MENGENAL HULU SUNGAI TANAH BANJAR, MELAYU PEDALAMAN MEMENGARUHI NUSANTARA

Jika kita bertanya Kerajaan atau Kesultanan Melayu apa yang pernah menjadi salah satu kerajaan terbesar di Nusantara, mungkin kerajaan Banjar akan menjadi salah satu jawabannya.
Sebuah Kesultanan Melayu yang terletak jauh radiusnya dari pusat pusara budaya Melayu di Kepulauan Riau, Sumatera Timur atau Semenanjung Malaya.
Pengaruh luas Kesultanan Banjar bukan saja terbatas di tenggara Pulau Kalimantan saja, atau wilayah Kalimantan selatan saja, Kesultanan Banjar pernah mempunyai wilayah kekuasaan yang sangat luas yang meliputi seluruh wilayah Republik Indonesia di Pulau Kalimantan saat ini, dari Nunukan di Kalimantan utara hingga Sambas di kalimantan barat, wilayah-wilayah inilah yang kemudian diklaim oleh pemerintah Kolonial Belanda sebagai wilayah jajahannya setelah mereka (Belanda) berhasil mengambil alih daerah tersebut dengan berbagai perjanjian dengan Kerajaan Banjar.
Bahkan Kerajaan Sulu di Filipina selatan disebut sebut sebagai Banjar Kulan (Banjar kecil/Little Banjar) kerna dahulu orang Banjar mendirikan pemukiman disana dan ikut andil mendirikan kesultanan Sulu ,Philipinese

Menurut Sejarawan Heliaus Syamsudin Kerajaan banjar patut dan pantas untuk disebut sebagai sebuah Negara Imperium karena memiliki wilayah sangat luas dan mempunyai Negara-negara bawahan yang tunduk kepadanya.
Jika dibandingkan luasnya Kerajaan Banjar dengan luas wilayah beberapa kerajaan di Pulau Jawa misalnya, tentu tak bisa dibandingkan, luas wilayah kerajaan-kerajaan di pulau jawa jauh lebih kecil dan kalah jauh dari kerajaan Banjar, meski disisi lain sebaliknya walaupun wilayah kerajaan banjar sangat luas namun memiliki penduduk yang jauh lebih sedikit dari pada penduduk dipulau jawa.
Sayangnya, Kesultanan banjar telah runtuh hampir 170 tahun yang lalu, yang membuat pengaruh politiknya juga pudar dengan sendirinya, tapi meski telah runtuh dengung pengaruhnya tidaklah hilang sepenuhnya, budaya Banjar dengan berbagai bentuk yang lain (selain politik tentunya) malah menyebar dengan nyamannya keseluruh pulau kalimantan dan wilayah-wilayah diaspora orang banjar diluar pulau Kalimantan.
Salah satu dari pengaruh itu misalnya adalah Bahasa banjar yang telah dengan sedemikian rupa menjadi bahasa lingua franca di tiga per empat wilayah Kalimantan,seperti dikalimantan selatan, Kalimantan tengah, Kalimantan timur, dan Kalimantan utara, bahasa banjar menjadi bahasa pergaulan sehari-hari. Tentu dengan logat dan dialeknya tersendiri diberbagai wilayah tersebut, Bahasa Banjar juga bukan saja digunakan dikalimantan sahaja, kantong-kantong diaspora orang banjar di pulau sumatera, kepualauan riau dan semenanjung Malaya dan Borneo utara seperti Negara Bagian Sabah Malaysia tetap menggunakan bahasa Banjar dalam berbagai kondisinya masing-masing.

Bahasa banjar pasaran memang diakui sebagai bahasa banjar yang sangat mudah dipelajari dan dikuasi dan sangat nyaman untuk digunakan dan sangat disukai.
Selain bahasa, budaya banjar lainnya yang masih terasa adalah budaya madam atau budaya merantau orang Banjar yang tetap hidup hingga sekarang, orang-orang banjar dapat ditemukan secara signifikan diseluruh pulau Kalimantan, bahkan dipulau-pulau lain diseluruh Indonesia bahkan ASEAN, dari Thailand hingga Filipina selatan kita bisa menemukan orang banjar dengan varian dan signifikasi yang berbeda-beda.
Hal lain yang masih hidup dari orang banjar adalah budaya dagangnya, yang menjadikan orang banjar membangun jaringan ekonomi perdagangan ke pedalaman Kalimantan dan pulau pulau lainnya, ada istilah saudagar banjar pada jaman dahulu yang hingga sebelum kemerdekaan masih berdagang mengarungi lautan nusantara dengan kapal-kapalnya, ada cerita tentang orang-orang banjar terkenal sebagai penguasa jaringan pedagang kayu diseluruh pulau jawa dan bali, serta pedagang emas diberbagai kota di Indonesia, orang banjar bahkan diberi gelar sebagai china hitam karena keahlian mereka dalam berdagang dan berusaha berbagai hal, menjadi pesaing hebat bagi orang-orang china.
Pengenal lainnya dari orang banjar adalah agama islam dan ulama-ulama dari tanah banjar atau berdarah keturunan banjar yang menyebar luas diseluruh wilayah Kalimantan dan tanah melayu disumatera dan semenanjung Malaya dan kepulauan Nusantara lainnya, tiada hentinya dari dahulu Kesultanan Banjar masih berdiri kokoh sehingga saat ini ulama-ulama hadir dari orang banjar atau keturunan-keturunan banjar lahir dan muncul, yang merupakan sebuah kebangganan tersendiri bagi orang Banjar.
Selain itu meskipun eksestensi kerajaan banjar telah runtuh, namun Kolonial Belanda tidak serta merta menghilangkan peran orang Banjar, sebagai kompensasi dan untuk merebut hati para penentangnya dalam 50 tahun Gejolak Perang Banjar khususnya para Bangsawan Banjar maka mereka tetap mendapatkan kesempatan untuk menduduki jabatan penting dalam pemerintahan Kolonial, keturunan keturunan mereka mendapatkan pendidikan yang baik untuk dapat menduduki jabatan jabatan lainnya pada masa-masa setelahnya, yang ditugaskan keseluruh pulau Kalimantan.
Soto banjar yang mulai dikenal menjadi kuliner otentik banjar, atau mandai cimpedak atau mandai tarap “(mandai adalah makanan fermentasi dari kulit buah buah tertentu)” yang sudah merambah kesana kemari menjadi kuliner ajaib yang mempengaruhi lidah-lidah orang selain banjar, atau wadai-wadai banjar yang dipuji puji sebagai kue-kue basah paling enak di Nusantara, juga merupakan salah bentuk pengaruh yang masih hidup dari orang banjar.
Orang banjar yang egaliter, agamis dan simpatik, serta nama besar sebagai keturunan dari Kesultanan Besar menjadikan orang banjar mudah diterima dimana saja diseluruh pulau Kalimantan, orang banjar terkenal tidak mau mendominasi atau tidak berperilaku ekspansif.
Dengan catatan-catatan positive diatas bukan berarti tidak ada catatan negative orang Banjar, saya tidak terlalu dapat menarik kesimpulan dalam hal ini mengingat masih adanya subjektivitas diri saya sendiri sebagai orang banjar disini. tapi penelitian sementara saya mengenai tradisi madam/merantau orang banjar misalnya, saya mendapati alasan-alasan ironis, misalnya perselisilan antara keluarga mengenai harta perpantangan atau warisan, atau susahnya membangun ekonomi dikampung halaman akibat hambatan psikologis dan traditional dari keluarga, kerabat atau penduduk kampung sendiri dan sebagainya, dan kecenderungan bersifat panas hati dan pendendam juga menjadi catatan buruk urang Banjar.
Hal-hal diatas mungkin bisa menjadi salam pembuka dan selamat datang untuk mengatakan bahwa pengaruh banjar dapat dipandang penting untuk dipelajari dan ditelaah lebih lanjut untuk memahami Nusantara ini. Banjar tidak kalah besar pengaruhnya pada jaman keemasannya bagi nusantara ini.
Alasan lainnya mengapa banjar patut untuk terus diteliti dan dipahami adalah karena pengaruh Banjar yang masih tetap hidup sedari dahulu dan terus hidup hingga saat ini dalam berbagai macam bentuknya, ini yang menurut saya menjadi salah satu garis besar penting yang bisa kita bandingkan dengan kebesaran kerajaan atau kesultanan lainnya di Nusantara, apakah Kerajaan Kesultanan lain di Nusantara baik yang telah mati atau yang masih tetap hidup dapat memberikan pengaruhnya sehingga hari ini?
Memahami Hulu Sungai untuk Memahami Banjar
Dalam tulisan saya yang lalu, saya pernah menuliskan tentang hulu sungai sebagai Asal usul orang banjar, tentang sebagian sejarah Islam di Hulu Sungai dan tentang Diaspora orang Banjar yang dominan berasal dari Hulu Sungai.
Bagi anda yang ingin memahami tentang sejarah dan budaya Banjar maka wajib kiranya untuk memahami apa itu Banjar hulu sungai. Banjar bukan hanya Banjarmasin dan Martapura, banjar itu bukan hanya pasar terapung.
Wilayah traditional banjar terbagi menjadi dua wilayah yang berjauhan, antara wilayah-wilayah Kayutangi yang meliputi Banjarmasin dan Martapura serta Marabahan dan wilayah hulu sungai dipedalaman berjarak hampir lebih dari satu minggu mudik ke hulu menggunakan perayu traditional biasa atau satu hari penuh menggunakan perahu mesin.
Hulu Sungai terbagi menjadi beberapa Kabupaten, yaitu Kabupaten Tapin berikota di Rantau, Kabupaten Hulu Sungai Selatan yang beribukota di Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah yang berikota di Barabai, kabupaten Hulu Sungai Utara yang berikota di Amuntai, Kabupaten Balangan yang beribukota di Paringin, dan Kabupaten Tabalong yang berikota di Tanjung. Selain itu ada daerah-daerah kecamatan terkenal yang dahulu merupakan wilayah traditional diwilayah Batang Banyu ( Pinggiran Sungai ) seperti Margasari, Negara dana, sungai banar dekat amuntai dan Kalua dekat tanjung tabalong.
google.maps
Secara tradisi, wilayah kayutangi merupakan wilayah kekuasaan sultan dan keluarga dekatnya, sedangkan wilayah hulu sungai merupakan wilayah semi otonom yang meskipun kadang dipimpin oleh keluarga Sultan di kayutangi secara bergiliran namun secara de facto kekuasaan tetap berada ditangan para Tumenggung yaitu para keturunan raja-raja dari jaman Hindu Budha yang dbelakangan juga diketahui sebagian masih berketurunan dari pengislam utusan demak. Hal ini dapat dipahami dengan jelas ketika kita membaca sejarah perang banjar dengan lebih teliti.
Di Hulu sungai lah sebenarnya pusat peradapan dan kebudayaan orang Banjar terbentuk dan menjadi besar dan tetap hidup hingga sekarang ini. Rasanya sulit sekali untuk memahami banjar tanpa memahami Hulu Sungai.
Hulu Sungai merupakan wilayah Hulu dari Sungai Bahan, Sungai Bahan sendiri merupakan sungai besar yang bermuara di muara bahan di sungai barito,
Hulu sungai terbentuk dari beberapa sungai yang bersumber dari kaki-kaki pegunungan meratus, seperti Sungai Tapin, Sungai Amandit, Sungai Barabai, Sungai Labuan Amas, Sungai Batang Alai, Sungai Balangan, sungai Pitap, Sungai Tabalong dan sebagainya, seluruh anak sungai ini bermuara dan bertemu disebuah wilayah yang disebut dengan nama Negara daha, dimana pusat pemerintahan dan perdagangan terbentuk selama ribuan tahun lamanya.
Topografi Hulu sungai sebagian besar adalah rawa-rawa dan lahan gambut, dan sebagaian lagi merupakan wilayah daratan dari kaki-kaki Pegunungan Meratus, wilayahnya sebenarnya tidak terlalu luas dengan diameter kurang lebih sekitar 60 km saja. hulu sungai menjadi daerah yang indah, jika dari pegunungan anda akan melihat rawa-rawa yang indah dengan berbagai beragam keunikannya,matahari yagn tenggelam di balik rawa-rawa dan hembusan angin yang menyegarkan, dan jika anda dari rawa-rawa akan ada saat dimana limpahan air yang coklat bening khas air rawa-rawa gambut membuat suasana seperti lautan dan pemandangan pegunungan meratus akan selalu menjadi latar paling indah disana.
Wilayah hulu sungai juga merupakan wilayah yang subur dengan sumber daya alam melimpah yang tidak akan membuat penduduknya kelaparan, dengan musim tanam dua musim, musim hujan di wilayah tadah hujan dekat kaki-kaki pegunungan meratus hingga sistem huma di Pegunungan Meratus, di musim kemarau padi akan ditanam dipinggir pinggir rawa-rawa atau danau yang mengering, selain itu ikan-ikan yang melimpah merupakan sumber protein yang sangat mencukupi dan berbagai buah-buah dapat dengan mudah ditemui. Dahulu Hutan dirawa-rawa hulus ungai sangat lebat dengan pohon-pohon besar menutupi matahari dimana binatang-binatang buruan seperti Rusa sampar yang besar, kancil dan burung-burung dapat ditemui sebagai alternative pangan. Hutan-hutan tersebut masih bisa ditemui beberapa tahun yang lalu sebelum habis dibabat oleh perambahan perkebunan sawit.
Wilayah ini juga dikelilingi oleh benteng alam yang sulit ditempus, tentu saja para lanun atau bajak laut enggan dan tak berani memasuki wilayah pedalaman ini, yang membuat wilayah ini aman dari ganggunan luar.
Selain itu wilayah pegunungan meratus menghalangi serangan musuh dari wilayah timur dan utara, dan jikapun musuh berhasil sampai ke hulu sungai melewati pegunungan mereka akan tetap kesusahan memasuki wilayah rawa-rawa, seperti saat Peperangan di Perempat akhir abad 1700 pangeran Purbaya bersama pasukan Bugis menyerang hulu sungai namun berhasil dihancurkan.
Diwilayah ini pula dipercaya orang-orang Sriwijaya datang menetap dan membawa pengaruh melayu, mendirikan koloni koloni melayu awal yang bercampur dengan penduduk-penduduk pribumi setempat.
Kerajaan Majapahit pun diceritakan pernah kalah ketika menyerang Hulu Sungai, baru pada serangan kedua Majapahit baru bisa menguasai wilayah ini dengan diplomasi Perkawinan Politik antara Pangeran Majapahit dan Putri Penguasa setempat yang berhasil membangun Kerajaan Dipa sebagai cikal bakal kerajaan banjar. Hulu sungai akhirnya menjadi ibukota pulau Kalimantan yang mewarisi wilayah kekuasaan Majapahit di Kalimantan.
Mungkin tidak ada wilayah diseluruh Kalimantan yang seunik wilayah hulu sungai ini, wilayah pedalaman dengan penduduk paling padat dan kebudayaan yang mumpuni sejak jaman dahulu pula, wilayah yang telah didiami selama ribuan tahun bahkan sebelum masehi.
Saya pun menganggap wilayah hulu sungai sebagai wilayah Melayu paling pedalaman dan pinggiran (meminjam istilah dari andrea hirata dalam novelnya Laskar Pelangi). Paling pedalaman karena jauh dari pinggir pantai sebagai jalur utama perdagangan dan komunikasi serta politik saat itu dan pinggiran karena jauh dari pusat melayu di kepulauan riau sana.
Hachelijke Reys-Togt van J. J. de Roy, na Borneo en Atchin
Peta diatas saya ambil dari buku berjudul Hachelijke Reys-Togt van J. J.
de Roy , na Borneo en Atchin Cetakan kedua tahun 1706, berdasar catatan perjalanan tahun 1691-an memberikan gambaran bahwa hulu sungai merupakan wilayah paling pedalaman dan dianggap sebagai pusatnya pulau Kalimantan dipedalaman, tidak ada wilayah lain ditengah-tengah pulau Kalimantan yang diketahui dan dicatat oleh orang barat sebagai wilayah berperadapan dan berpenduduk serta berpengaruh selain Hulu Sungai.
Meskipun peta ini tidak presisi mengenai letak pasti wilayah yang disebutkannya, namun Peta ini merupakan peta tertua yang bisa saya dapatkan dan sepertinya mengilhami pembuatan peta-peta berikut selama seratus tahun kemudian yang banyak peta-peta lama yang menggambarkan pulau Kalimantan dapat kita teliti dan lihat diberbagai situ di internet.
Coba bandingkan dengan peta dibawah dari tahun 1801 yang masih menempatkan hulu sungai sebagai satu-satunya wilayah pedalaman Kalimantan.

Tahun 1600an Titik Pusat kekuasaan Hulu Sungai disebut ada di Negara, dimana saudara Sultan biasanya mempunyai keraton istana disana, apabila sultan berganti maka pemimpin daerah Negara pun juga berganti, tapi ada daerah pedalaman dijaman itu yang tidak tersentuh yang disebut daerah Alai (Barabai) yang dipimpin seorang Tumenggung bergelar Tumenggung Gusti yang Istananya ada di kampung Banua Asam, Kampung ini sampai saat ini masih ada di dekat palajau kecamatan pandawan Barabai.
Nama nama seperti Jatoh, Palajau, Benawa Tengah, Kaminting dan Negara, serta Sungai Banar dekat amuntai juga disebutkan didalam peta dan merupakan nama-nama di wilayah Hulu sungai yang sampai saat ini masih dapat kita temui.
Dengan penduduk paling padat, Hulu Sungai selalu menjadi penjaga bagi kesultanan Banjar, Hulu sungai menjadi kekuatan utama bagi kesultanan Banjar, baik sebagai pemasok Pasukan untuk peperangan maupun kekuatan ekonomi dengan perkebunan lada dan hasil hutan serta industri besinya.
Hulu Sungai tidak hanya sebagai asal usul dari kesultanan Banjar bahkan menjadi bagian dari perjalanan sejarah kesultanan Banjar, meskipun Belanda dan Inggris berani menyerang dan membumihanguskan Banjarmasin tapi mereka tidak pernah memasuki wilayah Hulu Sungai. Dan dalam lika-liku politik internal Kesultanan Banjar pun entah apa yang terjadi wilayah-wilayah pedalaman Hulu Sungai tetap stabil tak tersentuh ditangan kekuasaan para Tumenggung.
Ketika perang banjar terjadi, para Penduduk Hulu Hungai lah yang memulai peperangan melawan Belanda, hingga bertahun-tahun berikutnya Belanda disibukkan mengatasi kerusuhan di Hulu Sungai.
Dikemudian hari para Penduduk Hulu Sungai juga yang banyak berdiaspora ke berbagai wilayah Nusantara khususnya ke Kepulauan Melayu Riau, daerah daratan Sumatera Timur dan semenanjung Malaya di Malaysia.
Meski ditinggal banyak penduduknya untuk berdiaspora, Hulu Sungai tetap mampu bertahan, perkebunan karet menjadi tumpuan ekonomi menggantikan Lada dimasa lalu, yang menjadikan hulu sungai menjadi salah satu daerah paling makmur dikalimantan pada jamannya saat karet mencapai masa keemasannya, kota-kota baru yang dibuka belanda bermunculan seperti kota Kandangan dan Barabai yang menjadi pusat pemerintahan dan pendidikan di hulu sungai.
Bangasawan Keturunan para Tumenggung banyak menjadi birokrat dan menjadi golongan terdidik dan tercerahkan, sebagian dari mereka mempelopori perlawanan terhadap belanda khususnya melalui pendidikan dengan mendirikan sekolah formal umum maupun sekolah pendidikan agama, gerakan perlawanan ini dapat didapati di kandangan, amuntai dan barabai. Tokoh tokoh seperti datu Dumam di kandangan dan Haji Abdul Rasyid di amuntai merupakan sebagian dari para tokoh yang tercerahkan dan melalukan perlawanan melewati pendidikan.
Dijaman revolusi kemerdekaan pun Hulu sungai menjadi salah satu pusat utama perlawanan kepada belanda , dan dijaman orde Lama sekali lagi hulu sungai menjadi pusat Pemberontakan DI/TII Ibnu Hajar yang tidak pusat kepada Pemerintah Pusat di Jakarta.
Banyak tokoh-tokoh Banjar Nasional berasal dari Hulu Sungai, seperti Menteri Agraria pertama Republik Indonesia Ali Hanafiah, kerabat beliau Idham Khalid yang pernah menjadi Wakil Perdana Menteri dan Ketua NU, juga Nurtanio tokoh dirgantara Indonesia Pendiri IPTN atau PT DI, Saadillah Musryid sebagai salah satu menteri dijaman orde Baru, DJohan Efendi intelektual Muslim terkenal Indonesia, Ifansyah maestro pelukis realis indonesia dan masih banyak lagi.
Di Malaysia kita mengenal Datok Tan Sri Abdul Jalil mantan Menteri dan salah satu pendiri UKM Malaysia, dan almarhum Pak Ngah seniman Musik Melayu terkenal di Asia Tenggara dan masih banyak lagi tokoh tokoh terkenal lainnya.
Hulu sungai sekali lagi menjadi menjadi pusat penghasil intelektual banjar hingga saat ini.
Masa Depan Hulu Sungai?
Hingga hari ini Hulu Sungai tetap menjadi Produsen diaspora yang aktif keberbagai wilayah, tetap menjadi penyedia Sumber Daya Manusia yang mumpuni bagi orang-orang banjar dalam berbagai bidang, tetap menjadi tumpuan ekonomi dengan budaya dagang dan usahanya yang menyala-nyala.
Hulu sungai seharusnya masuk dalam radar peneltian para akademisi dan intelektual secara lebih intens, bagaimana sebuah daerah yang bisa dikatakan jauh di pedalaman, cukup jauh teresolasi dari lautan tapi mampu mempengaruhi kawasan regional dan mempengaruhi Nusantara pada umumnya.
Sebuah daerah dipedalaman yang pernah menjadi ibukota seluruh Kalimantan disaat mewarisi wilayah jajahan Majapahit. Sebuah daerah paling pedalaman yang mempunyai akar melayu dan dapat mempengaruhi dunia melayu itu sendiri bahkan menjadi kebanggaan melayu, Sebuah daerah dipedalaman yang sampai saat ini masih sunyi dan luput dari perhatian.
Sayangnya Alam Hulu Sungai yang menjadi benteng alami yang telah menjaga penduduknya selama ribuan tahun mulai dirusak, seperti merajalelanya perkebunan sawit dan pertambangan Batu Bara.
Sekali lagi akan menjadi pertarungan besar bagi Hulu Sungai dan orang Banjar pada umumnya, apakah mereka akan menghancurkan negeri asal usul mereka sendiri atau tetap mempertahankannya, saya sendiri secara pribadi tidak rela jika tanah asal usul urang banjar ini hancur apalagi dihancurkan oleh orang lain yang bukan berasal dari banjar, mereka menghancurkan alam serta orang-orang hulu sungai dengan uang dan adu domba demi perkebunan sawit dan tambang Batu Bara.

Semoga tulisan sederhana ini bisa menginspirasi

Ditulis Oleh : Andin Nasrullah

LEGENDA LAMBUNG MANGKURAT (Kalimantan Selatan)

Menurut Hikayat Banjar (Sejarah Kesultanan Banjar), Lambung Mangkurat, merupakan pengucapan orang Banjar untuk Lambu Mangkurat adalah raja atau pemangku Kerajaan Negara Dipa, kerajaan ini adalah pendahulu Kerajaan Negara Daha. Lambung Mangkurat menggantikan ayahandanya Ampu Jatmaka atau Empu Jatmika, seorang saudagar kaya raya pendatang dari negeri Keling yang merupakan pendiri kerajaan Negara Dipa sekitar tahun 1387. Ampu Jatmaka dengan pengikutnya yang terdiri orang-orang Keling dan Gujarat mendirikan kerajaan Negara Dipa yang awal mula berpusat di negeri Candi Laras (Margasari), kemudian berpindah ke hulu pada negeri Candi Agung (Amuntai).
Sedang menurut legenda suku Dayak Maanyan mempercayai bahwa Lambung Mangkurat, merupakan pengucapan orang Melayu Banjar dari nama Dambung Mangkurap, salah satu tokoh masyarakat adat Pangunraun Jatuh. Sedangkan menurut Babad Lombok, Dilembu Mangku Rat merupakan utusan Sunan Ratu Giri, penguasa Giri Kedatyon untuk meng-Islamkan wilayah Kalimantan. Menurut Tutur Candi, tokoh yang mula-mula membawa Islam dari Giri adalah Maharaja Sari Kaburungan, raja kerajaan Negara Daha. Tokoh ini yang identik dengan Dilembu Mangku Rat dalam babad Lombok.
Lambung Mangkurat yang bergelar Ratu Kuripan ini adalah putra kedua dari Maharaja di Candi, Maharaja di Candi merupakan gelar dari Ampu Jatmaka/Empu Jatmika yang datang ke pulau Hujung Tanah atau pulau Kalimantan dengan armada Prabayaksa. Di dalam naskah Hikayat Banjar & Kotawaringin maupun Tutur Candi, secara tegas negeri Keling itu dimaknai sebagai suatu tempat di India yang ditempuh dalam perjalanan laut selama dua bulan. Menurut Veerbek (1889:10) Keling, provinsi Majapahit di barat daya Kediri. Putra sulung Empu Jatmika adalah Ampu Mandastana atau Lambung Jaya Wanagiri.
Kerajaan Negara Dipa ini bukanlah kerajaan yang pertama, karena sudah berdiri kerajaan orang-orang pribumi yaitu Kerajaan Kuripan (Huripan), karena itu Empu Jatmika mengabdikan dirinya kepada Raja negeri Kuripan yang tidak memiliki keturunan. Setelah mendirikan negeri Candi Laras (Margasari), ia meminta izin kepada Raja negeri Kuripan untuk membuat (menaklukan) negeri baru di sebelah hulu dari negeri Kuripan yang diberi nama negeri Candi Agung (Amuntai). Kemudian banyak penduduk Kuripan yang hijrah/migrasi ke negeri Candi Agung (Amuntai). Setelah kemangkatan Raja Kuripan, Empu Jatmika/Ampu Jatmaka menjadi penguasa negeri Candi Agung, negeri Candi Laras dan Kuripan.
Kelak daerah Kuripan ini diwarisi oleh Lambung Mangkurat sehingga ia juga dikenal sebagai Ratu Kuripan. Sedangkan negeri Candi Agung – ibukota kerajaan Negara Dipa yang baru diserahkan kepada Maharaja Suryanata yang didatangkan dari Majapahit sebagai suami Puteri Junjung Buih yang merupakan perkawinan politik. Puteri Junjung Buih merupakan saudara angkat Lambung Mangkurat. Raja Puteri Junjung Buih dipersiapkan sebagai Raja Negara Dipa, yang kemudian posisi ini diambil alih oleh Maharaja Suryanata. Sedangkan Lambung Mangkurat menjadi patih mangkubuminya dengan wilayah kekuasaan negeri Kuripan dengan bergelar Ratu Kuripan.
Selama memerintah Negara Dipa (Candi Agung, Candi Laras, Kuripan) Ampu Jatmaka melakukan penaklukan-penaklukan daerah-daerah sekitarnya yang berpenduduk suku Dayak. Ampu Jatmaka memerintahkan asisten kanan bernama Aria Magatsari menundukkan batang Tabalong, batang Balangan dan batang Pitap serta penduduk perbukitannya (suku Bukit). Ampu Jatmaka menitahkan asisten kiri bernama Tumanggung Tatah Jiwa menundukkan batang Alai, batang Amandit, batang Labuan Amas serta serta penduduk perbukitannya. Sedangkan pelabuhan perdagangan saat itu terletak di Muara Rampiau, tidak jauh dari Candi Laras.
Empu Jatmika mendirikan sebuah kerajaan dengan nama Negara Dipa, namun sebagai rajanya, Empu Jatmika membuat patung yang khusus dibuat oleh ahli-ahli dari Cina. Ampu Jatmaka tidak menobatkan dirinya sebagai raja, karena merasa bukan keturunan raja-raja. Hal ini juga dipesankan kepada Lambung Mangkurat (Lambung Mangkurat) dan Ampu Mandastana (Lambung Jaya Wanagiri), bahwa keduannya juga tidak boleh menjadi raja.
Ketika Ampu Jatmaka mangkat, Lambung Mangkurat dan Ampu Mandastana melaksanakan pesan orang tua mereka, yaitu mencari raja untuk Negara Dipa. Lambung Mangkurat melaksanakan pertapaan di pinggir sungai besar, sedangkan Ampu Mandastana bertapa di pegunungan Meratus.
Di akhir pertapaannya, Lambung Mangkurat menemukan sebuah buih besar yang didalamnya terdengar suara yang meminta Lambung Mangkurat untuk menyediakan kain sarung yang ditenun oleh 40 orang gadis dan perahu indah untuk membawa gadis jelita tersebut ke Istana. Perintah itu dilaksanakan Lambung Mangkurat dan dibawalah menuju Istana dengan sambutan meriah dan gadis itu mengenalkan dirinya sebagai Puteri Junjung Buih, yang selanjutnya dinobatkan sebagai Ratu Tunjung Buih di Kerajaan Negara Dipa dan Lambung Mangkurat menjadi mangkubumi kerajaan. Pada saat itu Lambung Mangkurat adalah seorang pemuda yang belum beristeri.
Puteri Junjung Buih kemudian menikah dengan Raden Putra yang bergelar Maharaja Suryanata berasal dari Majapahit. Hubungan pasangan suami isteri ini adalah besan Lambung Mangkurat, karena puteri dari Lambung Mangkurat menikah dengan putera dari Puteri Junjung Buih. Lambung Mangkurat mencapai usia yang panjang dan menjabat mangkubumi/patih bagi beberapa generasi raja Negara Dipa.
Dalam legenda diceritakan, Putri Junjung Buih sangat disayangi rakyat Negara Dipa, dimana Kecantikan dan Keramahannya tersebar hingga kenegara lainnya.
Puteri Junjung Buih selain dibesarkan dilingkungan Kerajaan, juga sama-sama tumbuh Keponakan Patih Lambung Mangkurat anak kembar dari Ampu Mandastana, yaitu Bambang Patmaraga dan Bambang Sukmaraga. Mereka tumbuh menjadi dewasa dan bersama-sama, hingga kedekatan mereka bertiga membuat semua orang terpana.
Dari perhatian semua kerabat dan pejabat kerajaan sangatlah tidak lazim karena mereka bertiga terlihat seperti sepasang kekasih yang tak bisa terpisahkan. Apalagi Puteri Junjung Buih sangat Menyukai kakak beradik kembar yang juga memang sangat Tampan dinegeri Dipa, selain juga anak kembar Bangsawan keponakannya Patih Lambung Mangkurat.
Hingga tiba pada tetua agama bersama patih Lambung Mangkurat mendapat pesan bahwa Jodoh dari Puteri Junjung Buih adalah seorang Putera Raja dari Kerajaan di Jawa, dimana Patih Lambung Mangkurat lah yang diutus nantinya untuk menjemput Calon Suami Puteri Junjung Buih untuk dinobatkan sebagai Ratu dikerajaan Dipa. Tetapi yang menjadi kendala adalah sepasang Kakak Beradik kembar yang begitu sangat dicintai Puteri Junjung Buih, bila terjadi Puteri Junjung Buih mengawini kakak beradik ini, akan menggemparkan Kerajaan dan diramalkan akan membuat Kehancuran karena Puteri Junjung Buih telah ditetapkan Dewata jodohnya adalah Pangeran dari tanah Jawa.
Untuk Menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, dilangsungkanlah musyawarah kerajaan dimana diputuskan agar Patih Lambung Mangkurat untuk memisahkan kedua Keponakannya itu dengan Putri Junjung Buih. Karena Patih Lambung Mangkurat merasa dipermalukan, maka akhirnya dia mengambil keputusan sendiri untuk membunuh kedua keponakannya yang sangat dicintai juga.
Suatu hari, Patih Lambung Mangkurat mengajak kemenakannya yaitu Bambang Patmaraga dan Bambang Sukmaraga untuk mencari ikan dan membawa segala perlengkapan yang dibutuhkan. Mulanya Ibu Kakak Beradik Sepasang Kembar berfirasat tidak enak, namun kedua anak Kembar itu berpesan kedapa Ibunya: “Ibunda, kami (sikembar) akan pergi mencari ikan bersama paman. Jika terjadi apa-apa dengan kami berdua (mati), maka Bunga Puspa ini akan layu dan mati. Tetapi bila kami berdua tidak terjadi apa, maka Bunga Puspa ini akan tetap Segar dan mewangi”. Aneh Bunga Puspa itu tiba-tiba Menghilang dan sebelumnya Sepasang Kembar inipun juga ada memberikan Setangkai Bunga Puspa yang juga berpesan yang sama juga Lenyap pula ketika berada ditangan Puteri Junjung Buih.
Akhirnya pergilah si Kembar bersama Patih Lambung Mangkurat dengan menaiki Perahu mereka bertiga menuju Hulu selama berhari-hari, hingga tiba pada sebuah Lubuk yang anak dari Sungai Besayangan. Lubuk itu kini dikenal dengan Lubuk Badangsanak. Kedua kakak beradik kembar itu diperintah oleh Lambung Mangkurat untuk bercebur karena Kail untuk memancing tersangkut. Ketika Sukmaraga muncul kepermukan, Lambung Mangkurat langsung memukulkan Pengayuh Perahunya tepat dikepalanya dan tenggelamlah Sukmaraga. Begitu juga dengan Patmaraga yang juga mengalami nasib yang sama.
Setelah Lambung Mangkurat menyelesaikan niatnya, dia terduduk sambil menangis dan menunggu selama beberapa hari munculnya jasad kedua Sepasang Kembar Keponakannya, tetapi tidak juga muncul, hingga Lambung Mangkurat Berteriak memanggil mereka dan juga terjun kedalam Lubuk itu, tetapi tidak juga diketemukan, hingga akhirnya Lambung Mangkurat kembali pulang.
Kedua orang tua mereka, Ampu Mandastana dan istri merasakan hal yang tidak wajar, karena apa yang dipesankan kedua anaknya, tidak seperti apa yang terjadi. Bunga Puspa itu lenyap dihadapan mereka dan mereka merasa yakin bila kedua anak Kembarnya itu masih hidup dan Ampu Mandastana bersama Isterinya memutuskan untuk mencari dan mencari anaknya, hingga tidak pernah ada yang tahu lagi dimana kedua pasang suami isteri itu karena mencari anak Sepasang Kembar Kesayangan mereka.
Ketika Puteri Junjung Buih memegang dan mencium Bunga Puspa pemberian Kedua Kembar Bersaudara, tiba-tiba hilang begitu saja dari tangannya dikala Puteri Junjung Buih sedang duduk dijendela Keraton. Dengan Perasaan sedih Puteri Junjung Buih memandang kelangit dan melihat keduanya ada melambai kapadanya. Yakinlah Puteri Junjung Buih bahwa kedua saudara kembar yang dia cintai kini berada pada kayangan tidak mati dan tidak hidup.

Perjanjian Dayak dan Banjar

SUMPAH IKATAN PERSUDARAAN BANJAR DAN DAYAK DENGAN ISTILAH SEBUTAN PANTI DARAH JANJI SEMAYA
Dahulu kala tidak ada istilah suku dayak
Istilah dayak baru muncul pada adanya jaman kolonial belanda, dimana penjajah menaklukkan kesultanan banjar, dan mengganti nama batang biaju besar (sungai kahayan) menjadi groote dajaks (dayak besar) dan batang biaju kecil (sungai kapuas) menjadi kleine dajak (dayak kecil) dan diperkuat pada ikrar tumbang anoi pada tahun 1894, dimana nama istilah dajak/dayak, dijadikan janji ikatan persatuan suku suku asli kalimantan, jadi istilah dayak itu bukan suku, tetapi suatu ikatan persatuan suku suku asli kalimantan kalimantan meliputi tiga negara, indonesia malaysia berunai darusalam yg selanjutnya disebut bangsa dayak, dahulu sebelum kesulatanan raja banjar jaman kolonial belanda suku biaju/ngaju saja atau orang waktu raden antakesuma anak dr sultan mustainbillah yg berdarah suku ngaju/biaju.
Jadi Batu Petahan Adalah batu pasif dengan tinggi 60 cm berbentuk persegi empat tak beraturan yang merupakan monumen perjanjian dua belah pihak, yaitu pihak Rombongan Pangeran Adipati dan pihak Suku Dayak Arut. Kedua belah pihak sepakat mengadakan perjanjian yang saling menghargai dan saling menjaga kehormatan. Perjanjian ini selanjutnya dinamakan “PANTI DARAH JANJI SAMAYA” yang berarti perjanjian yang di kokohkan dengan tetesan darah yang menjadi satu, dan konon di bawah batu tersebut dimakamkan 2 orang manusia yang mewakili 2 pihak yang mengadakan perjanjian.

Bermula ketika Pangeran Adipati Antakusuma meninggalkan Kerajaan Banjar dengan tujuan ke arah barat untuk mencari tempat dimana akan didirikan kerajaan baru. Dengan restu Ayahnda dan Ibunda, Pangeran Adipati beserta sejumlah pengawal dan beberapa perangkat kerajaan dengan perahu layar bertolak menuju kearah Barat. Dalam perjalanan banyak tempat yang disinggahi, antara lain: Teluk Sebangau, Pagatan Mendawai, Sampit, Kuala Pembuang hingga akhirnya sampai ke Desa Pandau yang dihuni masyarakat suku Dayak Arut dibawah kepemimpinan Demang Petinggi, di Umpang.

Pangeran Adipati Antakusuma dapat diterima masyarakat dayak Arut untuk dijadikan raja dari rakyat Dayak dengan syarat; Raja tidak boleh memperlakukan rakyat dayak sebagai hamba, melainkan pembantu utama dan kawan dekat atau sebagai saudara yang baik. Rakyat tidak akan menyembah sujud ke hadapan Pangeran Adipati Antakusuma. Syarat itu diterima Pangeran Adipati, termasuk syarat agar dibuat perjanjian bermaterai darah manusia dari seorang suku Dayak dan seorang dari rombongan Pangeran Adipati. Sebelum dikorbankan, kedua orang yang mewakili masing-masing pihak, mengambil sebuah batu yang harus ditancapkan ke tanah sebagai bukti turun-temurun, saksi sepanjang masa, melalui upacara adat, batu itu sekarang terkenal dengan nama “BATU PETAHAN” di Pandau Kecamatan Arut Utara. Pada upacara adat, korban yang mewakili suku Dayak menghadap ke hulu asal datangnya, korban yang mewakili rombongan Pangeran Adipati menghadap ke hilir, mengibaratkan asal datangnya.
Upacara adat Sumpah Setia/perjanjian ini akhirnya dinamai “PANTI DARAH JANJI SEMAYA

Mandau senjata banjar

MANDAU PEMBERIAN KESULTANAN BANJAR KEPADA DATUK SHEIKH MUHAMMAD ARSYAD BIN ABDULLAH AL-BANJARY

Masyarakat Banjar atau orang kalimantan sudah pasti tau siapa Datu kelampayan atau Tuan Sheikh Muhammad Arsyad Ibni Abdullah Albanjary,bahkan beliau juga dikenal diluar kalimantan, jawa,sumatra dan seantero nusantara bahkan luar negeri seperti negeri jiran Malaysia ,Brunei,Singapura Filipina dll serta negeri Arab ,melalui kitab nya yg fenomenal Sabil Al-Muhtadin , Mandau ini dihadiahkan Kesultanan Banjar yg di berikan kepada Datuk Kelampayan, Mandau ini mempunyai 72 pasak emas, Dan sekarang Mandau ini di rawat oleh seorang Zuriyyat Datuk Kelampayan di kota Palangkaraya ( Kalimantan Tengah , ID )

Sumber: muhammad rasidi

Hikayat burung garuda

SEJARAH PANJANG BURUNG GARUDA; ORANG DAYAK PEMAHAT PATUNG GARUDA, SITUS INI NYATA & MASIH ADA HINGGA SEKARANG

Lambang Negara Republik Indonesia, Burung Garuda atau Garuda Pancasila berasal dari Seserahan Patih Lohgender (seorang Patih atau Pengawal Keluarga Raja Sri Djaja Negara Kerajaan Majapahit berdiri tahun 1293 M bercorak Agama Hindu), kepada Putri Dara Juanti (seorang Putri Raja Demong Irawan, Kerajaan Sintang berdiri tahun 1262 M) Kejadian Penikahan terjadi tahun 1321 M.

Sejarah Kejadian ini bermula dari merantaunya Putra Demong Nutup ketanah Jawa dan ditawan oleh Patih Lohgender Kerajaan Majapahit.
Oleh Raja Demong Irawan Kerajaan Sintang, ditugaskanlah Putri Dara Juanti (yang menyamar sebagai seorang laki-laki) tahun 1320 M untuk mencari abangnya Demong Nutup, pihak Kerajaan Sintang mengirim pendekar pengawal bernama MADA (seorang pendekar berasal dari orang Dayak yaitu Dayak Desa, sewaktu Mada berangkat membangun Situs Kramat Desa Sembilan Domong Sepuluh situs ini masih berdiri dan dikramatkan oleh Dayak Desa, desa Modang, Kecamatan Toba, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat).

Setelah Putri Dara Juanti dan Mada datang dikerjakan Majapahit, langsung berhadapanlah dengan Patih Lohgender agar Membebaskan Demong Nutup, tapi Patih Lohgender membuat Syarat agar Dara Juanti Berenang menyebrangi sungai, disetujui oleh Dara Juanti, saat berenang itulah Tersingkap bahwa Dara Juanti Seorang Putri Cantik Jelita, saat itulah Patih Lohgender langsung jatuh hati dan langsung Melamar Putri Dara Juanti, menerima lamaran Patih Lohgender dengan Syarat Minta dibuatkan Keris Sakti oleh seorang MPU yaitu Keris Elok Berkepala Naga,
Seperangkat Gamelan beserta Gong Berkepala Burung Garuda,
40 kepala keluarga Jawa, untuk menguatkan peminangan (dari sinilah asal usul keluarga Suku Jawa telah ada di Sintang, dipulau Borneo),
Putri Dara Juanti meminta agar MADA dididik dikerajaan Majapahit, (kelak Mada inilah yang Mengganti Patih Lohgender menjadi Patih Kerajaan Majapahit BERGELAR GAJAH maka namanya menjadi GAJAHMADA tahun 1334 – 1359).

Setelah Putri Dara Juanti yang telah menjadi Istri Patih Lohgender KEMBALI bersama abangnya Demong Nutup kekerajaan Sintang bercorak Agama Hindu (awalnya orang Dayak beragama Hindu), dari Perkawinan inilah terjalin HUBUNGAN baik antara masyarakat DAYAK dan SUKU JAWA di Sintang, Borneo, jauh sebelum Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945, orang Dayak telah terjalin HUBUNGAN BAIK MASA LALU.

Dikerajaan Sintang ada seorang Pemahat dan Pematung bersuku Dayak bernama SUTHA MANGGALA, dialah yang MEMAHAT ULANG Patung Garuda menjadi Lambang Kerajaan Sintang sampai saat ini.

Setelah Patih Gajahmada, kembali kekampung halamannya Patih Gajahmada, mendirikan Situs Kramat Tiang Bendera Majapahit satu desa dengan Situs keberangkatan yaitu sama didesa Modang, Kecamatan Toba, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat.

Semoga info Sejarah ini DITULIS ULANG KARENA BUKTI SITUS MASIH ADA dan DILESTARIKAN OLEH MASYARAKAT DAYAK, Tabe.

Patung mas Garuda di kerajaan sintang

PERESMIAN MPW. PUBI KALIMANTAN BARAT

Sehubungan telah resmi MPW. PUBI Kalbar, ketua MPW. PUBI Kalbar mengadakan acara peresmian plang nama MPW. PUBI Kalbar, dan acara ini sangatlah disusun secara singkat, dan diadakan pertemua antar pengurus MPW dan MPP serta pengurus lain, dalam pertemuan pada tanggal 3 November 2024 maka terbentuklah susunan agenda tersebut, dan mengundang calon walikota (Inkamben) bapak Edi Rusdi kamtono. Yang akan meresmikan plang nama MPW.pubi Kalbar,

Tanggal 5 Nov 2024 agenda acara terlaksana dengan sukses membawa MPUBI khususnya MPW. Pubi Kalbar semakin terkenal dilingkungan masyarakat Kalimantan Barat,

Peresmian plang nama bersama pak Edi Rusdi kamtono (calon walikota Pontianak)
Sesi foto bersama pak Edi Rusdi kamtono calon walikota Pontianak no.urut 1.
Kami MPP dan jajarannya mendukung secara mutlak kepada  pak Edi Rusdi kamtono dan Bahasan  calon walikota nomor urut 1, mudah mudahan mereka kembali memimpin kota Pontianak untuk melanjutkan kinerjanya sampai tahun 2029, aamiin aamiin yaa rabbal’alamiin…
Pemasangan laung Banjar oleh pengurus MPUBI kepada Bapak Edi Rusdi kamtono calon walikota Pontianak nomor urut 1

Pertemuan para petinggi MPUBI

Dalam rangka meningkatkan etos kerja majelis persaudaraan urang Banjar Indonesia maka kami ketua ketua dan sekjen mengadakan pertemua dikediaman Rumah Pak Syafarudin Daeng Usman S.Pd.SH.MH dan sekaligus Tokoh panutan MPUBI, pada tanggal 03 November 2024 hari Minggu jam 09.00 wib. Dalam pertemuan tersebut mengupas berbagai cara dalam mengembangkan Majelis Persaudaraan Urang Banjar Indonesia jangka pendek dan jangka panjang.

Ketika pertemuan berlangsung banyak pendapat dan ide terutama yang disampaikan oleh pak mudjazie Bermawie, beliau memberikan nasehat diantaranya

  1. Membenahi struktur kepengurusan yang ada baik itu tidak MPP dan MPC
  2. Menyusun program jangka pendek
  3. Membagikan KTA kepada kepengurusan Majelis dan simpatisan

Setelah selesai pertemuan tersebut dapatlah dikesimpulkan bahwa MPUBI msh tetap eksis dan bertahan.

Warung makanan khas Banjar yaitu solo Banjar.

Arisan rutin bulanan dan silaturahmi MPUBI

Alhamdulillah Majelis Persaudaraan Urang Banjar Indonesia tetap berjalan walaupun banyak rintangan dan godaan serta goncangan dalam menyatukan jiwa menjadi satu rasa dan dan satu hati

Orang yang mempunyai titisan darah Banjar adalah orang yang tidak mudah menyerah dan mental yang kuat, mental baja.
Kami berkumpul dan bersua dalam menjalin persaudaraan, persahabatan, bahwa kita adalah saudara serumpun dan satu keluarga yang besar dalam ikatan yang erat
Arisan silaturahmi bulanan dikediaman Rumah Bu NURILAN salah satu pengurus MPC Pontianak Utara.
Silaturahmi MPUBI akan terus berlangsung Waja sampai kaputing.
Arisan dirumah indra tgl. 24 nov 2024
Penyerahkan  SKT kesbangpol kota kepada ketua mpc Pontianak Utara
Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai