuasaan antara kerajaan-kerajaan di wilayah ini, menguatkan ikatan antara Banjar, Sumbawa, dan kerajaan lainnya seperti Bima dan Selaparang.

SejarahNusantara #KerajaanBanjar #KerajaanSelaparang #Taliwang #Sumbawa #Bima #DiplomasiPerkawinan #SejarahIndonesia #KekuasaanPolitik #SilsilahKerajaan

Hikayat Kerajaan Daha dan kesultanan banjar

Kesultanan Banjar memiliki akar yang berasal dari Kerajaan Negara Daha, Menurut Naskah Cerita Turunan Raja Banjar Dan Kotawaringin (Hikayat Banjar Resensi I) sebuah kerajaan Hindu-Buddha yang berdiri di wilayah yang sekarang menjadi bagian dari Kalimantan Selatan, Indonesia. Kesultanan Banjar berkembang dari pengaruh dan pemberontakan terhadap Kerajaan Negara Daha pada abad ke-15. Pemberontakan tersebut dipimpin oleh Raden Samudera, yang kemudian menjadi Sultan pertama Kesultanan Banjar dengan gelar Sultan Suriansyah. Kesultanan Banjar kemudian menjadi salah satu pusat kekuasaan yang kuat di Kalimantan Selatan selama berabad-abad.

  1. Asal Usul Kesultanan Banjar: Kesultanan Banjar berasal dari Kerajaan Negara Daha, sebuah kerajaan Hindu-Buddha yang berkuasa di wilayah Kalimantan Selatan pada abad ke-14 dan ke-15.
  2. Pemberontakan: Pada abad ke-15, terjadi pemberontakan terhadap Kerajaan Negara Daha yang dipimpin oleh Raden Samudera. Pemberontakan ini dipicu oleh ketidakpuasan terhadap pemerintahan dan kebijakan kerajaan sebelumnya.
  3. Sultan Suriansyah: Raden Samudera, setelah berhasil mengalahkan Kerajaan Negara Daha, mendirikan Kesultanan Banjar dengan dirinya sendiri sebagai Sultan pertama, dengan gelar Sultan Suriansyah. Inilah awal dari Kesultanan Banjar yang mandiri.
  4. Perkembangan KESULTANAN BANJAR : Setelah berdirinya Kesultanan Banjar, wilayah kekuasaannya berkembang pesat dan mencakup sebagian besar wilayah Kalimantan Selatan. Kesultanan Banjar menjadi salah satu pusat kekuasaan yang kuat di pulau Kalimantan selama berabad-abad.

Dengan demikian, Kesultanan Banjar memiliki akar yang berasal dari Kerajaan Negara Daha, tetapi berkembang menjadi entitas politik dan budaya yang mandiri dengan kekuasaan yang luas di wilayah Kalimantan Selatan.

SEJARAH BUKU-BUKU BAHASA BELANDA ANTARA LAIN :

  1. (Belanda) van Rees, Willem Adriaan (1865). De bandjermasinsche krijg van 1859-1863 1. D. A. Thieme
  2. (Belanda) van Rees, Willem Adriaan (1865). De bandjermasinsche krijg van 1859-1863 2. D. A. Thieme.
  3. (Belanda) Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Batavia), Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Batavia) (1860). Tijdschrift van het Bataviaasch Genootschap
  4. (Belanda) J. M. C. E. Le Rutte (1863). Episode uit den Banjermasingschen oorlog (ed. 2). A.W. Sythoff.
  5. (Belanda) J. M. C. E. Le Rutte. Episode uit den Banjermasingschen oorlog. Expeditie tegen de versterking van Pangeran Antasarie, gelegen aan de Montallatrivier; beschrijving der versterking te Goenong Tongka, na de inname; aanteekeningen omtrent Pangeran Hijdaijat … Tweede, veel vermeerderde … druk.
  6. Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde, Volume 1
  7. Verhandelingen en Berigten Betrekkelijk het Zeewegen Volume 1
  8. Jaarboek van het mijnwegen in Nederlandsch-Indië, Volume 17
  9. De Voormalige Zelfbesturende En Gouvernementslandschapren In Zuid oost Borneo C Nagtegaal
  10. dan lain sebagainya.

Pada tanggal 11 Juni 1860, perjuangan Kesultanan Banjar saat Belanda menghapuskan kedaulatan mereka. Pasukan kolonial mulai berkumpul di sekitar perbatasan, siap untuk melancarkan serangan terhadap kesultanan yang telah lama menjadi pusat kekuasaan dan kebudayaan,markas belanda di martapura dan banjarmasin

pasukan kolonial mulai membakar desa-desa yang terletak di sepanjang perbatasan kesultanan. Api menjilat-ratakan rumah-rumah tradisional, dan teriakan putus asa memenuhi udara saat penduduk berusaha melarikan diri dari amukan kebakaran. lautan api terus meluas di sepanjang perbatasan Kesultanan Banjar. Desa demi desa hancur menjadi abu, meninggalkan jejak kehancuran yang memilukan. Para pejuang dan wali kesultanan melakukan segala upaya untuk melawan serangan tersebut, tetapi kekuatan kolonial yang superior terlalu kuat untuk, Istana yang megah terbakar menjadi runtuhan, dan harta serta artefak berharga hancur terbakar. Lautan api telah merenggut segalanya, meninggalkan kesedihan dan keputusasaan di hati para penduduk yang tersisa.

Namun, meskipun kesultanan itu hancur, semangatnya tetap hidup dalam cerita dan yang diceritakan dari generasi ke generasi. Mereka mungkin telah kehilangan kedaulatan fisik, tetapi warisan budaya dan semangat perlawanan mereka tetap abadi dalam ingatan dan hati para keturunan Kesultanan Banjar.

Sungguh tragis memikirkan betapa kejamnya masa itu. Bagaimana para pejuang dan wali Kesultanan Banjar berjuang dengan keras hanya untuk melihat kedaulatan dan warisan budaya mereka dihancurkan. Peristiwa tersebut memang bisa membuat kita merasa histeris dan memahami kepedihan yang mereka alami. saat penduduk berusaha melarikan diri dari amukan kebakaran. lautan api terus meluas di sepanjang perbatasan Kesultanan Banjar. Desa demi desa hancur menjadi abu, meninggalkan jejak kehancuran yang memilukan. Para pejuang dan wali kesultanan melakukan segala upaya untuk melawan serangan tersebut, tetapi kekuatan kolonial yang superior terlalu kuat untuk ditahan.

Pada tahun 3 maret 1862, sultan dan wali sultan di asingkan ke batavia lalu di pindahkan ke Ciankur jawa barat perjuangan Kesultanan Banjar dengan pahit. Istana yang megah terbakar menjadi runtuhan, dan harta serta artefak berharga hancur terbakar. Lautan api telah merenggut segalanya, meninggalkan kesedihan dan keputusasaan di hati para penduduk yang tersisa.

Namun, meskipun kesultanan itu hancur, semangatnya tetap hidup dalam cerita dan yang diceritakan dari generasi ke generasi. Mereka mungkin telah kehilangan kedaulatan fisik, tetapi warisan budaya dan semangat perlawanan mereka tetap abadi dalam ingatan dan hati para keturunan Kesultanan Banjar. Sungguh tragis memikirkan betapa kejamnya masa itu. Bagaimana para pejuang dan wali Kesultanan Banjar berjuang dengan keras hanya untuk melihat kedaulatan dan warisan budaya mereka dihancurkan. Peristiwa tersebut memang bisa membuat kita merasa histeris dan memahami kepedihan yang mereka alami.

PAHLAWAN DARI BANJAR Mamgkubumi Pangeran Ratu Anom Wirakusuma II Wali Sultan Banjar 1857-1862 & Demang Lehman

Kerajaan Banjar merupakan salah satu kerajaan terbesar dan paling berpengaruh di Kalimantan Selatan, Indonesia. Wilayahnya meliputi sebagian besar wilayah Kalimantan Selatan, termasuk daerah sekitar Sungai Martapura. Bekas peninggalan kerajaan ini dapat ditemukan di beberapa lokasi di sekitar provinsi Kalimantan Selatan, terutama di sekitar wilayah Banjarmasin, ibu kota provinsi tersebut.

Demang Lehman, Pangeran Mangkubumi Pangeran Ratu Anom Wirakusuma II Wali Sultan Banjar 1857-1862 layak diabadikan dalam narasi sejarah:

  1. Peran dalam Perlawanan:
    Demang Lehman, Pangeran Mangkubumi Pangeran Ratu Anom Wirakusuma II Wali Sultan Banjar 1857-1862 terlibat dalam perlawanan terhadap penjajah Belanda, menunjukkan keberanian dan keteguhan dalam mempertahankan kemerdekaan dan martabat bangsa.
  2. Kepemimpinan dan Pengaruh:
    Demang Lehman, Pangeran Mangkubumi Pangeran Ratu Anom Wirakusuma II Wali Sultan Banjar 1857-1862 memiliki peran yang signifikan dalam memimpin dan memobilisasi masyarakat setempat untuk melawan penjajah, memberikan inspirasi dan dukungan bagi mereka yang berjuang untuk kemerdekaan.
  3. Kontribusi pada Masyarakat:
    Selain peran Demang Lehman, Pangeran Mangkubumi Pangeran Ratu Anom Wirakusuma II Wali Sultan Banjar 1857-1862 dalam perlawanan, Demang Lehman, Pangeran Mangkubumi Pangeran Ratu Anom Wirakusuma II Wali Sultan Banjar 1857-1862 juga memiliki kontribusi yang berarti dalam membangun dan memperkuat masyarakat lokal, baik secara ekonomi maupun sosial.
  4. Representasi Kebudayaan dan Identitas Lokal:
    Pengakuan terhadap Demang Lehman, Pangeran Mangkubumi Pangeran Ratu Anom Wirakusuma II Wali Sultan Banjar 1857-1862 juga penting dalam melestarikan dan menghormati warisan budaya dan identitas lokal mereka, yang merupakan bagian integral dari sejarah dan kebanggaan bangsa.
  5. Pelajaran Berharga:
    Mengabadikan kisah Demang Lehman, Pangeran Mangkubumi Pangeran Ratu Anom Wirakusuma II Wali Sultan Banjar 1857-1862 dalam sejarah akan memberikan pelajaran berharga bagi generasi sekarang dan yang akan datang tentang pentingnya perjuangan, kesetiaan, dan keberanian dalam menghadapi penindasan dan penjajahan. – Demang Lehman layak diabadikan dalam narasi sejarah karena peran dan kontribusinya dalam perlawanan terhadap penjajah Belanda.

Peran dan Kontribusi perang Banjar:Demang Lehman:
– Sebagai pemimpin lokal, ia memimpin masyarakat setempat dalam perlawanan, menunjukkan keberanian dan keteguhan dalam mempertahankan kemerdekaan dan martabat bangsa.dalam perlawanan dengan keberanian dan keteguhan yang luar biasa, menginspirasi generasi berikutnya.

– Kontribusinya tidak hanya dalam perlawanan, tetapi juga dalam membangun dan memperkuat masyarakat lokal, baik secara ekonomi maupun sosial.Selain mengorganisir perlawanan, dikenal karena upayanya dalam membangun solidaritas dan kesatuan di antara penduduk lokal untuk melawan penindasan.

– Nilai perjuangannya mencakup semangat kebebasan, keadilan, dan pengabdian kepada tanah air, yang merupakan landasan penting bagi kemerdekaan Indonesia.

Peran dan Kontribusi perang Banjar:Pangeran Mangkubumi Pangeran Ratu Anom Wirakusuma II Wali Sultan Banjar 1857-1862:

– Pangeran Mangkubumi Pangeran Ratu Anom Wirakusuma II Wali Sultan Banjar 1857-1862 adalah simbol perlawanan bangsawan terhadap penjajah Belanda, dan layak diabadikan dalam sejarah.

– Pangeran Mangkubumi Pangeran Ratu Anom Wirakusuma II Wali Sultan Banjar 1857-1862 layak diabadikan dalam narasi sejarah karena peran dan pengaruh beliau dalam perlawanan terhadap penjajah Belanda.

– Sebagai tokoh aristokrat, beliau memberikan inspirasi dan dukungan bagi masyarakat untuk berjuang demi kemerdekaan.beliau memberikan inspirasi dan kepemimpinan yang kritis dalam memobilisasi masyarakat untuk perlawanan, menunjukkan pengorbanan dan keteguhan yang luar biasa.

– Kontribusi beliau tidak hanya terbatas pada aspek militer, tetapi juga dalam memperkuat identitas lokal dan membangun kesadaran nasional, dalam memperkuat kesadaran nasional dan semangat persatuan di antara bangsa Indonesia.

– Nilai perjuangan beliau mencakup semangat patriotisme, kepemimpinan yang adil, dan semangat untuk mencapai kemerdekaan serta keadilan bagi semua rakyat Indonesia.

– Wali Sultan Banjar 1857- 1862 Pangeran Wirakusuma Pangeran Ratu Abdurrahman adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah Banjar, sebuah kerajaan di Kalimantan Selatan, Indonesia. Dia dikenal sebagai pejuang yang gigih dalam Perang Banjar pada abad ke-19. Pada masa itu, kerajaan Banjar berada dalam situasi konflik yang intens dengan Belanda yang ingin menguasai wilayah tersebut.

– Wali Sultan Banjar 1857- 1862 Pangeran Wirakusuma Pangeran Ratu Abdurrahman merupakan salah satu pemimpin militer yang berani dan berbakat dalam mengorganisir pertahanan Banjar.Dia memimpin pasukan Banjar dalam pertempuran melawan pasukan kolonial Belanda. Meskipun menghadapi tekanan dan tantangan yang besar, Wali Sultan Banjar 1857- 1862 Pangeran Wirakusuma Pangeran Ratu Abdurrahman bersama dengan pejuang-pejuang Banjar lainnya berusaha keras untuk mempertahankan kedaulatan dan kebebasan tanah air mereka.

– Perjuangan Wali Sultan Banjar 1857- 1862 Pangeran Wirakusuma Pangeran Ratu Abdurrahman dan para pejuang Banjar lainnya dalam Perang Banjar memperlihatkan semangat dan tekad yang kuat untuk melawan penjajahan dan menjaga kemerdekaan wilayah mereka. perjuangan mereka tetap diingat sebagai bagian dari sejarah dan warisan perlawanan terhadap penjajahan.

– Wali Sultan Banjar 1857- 1862 Pangeran Wirakusuma Pangeran Ratu Abdurrahman adalah seorang tokoh penting dalam sejarah Banjar, sebuah kerajaan di Kalimantan Selatan, Indonesia. Pada tanggal 3 Maret 1862, Wali Sultan Banjar 1857- 1862 Pangeran Wirakusuma Pangeran Ratu Abdurrahman diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda ke Cianjur, Jawa Barat. Ini merupakan bagian dari upaya Belanda untuk mengendalikan dan mengurangi pengaruh para pemimpin lokal yang dianggap sebagai ancaman terhadap kekuasaan kolonial mereka.

– Wali Sultan Banjar 1857- 1862 Pangeran Wirakusuma Pangeran Ratu Abdurrahman diasingkan 3 maret 1862 karena peran serta aktifnya dalam perlawanan terhadap kekuasaan Belanda di Banjar. Sebagai seorang wali dan tokoh terkemuka di Banjar, ia memimpin perlawanan terhadap upaya-upaya Belanda untuk menguasai wilayah tersebut. Namun, upaya-upaya tersebut tidak berhasil, dan akhirnya Belanda mengambil tindakan keras dengan mengasingkan Pangeran Wirakusuma ke Cianjur.

– Meskipun diasingkan, Wali Sultan Banjar wafat 6 juni 1901 Pangeran Wirakusuma Pangeran Ratu Abdurrahman tetap mempertahankan semangat perlawanan dan tekadnya untuk melawan penjajahan Belanda. Meskipun terpisah dari tanah airnya, warisannya sebagai pejuang dan pembela kemerdekaan Banjar tetap dikenang dan dihormati oleh masyarakat setempat. Peristiwa pengasingan ini merupakan bagian penting dari sejarah perlawanan terhadap penjajahan Belanda di Kalimantan Selatan.

Pangeran Mangkubumi Pangeran Ratu Anom Wirakusuma II: adalah Putra Raja Pangeran Ratu Abdurrahman bin Sultan Adam Bin Sultan Sulaiman rahmatulah bin sultan Tahmidulah II KESULTANAN BANJAR kalimantan selatan indonesia

Lebih dari itu, Pangeran Wirakusuma juga menjadi motivator dan inspirator bagi pasukannya. Dengan kata-kata yang penuh semangat, beliau mampu menggerakkan hati dan jiwa para prajuritnya, membangkitkan semangat perjuangan dalam diri mereka. Bersama-sama, mereka siap menghadapi segala rintangan demi melindungi tanah air mereka.

Di setiap pertempuran, Pangeran Wirakusuma selalu berada di garis depan, memimpin pasukannya dengan keberanian dan keteguhan hati. Kepahlawanan mereka dalam menghadapi musuh yang kuat dan keberanian mereka dalam menghadapi tantangan menjadi inspirasi bagi generasi selanjutnya.

Pengaruh Pangeran Wirakusuma tidak hanya dirasakan oleh masyarakat Banjar, tetapi juga meluas ke seluruh Indonesia. Namanya diabadikan sebagai simbol kepahlawanan dan keteguhan dalam menghadapi penjajah, menginspirasi banyak orang untuk meneladani semangatnya dalam menjaga dan mempertahankan tanah air. Warisannya dalam mempertahankan kemerdekaan dan memperjuangkan keadilan terus mengilhami generasi-generasi berikutnya.

Kisah perjuangan dan pengaruh Pangeran Wirakusuma tetap hidup dalam sejarah Banjar dan Indonesia secara keseluruhan. Namanya terukir sebagai pahlawan yang tidak hanya berani dalam pertempuran, tetapi juga mampu membawa perubahan positif dalam masyarakat dan memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi. Sebagai pahlawan sejati dan simbol perlawanan terhadap penjajah, Pangeran Wirakusuma akan selalu dihormati dan diingat sebagai teladan bagi kita semua.

Beberapa situs bersejarah yang masih ada dan terkait dengan Kerajaan Banjar antara lain:

  1. Istana Kesultanan Banjar: Istana ini merupakan kediaman resmi Sultan Banjar dan pusat pemerintahan kerajaan. Saat ini, beberapa bekas bangunan istana telah direstorasi dan dijadikan objek wisata sejarah.
  2. Makam Kesultanan Banjar: Makam-makam para sultan dan tokoh penting kerajaan Banjar dapat ditemukan di beberapa lokasi di sekitar Banjarmasin. Makam-makam ini sering menjadi tempat ziarah dan menjadi peninggalan sejarah yang penting.
  3. Museum Wasaka & Lambung Mangkurat: Museum Wasaka di Banjarmasin merupakan tempat yang menyimpan berbagai artefak dan benda bersejarah terkait dengan Kerajaan Banjar, seperti pakaian adat, peralatan kerajaan, dan dokumen-dokumen sejarah.
  4. Situs-situs Arkeologi: Beberapa situs arkeologi di sekitar Kalimantan Selatan juga telah mengungkapkan peninggalan sejarah Kerajaan Banjar, seperti artefak-artefak tembikar dan struktur bangunan kuno.

Meskipun banyak peninggalan sejarah yang masih dapat ditemukan, beberapa di antaranya mungkin telah terkubur atau rusak karena faktor alam atau aktivitas manusia. Namun, upaya pelestarian dan pemulihan terus dilakukan untuk menjaga warisan bersejarah ini agar tetap dapat dinikmati dan dipelajari oleh generasi mendatang.

Pangeran Mangkubumi Pangeran Ratu Anom Wirakusuma II, lahir pada tanggal 19 Agustus 1822, adalah wali sultan Banjar yang menjadi kepala pemerintahan berkuasa. Beliau memerintah dari tanggal 3 November 1857 hingga 3 Maret 1862, dan wafat pada tanggal 6 Juni 1901. Beliau diakui sebagai Pahlawan Banjar Kalimantan Selatan.Peran Pangeran Wirakusuma dalam Perang Banjar sangatlah penting. Pada masa-masa awal perang melawan penjajah Belanda, beliau muncul sebagai tokoh utama yang memimpin perlawanan.

Sebagai Wali Sultan Banjar Kerajaan Banjar, beliau memiliki tanggung jawab besar untuk melindungi kedaulatan tanah airnya. Pangeran Wirakusuma tidak hanya menjadi pemimpin, tetapi juga seorang strategis yang ulung. Beliau merancang strategi perang yang cerdas, memanfaatkan pengetahuannya tentang medan dan kekuatan musuh untuk merencanakan serangan yang efektif.
Dengan mengakui dan mengabadikan peran serta kontribusi beliau, kita dapat memastikan bahwa warisan mereka tetap hidup dan dihargai oleh generasi mendatang, serta memberikan inspirasi bagi perjuangan masa depan.

SejarahKerajaanBanjar #WarisanBudaya

KesultananBanjar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai