LAMBUNG MANGKURAT

PERANAN LAMBUNG MANGKURAT
DALAM MEMBANGUN KERAJAAN NEGARA DIPA
DI KALIMANTAN SELATAN

Dari Negeri Keling ke Hujung Tanah
Dalam buku Negara Kertagama disebutkan bahwa di Jawa Timur terdapat suatu daerah bernama Keling, yang pada saat itu berada dibawah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Sebagai daerah kekuasaan Majapahit maka negeri ini tentunya mempunyai kewajiban menyampaikan upeti kepada raja Majapahit. Adanya kewajiban yang dirasakan memberatkan itulah menyebabkan penduduk negeri kecil ini tidak merasa tenteram. Usaha kaum pedagang umumnya sudah tidak menguntungkan lagi. Hal inilah yang menyebabkan seorang saudagar yang sudah berusia lanjut di negeri Keling ini, bernama Mangkubumi dan isterinya Sitira pada suatu hari berwasiat kepada anaknya yang bernama Empu Jatmika. Dalam wasiatnya itu Mangkubumi mengatakan bahwa apabila ia meninggal nanti supaya Empu Jatmika beserta isteri, anak-anak dan pengikutnya meninggalkan negeri Keling ini berpindah mencari suatu tempat kediaman yang tanahnya panas dan wangi baunya.

Demikianlah ketika peristiwa kematian orang tuanya tersebut telah berlalu, Empu Jatmika bersama keluarga dan sejumlah pengiringnya meninggalkan negeri Keling di daerah Jawa Timur sesuai wasiat orang tuanya. Pelayaran ke utara untuk mencari negeri yang tanahnya panas dan berbau wangi tersebut dipimpin sendiri oleh Empu Jatmika dengan menggunakan kapal layar bernama Prabayaksa dan beberapa buah kapal layar lainnya. Peristiwa ini terjadi pada masa pemerintahan raja Majapahit terakhir.

Setelah berlayar lama mengarungi lautan, rombongan kapal layar yang dipimpin oleh Mpu Jatmika tersebut akhirnya sampai di Pulau Hujung Tanah. Rombongan kemudian memasuki muara sungai Barito. Mengingat bahwa sesuai dengan pesan orang tuanya untuk mencari lokasi yang tanahnya panas dan berbau wangi, Empu Jatmika yang memperhatikan keadaan tanah di sepanjang tepi Sungai Barito tersebut merupakan rawa-rawa yang senantiasa digenangi air, sehingga selama beberapa hari mereka harus meneruskan pelayarannya menuju ke daerah hulu sungai tersebut. Karena setelah lama berlayar belum juga menemui lokasi tepi sungai yang bebas dari rawa, akhirnya mereka mencoba membelok menyusuri anak Sungai Barito yang kemudian dikenal sebagai Sungai Negara. Dengan harapan agar segera mendapatkan lokasi sesuai dengan petunjuk orang tuanya, yakni tanah yang panas dan berbau harum, yang ditafsirkan sebagai daerah yang tanahnya subur.

Demikianlah ketika rombongan sampai pada lokasi yang menjadi pertemuan anatara Sungai Negara dan Sungai Balangan, konon Empu Jatmika dan rombongannya memutuskan untuk bermukim di sekitar daerah tersebut. Dibawah pimpinan Empu Jatmika mereka mulai membuka hutan di daerah tersebut. Selanjutnya mereka kemudian mendirikan tempat tinggal (astana) dengan balairung dan pengadapan serta beberapa buah rumah perbendaharaan. Bahkan sebagai kelompok yang berasal dari masyarakat beragama Hindu, mereka juga mendirikan sebuah candi yang kemudian disebut Candi Agung. Candi ini untuk tempat menyelenggarakan upacara-upacara yang berkaitan dengan kepercayaan yang dianut di daerah asalnya.

Tempat pemukiman keluarga Empu Jatmika tersebut sekarang terdapat di lokasi Sungai Malang, di pinggiran kota Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara Kalimantan Selatan. Pemukiman tersebut seperti diceriterakan dalam buku Hikayat Lambung Mangkurat, kemudian terus berkembang dan bertambah luas karena makin ramainya perdagangan dengan datangnya pedagang-pedagang dari Jawa maupun pedagang-pedagang dari Tanah Melayu.

Negeri baru yang tadinya dibangun oleh Empu Jatmika beserta pengikut-pengikutnya tersebut kemudian diberi nama Negara Dipa, dan Empu Jatmika sendiri kemudian bergelar Maharaja di Candi. Diceriterakan bahwa oleh karena Mpu Jatmika takut “ketulahan” (kualat) bergelar Maharaja di Candi, sebab ia bukan keturunan raja, maka ia memerintahkan kepada pembantu-pembantunya untuk membikin patung dari kayu cendana dan patung itu ditaruhnya di dalam candi untuk dipuja sebagai ganti raja di negeri Negara Dipa tersebut.

Bersamaan dengan itu pula beberapa daerah di sekitarnya seperti daerah Batang Tabalong, Batang Balangan, Batang Alai, Batang Hamandit dan Labuan Amas, telah melakukan hubungan dengan Negara Dipa.

Diceriterakan juga bahwa dalam mengatur negeri, Empu Jatmika memakai adat istiadat yang berlaku di Kerajaan Majapahit. Selain itu Empu Jatmika juga kemudian menyuruh beberapa pengikutnya untuk kembali ke Negeri Keling guna mengambil harta benda milik keluarganya yang masih ketinggalan di negerinya.

Sementara itu ketika Patung Kayu Cendana yang diletakkan di dalam Candi Agung sebagai perlambang raja di negeri Negara Dipa tersebut telah lapuk, maka untuk menggantikannya Empu Jatmika memesan sebuah patung “gangsa” bikinan orang Cina. Patung itupun kemudian diantarkan sendiri oleh utusan dari Tiongkok ke Negara Dipa.

Lambung Mangkurat membangun kerajaan
Setelah beberapa tahun memimpin masyarakat yang dibangunnya tersebut, Empu Jatmika di akhir usianya sempat berpesan kepada kedua anaknya yang bernama Empu Mandastana dan Lambung Mangkurat. Ia mengingatkan kepada kedua anaknya bahwa apabila ia meninggal nanti supaya patung gangsa yang ditempatkan di dalam Candi Agung itu supaya dibuang ke laut, dan anaknya berdua agar pergi bertapa memohon kepada Dewa Batara supaya menunjukkan seorang raja untuk bertahta di Negara Dipa dan negeri-negeri sekitarnya. Diingatkan pula oleh Empu Jatmika bahwa jangan sekali-kali keduanya mengangkat diri sebagai raja, karena keluarga mereka bukan turunan raja,

Demikianlah setelah Empu Jatmika meninggal kedua anaknya tersebut melakukan apa yang dipesankan orang tuanya. Sementara untuk mencari petunjuk Dewa Batara guna menemukan raja bagi negeri Negara Dipa, Empu Mandastana melakukan pertapaan di darat sedangkan Lambung Mangkurat melakukan pertapaan di atas air. Dua tahun lamanya mereka melakukan pertapaan namun tidak juga mendapatkan petunjuk apa-apa.

Dalam keadaan putus asa tersebut pada suatu malam Lambung Mangkurat bermimpi, di mana ayahnya mmenyuruh ia membuat rakit yang dihiasi mayang pinang. Agar ia (Lambung Mangkurat) duduk di rakit tersebut yang dihayutkan di sungai pada waktu malam hari. Nanti ia akan bertemu dengan seorang putri yang akan menjadi raja di Negara Dipa.

Dari petunjuk mimpi itu Lambung Mangkurat memang kemudian menemukan seorang putri, yang kemudian terkenal dengan nama Putri Junjung Buih (Tunjung Buih), karena ia ditemukan di “ulak” sungai (bagian sungai yang arusnya berputar) sehingga menimbulkan buih. Setelah Lambung Mangkurat berdialog dengan putri tersebut, dan setelah segala permintaan putri termasuk upacara dalam rangka penyambutannya di istana dipenuhi oleh Lambung Mangkurat, putri tersebut bersedia dibawa ke istana Negara Dipa.

Kehadiran Putri Junjung Buih yang disiapkan untuk menjadi raja di Negara Dipa ternyata meragukan bagi Lambung Mangkurat. Kehawatiran Lambung Mangkurat tersebut karena kedua kedua keponakannya yang bernama Patmaraga dan Sukmaraga (putra Mpu Mandastana) telah saling jatuh cinta dengan Putri Junjung Buih. Dimana apabila terjadi perkawinan dengan salah satu keponakannya dengan putri tersebut, berarti kekuasaan sebagai raja di Negara Dipa masih ada sangkut-pautnya dengan keturunan Empu Jatmika, orang tuanya. Sehubungan dengan itulah kemudian terjadi peristiwa berdarah, yakni dengan dalih mengajak kedua keponakannya naik perahu pergi “melunta” (menjala ikan) Lambung Mangkurat membunuh Sukmaraga dan Patmaraga keponakannya sendiri.

Dari perkawinan Lambung Mangkurat dengan Diang Dipraja tersebut kemudian lahir seorang anak perempuan yang diberi nama Putri Kuripan (Putri Kabuwaringin). Sesuai dengan maksud semula maka ketika putri ini cukup usianya, ia dikawinkan dengan raja Surya Ganggawangsa. Dan dari perkawinan mereka ini selanjutnya lahir seorang perempuan yang bernama Putri Kalarangsari. Tidak disebutkan dalam Hikayat Lambung Mangkurat siapa yang menjadi suami Putri Kalarangsari, namun tercatat bahwa ia mempunyai seorang anak yang bernama Putri Kalungsu. Disebutkan bahwa Putri Kalungsu lah yang kemudian menggantikan Surya Ganggawangsa sebagai raja di Negara Dipa. Demikian pula dikatakan bahwa pada masa pemerintahan Putri Kalungsu tersebut jabatan Patih di Kerajaan Negara Dipa masih dipegang oleh Lambung Mangkurat.

Masa sesudah Lambung Mangkurat
Dalam silsilah Lambung Mangkurat terlihat bahwa Putri Kalungsu bersuamikan seorang pria sepupu ibunya bernama Raden Carang Lalean, yakni anak Suryawangsa (saudara Surya Ganggawangsa). Dari perkawinan Putri Kalungsu dengan Raden Carang Lalean inilah kemudian lahir seorang putra mahkota bernama Raden Sekar Sungsang, yang kemudian setelah naik tahta menggantikan ibunya dikenal pula dengan nama Maharaja Sari Kaburungan. Disebutkan juga bahwa pada masa pemerintahan Sekar Sungsang inilah pusat kerajaan dipindahkan ke daerah selatan, yang kemudian dikenal dengan nama Kerajaan Negara Daha. Sementara itu Putri Kalungsu sendiri memilih tidak ikut pindah ke lokasi baru tersebut. Ia tetap tinggal di Negara Dipa sampai dengan akhir hayatnya.

Demikianlah Kerajaan Banjar berlangsung, yang kemudian berakhir dengan pecahnya Perang Banjar melawan Kolonial Belanda, yang dimulai dengan penyerangan Benteng Pengaron (daerah tambang batu bara Oranye Nassau milik Belanda) pada tanggal 28 April 1859 di bawah pimpinan Pangeran Antasari. Wafatnya Pangeran Antasari pada tahun 1862 dan diasingkannya Pangeran Hidayatullah ke Cianjur (Jawa Barat) tidak memadamkan perlawanan rakyat terhadap Belanda. Perang Banjar terus berlangsung dibawah pimpinan anak-anak Pangeran Antasari, seperti Mohammad Said yang memimpin perlawanan di daerah Hulu Sungai (Benua Lima) dan Mohammad Seman yang memusatkan perlawanannya di daerah Muara Tewe (Kalimat

Demikian pula halnya dengan Patih Lambung Mangkurat, tidak lama setelah perpindahan pusat kerajaan tersebut, ia pun juga meninggal dunia. Untuk menggantikannya sebagai Patih Kerajaan Negara Daha kemudian diangkat Patih Aria Taranggana, seorang yang cerdik dan bijaksana.
Periode Negara Daha ini hanya berlangsung selama dua masa pemerintahan, yakni pemerintahan Raden Sekar Sungsang (Maharaja Sari Kaburungan) dan pemerintahan putranya yang bernama Maharaja Sukarama. Disebutkan dalam Hikayat Lambung Mangkurat bahwa setelah Maharaja Sukarama meninggal dunia terjadi perebutan tahta kerajaan antara anak-anaknya.

Peristiwa kekacawan di Kerajaan Negara Daha sepeninggal Sukarama tersebut, sekaligus merupakan proses lahirnya Kerajaan Banjar, sebuah kerajaan besar di daerah Kalimantan Selatan. Diceritakan bahwa Maharaja Sukarama mempunyai seorang cucu yang bernama Raden Samudera. Raden Samudera pewaris darah murni dari Maharaja Sari Kaburungan pendiri Kerajaan Negara Daha, karena ia cucu dari dari kedua putranya, yakni cucu dari Maharaja Sukarama dan Raden Suryawangsa. Yakni Maharaja Sukarama mempunyai anak perempuan bernama Putri Galuh yang kawin dengan putra dari Raden Suryawangsa yang bernama Mantri Alu. Dari perkawinan Putri Galuh dan Mantri Alu itulah lahir Raden Samudera. Karena Mantri Alu ayahnya meninggal ketika ia masih belum dewasa, maka Raden Samudera bersama ibunya tinggal di istana bersama Maharaja Sukarama kakeknya.

Sebenarnya Maharaja Sukarama sendiri juga mempunyai dua orang anak laki-laki masing-masing bernama Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Tumenggung. Tetapi karena melihat kepribadian Raden Samudera yang melebihi dari kepribadian kedua putranya, maka Maharaja Sukarama mewasiatkan kepada Patih Aria Taranggana bahwa apabila ia meninggal maka nanti yang menggantikannya adalah cucunya yang bernama Raden Samudera. Wasiat tersebut lambat laun akhirnya sampai juga beritanya kepada anak-anak Maharaja Sukarama. Karena itulah tidak berapa lama setelah Maharaja Sukarama wafat terjadi kekacawan di istana Kerajaan Negara Daha. Melihat keadaan tersebut maka demi keselamatan jiwa Raden Samudera, Patih Aria Taranggana menasihatkan kepadanya agar sesegeranya meninggalkan istana. Sehubungan dengan itulah Raden Samudera kemudian secara diam-diam pergi meninggalkan istana, untuk kemudian hidup “menyungaian” (tinggal dalam sebuah perahu) menyamar sebagai seorang nelayan di daerah muara Sungai Martapura.

Sementara itu di Kerajaan Negara Daha terjadi perebutan kekuasaan antara Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Tumenggung. Dengan menghilangnya Raden Samudera sebagai putra mahkota sebagaimana wasiat Maharaja Sukarama, maka pewaris kerajaan jatuh kepada Pangeran Mangkubumi sebagai anak tertua. Tetapi adiknya yang bernama Pangeran Tumenggung, yang haus kekuasaan kemudian membunuh kakaknya untuk selanjutnya menduduki tahta Kerajaan Negara Daha.

Peristiwa terjadinya kekacauan dan perebutan kekuasaan di pusat Kerajaan Negara Daha tersebut menambah keyakinan rakyat Negara Daha mengapa Sukarama pada akhir masa hidupnya mewasiatkan agar yang menggantikannya adalah Raden Samudera. Karena itulah ketika tersiar kabar bahwa Raden Samudera telah meninggalkan istana dan hidup menyamar sebagai seorang nelayan, para pemuka masyarakat di daerah muara Sungai Martapura berusaha menemukan putra mahkota kerajaan yang menyamar tersebut. Usaha pencarian akhirnya juga berhasil menemukan seorang pemuda yang diduga sebagai Raden Samudera. Semula yang bersangkutan tidak mengakui bahwa dirinya adalah putra mahkota. Tetapi setelah dijelaskan bahwa mereka adalah pemuka-pemuka masyarakat yang akan menyelamatkannya, akhirnya yang bersangkutan mengakui bahwa dirinya adalah Raden Samudera.

Setelah diyakini benar bahwa yang bersangkutan adalah Raden Samudera yang berhak mewarisi Kerajaan Negara Daha, maka dibawah pimpinan Patih Masih (patihnya kelompok orang Melayu di daerah tersebut) bersama-sama para patih kelompok lainnya, kemudian menobatkan Raden Samudera sebagai Sultan (raja) yang sah. Tindakan para Patih tersebut menimbulkan reaksi dari Pangeran Tumenggung, sehingga pecah perang antara rakyat pengikut Pangeran Tumenggung dengan rakyat pengikut Raden Samudera. Demikianlah terjadi peperangan beberapa lama dan banyak jatuh korban di kedua belah pihak, dan bahkan Raden Samudera atas usaha Patih Masih telah mendapatkan bantuan tentara dari Kerajaan Demak di Jawa Tengah. Namun pertentangan ini kemudian berakhir dengan kesedian Pangeran Tumenggung untuk menyerahkan Kerajaan Negara Daha kepada Raden Samudera, keponakannya sendiri, setelah keduanya dipertemukan di atas dua buah perahu telangkasan di muara Sungai Martapura. Acara perang tanding antara Raden Samudera dan Pangeran Tumenggung yang merupakan kesepakatan antara Patih Masih dan Patih Aria Taranggana ini bertujuan untuk mengakhiri perang karena sudah terlalu banyak rakyat yang tewas sementara perang tak kunjung selesai. Namun ketika kedua Pangeran yang sudah siap dengan senjata berdiri di depan perahu yang masing-masing dikayuh di belakangnya oleh Patih Masih dan Patih Aria Taranggana tersebut bertemu, Raden Samudera berucap menyilahkan pamannya untuk membunuhnya, “silahkan pamanku tombak”, dan mendengar kata-kata itu Pangeran Tumenggung malah memeluk Raden Samudera. Pangeran Tumenggung dengan sukarela menyerahkan keraajan kepada keponakanya. Walaupun kemudian perangkat kerajaan di serahkan untuk di bawa ke daerah Banjar, Raden Samudera masih memberikan kekuasaan kepada Pangeran Tumenggung untuk mengatur rakyatnya di Negara Daha.

Dengan demikian lahirlah Kerajaan Banjar dan sebagai raja pertamanya adalah Raden Samudera, yang setelah memeluk agama Islam sesuai perjanjian dan permintaan Sultan Demak, dia bernama Sultan Suriansyah. Disebutkan bahwa Sultan Suriansyah memerintah sekitar tahun 1526 – 1550. Pusat Kerajaan Banjar terdapat di Kampung Kuin sekarang, dimana terdapat makam beliau besarta anak dan cucunya yang manggantikannya.
Pusat Kerajaan Banjar kemudian dipindahkan ke daerah Martapura (Teluk Selong) oleh raja Banjar yang keempat Mustakim Billah, karena pada waktu itu sudah terjadi kontak perang dengan Belanda yang telah sampai di Banjarmasin.

Demikianlah Kerajaan Banjar berlangsung, yang kemudian berakhir dengan pecahnya Perang Banjar melawan Kolonial Belanda, yang dimulai dengan penyerangan Benteng Pengaron (daerah tambang batu bara Oranye Nassau milik Belanda) pada tanggal 28 April 1859 di bawah pimpinan Pangeran Antasari. Wafatnya Pangeran Antasari pada tahun 1862 dan diasingkannya Pangeran Hidayatullah ke Cianjur (Jawa Barat) tidak memadamkan perlawanan rakyat terhadap Belanda. Perang Banjar terus berlangsung dibawah pimpinan anak-anak Pangeran Antasari, seperti Mohammad Said yang memimpin perlawanan di daerah Hulu Sungai (Benua Lima) dan Mohammad Seman yang memusatkan perlawanannya di daerah Muara Tewe (Kalimatan Tengah sekarang), perlawanan berlangsung hingga meninggalnya tahun 1905.-

Struktur Pemerintahan

Penjelasan Struktur Pemerintahan Kerajaan Banjar

Berikut adalah struktur kekuasaan di Kerajaan Banjar.

https://googleads.g.doubleclick.net/pagead/ads?client=ca-pub-5887376731438631&output=html&h=300&slotname=8623130820&adk=3424927142&adf=2735731426&pi=t.ma~as.8623130820&w=360&lmt=1708870310&rafmt=1&format=360×300&url=https%3A%2F%2Fwww.selasar.com%2Fkerajaan%2Fbanjar%2F&fwr=1&fwrattr=true&rpe=1&resp_fmts=3&sfro=1&wgl=1&uach=WyJBbmRyb2lkIiwiMTEuMC4wIiwiIiwidml2byAyMDA3IiwiMTIyLjAuNjI2MS42NCIsbnVsbCwxLG51bGwsIiIsW1siQ2hyb21pdW0iLCIxMjIuMC42MjYxLjY0Il0sWyJOb3QoQTpCcmFuZCIsIjI0LjAuMC4wIl0sWyJHb29nbGUgQ2hyb21lIiwiMTIyLjAuNjI2MS42NCJdXSwwXQ..&dt=1708869942143&bpp=41&bdt=474&idt=1007&shv=r20240221&mjsv=m202402210101&ptt=9&saldr=aa&abxe=1&cookie=ID%3Dc7672c12b76c6ab6%3AT%3D1708869793%3ART%3D1708869793%3AS%3DALNI_MaN7nB-00xyfRSIn4KDtb_UI5zlJA&gpic=UID%3D00000d1502174882%3AT%3D1708869793%3ART%3D1708869793%3AS%3DALNI_MbYG3zpSL9xa-wPfKnqJP6SNZxXow&eo_id_str=ID%3D0cb51be342b2d9b6%3AT%3D1708869793%3ART%3D1708869793%3AS%3DAA-AfjaApiTqRjc-pUUMeEd3Dfcz&prev_fmts=0x0%2C360x300%2C360x300%2C360x300%2C360x90&nras=2&correlator=130517824076&frm=20&pv=1&ga_vid=354905333.1708869792&ga_sid=1708869943&ga_hid=218459706&ga_fc=1&ga_cid=1985153007.1708869792&u_tz=420&u_his=1&u_h=772&u_w=360&u_ah=772&u_aw=360&u_cd=24&u_sd=2&dmc=2&adx=0&ady=12544&biw=360&bih=642&scr_x=0&scr_y=7496&eid=44759875%2C44759926%2C95323741%2C95325066%2C31081331%2C95324155%2C95324161%2C31078663%2C31078665%2C31078668%2C31078670&oid=2&psts=AOrYGsm6YKSBXM_pRoE9h0cYJfkyu3U4peYwTzLP1x7x3D3yHC9YvhQnjZrB8F4YWdjQpnSIPefHVLOCFQI1bS7L26bx%2CAOrYGsklKPhEyiA1ffeCSNsAZXRp_h6VSUHzvVPrD5btr_0OXsDGCVM0aq9yEzYaVywJwNA0W4Uq7lJAcMaFUh8DBFSc2p4Ql2P0dMtytpogfJykQx0&pvsid=241917724164166&tmod=1236998061&uas=1&nvt=1&ref=https%3A%2F%2Fwww.google.com%2F&fc=1920&brdim=0%2C0%2C0%2C0%2C360%2C0%2C360%2C702%2C370%2C721&vis=1&rsz=%7C%7CeEbr%7C&abl=CS&pfx=0&fu=1152&bc=31&bz=0.97&td=1&psd=W251bGwsbnVsbCxudWxsLDFd&nt=1&ifi=5&uci=a!5&btvi=4&fsb=1&dtd=M

  • Sultan: memegang kekuasaan paling tinggi, yang mengambil peran dalam sektor politik dan agama.
  • Sultan Muta (putera mahkota): bertugas untuk membantu sultan.
  • Lembaga Dewan Mahkota: dewan penasihat, yang diisi bangsawan dan mangkubumi saja.
  • Mangkubumi: bertugasl untuk mengendalikan jalannya roda pemerintahan.

Di dalam istana, terdapat beberapa pejabat yang berkerja, yani sebagai berikut.

  • Sarabraja, yang membawahi 50 orang Sarawisa, bertugas untuk menjaga istana.
  • Raksayuda, yang membawahi 50 orang Mandung, bertugas untuk menjaga istana Bangsal.
  • Sarayuda, yang membawahi 40 orang Menagarsasri, bertugas mengawal raja.
  • Singataka dan Singapati, yang membawahi 40 orang Parawila/Singabana, bertugas sebagai polisi.
  • Saradipa, yang membawahi 40 orang Sarageni, bertugas menjaga persenjataan.
  • Puspawan, yang membawahi 40 orang Tuha Buru, bertugas mengawal raja saat berburu.
  • Rasawija, yang mmebawahi 50 Paramakan/Pangadapan, melaksanakan berbagai tugas dalam istana.

Aspek Kehidupan

A. Bidang Ekonomi

Perkembangan Kehidupan Ekonomi Kerajaan Banjar
idntimes.com

Kehidupan ekonomi Kerajaan Banjar mulai berkembang pesat saat memasuki abad ke-16 hingga ke-17 Masehi.

Banjarmasin, yang menjadi pusat kerajaan, menjadi kota dagang yang besar, yang memberi dampak bagi kesejahteraan masyarakat.

Hal ini semakin menguat disebabkan posisi Kalimantan Selatan yang sangat strategis dalam jalur perdagangan.

Komoditas utama yang dihasilkan adalah berupa tanaman lada, yang bahkan bisa diekspor ke luar negeri.

Memasuki abad ke-17 Masehi, Kerajaan Banjar dikenal juga dengan produksi kapal dan senjatanya, seperti kapak, golok, cangkul, dan sebagainya.

Efeknya, kemajuan dalam bidang industri ini juga meningkatkan kemajuan dalam sektor pertukangan.

B. Bidang Politik

Perkembangan Kehidupan Politik Kerajaan Banjar
sejarahlengkap

Pemerintahan Kerajaan Banjar sangat dipengaruhi oleh Kerajaan Demak.

Hal ini tidak lepas dari fakta sejarah, di mana berdirinya Kerajaan Banjar juga berkaitan dengan bantuan Kerajaan Demak.

Bedanya, kekuasaan sultan di Kerajaan Banjar, tidak seabsolut kekuasaan para raja di Pulau Jawa.

Kekuasaan sultan sangat dipengaruhi oleh faktor kekayaan, sehingga pemerintahannya berbentuk aristokratis.

Para bangsawan sangat berkuasa di sini, dan kedudukan sultan hanya disimbolkan sebaga pemersatu bangsa.

C. Bidang Keagamaan

Perkembangan Kehidupan Agama Kerajaan Banjar

Agama resmi yang dipeluk oleh Kerajaan Banjar adalah Agama Islam.

Hal ini menjadikan kedudukan ulama, mendapatkan posisi yang terhormat di dalam kalangan kerajaan.

Meskipun begitu, hukum Islam bukanlah sumber peraturan yang di pakai dalam pemerintahan.

Sebab, tidak terdapat ulama yang mumpuni untuk mendampingi Sultan dalam mengawal ketetapan hukum kerajaan ini.

D. Bidang Sosial Dan Budaya

Perkembangan Kehidupan Sosial Budaya Kerajaan Banjar
wikiwand.com

Masyarakat yang hidup di Kerajaan Banjar berasal dari etnis Suku Ngaju (Banjar Muara), Suku Bukit (Banjar Hulu), dan Suku Maanyan (Banjar Batang Banyu).

Dalam kehidupan sosialnya, masyarakat Kerajaan Banjar terbagi menjadi 3 golongan.

  • Golongan atas: diisi oleh bangsawan serta para keluarga raja, yang merupakan kelompok minoritas dengan kemudahan hidup.
  • Golongan tengah: diisi cedekiawan dan ulama, yang bertugas untuk mengurus masalah hukum dan agama kerajaan.
  • Lapisan bawah: diisi pedagang, petani, dan nelayan, yeng mrupakan kelompk paling besar di Kerajaan Banjar

Kejayaan Kerajaan Banjar

Sejarah Kejayaan Kerajaan Banjar
taldebrooklyn.com

Kerajaan Banjar mengalami perkembangan cukup pesat saat memasuki abad ke-17 Masehi, ketika lada dan rempah-rempah yang dihasilkannya sangat berlimpah.

Selain itu, perluasan wilayah pun juga bisa dilakukan ke berbagai daerah di Pulau Jawa, seperti Madura dan Surabaya.

Pada era kekuasaan Sultan Agung, banyak juga bandar pelabuhan di Jawa yang dijatuhkan, sehingga mempermudah langkan penaklukkan selanjutnya.

Kekuatan militer Kerajaan Banjar pada masa itu cukup kuat.

Hingga mereka berani melawan serangan Belanda, dengan persenjataannya yang lebih modern.

Proses penaklukan demi penaklukan ini kemudian mempengaruhi kebudayaan masyarakat Banjar sendiri.

Di mana, kebudayaan Jawa kemudian melebur di tengah kehidupan warga Banjar, di samping besarnya proses migrasi rakyat Jawa ke Kalimantan.

Pada masa itu, Kerajaan Banjar merupakan kerajaan Islam terbesar di Kalimantan.

Kedudukannya kian tinggi lagi, tatkala meletus Peperangan Makassar yang dimenangkan pihak Kerajaan Banjar.

Dengan demikian, Banjarmasin berhasil merebut jalur perdagangan utama natara Pulau Jawa dan Kalimantan.

Keruntuhan

Sejarah Keruntuhan Kerajaan Banjar

Keruntuhan Kerajaan Banjar disebabkan oleh kedatangan orang-orang Belanda, yang ikut campur dalam pengelolaan kerajaan.

Awalnya, para pasukan Belanda ini datang hanya untuk mendapatkan sumber lada.

Lalu, mereka perlahan-lahan memberi bantuan demi bantuan kepada Kerajaan Banjar untuk melakukan perluasan wilayah.

Akibatnya, orang-orang Belanda pun diterima dengan baik di lingkungan istana.

Sampai akhirnya, mereka turut campur dengan urusan pemerintahan.

Hubungan sultan dan Belanda makin memanas, hingga meledaklah peperangan untuk mempertahankan wilayah di Kalimantan Selatan.

Perang tersebut kemudian dikenal dengan nama Perang Banjar, yang berlangsung selama 2 periode.

Periode pertama terjadi pada tahun 1859-1863 Masehi, sementara perang periode kedua dilakukan pada tahun 1863-1905 Masehi.

Perang yang terjadi hampir setengah abad ini, akhirnya dimenangkan oleh pihak Belanda.

Pada tahun 1905, pasukan dan rakyat Kerajaan Banjar mulai mengalami kemunduran dan kekurangan logistik pada akhir perang ini.

Sehingga menyebabkan Kerajaan Banjar jatuh kalah di hadapan Belanda.

Peninggalan

A. Candi Agung Amuntai

Foto Candi Agung Amuntai Peninggalan Kerajaan Banjar

Candi peninggalan Kerajaan Banjar ini didirikan oleh Empu Jatmika pada abad ke-16 Masehi.

Disinyalir, Candi yang berada di sekitaran Sungai Malang, Kec. Amuntai Tengah, Kab. Hulu Sungai Utara ini, adalah peninggalan Kerajaan Dipa yang hidup sezaman dengan era Kerajaan Majapahit.

Candi Agung Amuntai dibangun memakai material kayu dan batu, yang masih kokoh berdiri hingga saat ini, meski berumur 740 tahun.

Penemuannya sendiri, terjadi pada saat dilakukan penggalian sejarah di Kota Amuntai tahun 1967.

Penggalian ini berlokasi di dekat Gunung Candi (Bukit Candi) pada bagian bawah.

Kawasan candi ini mempunyai luas tidak terlalu besar, yakni 50×40 meter saja.

Situs peninggalan Hindu ini, kini dijadikan sebagai salah satu objek wisata serta museum sejarah.

Kawasan bersejarah yang luasnya tidak lebih dari 1 hektar ini, memiliki komplek pemandian putri, museum telaga darah, tempat pertapaan, serta Candi Agung.

B. Masjid Sultan Suriansyah

Foto Masjid Sultan Suriansyah Peninggalan Kerajaan Banjar
gontornews.com

Sesuai dengan namanya, Masjid Sultan Suriansyah merupakan sebuah bangunan masjid yang dibanguan pada tahun 1526-1550, pada era pemerintahan Sultan Suriansyah.

Masjid ini adalah salah satu masjid paling tua di Pulau Kalimantan.

Lokasinya ada di tepi Sungai Kuin, Kelurahan Kuin Utara, Banjarmasin Utara.

Jika menilik sejarah kekuasaan Kerajaan Banjar masa lalu, Masjid Sultan Suruiansyah ini berada di kawasan Banjar Lama, yang merupakan ibukota Kerajaan Banjar.

Sampai saat ini, masjid ini terlihat begitu khas dengan arsitektur tradisional, yang mendominasi bangunannya.

Uniknya, setiap mihrab yang ada dalam bangunan masjid ini, mempunyai atapnya masing-masing dan terpisah dari bangunan inti.

Silsilah Raja

Sejarah Silsilah Raja Kerajaan Banjar
Sultan suriansyah

Berikut adalah raja-raja yang pernah memerintah di Kerajaan Banjar.

1. Pangeran Samudra/Sultan Suriansyah (1526-1545 M)

Sultan Suriansyah merupakan raja pertama Kerajaan Banjar.

Beliau dikenal dengan pribadi yang cerdas dalam praktik peperangan.

Hal ini terbukti pada saat Pangeran Samudra meminta bantuan Kerajaan Demak untuk menaklukkan Kerajaan Daha, sehingga lahirlah Kerajaan Banjar.

Peninggalannya yang masih eksis hingga sekarang adalah Masjid Sultan Suriansyah, yang berada di Kota banjarmasin.

2. Sultan Rahmatullah (1545-1570 M)

Sultan Rahmatullah kemudian naik tahta, setelah Sultan Suriansyah wafat.

Tidak ada sejerah lengkap yang menerangkan era kepemimpinannya.

3. Sultan Hidayatullah (1570-1595 M)

Sultan Hidayatullah meneruskan era kepemimpinan ayahnya, Sultan Rahmatullah, setelah Beliau meninggal.

4. Sultan Mustain Billah/Marhum Penambahan/Pangeran Kecil (1595-1620 M)

Pada era kepemimpinannya, ibukota kerajaan berpindah ke Kayutangi, Martapura.

Hal ini disebabkan karena adanya serbuan yang dilakukan pihak Belanda.

5. Ratu Agung/Sultan Inayatullah (1620-1637)

Ratu Agung merupakan putra Marhum Panembahan.

Saat naik tahta, Ratu Agung bergelar Sultan Inayatullah.

6. Ratu Anum/Sultan Saidullah/Pangeran Darat (1637-1642 M)

Ratu Anum adalah putra kedua Marhum Panembahan.

Kerena kehebatannya sebagai pemimpin perang, Beliau mendapat gelar Pangeran Darat.

7. Adipati Halid (1642-1660 M)

Adipati Halid naik tahta sebagai wali sultan, sebab Amirullah, yang merupakan putra Sultan Saidullah, belum berusia dewasa.

Dilihat dari silsilah kerajaan, Adipati Halid ini merupakan paman Sultan Saidullah.

8. Amirullah Bagus Kesuma (1660-1663 M)

Setelah Amirullah cukup dewasa, kekuasaan dikembalikan lagi kepada Beliau.

Sayangnya, masa kekuasaannya hanya berlangsung selama 3 tahun, karena direbut oleh Pangeran Adipati Anum.

Pada era kepemimpinannya, ibukota kerajaan dipindahkan kembali ke Banjarmasin.

9. Pangeran Adipati Anum/Sultan Agung (1663-1679 M)

Pangeran Adipati Anum selalu didampingi Suku Biaju dan Pangeran Aria Wiraraja saat mengelola kerajaan.

10. Sultan Tahlilullah/Raja Kayu Tangi (1679-1700 M)

Pada masa kekuasaan Sultan Tahlilullah, pusat kekuasaan dipindah ke Kayu Tangi, sehingga ia dijuluki Raja Kayu Tangi.

Sultan Tahlilullah ini merebut kekuasaan dengan cara membunuh Pangeran Adipati Anum beserta anaknya.

Sehingga tidak ada lagi putra mahkota yang hidup, dan diapun mengangkat diri sebagai raja.

11. Sultan Tahmidullah/Sultan Kuning (1700-1734 M)

Sultan Tahmidullah dikenal juga sebagai Sultan Tahlilullah 2.

Beliau memiliki 2 putra mahkota, yakni Sultan Tamjidullah dan Sultan Ilhamullah, yang digadang-gadang menjadi penerusnya kelak.

12. Pangeran Tamjid/Sultan Tamjidillah (1734-1759 M)

Pangeran Tamjid memiliki gelar Panembahan Baradualam atau Sultan Sepuh.

Beliau dikenal teguh menjalankan ajaran leluhur, dengan merawat silsilah kerajaan, yakni dengan memberikan tahta kepada keturunannya para raja.

13. Pangeran Nata Dilaga/Sultan Tahmidullah (1759-1761 M)

Saat Pangeran Muhammad Aliudin belum dewasa, maka diangkatlah Wali Sultan, yakni Pangeran Nata Dilaga.

14. Pangeran Muhammad Aliuddin Aminullah (1761-1801 M)

Setelah Pangeran Muhammad Aliudin dewasa, tahta kerajaan dikembalikan kepada Beliau.

15. Sultan Suleman Al Mutamidullah (1801-1825 M)

Beliau adalah putra Sultan Tamhidullah, yang naik tahta sesudah Pangeran Muhammad Aliuddin wafat.

16. Sultan Adam Al Wasik Billah (1825-1857 M)

Sultan Adal Al Wasik sebelumnya adalah seorang bupati atau mangkubumi.

Saat naik tahta jadi sultan, posisi mangkubumi ini belum ada yang menggantikan, sehingga Beliau rangkap jabatan.

Hal tersebut membuat terjadinya kericuhan di internal kerajaan, karena sultan tidak diperbolehkan merangkap mangkubumi.

17. Pangeran Tamjidillah (1857-1859 M)

Putra Sultan Adam Al Tamsik ini, hanya berkuasa selama 2 tahun, karena berakhir akibat fitnah yang dilancarkan penjajah Belanda.

18. Pangeran Antasari/Panembahan Amir Oeddin Khalifatul Mu’mina (1859-1862 M)

Pangeran Antasari merupakan putra Pangeran Mashud.

Pada masa pemerintahannya, pusat kerajaan yang ada di Bakumpai, diperlebar hingga ke Tanah Dusun.

Dengan bantuan Tumenggung Surapati, keduanya bahu-membahu melawan pejajah Belanda.

19. Sultan Muhammad Seman (1862-1905 M)

Sultan Muhammad Seman meneruskan upaya sang ayah, Pangeran Antasari, untuk melawan penjajah Belanda.

Namun naas, Beliau gugur di medan perang pada tahun 1905.

Sehingga, berakhir pula lah riwayat Kerajaan Banjar.

ASAL USUL DAN SEJARAH KERAJAAN BANJAR

Penjelasan Sejarah dan Asal Usul Kerajaan Banjar
tribunnewswiki.com

Proses berdirinya Kerajaan Banjar, tak lepas dari pengaruh kekuasaan Kerajaan Daha.

Maharaja Sukarama, yang merupakan Raja Daha, tidak mewariskan tahta kepada anak-anaknya, yakni Pangeran Tumenggung dan Pangeran Mangkubumi.

Ia justru mewasiatkan tahta ini untuk cucunya, yakni Raden Samudra.

Hal ini tentu mendapat tentangan keras dari kedua putranya, terlebih karena Pangeran Tumenggung berambisi menjadi raja.

Setelah Maharaja Sukarama wafat, kepemimpinan diambil alih Pangeran Tumenggung, sebagai anak pertama Maharaja Sukarama.

Namun, era kekuasaannya tidak berlangsung lama, sebab ia dibunuh oleh pasukannya sendiri, yang mengadakan persekongkolan dengan Pangeran Tumenggung.

Pasca peristiwa ini, membuat Pangeran Tumenggung naik tahta, di mana pada saat itu Pangeran Samudra sendiri baru berusia 7 tahun.

Lalu Pangeran Samudra menyelamatkan diri karena ancaman yang bisa saja datang kepadanya kapan saja.

Ia menaiki sampan hingga ke muara Sungai Barito, lalu menyamar menjadi seorang nelayan di Pelabuhan Banjar.

Mendengar kabar ini, Patih Masih yang merupakan penguasa Bandar, mengajak Raden Samudra untuk tinggal di rumahnya.

Ia juga berupaya, supaya Raden Samudra kelak mendapatkan haknya untuk memimpin Daha, seperti wasiat Maharaja Sukarama.

Dalam perkembangan berikutnya, Patih Masih mulai mengenal Walisongo lewat para mubaligh Islam dari Gresik dan Tuban, yang singgah di wilayah Banjar.

Hubungan yang baik ini, membuat Patih Masih kemudian masuk Islam, selain juga karena kagum dengan Walisongo yang berhasil membuat kemakmuran di Kerajaan Demak.

Saat Raden Samudra menginjak masa dewasa, ia berusaha mengumpulkan kekuatan juga untuk melakukan serangan kepada pangeran Tumenggung.

Tapi, pasukan ini tidaklah seberapa jumlahnya, sehingga pertempuran tidak berjalan seimbang.

Pada situasi ini, kemudian Patih Masih mengusulkan supaya Raden Samudra meminta bantuan Kerajaan Demak.

Permintaan ini lalu diaminkan oleh Sultan Demak, dengan syarat Kerajaan Banjar nantinya mesti memeluk Islam.

Pasukan Demak yang berjumlah 1.000 parjurit pun dikirim ke Banjar untuk peperangan ini.

Sumber yang lain, bahkan ada yang menyebut angka 40.000 pasukan yang dikirim dalam pertempuran ini, dengan 1.000 kapal yang masing-masing berisi 400 pasukan.

Bantuan ini membuat Pangeran Samudra memperoleh kemenangan telak.

Akhirnya, sesuai perjanjian, Ia dan seluruh warga Banjar akhirnya masuk Islam.

Setelahnya, Raden Samudra diberi gelar sebagai Sultan Suriansyah atau Sultan Suryanullah, sekalian menjadi raja pertama Kerajaan Banjar.

Peta Dan Letak 

Foto Peta dan Lokasi Kerajaan Banjar
suluhbanjar.blogspot.com

Dalam Hikayat Banjar, disebutkan bahwa wilayah kekuasaan Kerajaan Banjar membentang dari Negeri Sambas (Kerajaan Sambas) hingga ke Negeri Karasikan (Buranun/Banjar Kulan).

Wilayah kekuasaan ini, mencakup 5 distirk besar yang ada di wilayah Kalimantan Selatan, yakni:

  • Daha (daerah Nagara-Margasari).
  • Gagelang (daerah Alabio).
  • Kuripan (daerah Amuntai).
  • Pandan Arum (daerah Tanjung).
  • Pudak Sategal (daerah Kalua).

Pada abad ke-15 hingga abad ke-17 Masehi, wilayah Kerajaan Banjar dibagi menjadi 3 teritorial, yakni:

  • Negara Agung: Banjar Kuala, Pahuluan, dan Batang Banyu.
  • Mancanegara: Tanah Dusun, Pulau Laut, Kepangeranan Kotawringin, Tanah Bambu, Tanah Dusun, dan Paser.
  • Daerah Pesisir: Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Barat.

Lambang Kerajaan

Foto Lambang Kerajaan Banjar

https://www.facebook.com/kbbkt.kutim.7/videos/825397095850212/?mibextid=rS40aB7S9Ucbxw6v

Cerita asli Banjar jangan sampai hilang.

Gang Banjar dan Jejak Kerajaan Banjarmasin di Empang

Ditulis Khoja  17 September 2017

Sekitar tahun 1885 Bogor pernah menjadi tempat pengasingan para sultan dan Bupati yang dianggap berbahaya bagi Pemerintah Belanda, sekaligus untuk mengurangi secara sistematis pengaruh kaum feodalis atas masyarakatnya.

Goesti Moehammad Arsjad duduk kedua dari kiri berkopiah putih dan memegang tongkat

Para bupati yang diasingkan ke kota Bogor berasal dari berbagai daerah diantaranya dari Pekalongan, Bojonegoro, Sukapura (tempat pengasingan Empang) dan Raja Bali. Konon, Raja Bali tempat pengasingannya berada di Kampung Bubulak yang sekarang menjadi komplek perumahan Haur Jaya dekat pabrik ban terkenal Good Year.

Sedangkan tokoh yang dipandang berbahaya oleh Belanda berasal dari kesultanan Banjarmasin dibuang ke Bogor adalah Goesti Moehammad Arsjad (Gusti Muhammad Arsad) yang dibuang oleh Belanda pada 1 Agustus 1904. Di Empang bekas tempat pengasingannya inilah yang kemudian jejaknya dikenal dengan nama Gang Banjar. Seluruh bagian yang dahulu menjadi Puri Pembuangan keluarga Goesti Moehammad Arsjad itu kemudian dibeli oleh keluarga kaya asal Banjarmasin yaitu Sjaich Faradj bin Islam bin Thalib yang dilahirkan di Hadramaut Yaman Selatan. Sedangkan istrinya Ibu Rahmah binti Mar’i bin Thalib adalah wanita peranakan Arab asal Banjarmasin yang pernah menetap di Singapura.

Goesti Moehammad Arsjad dan istrinya Ratu Zaleha sebagai kelompok Pagustian yang oleh Pemerintah kolonial dianggap berbahaya dan ancaman itu, selama dalam pengasingan untuk kebutuhan hidupnya mendapatkan tunjangan dari Pemerintah Belanda sebesar f.300 perbulan dan istrinya Ratu Zaleha f.125, sebagai tambahan untuk memelihara tujuh anggota keluarganya. Ketetapan tunjangan tersebut berdasarkan pada surat Sekretaris Goebernemen 25 Juli 1906 No.1198 yang ditujukan kepada Ekslensi Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan Asisten Residen Bogor.

Ayah dari Goesti Moehammad Arsjad adalah Goesti Mad Said yang bergelar Pangeran Muhammad Said atau Panembahan Muda adalah putera sulung  Pangeran Antasari atau saudara Sultan Muhammad Seman yang meneruskan perjuangan ayahnya melawan kolonial Hindia Belanda dalam Perang Banjar.

Ratu Zaleha dimasa tuanya

Ratu Zaleha adalah satu dari sedikit pejuang wanita di Nusantara yang gagah berani membela tanah airnya dari cengkeraman kuku penjajahan Belanda. Bersama sang suami Goesti Moehammad Arsyad bin Goesti Moehammad Said. Ratu Zaleha adalah penerus perjuangan ayahnya Sultan Moehammad Seman yang juga merupakan putera laki-laki Pahlawan Nasional Pangeran Antasari.

https://googleads.g.doubleclick.net/pagead/ads?client=ca-pub-4364616275314670&output=html&h=300&slotname=2013615244&adk=2052189553&adf=3708919366&pi=t.ma~as.2013615244&w=360&lmt=1708740158&rafmt=1&format=360×300&url=https%3A%2F%2Fwww.batarfie.com%2F2017%2F09%2Fgang-banjar-dan-jejak-kerajaan.html%3Fm%3D1&host=ca-host-pub-1556223355139109&fwr=1&fwrattr=true&rpe=1&resp_fmts=3&sfro=1&wgl=1&uach=WyJBbmRyb2lkIiwiMTEuMC4wIiwiIiwidml2byAyMDA3IiwiMTIyLjAuNjI2MS42NCIsbnVsbCwxLG51bGwsIiIsW1siQ2hyb21pdW0iLCIxMjIuMC42MjYxLjY0Il0sWyJOb3QoQTpCcmFuZCIsIjI0LjAuMC4wIl0sWyJHb29nbGUgQ2hyb21lIiwiMTIyLjAuNjI2MS42NCJdXSwwXQ..&dt=1708869083686&bpp=14&bdt=1689&idt=1190&shv=r20240221&mjsv=m202402200101&ptt=9&saldr=aa&abxe=1&prev_fmts=360×300%2C330x275&correlator=5644526969466&frm=20&pv=1&ga_vid=1408511767.1708869085&ga_sid=1708869085&ga_hid=1303446405&ga_fc=0&u_tz=420&u_his=1&u_h=772&u_w=360&u_ah=772&u_aw=360&u_cd=24&u_sd=2&dmc=2&adx=0&ady=3713&biw=360&bih=642&scr_x=0&scr_y=0&eid=44759876%2C44759927%2C44759837%2C31081317%2C44798934%2C95325067%2C95321957%2C95324155%2C95324161%2C31078663%2C31078665%2C31078668%2C31078670&oid=2&pvsid=4471071345439394&tmod=1031966751&uas=0&nvt=1&ref=https%3A%2F%2Fwww.google.com%2F&fc=896&brdim=0%2C0%2C0%2C0%2C360%2C0%2C360%2C642%2C360%2C642&vis=1&rsz=%7C%7CoeEbr%7C&abl=CS&pfx=0&fu=128&bc=31&bz=1&td=1&psd=W251bGwsbnVsbCxudWxsLDFd&nt=1&ifi=3&uci=a!3&btvi=2&fsb=1&dtd=1218

Sultan Muhammad Seman atau  Goesti Mat Seman yang disebut juga sebagai Pagustian atau kesultanan Banjar yang baru, merupakan penerus Kesultanan Banjar yang telah dihapuskan secara sepihak oleh Belanda. Ia memerintah Kerajaan Banjar selama periode 1862 – 1905 yang berkedudukan di Muara Teweh untuk melanjutkan perjuangannya mengusir penjajah Belanda hingga wafatnya.

Penangkapan Goesti Moehammad Arsyad Tahun 1904 oleh Belanda setelah bersembunyi dan bergerilya dalam hutan

Dipengasingannya di Empang Goesti Moehammad Arsjad bersama saudagar Arab kemudian ikut mendirikan Sjarekat Dagang Islamijjah yang pendiriannya diprakarsai oleh Raden Mas Tirto Adhi Soerjo.

Goesti Moehammad Arsyad selama di pengasingan selain membawa serta beberapa orang istrinya yang dinikahinya di Banjarmasin, Ia sempat menikah beristrikan wanita sunda setempat dan darinya dikaruniai beberapa orang anak antaranya bernama Gusti Moestafa atau akrab disapa Antung Moes.

Di Empang kekerabatan keluarga Pagustian Banjarmasin ini sebagian besar memang akrab disapa dengan sebutan Antung. Salah satu diantaranya adalah Antung Adey yang nama aslinya Gusti Abdul Kadir bin Goesti Abdoerrahman atau nama seninya G.A Kadir. Ia merupakan salah satu pelukis terkenal beraliran Moi Indie dan bekas staf ahli di bidang gambar pada mueseum zoology. Buku literatur tentang hewan pada buku mata pelajaran biologi yang masih digunakan di sekolah-sekolah dulu hingga pada tahun 80-an adalah karya pelukis G.A Kadir. 

Dimasa tuanya Goesti Pangeran Moehammad Arsyad atau oleh warga setempat di Empang disebut dengan pengucapan Gusti Arsat dan Ratu Zaleha kembali ke kampung halamannya pada tahun 1937, setelah sekian tahun berada di pembuangannya di Kampung Arab Empang.  Dari kisah yang pernah penulis dengar langsung dari orang tertua sekitar tahun 90-an yang mengalami masa pembuangan Ratu Zaleha dan suaminya itu, meski keluarga pagustian dijaga dan diawasi ketat oleh Pemerintah Belanda untuk tidak memakai atribut-atribut kebangsawanannya, tapi Ratu Zaleha tak pernah lepas memakai sandal khas seorang Ratu dan jika keluar dari Puri pembuangannya untuk urusan penting, dokar yang dinaikinya akan tertutup rapat ditutupi oleh kain penutup dan pakaian hijabnya sangat rapat menutupi auratnya.

Ditulis dalam berbagai sumber Gusti Pangeran Muhammad Arsyad wafat pada tahun 1941 dalam usia 73 tahun dan dimakamkan di Kompleks Pemakaman Raja-raja Banjar Sultan Suriansyah di Kuin Utara Banjarmasin. Sedangkan istrinya Ratu Zaleha, wafat 23 September 1953 dimakamkan di pemakaman raja-raja Pagustian, kesultanan Banjarmasin. 

Nama Ratu Zaleha kini diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Umum Daerah di kota Martapura dan untuk nama jalan di beberapa jalan utama di Kalimantan Selatan dan untuk nama-nama tempat lainnya sebagai penghomatan Pemerintah dan rakyat Banjarmasin kepada wanita tangguh sebagai Pahalwan Wanita asal Banjarmasin. Demikian pula dengan suaminya Gusti Mohammad Arsyad sebagai tokoh Banjar yang tidak disukai oleh Belanda dari sederet para Sultan dari kerajaan Banjar yang memberontak kepada Belanda termasuk tokoh legendaris Demang Lehman yang mati di eksekusi dengan cara digantung dan dipenggal kepalanya. Konon tengkorak kepalanya hingga kini masih tersimpan di salah satu Museum di negeri Belanda.

Oleh: Abdullah Abubakar Batarfie

ASAL USUL ORANG BANJAR

Didalam hikayat Banjar kuno, ada sebuah kronik kuno yang konon telah ditulis sebagai era keemasan suatu kerajaan di Kalimantan Selatan, mengabadikan sebuah frasa, ” Banua Hujung Tanah” yang diyakini sebagai “nama lain” dari Pulau Kalimantan. Banua hujung tanah adalah sebuah negeri besar yang dipimpin seorang raja yang bernama Zulkarnain. Raja Zulkarnain sebagai seorang pemimpin negeri Banua hujung tanah adalah seorang raja pemberani yang senang berpetualang menaklukkan berbagai wilayah sampai ke berbagai belahan hujung dunia dari timur sampai ke barat pernah dilakukannya. Zulkarnain adalah raja yang saleh yang beriman dan seiman dalam mengimani Allah sebagai Tuhan yang di Tuhankannya bersama keimanan seorang Nabi yang hidup se zaman dengannya yang bernama Ibrahim dimasa berkuasanya. Zulkarnain memiliki pasukan beratib baamal terkuat dan terbesar pada zamannya dengan kepemimpinan seorang maha gurunya sendiri bernama Khidir yang adalah juga seorang Nabi pengemban amanah sebagai penguasa air dan lautan sebagai Maha Patih tertinggi yang memimpin seluruh panglima perang dari semua tentara kerajaannya. Tak ada satu wilayah dan daerah maupun kerajaan apapun dari Hujung barat sampai Hujung timur dari setiap belahan dunia manapun yang tak ditaklukan dan dikuasainya bersama kekuatan pasukan beratib baamal yang dimilikinya semasa kepemimpinannya sebagai seorang raja. Banua hujung tanah adalah ibu kota dari kerajaan Banua yang mana raja dan rakyatnya adalah orang orang mukminin yang beriman dengan agamanya Nabi Ibrahim.
Di ibu kota Kerajaan Banua hujung tanah tatanan tata kotanya dikelilingi sungai sungai yang mengalir indah. Karena agamanya dan keimanan serta ketakwaannya adalah tata aturan yang rahmatan Lil Alamin sehingga Iskandar sang Zulqarnain menjadi Raja yang saleh lagi arif dan bijaksana dalam kepemimpinannya terhadap rakyatnya diseluruh dunia yang dikuasainya. Dimasa kejayaannya Iskandar sang Zulqarnain membangun benteng terkuat yang terbuat dari besi baja untuk melindungi seluruh rakyatnya dari serangan suatu kaum perusak yang selalu menggangu ketentraman wilayah kerajaan yang dipimpinnya. wahai zulkarnain! sungguh saat ini kami terancam oleh suatu kaum yang bernama ya’juj (keserakahan) dan ma’juj (keangkara murkaan). Keduanya itu selalu melakukan penindasan dan berbuat kerusakan di bumi.
Untuk menghindarkan kami dari kekejaman mereka, maka bolehkah kami membayarmu dengan sejumlah harta sebagai imbalan agar engkau membuatkan dinding yang kuat sebagai penghalang antara kami dan mereka’ kami ingin lepas dari penindasan dan kekejaman mereka. apa yang telah dianugerahkan Tuhan kepadaku yang meliputi kekuasaan, keluasan wilayah, dan kekayaan harta benda lebih baik daripada imbalanmu yang kau tawarkan kepadaku, maka sebagai gantinya bantulah aku dengan seluruh kekuatan yang ada, agar aku dapat membuatkan dinding (barisan kebersamaan) yang kuat sebagai penghalang antara kamu dan mereka, sehingga kamu semua akan merasa aman karena terhindar dari serangan mereka. Terkisahkan pula dalam kronik hikayat Banjar kuno sebelum sang Zulqarnain menjadi Raja ada sebuah kerajaan besar dengan sang Raja yang menyembah berhala bernama Namrud. Dikala Raja Namrud berkuasa hidup dan terlahir seorang yang bernama Ibrahim yang pada akhirnya menjadi Nabi pada zamannya itu. Ketika suatu saat Ibrahim merasa bingung dengan keluarganya yang membuat patung terukir dari kayu yang buat sebagai pesanan dari Raja Namrud sebagai alat yang dijadikan Tuhan bagi seluruh kerajaan maka Ibrahim berusaha mencari kebenaran tentang kenapa patung buatan dari seluruh keluarga dari ayahnya dijadikan Tuhan akhirnya Ibrahim mencoba mencari Tuhan yang sesungguhnya Tuhan itu yang bagaimana. Malam hari Ibrahim memandang langit dan siang hari Ibrahim lakukan pula untuk memandang ke langit. Tak satupun yang bisa membuatnya mampu menjadikan apapun yang dilihatnya menjadi Tuhan menurut akal pikiran Ibrahim. Suatu hari terbersitlah dihati Ibrahim ingin menguji Tuhan yang disembah keluarganya dan Raja Namrud beserta semua rakyat kerajaan apakah benar adalah Tuhan. Dipukulnya lah semua patung yang disembah Raja Namrud dengan sebuah kapak yang dibawanya sampai hancur semua patung sesembahan tersebut hingga semua menjadi tak berkepala lagi kecuali satu patung yang masih utuh. Kisahnya ini adalah kisah hikayat Banjar kronik kuno. Terceritalah Ibrahim yang diberi hukuman dengan hukuman di bakar dengan api karena kemarahan sang raja Namrud disebabkan berhala yang jadi sesembahannya dihancurkan Ibrahim. Setelah disuatu tempat dibuat tugu api unggun lalu dibakarlah Ibrahim tetapi terkisahlah Ibrahim tak hangus terbakar api dan selamat. Ibrahim berkata “….. La Ilaha illallah wahdahu la syarikallah wa anna ibrahima khalilullah wanabiyyu wa khaliluhu. Jadilah semua yang melihat Ibrahim tak hangus terbakar mengikuti apa yang dikatakan Ibrahim tersebut. Kecuali Namrud dan para pengikut kerajaannya yang tetap berkeras hati tak mau mengikuti apa yang dikatakan Ibrahim. Atas saran kerabat dan keluarganya Ibrahim dimintakan pergi menjauhi tanah banua yang menjadi tumpah darah tempatnya lahir. Dalam petualangan Ibrahim meninggalkan jauh negeri Banua dalam hikayat Banjar kronik kuno inilah Ibrahim sampai ke sebuah negeri yang sekarang tersebut Irak atau bagdad. Terceritalah Ibrahim yang mendapat istri di negeri barunya bernama Siti Sarah. Sekian lama tak kunjung memiliki anak pada akhirnya keluarga Ibrahim yang pernah meminta Ibrahim meninggalkan Banua tumpah darahnya juga datang mengikuti jejak Ibrahim sampai ke bagdad bersama dua anak kemanakannya yang bernama Siti Hajar dan Zulqarnain. Dalam hikayat Banjar kronik kuno tersebut nama keluarga Ibrahim yang dulunya menyarankan agar Ibrahim menjauhi Banua tumpah darahnya untuk menghindari keangkara murkaan Raja Namrud dan tersebutlah bernama Khidir. Khidir, Zulqarnain adalah dua orang yang seiman dengan Iman yang di imani Ibrahim dan bersyahadat dengan syahadat yang di ucapkan Ibrahim “…. La Ilaha illallah wahdahu la syarikallah wa anna ibrahima khalilullah wanabiyyu wa khaliluhu. Terceritakanlah Siti Sarah yang memintakan Ibrahim juga menikahi atau memperistri Siti Sarah dengan berharap Ibrahim bisa memiliki keturunan dan anak karena selama bersama Siti Sarah mereka belum dikaruniakan seorang anakpun. Demi menjaga perasaan dua wanita yang menjadi istrinya agar tak tercipta rasa saling iru dengki Ibrahim memutuskan untuk mencari tempat terpisah dan melakukan petualangan membawa Siti Hajar yang sedang hamil hingga sampai ke sebuah lembah tandus tak berpenghuni yang tersebut dalam hikayat Banjar kronik kuno bernama MAKKAH atau BAKKAH. Awal dari sebuah peradaban baru yang menjadikan lembah tandus tak berpenghuni nenjadi sebuah jazirah Al arafatillah karena semua yang datang ketempat itu dan menjadi penduduk disana adalah semua kabilah dari berbagai penjuru Banua yang semuanya bernawaitu ingin menjadi Al arafatillah seperti hal nya Ibrahim yang adalah Al arafatillah dan Nabi. Siti Hajar itu kakak kandung Raja Zulqarnain. Jadi sejarah sesungguhnya yang benar bangsa arab itu arab Baduy yang hitam tubuhnya. Kalau Muhammad bukan arab Baduy. Tempat dibakarnya Ibrahim adalah situs yang sekarang disebut CANDI AGUNG. Disanalah IBRAHIM di bakar. Tembok yang dibangun Raja Zulqarnain adalah tembok WAJA SAMPAI KAPUTING. Salah Kaprah dalam Sejarah
Sejarah kadang-kadang diajarkan dengan cara yang salah, tak akurat, diputarbalikkan, dan berlebihan. Penduduk Mekkah itu semua turun temurun pendatang semua dari berbagai bangsa. Arab yang sekarang ada disana itu bubuhan Ibnu Saud dari Persia. Maka x jadi Saudi Arabia. Dibanua atau tanah Banjar adalah juriyat Ibrahim dari Zulkarnain dan Khidir yang datang dari ayah Ibrahim dan kakek x Ibrahim yakni suku Banjar
Banjar itu islam mulai bahari.
Jangan mau maumpati sejarah yg sudah diputar balik oleh penjajahan Belanda dan Yahudi.
Banjar bukan diislamkan oleh jawa. Banjar bukan penganut agama kaharingan atau hindu. Nenek datu Banjar islam mulai awal dan ahir.
Banjar itu keturunan nabi Adam baisi anak nabi sis. Baisi anak bani aljahiriah atau bani aljar.atau yg lebih dikenal dengan sebutan Banjar sekarang. Baisi pemimpin iskandar julkarnain. Dan keturunan nabi khaidir alaihi salam. Jadi agama islam itu bukan agama baru. Mulai jaman nabi adam sampai nabi terakhir islam sudah ada. Nabi muhammad menyempurnakan syariat.
Apa buktinya Banjar islam mulai bahari. Coba kita lihati. Kuburan pedatuan Banjar semua nya dada tujuh kilan semuanya islam. Tiap kabupaten dada tujuh kilan itu ada. Dan ada yg batampai ada yg bagaib wahini. .
Dibati bati ada datu salingsing.
Ditapin ada datu Nur raya
Masih banyak lagi daerah kabupaten lainnya. Datu dada tujuh kilan. Itu bukti bani aljar atau aljahiriah itu islam dan urang nya ganal ganal bahari. Coba cari kalimantan lainnya kadada. Adanya di kalsel aja. Artinya Banjar suku paling tuha. Jangan mau dipadahkan suku yg hanyar lahir setelah adanya perkawinan dayak Jawa dan melayu.
Banjar adalah Banjar. Suku tidak akan berubah meskipun kita kawin dengan suku lain. Kita kawin lawan Suku lain. Tetap ai suku pedatuan kita adalah Banjar. Bukti yg kada kawa dipungkiri dalam buku sejarah tertulis perang Banjar yg paling lawas melawan penjajah. Ingat perang Banjar judul adalah perang anu perang itu. Tatap ai perang Banjar kalo. Bukan perang anu. Jadi amun kada paham talalu banar.
Mulai sekarang kita tanamkan bila Banjar digawil saikung kita turuni barataan. Sakira urang tahu Banjar itu banyak banjar itu rakat.

sejarah dan nilai tradisional
Serba-Serbi Sejarah dan Kebudayaan Negeri Banjar dan Sekitar DIY serta Hidayat Kerohanian dan Pernik-Pernik Kehidupan Umumnya

Selasa, 17 Februari 2009
Lambung Mangkurat
PERANAN LAMBUNG MANGKURAT
DALAM MEMBANGUN KERAJAAN NEGARA DIPA
DI KALIMANTAN SELATAN
Oleh: Drs. H. Ramli Nawawi

Dari Negeri Keling ke Hujung Tanah
Dalam buku Negara Kertagama disebutkan bahwa di Jawa Timur terdapat suatu daerah bernama Keling, yang pada saat itu berada dibawah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Sebagai daerah kekuasaan Majapahit maka negeri ini tentunya mempunyai kewajiban menyampaikan upeti kepada raja Majapahit. Adanya kewajiban yang dirasakan memberatkan itulah menyebabkan penduduk negeri kecil ini tidak merasa tenteram. Usaha kaum pedagang umumnya sudah tidak menguntungkan lagi. Hal inilah yang menyebabkan seorang saudagar yang sudah berusia lanjut di negeri Keling ini, bernama Mangkubumi dan isterinya Sitira pada suatu hari berwasiat kepada anaknya yang bernama Empu Jatmika. Dalam wasiatnya itu Mangkubumi mengatakan bahwa apabila ia meninggal nanti supaya Empu Jatmika beserta isteri, anak-anak dan pengikutnya meninggalkan negeri Keling ini berpindah mencari suatu tempat kediaman yang tanahnya panas dan wangi baunya.

Demikianlah ketika peristiwa kematian orang tuanya tersebut telah berlalu, Empu Jatmika bersama keluarga dan sejumlah pengiringnya meninggalkan negeri Keling di daerah Jawa Timur sesuai wasiat orang tuanya. Pelayaran ke utara untuk mencari negeri yang tanahnya panas dan berbau wangi tersebut dipimpin sendiri oleh Empu Jatmika dengan menggunakan kapal layar bernama Prabayaksa dan beberapa buah kapal layar lainnya. Peristiwa ini terjadi pada masa pemerintahan raja Majapahit terakhir.

Setelah berlayar lama mengarungi lautan, rombongan kapal layar yang dipimpin oleh Mpu Jatmika tersebut akhirnya sampai di Pulau Hujung Tanah. Rombongan kemudian memasuki muara sungai Barito. Mengingat bahwa sesuai dengan pesan orang tuanya untuk mencari lokasi yang tanahnya panas dan berbau wangi, Empu Jatmika yang memperhatikan keadaan tanah di sepanjang tepi Sungai Barito tersebut merupakan rawa-rawa yang senantiasa digenangi air, sehingga selama beberapa hari mereka harus meneruskan pelayarannya menuju ke daerah hulu sungai tersebut. Karena setelah lama berlayar belum juga menemui lokasi tepi sungai yang bebas dari rawa, akhirnya mereka mencoba membelok menyusuri anak Sungai Barito yang kemudian dikenal sebagai Sungai Negara. Dengan harapan agar segera mendapatkan lokasi sesuai dengan petunjuk orang tuanya, yakni tanah yang panas dan berbau harum, yang ditafsirkan sebagai daerah yang tanahnya subur.

Demikianlah ketika rombongan sampai pada lokasi yang menjadi pertemuan anatara Sungai Negara dan Sungai Balangan, konon Empu Jatmika dan rombongannya memutuskan untuk bermukim di sekitar daerah tersebut. Dibawah pimpinan Empu Jatmika mereka mulai membuka hutan di daerah tersebut. Selanjutnya mereka kemudian mendirikan tempat tinggal (astana) dengan balairung dan pengadapan serta beberapa buah rumah perbendaharaan. Bahkan sebagai kelompok yang berasal dari masyarakat beragama Hindu, mereka juga mendirikan sebuah candi yang kemudian disebut Candi Agung. Candi ini untuk tempat menyelenggarakan upacara-upacara yang berkaitan dengan kepercayaan yang dianut di daerah asalnya.

Tempat pemukiman keluarga Empu Jatmika tersebut sekarang terdapat di lokasi Sungai Malang, di pinggiran kota Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara Kalimantan Selatan. Pemukiman tersebut seperti diceriterakan dalam buku Hikayat Lambung Mangkurat, kemudian terus berkembang dan bertambah luas karena makin ramainya perdagangan dengan datangnya pedagang-pedagang dari Jawa maupun pedagang-pedagang dari Tanah Melayu.

Negeri baru yang tadinya dibangun oleh Empu Jatmika beserta pengikut-pengikutnya tersebut kemudian diberi nama Negara Dipa, dan Empu Jatmika sendiri kemudian bergelar Maharaja di Candi. Diceriterakan bahwa oleh karena Mpu Jatmika takut “ketulahan” (kualat) bergelar Maharaja di Candi, sebab ia bukan keturunan raja, maka ia memerintahkan kepada pembantu-pembantunya untuk membikin patung dari kayu cendana dan patung itu ditaruhnya di dalam candi untuk dipuja sebagai ganti raja di negeri Negara Dipa tersebut.

Bersamaan dengan itu pula beberapa daerah di sekitarnya seperti daerah Batang Tabalong, Batang Balangan, Batang Alai, Batang Hamandit dan Labuan Amas, telah melakukan hubungan dengan Negara Dipa.

Diceriterakan juga bahwa dalam mengatur negeri, Empu Jatmika memakai adat istiadat yang berlaku di Kerajaan Majapahit. Selain itu Empu Jatmika juga kemudian menyuruh beberapa pengikutnya untuk kembali ke Negeri Keling guna mengambil harta benda milik keluarganya yang masih ketinggalan di negerinya.

Sementara itu ketika Patung Kayu Cendana yang diletakkan di dalam Candi Agung sebagai perlambang raja di negeri Negara Dipa tersebut telah lapuk, maka untuk menggantikannya Empu Jatmika memesan sebuah patung “gangsa” bikinan orang Cina. Patung itupun kemudian diantarkan sendiri oleh utusan dari Tiongkok ke Negara Dipa.

Lambung Mangkurat membangun kerajaan
Setelah beberapa tahun memimpin masyarakat yang dibangunnya tersebut, Empu Jatmika di akhir usianya sempat berpesan kepada kedua anaknya yang bernama Empu Mandastana dan Lambung Mangkurat. Ia mengingatkan kepada kedua anaknya bahwa apabila ia meninggal nanti supaya patung gangsa yang ditempatkan di dalam Candi Agung itu supaya dibuang ke laut, dan anaknya berdua agar pergi bertapa memohon kepada Dewa Batara supaya menunjukkan seorang raja untuk bertahta di Negara Dipa dan negeri-negeri sekitarnya. Diingatkan pula oleh Empu Jatmika bahwa jangan sekali-kali keduanya mengangkat diri sebagai raja, karena keluarga mereka bukan turunan raja,

Demikianlah setelah Empu Jatmika meninggal kedua anaknya tersebut melakukan apa yang dipesankan orang tuanya. Sementara untuk mencari petunjuk Dewa Batara guna menemukan raja bagi negeri Negara Dipa, Empu Mandastana melakukan pertapaan di darat sedangkan Lambung Mangkurat melakukan pertapaan di atas air. Dua tahun lamanya mereka melakukan pertapaan namun tidak juga mendapatkan petunjuk apa-apa.

Dalam keadaan putus asa tersebut pada suatu malam Lambung Mangkurat bermimpi, di mana ayahnya mmenyuruh ia membuat rakit yang dihiasi mayang pinang. Agar ia (Lambung Mangkurat) duduk di rakit tersebut yang dihayutkan di sungai pada waktu malam hari. Nanti ia akan bertemu dengan seorang putri yang akan menjadi raja di Negara Dipa.

Dari petunjuk mimpi itu Lambung Mangkurat memang kemudian menemukan seorang putri, yang kemudian terkenal dengan nama Putri Junjung Buih (Tunjung Buih), karena ia ditemukan di “ulak” sungai (bagian sungai yang arusnya berputar) sehingga menimbulkan buih. Setelah Lambung Mangkurat berdialog dengan putri tersebut, dan setelah segala permintaan putri termasuk upacara dalam rangka penyambutannya di istana dipenuhi oleh Lambung Mangkurat, putri tersebut bersedia dibawa ke istana Negara Dipa.

Kehadiran Putri Junjung Buih yang disiapkan untuk menjadi raja di Negara Dipa ternyata meragukan bagi Lambung Mangkurat. Kehawatiran Lambung Mangkurat tersebut karena kedua kedua keponakannya yang bernama Patmaraga dan Sukmaraga (putra Mpu Mandastana) telah saling jatuh cinta dengan Putri Junjung Buih. Dimana apabila terjadi perkawinan dengan salah satu keponakannya dengan putri tersebut, berarti kekuasaan sebagai raja di Negara Dipa masih ada sangkut-pautnya dengan keturunan Empu Jatmika, orang tuanya. Sehubungan dengan itulah kemudian terjadi peristiwa berdarah, yakni dengan dalih mengajak kedua keponakannya naik perahu pergi “melunta” (menjala ikan) Lambung Mangkurat membunuh Sukmaraga dan Patmaraga keponakannya sendiri.

Setelah peristiwa tersebut Lambung Mangkurat berusaha agar kekuasaan di Negara Dipa supaya betul-betul orang yang mempunyai tutus (turunan) raja. Karena itulah ia kemudian bersama dengan beberapa pembantunya berlayar ke tanah Jawa untuk menghadap raja Majapahit, meminta salah seorang putra raja Majapahit untuk menjadi raja di Negara Dipa. Permohonan Lambung Mangkurat tersebut ternyata disambut baik oleh raja Majapahit. Sehubungan dengan itu kemudian berangkatlah putra raja Majapahit yang bernama Pangeran Suryanata bersama Lambung Mangkurat menuju Negara Dipa.

Setelah berlayar empat hari empat malam kapal yang membawa Pangeran Suryanata dan Lambung Mangkurat beserta pengiringnya sampai di muara Sungai Barito. Tetapi ketika memasuki sungai Barito kapal yang membawa mereka kandas. Dalam Hikayat Banjar digambarkan dengan bahasa “kias” dimana kedatangan Pangeran Suryanata disambut oleh tetuha-tetuha adat dengan berbagai upacara adat daerah serta saling sapa dan berdialog, yang digambarkan dalam Hikayat Banjar perahu yang dipakai Suryanata karena dicegat oleh beberapa Naga Putih rakyatnya Putri Junjung Buih. Karena itu Pangeran Suryanata turun menyelam ke dalam air untuk mengatasi masalah tersebut. Sehingga setelah delapan hari delapan malam dalam air, Pangeran Suryanata melakukan pertemuan dengan beberapa Naga Putih tersebut, kemudian ia (yang digambarkan tidak punya kaki dan tangan tersebut sebagai perlambang belum punya kekuasaan) muncul di permukaan air sambil berdiri di atas gong, lengkap kaki tanganya, serta telah memakai keris (sebagai perlambang telah mendapat restu dari tetuha-tetuha dan tokoh-tokoh adat di daerah tersebut).

Demikianlah ketika Pangeran Suryanata beserta Lambung Mangkurat dan para pengiringnya sampai di Negara Dipa, mereka disambut oleh rakyat yang berduyun-duyun datang dari daerah-daerah yang menjadi wilayah kekuasaan Negara Dipa.

Peristiwa selanjutnya adalah pelaksanaan “pedudusan” (pelantikan) raja di Balai Pedudusan. Kepada Pangeran Suryanata lebih dahulu dipakaikan mahkota, kemudian “bedudus” dan “berarak”.

Mahkota yang ternyata cocok dengan kepala Pangeran Suryanata, mengisyaratkan bahwa yang memakainya telah direstui untuk menjadi raja di negeri tersebut. Peristiwa ini sekaligus juga pelaksanaan perkawinan Pangeran Suryanata dengan Putri Junjung Buih. Karena itu Pangeran Suryanata dan Putri Junjung Buih dibawa kedalam pedudusan, keduanya berdiri di atas kepala empat ekor kerbau. Lambung Mangkurat sebagai pemimpin upacara pelantikan Pangeran Suryanata menjadi raja dan sekaligus perkawinannya dengan Putri Junjung Buih, kemudian menyiramkan air ke ubun-ubun Pangeran Suryanata dan Putri Junjung Buih sebagai pemberian selamat kepada keduanya. Pembertian selamat ini selanjutnya diikuti oleh para pemuka masyarakat antara lain Arya Magatsari, Tumenggung Tatah Jiwa dan tokoh-tokoh tua lainnya. Selanjutnya keduanya, raja dan permaisuri duduk bersanding di astana sambil menyantap nasi “adap-adap”. Sementara itu bunyi-bunyian dipalu serta beberapa meriam disulut sehingga menimbulkan bunyi yang gemuruh. Upacara pedudusan dan perkawinan Pangeran Suryanata dan Putri Junjung Buih tersebut dirayakan selama tigahari tiga malam. (Demikian digambarkan tentang kedatangan dan pelantikan Pangeran Suryanata sebagai raja serta perkawinannya dengan Putri Junjung Buih sebagaimana termuat dalam buku Hikayat Lambung Mangkurat).

Suryanata dan Putri Junjung Buih mempunyai dua orang putra, yakni Pangeran Surya Ganggawangsa dan Pangeran Suryawangsa. Tidak disebutkan dalam Hikayat Lambung Mangkurat berapa lamanya Suryanata memerintah. Hanya dikatakan bahwa setelah raja dan permaisurinya tersebut wafat, ia digantikan oleh putra sulungnya yang bernama Pangeran Surya Ganggawangsa. Raja baru ini ketika naik tahta ia masih membujang, dan ia menyatakan baru akan kawin dengan anak seorang perempuan yang bernama Diang Dipraja. Karena itu pula Lambung Mangkurat sebagai Patih kerajaan yang setia, kemudian berusaha mencari wanita yang namanya Diang Dipraja tersebut. Dan setelah ditemukan ternyata Diang Dipraja tersebut seorang wanita yang belum bersuami dan masih perawan. Tetapi untuk kepentingan raja wanita tersebut tetap dibawa oleh Lambung Mangkurat ke istana. Walaupun kedua orang tuanya semula keberatan, tetapi akhirnya mengijinkan juga dengan pesan agar anak mereka jangan disia-siakan.

Usaha Lambung Mangkurat barsama-sama para pejabat istana lainnya untuk menjodohkan raja dengan gadis tersebut ditolak oleh Surya Ganggawangsa dan tetap baru bersedia kawin dengan anak dari wanita tersebut. Sehubungan dengan itu para pejabat istana sepakat agar Lambung Mangkurat mengawini gadis dimaksud. Demi pengorbanan untuk raja dan Kerajaan Negara Dipa maka Lambung Mangkurat bersedia mengawininya.

Dari perkawinan Lambung Mangkurat dengan Diang Dipraja tersebut kemudian lahir seorang anak perempuan yang diberi nama Putri Kuripan (Putri Kabuwaringin). Sesuai dengan maksud semula maka ketika putri ini cukup usianya, ia dikawinkan dengan raja Surya Ganggawangsa. Dan dari perkawinan mereka ini selanjutnya lahir seorang perempuan yang bernama Putri Kalarangsari. Tidak disebutkan dalam Hikayat Lambung Mangkurat siapa yang menjadi suami Putri Kalarangsari, namun tercatat bahwa ia mempunyai seorang anak yang bernama Putri Kalungsu. Disebutkan bahwa Putri Kalungsu lah yang kemudian menggantikan Surya Ganggawangsa sebagai raja di Negara Dipa. Demikian pula dikatakan bahwa pada masa pemerintahan Putri Kalungsu tersebut jabatan Patih di Kerajaan Negara Dipa masih dipegang oleh Lambung Mangkurat.

Masa sesudah Lambung Mangkurat
Dalam silsilah Lambung Mangkurat terlihat bahwa Putri Kalungsu bersuamikan seorang pria sepupu ibunya bernama Raden Carang Lalean, yakni anak Suryawangsa (saudara Surya Ganggawangsa). Dari perkawinan Putri Kalungsu dengan Raden Carang Lalean inilah kemudian lahir seorang putra mahkota bernama Raden Sekar Sungsang, yang kemudian setelah naik tahta menggantikan ibunya dikenal pula dengan nama Maharaja Sari Kaburungan. Disebutkan juga bahwa pada masa pemerintahan Sekar Sungsang inilah pusat kerajaan dipindahkan ke daerah selatan, yang kemudian dikenal dengan nama Kerajaan Negara Daha. Sementara itu Putri Kalungsu sendiri memilih tidak ikut pindah ke lokasi baru tersebut. Ia tetap tinggal di Negara Dipa sampai dengan akhir hayatnya.

Demikian pula halnya dengan Patih Lambung Mangkurat, tidak lama setelah perpindahan pusat kerajaan tersebut, ia pun juga meninggal dunia. Untuk menggantikannya sebagai Patih Kerajaan Negara Daha kemudian diangkat Patih Aria Taranggana, seorang yang cerdik dan bijaksana.
Periode Negara Daha ini hanya berlangsung selama dua masa pemerintahan, yakni pemerintahan Raden Sekar Sungsang (Maharaja Sari Kaburungan) dan pemerintahan putranya yang bernama Maharaja Sukarama. Disebutkan dalam Hikayat Lambung Mangkurat bahwa setelah Maharaja Sukarama meninggal dunia terjadi perebutan tahta kerajaan antara anak-anaknya.

Peristiwa kekacawan di Kerajaan Negara Daha sepeninggal Sukarama tersebut, sekaligus merupakan proses lahirnya Kerajaan Banjar, sebuah kerajaan besar di daerah Kalimantan Selatan. Diceritakan bahwa Maharaja Sukarama mempunyai seorang cucu yang bernama Raden Samudera. Raden Samudera pewaris darah murni dari Maharaja Sari Kaburungan pendiri Kerajaan Negara Daha, karena ia cucu dari dari kedua putranya, yakni cucu dari Maharaja Sukarama dan Raden Suryawangsa. Yakni Maharaja Sukarama mempunyai anak perempuan bernama Putri Galuh yang kawin dengan putra dari Raden Suryawangsa yang bernama Mantri Alu. Dari perkawinan Putri Galuh dan Mantri Alu itulah lahir Raden Samudera. Karena Mantri Alu ayahnya meninggal ketika ia masih belum dewasa, maka Raden Samudera bersama ibunya tinggal di istana bersama Maharaja Sukarama kakeknya.

Sebenarnya Maharaja Sukarama sendiri juga mempunyai dua orang anak laki-laki masing-masing bernama Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Tumenggung. Tetapi karena melihat kepribadian Raden Samudera yang melebihi dari kepribadian kedua putranya, maka Maharaja Sukarama mewasiatkan kepada Patih Aria Taranggana bahwa apabila ia meninggal maka nanti yang menggantikannya adalah cucunya yang bernama Raden Samudera. Wasiat tersebut lambat laun akhirnya sampai juga beritanya kepada anak-anak Maharaja Sukarama. Karena itulah tidak berapa lama setelah Maharaja Sukarama wafat terjadi kekacawan di istana Kerajaan Negara Daha. Melihat keadaan tersebut maka demi keselamatan jiwa Raden Samudera, Patih Aria Taranggana menasihatkan kepadanya agar sesegeranya meninggalkan istana. Sehubungan dengan itulah Raden Samudera kemudian secara diam-diam pergi meninggalkan istana, untuk kemudian hidup “menyungaian” (tinggal dalam sebuah perahu) menyamar sebagai seorang nelayan di daerah muara Sungai Martapura.

Sementara itu di Kerajaan Negara Daha terjadi perebutan kekuasaan antara Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Tumenggung. Dengan menghilangnya Raden Samudera sebagai putra mahkota sebagaimana wasiat Maharaja Sukarama, maka pewaris kerajaan jatuh kepada Pangeran Mangkubumi sebagai anak tertua. Tetapi adiknya yang bernama Pangeran Tumenggung, yang haus kekuasaan kemudian membunuh kakaknya untuk selanjutnya menduduki tahta Kerajaan Negara Daha.

Peristiwa terjadinya kekacauan dan perebutan kekuasaan di pusat Kerajaan Negara Daha tersebut menambah keyakinan rakyat Negara Daha mengapa Sukarama pada akhir masa hidupnya mewasiatkan agar yang menggantikannya adalah Raden Samudera. Karena itulah ketika tersiar kabar bahwa Raden Samudera telah meninggalkan istana dan hidup menyamar sebagai seorang nelayan, para pemuka masyarakat di daerah muara Sungai Martapura berusaha menemukan putra mahkota kerajaan yang menyamar tersebut. Usaha pencarian akhirnya juga berhasil menemukan seorang pemuda yang diduga sebagai Raden Samudera. Semula yang bersangkutan tidak mengakui bahwa dirinya adalah putra mahkota. Tetapi setelah dijelaskan bahwa mereka adalah pemuka-pemuka masyarakat yang akan menyelamatkannya, akhirnya yang bersangkutan mengakui bahwa dirinya adalah Raden Samudera.

Setelah diyakini benar bahwa yang bersangkutan adalah Raden Samudera yang berhak mewarisi Kerajaan Negara Daha, maka dibawah pimpinan Patih Masih (patihnya kelompok orang Melayu di daerah tersebut) bersama-sama para patih kelompok lainnya, kemudian menobatkan Raden Samudera sebagai Sultan (raja) yang sah. Tindakan para Patih tersebut menimbulkan reaksi dari Pangeran Tumenggung, sehingga pecah perang antara rakyat pengikut Pangeran Tumenggung dengan rakyat pengikut Raden Samudera. Demikianlah terjadi peperangan beberapa lama dan banyak jatuh korban di kedua belah pihak, dan bahkan Raden Samudera atas usaha Patih Masih telah mendapatkan bantuan tentara dari Kerajaan Demak di Jawa Tengah. Namun pertentangan ini kemudian berakhir dengan kesedian Pangeran Tumenggung untuk menyerahkan Kerajaan Negara Daha kepada Raden Samudera, keponakannya sendiri, setelah keduanya dipertemukan di atas dua buah perahu telangkasan di muara Sungai Martapura. Acara perang tanding antara Raden Samudera dan Pangeran Tumenggung yang merupakan kesepakatan antara Patih Masih dan Patih Aria Taranggana ini bertujuan untuk mengakhiri perang karena sudah terlalu banyak rakyat yang tewas sementara perang tak kunjung selesai. Namun ketika kedua Pangeran yang sudah siap dengan senjata berdiri di depan perahu yang masing-masing dikayuh di belakangnya oleh Patih Masih dan Patih Aria Taranggana tersebut bertemu, Raden Samudera berucap menyilahkan pamannya untuk membunuhnya, “silahkan pamanku tombak”, dan mendengar kata-kata itu Pangeran Tumenggung malah memeluk Raden Samudera. Pangeran Tumenggung dengan sukarela menyerahkan keraajan kepada keponakanya. Walaupun kemudian perangkat kerajaan di serahkan untuk di bawa ke daerah Banjar, Raden Samudera masih memberikan kekuasaan kepada Pangeran Tumenggung untuk mengatur rakyatnya di Negara Daha.

Dengan demikian lahirlah Kerajaan Banjar dan sebagai raja pertamanya adalah Raden Samudera, yang setelah memeluk agama Islam sesuai perjanjian dan permintaan Sultan Demak, dia bernama Sultan Suriansyah. Disebutkan bahwa Sultan Suriansyah memerintah sekitar tahun 1526 – 1550. Pusat Kerajaan Banjar terdapat di Kampung Kuin sekarang, dimana terdapat makam beliau besarta anak dan cucunya yang manggantikannya.
Pusat Kerajaan Banjar kemudian dipindahkan ke daerah Martapura (Teluk Selong) oleh raja Banjar yang keempat Mustakim Billah, karena pada waktu itu sudah terjadi kontak perang dengan Belanda yang telah sampai di Banjarmasin.

Demikianlah Kerajaan Banjar berlangsung, yang kemudian berakhir dengan pecahnya Perang Banjar melawan Kolonial Belanda, yang dimulai dengan penyerangan Benteng Pengaron (daerah tambang batu bara Oranye Nassau milik Belanda) pada tanggal 28 April 1859 di bawah pimpinan Pangeran Antasari. Wafatnya Pangeran Antasari pada tahun 1862 dan diasingkannya Pangeran Hidayatullah ke Cianjur (Jawa Barat) tidak memadamkan perlawanan rakyat terhadap Belanda. Perang Banjar terus berlangsung dibawah pimpinan anak-anak Pangeran Antasari, seperti Mohammad Said yang memimpin perlawanan di daerah Hulu Sungai (Benua Lima) dan Mohammad Seman yang memusatkan perlawanannya di daerah Muara Tewe (Kalimatan Tengah sekarang), perlawanan berlangsung hingga meninggalnya tahun 1905.- (HRN, Peneliti sejarah & nilai tradisional).
Ramli Nawawi di 08.23
2 komentar:

Anonim3 Desember 2012 pukul 08.12
Apakah garis keturunan Pangeran Hidayatullah tercatat?

Balas

Ramli Nawawi11 Mei 2016 pukul 07.42
Anda bisa datang ke kompleks makam Pangeran Hidayatullah di Cianjur Jawa Barat, bisa bertemu dengan keluarga keturunan Pangeran Hidayatullah dan bisa melihat sendiri silsilah Pangeran Hidayatullah secara lengkap.

Balas



Beranda
Lihat versi web
Mengenai Saya
Foto saya
Ramli Nawawi
Banjarmasin-Yogyakarta, Kalimantan Selatan-D.I.Y, Indonesia
Lihat profil lengkapku
Diberdayakan oleh Blogger.

MAJELIS PERSAUDARAAN URANG BANJAR SIAP MENUJU IKN 2029

Untuk mengangkat marwah kebudayaan Urang Banjar Mejelis MPUB menyiapkan diri untuk menuju Ibu kota yang baru yang insha Allah berada dikalimantan yang tepatnya di wilalah KALTIM-KALTARA.

MPUB Kaltim bersama caleg PKS

Dalam hal ini MPUB Kaltim telah memberi semangat berjuang untuk caleg PKS untuk menuju perubahan indonesia maju

KEGIATAN MAJELIS PERSAUDARAAN KALTIM KALTARA,

MPUBI diwilayah kaltim sangat maju pesat yang dipimpin oleh kande khairani sebagai ketua umum wilayah kaltim,

MARKAS BESAR MAJELIS PERSAUDARAAN URANG BANJAR INDONESIA (MPUB INDONESIA) KALIMANTAN TIMUR DAN KALIMANTAN UTARA

Markas Besar MAJELIS PERSAUDARAAN URANG BANJAR wilayah kaltim mereka selalu menjaga silaturahmi sesama anggota,
Pak khairani Ketua Umum Majelis persaudaraan urang banjar Wilayah Kaltim-Kaltara siap membesarkan Majelis ini di wilayahnya, dan sebagai contoh untuk bahwa urang banjar siap bersatu dan menjaga persaudaraan sesama urang banjar.
Para Srikandi Majelis Persaudaraan Urang Banjar Wilayah Kaltim-Kaltara
Majelis Persaudaraan Urang Banjar (MPUB) Wilayah Kaltim bersama dansanak dangsanak kaltim saling menguatkan tali persaudaraan sesama urang Banjar
MPUB KALTIM-KALTARA BERSAMA TOKO MASYARAKAT DAN PANGLIMA DAYAK WILAYAH KALTIM
MAJELIS PERSAUDARAAN URANG BANJAR KALTIM-KALTARA SELALU KOMPAK DALAM MENGEMBANGKAN MAJELIS TERSERBUT
Kegiatan pembagian takjil bulan ramadhan 7  April 2024 di kawasan sekretariat MPUB KALTIM KALTARA
Foto Dihotel senyiur bersama Saudara saudara ormas di Kaltim kaltara.
Acil Acil MPUBI berfoto bersama di hotell senyiur
Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai